NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Sapu Jalanan

.........

...Cerita ini Hanyalah Fiksi belaka....

...Tidak untuk ditiru....

.........

...Happy Reading...

.........

Matahari baru saja merayap naik di ufuk timur Jakarta, membiaskan cahaya jingga yang samar menembus tebalnya polusi dan kabut tipis sisa kelembapan malam. Di jam-jam seperti ini, udara ibu kota masih menyisakan sedikit kesegaran sebelum berubah menjadi panggangan yang menyengat. Jalanan aspal di pinggiran Jakarta Utara yang biasanya bising oleh klakson truk kontainer masih tampak lengang, menyisakan ruang bagi suara sapu lidi yang bergeser konstan beradu dengan debu jalanan.

Srek. Srek. Srek.

Tania Sae Ning atau Marysa berdiri di dekat tiang listrik yang miring, memperhatikan sosok wanita paruh baya berseragam oranye kusam yang sedang mengayunkan sapu lidi dengan ritme yang teratur. Wanita itu mengenakan topi caping anyaman bambu dan selembar handuk kecil yang melingkari lehernya untuk menyeka keringat. Wajahnya dipenuhi garis-garis keriput halus yang menceritakan kerasnya hidup, namun sorot matanya tampak begitu tenang, seolah-olah membersihkan sampah kota di pagi buta adalah sebuah meditasi yang damai.

Tania terpaku. Ada rasa penasaran yang mendadak menggelitik dadanya. Selama hidupnya di Seoul sebagai Marysa, dunia bawah tanah yang dia pimpin hanya mengenal dua jenis manusia, mereka yang memerintah dengan senjata, dan mereka yang berlutut memohon ampun dengan darah. Dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya bekerja secara fisik demi selembar uang receh, tanpa ada intrik politik, pengkhianatan, atau ancaman pembunuhan.

Dia ingin mencoba pekerjaan itu. Menjadi bagian terkecil dari sistem kota ini adalah penyamaran yang paling sempurna untuk menenggelamkan sisa-sisa aroma mafia dari tubuhnya.

Tania menarik napas panjang, memantapkan langkahnya yang dibalut sandal jepit swalow. Dia mendekati wanita paruh baya itu dengan tubuh kaku. Otot-ototnya menegang refleks kebiasaan lama seorang kepala klan yang selalu waspada terhadap serangan mendadak.

Ketika jarak mereka tinggal dua meter, wanita berseragam oranye itu menghentikan aktivitasnya. Dia menegakkan punggung, menyeka dahi dengan punggung tangan, lalu menatap Tania dengan dahi berkerut ramah. "Iya, Neng? Ada yang bisa dibantu?"

Tania mematung sejenak. Lidahnya terasa kelu. Selama bertahun-tahun, jika dia membuka mulut, itu adalah untuk memberikan perintah eksekusi atau instruksi perang wilayah. Kata-katanya selalu dingin, lugas, dan penuh otoritas mutlak yang membuat orang langsung tunduk tanpa berani menatap matanya. Memulai sebuah obrolan santai, sopan, dan setara dengan orang asing adalah labirin baru yang tidak pernah dia pelajari.

"Saya..." Tania berdehem, mencoba mencairkan suaranya yang terdengar terlalu berat dan kaku. "Saya ingin tahu... bagaimana caranya Anda bisa melakukan itu?"

Wanita paruh baya itu mengerjapkan mata, menatap sapu lidi di tangannya, lalu kembali menatap wajah pucat Tania yang berfitur Asia Timur yang kental meskipun rambutnya sudah dipotong pendek cokelat. "Maksudnya... menyapu jalanan ini, Neng?"

"Iya," jawab Tania, tubuhnya masih tegak lurus seperti papan. "Saya ingin melamar pekerjaan seperti ini. Di mana saya harus menyerahkan... berkas atau menyerahkan diri saya untuk bekerja?"

Tania menggunakan diksi "menyerahkan diri" , sebuah kosakata yang biasa dia dengar di dunia hukum dan kepolisian, membuat kalimatnya terdengar sangat formal dan ganjil di telinga masyarakat lokal. Ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya yang datar tanpa senyum, seolah dia sedang menginterogasi musuh, bukan sedang bertanya lowongan kerja.

