Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 — SEPERTI MELIHAT DIRINYA SENDIRI
Keriuhan Pasar Kerajaan Aveloria masih memanjakan indra Elian. Bau harum gandum memanggang, aroma rempah-rempah yang tajam, dan celoteh para pedagang berpadu menjadi melodi kehidupan yang sudah lama tidak didengarnya sejak meninggalkan Desa Bellmare.
Saat menyusuri deretan lapak kayu di pinggir jalan setapak berbatu, mata Elian mendadak terpaku pada sebuah kedai kecil bersandarkan terpal kain hijau. Di sana, bertumpuk mainan kayu hasil ukiran tangan yang halus—mulai dari kereta kuda mini, boneka prajurit, hingga replika senjata kuno.
Elian memperlambat langkahnya. Matanya yang berwarna abu-abu pekat berbinar-binar, menatap lurus ke arah sebuah benda di sudut meja pedagang tersebut.
Sebuah pedang kayu.
Ukurannya dirancang khusus untuk genggaman anak-anak. Bilahnya terbuat dari kayu jati berpelitur cokelat tua yang mengkilap, sementara gagangnya dilapisi pintalan tali kain berwarna biru gelap—persis seperti warna jubah perwira Kerajaan Aveloria.
"Kau menyukai pedang itu, Elian?" tanya Adrian pelan, ikut menghentikan langkah di sampingnya.
Elian mendongak seketika, mengangguk cepat dengan wajah memerah polos. "Bilahnya bagus sekali, Yang Mulia. Di desa dulu, aku cuma punya pedang dari ranting pohon pinus yang gampang patah."
Adrian terkekeh halus. Tanpa ragu-ragu sedikit pun, ia mendekati pedagang tua di balik kedai. "Berapa harga pedang kayu ini, Paman?"
"Oh, untuk Anda, Tuan... cukup dua koin perak," sahut pedagang tua itu ramah, menunduk hormat melihat penampilan Adrian yang meski menyamar tetap memancarkan aura keturunan bangsawan tinggi.
Adrian merogoh sakunya, mengeluarkan lima koin perak murni dan meletakkannya di telapak tangan pedagang tersebut. "Ambil sisanya. Dan berikan pedang terbaik ini pada anakku."
Kata anakku meluncur begitu saja dari bibir Adrian tanpa beban hesitation—sebuah pengakuan spontan yang membuat Gareth di belakang mereka menahan napas sekilas.
Pedagang tua itu tersenyum lebar, menyerahkan pedang kayu jati itu kepada Elian. "Ini untukmu, pangeran kecil. Jaga pedangmu baik-baik!"
Elian menerima pedang kayu itu dengan kedua tangan mungilnya, seolah-olah sedang menerima pusaka kerajaan paling berharga. "Terima kasih, Yang Mulia!"
"Coba kau pegang," bisik Adrian, memperhatikan dari dekat.
Sesuatu yang menakjubkan—sekaligus mendebarkan—terjadi dalam detik berikutnya.
Elian tidak memegang pedang itu seperti anak kecil biasa yang asal mengayunkan kayu. Anak berusia tujuh tahun itu secara refleks menggeser kaki kirinya sedikit ke belakang, menciptakan pijakan kuda-kuda yang kokoh. Ibu jari tangan kanannya menekan bagian pelindung gagang pedang, sementara jemari sisanya melingkar kencang dengan posisi pergelangan tangan sedikit miring ke atas.
Itu adalah Gaya Kuda-Kuda Valerian—posisi awal khas yang hanya diajarkan di dalam akademi militer elite istana untuk para bangsawan garis keturunan prajurit.
Elian mengayunkan pedang kayu itu ke udara dengan tebasan melintang yang lurus dan presisi. Suara kayu membelah angin terdengar tipis.
Adrian membeku secara total.
Napas sang Putra Mahkota terasa terhenti di tenggorokan. Seluruh persendian di tubuh tegapnya menegang kaku saat matanya mengunci setiap gerak-gerik Elian.
Pemandangan di hadapannya bukan sekadar anak kecil yang sedang bermain. Itu adalah cermin masa lalu.
Ingatan Adrian melayang jauh ke dua puluh tahun yang lalu. Ketika ia masih berumur tujuh tahun, berdiri di pelataran latihan Istana Valerian bersama almarhum kakeknya. Cara Elian memiringkan pergelangan tangan, cara anak itu memfokuskan tatapannya ke ujung bilah kayu, hingga posisi ibu jarinya yang menekan pelindung gagang... semuanya adalah replika sempurna dari kebiasaannya sendiri sewaktu kecil.
Tidak ada yang pernah mengajari Elian gaya bertarung tersebut. Alena tidak mungkin mengajarkannya, dan warga desa di Bellmare tidak tahu-menahu soal teknik militer Istana Valerian.
