NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 — Malam Sebelum Puncak

Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya yang gelap, mendengarkan setiap suara sekecil apa pun dari luar jendela, tubuhnya tegang siap bereaksi terhadap ancaman apa pun yang mungkin muncul. Josh tidak bisa tidur sama sekali malam itu, pesan misterius tersebut terus terngiang di kepalanya. Ia segera mengirimkannya kepada Veron dan Brandon, yang sama-sama terbangun dengan kekhawatiran yang tidak kalah besarnya.

"Dia tahu rencana kita," kata Brandon melalui panggilan video pagi-pagi buta, suaranya panik.

"Gimana caranya dia bisa tahu?"

"Mungkin dia bisa baca pikiran kita sedikit-sedikit, atau mungkin dia udah lama ngawasin kita tanpa kita sadar," jawab Veron, mencoba berpikir logis meski suaranya sendiri bergetar.

"Tapi itu artinya kita harus lebih hati-hati lagi. Jangan sampai kita kasih dia celah buat masuk ke pikiran kita."

Mereka berkumpul di rumah Josh sore itu bersama Gibran dan Pak Ian, membahas rencana terakhir sebelum menghadapi malam yang menentukan. Suasana rumah yang biasanya hangat kini terasa berat oleh ketegangan yang menggantung di setiap sudut ruangan.

"Kita bakal nemenin lo ke ruang lab besok malam," kata Gibran, nadanya penuh tekad meski matanya menyimpan kekhawatiran yang jelas terlihat.

"Nggak peduli seberapa serem situasinya."

"Saya juga akan ikut," tambah Pak Ian.

"Saya punya tanggung jawab buat nyelesain ini juga, setelah bertahun-tahun nyimpen rahasia ini sendirian dan membiarkan Raka terjebak di sana."

Mereka menghabiskan sisa sore itu untuk mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan senter cadangan, catatan Raka yang telah mereka pelajari berulang kali, serta rencana cadangan jika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Menjelang malam, setelah semuanya pulang untuk beristirahat sejenak sebelum bertemu kembali tengah malam nanti, Josh duduk sendirian di kamarnya, menatap keluar jendela ke arah langit malam yang dipenuhi bintang, mencoba sekali lagi merasakan energi dalam dirinya dengan pendekatan yang disarankan Pak Ian bukan melawan atau menahannya, melainkan menerimanya sepenuhnya sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Perlahan, energi itu mengalir tenang, hangat namun tidak lagi terasa mengancam seperti sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Josh merasakan sedikit ketenangan, seolah ia mulai memahami cara berdamai dengan kekuatan yang selama ini ia takuti. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Ponselnya berdering panggilan masuk dari Veron, suaranya panik begitu Josh mengangkatnya.

"Josh, Brandon nggak ngangkat telepon gue dari tadi," katanya, suaranya bergetar hebat.

"Gue udah coba berkali-kali, biasanya dia langsung angkat kalau gue telepon malem-malem gini. Gue takut, Josh. Firasat gue nggak enak banget."

Josh merasakan jantungnya berdegup kencang, segera mencoba menghubungi Brandon sendiri, namun panggilannya juga tidak terjawab, hanya nada sambung yang terus berbunyi tanpa ujung. Ia mencoba mengirim pesan, namun centang biru yang biasanya muncul tidak juga tampak, seolah ponsel Brandon benar-benar mati atau berada di luar jangkauan.

"Kita harus ke rumahnya sekarang," kata Josh, suaranya bergetar namun penuh tekad, sudah bergegas mengambil jaketnya dan berlari keluar kamar.

"Sebelum semuanya terlambat."

Tepat saat ia membuka pintu depan rumahnya, jam dinding tua di ruang tamu jam yang selama ini menjadi saksi bisu segala teror yang ia alami tiba-tiba berdentang keras, sembilan kali berturut-turut meski jarumnya menunjukkan angka yang jauh berbeda dari pukul sembilan, seolah waktu itu sendiri sedang memperingatkannya bahwa sesuatu yang mengerikan baru saja dimulai, jauh lebih cepat dari yang mereka rencanakan.

Ibunya, yang sedang menonton televisi di ruang tengah, menoleh kaget mendengar dentang tiba-tiba itu, namun Josh sudah berlari keluar rumah sebelum sempat menjelaskan apa pun, meninggalkan ibunya dengan tanda tanya besar dan perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyergap tanpa sebab jelas.

Ia berlari secepat yang kakinya bisa bawa, jaket yang belum sempat diresletingkan berkibar di belakangnya, napasnya memburu bukan hanya karena kelelahan fisik, melainkan karena ketakutan yang mencekik dari dalam. Setiap langkahnya diiringi harapan dalam hati, memohon agar ia masih sempat menyelamatkan sahabatnya sebelum entitas itu berhasil menyelesaikan apa pun yang sedang ia rencanakan.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!