Mendengar ucapan kaku dan melihat gestur defensif wanita asing di hadapannya, wanita paruh baya itu tidak merasa tersinggung. Sebaliknya, sedetik kemudian, bahunya berguncang. Dia menutup mulutnya dengan tangan yang dibalut sarung kain, lalu tawa geli yang renyah pecah di antara mereka.

"Astaga, si Neng... lucu banget toh," ujar wanita itu sambil terkekeh, matanya menyipit ramah. "Mau kerja jadi tukang sapu kok kayak mau maju perang, tegang amat badannya. Santai aja, Neng. Kenalin, nama Ibu, Yuni. Panggil aja Bu Yuni."

Bu Yuni mengulurkan tangannya yang kasar dan legam. Tania menatap tangan itu selama dua detik sebelum akhirnya menyambutnya. Sentuhan kulit mereka terasa sangat kontras. Tangan Bu Yuni kasar karena kerja keras, sementara tangan Tania, meskipun mulai melepuh karena sabun binatu di penjara, tetap memiliki struktur jari yang halus.

"Nama saya... Tania," jawabnya kaku, bibirnya mencoba menarik sebuah senyuman ramah yang terasa sangat canggung bagi otot wajahnya. Sudut bibirnya yang membiru sisa memar Cheongju untungnya sudah hampir pulih total, hanya menyisakan warna samar yang menyerupai bayangan.

"Neng Tania ini orang asing ya? Mukanya kayak artis-artis Korea di televisi yang sering ditonton anak saya," kata Bu Yuni, menepuk-nepuk lengan Tania akrab, membuat Tania sedikit terkejut karena tidak terbiasa disentuh secara kasual oleh orang asing tanpa motif tersembunyi. "Kalo mau melamar jadi petugas kebersihan jalanan mah gampang, Neng. Kebetulan di pos dinas kebersihan sana, Nanti Ibu anterin, langsung diterima itu pasti, apalagi mukanya bersih begini."

Namun, setelah mengatakan itu, Bu Yuni memundurkan langkahnya satu tapak. Dia memiringkan kepalanya, memandangi wajah cantik Tania dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang kritis.

"Tapi ya, Neng... Ibu kasih saran nih kalau nanti beneran kerja," Bu Yuni mengecilkan suaranya, mendekatkan wajahnya ke telinga Tania seperti sedang membisikkan rahasia negara. "Kalo besok mulai kerja, mukanya tolong diberi cemongan atau bedak hitam dikit. Kasih areng atau tanah kek biar kelihatan agak lusuh."

Tania mengernyit bingung, sepasang mata kelamnya menatap Bu Yuni dengan rasa heran yang murni. "Kenapa saya harus mengotori wajah saya?"

Bu Yuni tertawa kecil lagi,menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepolosan wanita asing ini. "Aduh, Neng Tania sayang... kaya kaga tau aja, kalau ada perempuan yang mukanya secantik kamu keluyuran bawa sapu di pinggir jalan, yang ada bukannya jalanan bersih, malah jalanan macet! Nanti abang-abang angkot, tukang ojek, sampe sopir truk pada berhenti semua buat godain kamu. Capek nanti kupingmu dengerin siulan 'suit-suit, cewek cantik' sepanjang hari. Walaupun mereka cuma bercandaan dan nggak niat jahat, tetep aja risih, toh?"

Tania terdiam, mencerna kata-kata Bu Yuni dengan seksama.

Sebuah pemahaman baru merayap masuk ke dalam benak Tania mengenai dinamika sosial di negara selatan ini. Di Seoul, tidak ada seorang pun pria yang berani bersiul atau menggoda Marysa jika mereka masih menyayangi nyawa dan keutuhan anggota tubuh mereka. Menatap matanya terlalu lama saja bisa berakhir dengan patahnya tulang rahang di ruang bawah tanah. Namun di sini, di bawah terik matahari Jakarta, kecantikan justru memicu interaksi verbal. namun juga dipenuhi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang aneh bagi seorang mantan penguasa kriminal.

Perlahan, senyuman tipis yang kali ini terasa sedikit lebih natural terukir di bibir Tania. "Saya paham, Bu Yuni. Terima kasih atas sarannya. Saya akan mengotori wajah saya jika diterima kerja."