Itu adalah insting yang mengalir di dalam darah murni. Sebuah bakat alami yang diwariskan dari generasi ke generasi keluarga Valerian.
"Pangeran Adrian, lihat! Gerakanku bagus, kan?" seru Elian riang, memutar pedang kayunya dan memasukkannya kembali ke dalam bayangan sarung di pinggangnya dengan gerakan yang amat lancar.
Adrian menunduk, matanya yang berwarna abu-abu pekat memancarkan campuran antara ketakjuban yang murni, kepedihan yang dalam, dan kebanggaan yang meluap dari dasar jiwanya. Ia menyapu helai rambut halus di dahi Elian dengan jemarinya yang gemetar tipis.
"Sangat bagus, Elian," suara Adrian terdengar parau, sarat akan emosi yang ditahannya. "Kau bertarung seperti seorang ksatria sejati."
Dua jam kemudian, sesuai janji yang diikrarkan, rombongan Adrian telah kembali ke Paviliun Barat.
Alena berdiri di teras depan dengan napas lega setelah melihat Elian berlari menyusuri lorong taman dalam keadaan utuh dan selamat. Anak kecil itu langsung memeluk pinggang ibunya, memamerkan pedang kayu jati barunya dengan celotehan riang tanpa henti tentang panggung boneka dan kue pai manis.
"Ibu, lihat! Pangeran Adrian membelikanku pedang kayu yang bagus sekali!" ujar Elian bangga. "Aku bisa mengayunkannya seperti ksatria!"
Alena tersenyum lembut pada anaknya, mengusap kepalanya. "Bagus sekali, Sayang. Sekarang masuklah bersama Bibi Mira, cuci tangan dan kakimu dulu."
"Siap, Ibu!" Elian menurut, berlari masuk ke dalam kediaman bersama Mira yang sudah menunggu di balik pintu.
Setelah Elian dan Mira menghilang ke dalam kamar, keheningan menyelimuti teras Paviliun Barat.
Adrian melangkah mendekati Alena. Di tangannya, pria itu memegang sarung kayu dari mainan pedang yang baru saja dibelinya. Wajah tampannya yang tegas tampak tenang, namun tatapan mata abu-abu pekatnya menembus lurus ke dalam mata hijau hazel milik Alena.
Alena melirik pedang kayu jati itu, dan seketika jantungnya berdesir hebat.
Alena langsung mengenali bentuk dan proporsi mainan itu. Itu bukan sekadar mainan anak-anak biasa; itu adalah replika dari pedang kayu latihan yang dulu pernah ditunjukkan Adrian padanya di perpustakaan istana—benda yang sering diceritakan Adrian sebagai hadiah pertama yang diterimanya sewaktu kecil.
"Kau sengaja membelikannya mainan ini, bukan?" bisik Alena parau, meremas jemarinya di balik lipatan gaun.
"Aku tidak memilihkan pedang ini untuknya, Alena," jawab Adrian, suaranya rendah dan sarat akan ketegasan mutlak. "Elian sendiri yang memilihnya dari puluhan mainan lain di kedai. Dan cara dia memegangnya... cara dia berdiri saat memegang gagangnya..."
Adrian melangkah satu garis lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Alena bisa merasakan aura perlindungan dan kebenaran yang memancar dari pria itu.
"Dia memegangnya persis seperti caraku memegangnya saat berusia tujuh tahun, Alena," lanjut Adrian. "Bahkan insting bertarungnya adalah insting darah Valerian."
Alena memalingkan wajahnya ke samping, menolak menatap mata Adrian yang dipenuhi pembuktian murni. Rasa mual akibat cemas dan keputusasaan kembali membakar dadanya. Setiap kali ia mencoba menyembunyikan kebenaran, takdir seolah-olah sengaja memperlihatkan bukti-bukti baru yang tak sanggup dibantahnya.
"Itu hanya kebetulan, Adrian," bohong Alena dengan suara yang kian rapuh. "Anak-anak di desa sering menirukan gaya prajurit yang mereka lihat di jalanan."
Adrian menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh kepahitan dan penyesalan mendalam atas kebohongan yang terus dipertahankan Alena.
"Kau bisa terus menyebutnya kebetulan, Alena," kata Adrian pelan, meraih jemari dingin Alena dan meletakkan sarung pedang kayu itu di telapak tangannya. "Tapi mainan ini... dan darah di dalam tubuh Elian... tidak akan pernah bisa kau hapus dengan kata-kata kebetulanmu."
Adrian berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong taman, meninggalkan Alena yang berdiri membeku memegang sarung pedang kayu jati di tangannya. Air mata hangat meluncur perlahan melintasi pipi Alena saat ia menatap benda kecil itu, menyadari bahwa waktu kebohongannya telah habis sepenuhnya di hadapan kenyataan yang tak terbantahkan.