Bagi Tania, saran Bu Yuni adalah berkah taktis. Semakin lusuh dan tidak menarik penampilannya di jalanan, semakin kecil kemungkinan fotonya akan diambil oleh orang iseng dan diunggah ke internet, sesuatu yang bisa memicu algoritma sistem pengenal wajah internasional yang mungkin sedang dipantau oleh kepolisian Korsel. Dia akan menjadi tidak terlihat, menyatu dengan debu perkotaan.

...

Sementara itu, ribuan kilometer di utara, dinginnya malam di Seoul terasa seperti mencekik leher Kapten Herry.

Di dalam ruang interogasi yang sunyi di Markas Pusat Kepolisian, Herry berdiri di balik kaca satu arah, menatap tajam ke arah mantan anak buah Marysa yang sedang diinterogasi oleh sersannya. Sudah berminggu-minggu, namun setiap interogasi selalu menghasilkan kesimpulan yang sama, tidak ada yang tahu ke mana sang ratu mafia pergi.

Herry meremas cangkir kertas di tangan kanannya hingga kopi hitam di dalamnya berguncang. Kepalanya terasa sangat berat, mendenyut dengan rasa sakit yang konstan yang telah bersarang di pelipisnya selama beberapa hari terakhir. Stres yang dia alami telah mencapai puncaknya.

Tiba-tiba, sebuah kilasan memori kembali meledak di dalam kepalanya tanpa peringatan.

Rasa pening yang luar biasa hebat membuat Herry terhuyung satu langkah ke belakang, memaksa dia menyandarkan punggung tegapnya pada dinding koridor yang dingin. Dia memejamkan mata kelamnya rapat-rapat, giginya bergeletuk menahan rasa sakit yang menusuk.

Di dalam benaknya yang bergejolak, potongan gambar lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon menjadi semakin tajam. Dia tidak lagi hanya melihat darah atau tangan hangat. Kali ini, dia mendengar suara. Sebuah suara perempuan yang lembut, bergetar ketakutan namun penuh dengan tekad untuk menyelamatkannya.

"Bertahanlah, Herry... kumohon jangan pejamkan matamu. Kamu harus hidup..."

Suara itu adalah suara yang mirip seperti . Sosok yang selama ini dia benci sebagai gembong kriminal terbesar, ternyata adalah sosok yang sama yang wajahnya memenuhi fragmen memorinya yang terhapus.

Brengsek! Tidak mungkin! batin Herry, napasnya memburu cepat, keringat dingin mulai membasahi dahi dan lehernya.

Dia membuka matanya yang kini dipenuhi oleh kilat kebingungan dan frustrasi yang mendalam. Lagi dan lagi, dia mencoba menyangkalnya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah sebuah bayangan sebuah delusi psikologis akibat kelelahan kronis dan tekanan dari Jessica serta ayahnya, Wakil Komisaris Jenderal, yang terus menuntutnya untuk segera menyelesaikan kasus ini agar pernikahan mereka tidak terganggu. Jessica Hwang Won juga terus-menerus mengirimkan pesan mengenai detail jas pengantin dan dekorasi altar yang sama sekali tidak ingin Herry pikirkan saat ini. Bahkan dari pihak keluarga pun juga.

"Aku tidak boleh kelihatan lemah," desis Herry pada dirinya sendiri, suaranya terdengar sangat dingin dan rendah.

Dia menegakkan kembali punggungnya, merapikan seragam kepolisiannya yang kaku dengan gerakan tangan yang kasar. Dia menolak untuk tunduk pada rasa bingung yang menyerang jiwanya. Baginya, Marysa tetaplah seorang buronan yang melanggar hukum negara, dan tugasnya adalah menangkap wanita itu kembali, hidup atau mati.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, sebuah keresahan baru telah lahir. Herry tahu, rasa penasarannya kini bukan lagi sekadar tentang penegakan hukum. Ada sepotong jiwanya yang terbawa pergi bersama pelarian Marysa, dan dia harus menemukan wanita itu untuk menuntut jawaban atas labirin masa lalu mereka yang mulai terbuka secara menyakitkan.

...

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!