Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lempengan Aksara Kuno
Sambil mengguyur tubuhnya menggunakan seember air sumur yang dingin di belakang
gubuk, Luo Chen membersihkan sisa-sisa cairan hitam kental yang mengering di
kulitnya. Air bilasan yang mengalir ke tanah berlumpur tampak berwarna abu-abu
keruh, membawa sisa-sisa kotoran spiritual yang berhasil dikeluarkan dari dalam
tulang dan sumsumnya semalam.
"Kondisi fisikku sudah jauh lebih padat dan ringan sekarang," bisik Luo Chen
meraba otot lengannya yang kini terasa sekeras kayu gelondongan,
berbicara langsung pada dirinya di bawah naungan dinding gubuk yang
sepi. "Namun, untuk membeli bahan alkimia dasar dan memindahkan orang tuaku ke
kota besar, aku butuh koin emas dan batu roh dalam jumlah banyak. Aku tidak bisa
terus membiarkan Ibu mencuci pakaian kotor warga desa hanya untuk menyambung
hidup."
Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekati area belakang gubuk, disusul
dengan munculnya Mu Xue yang membawa selembar kain bersih kering.
"Kau tampak jauh lebih bersih dan segar pagi ini, Chen'er," ujar Mu Xue
menyerahkan kain bersih tersebut dengan senyum tipis di wajahnya yang lelah.
"Bau tidak sedap dari kamarmu semalam bahkan tercium sampai ke halaman depan.
Apakah proses menempa sumsumnya berjalan lancar?"
"Iya, Ibu. Aliran darahku terasa jauh lebih hangat dan tenagaku meningkat
pesat," jawab Luo Chen mengeringkan tubuhnya menggunakan kain bersih
tersebut dengan gerakan cepat. "Hari ini aku berencana untuk pergi sendiri
menuju Kota Qingfeng untuk mencari informasi."
Sambil merapikan kerah jubah abu-abu bersih milik putranya, Mu Xue tampak
menimbang keputusan tersebut dengan dahi yang sedikit berkerut cemas. "Hati-hati
di jalan, Chen'er. Wilayah kota penuh dengan para praktisi dari klan utama yang
mungkin masih mengenali wajahmu. Jangan sampai kau memancing keributan yang
tidak perlu dengan mereka."
"Jangan khawatir, Ibu. Aku hanya akan berjalan di area pasar luar yang kumuh,
tempat para pemburu liar biasa berkumpul," sahut Luo Chen mengikatkan
sabuk kainnya dengan erat. "Aku tidak akan mendekati paviliun klan utama atau
memancing perhatian mereka."
"Hati-hati di jalan. Pulanglah sebelum matahari mulai turun di balik puncak
gunung," ujar Mu Xue mengantar putranya hingga ke pintu gerbang halaman
gubuk mereka yang berpagar kayu liar.
Langkah kaki pemuda itu terasa sangat ringan saat ia berjalan menyusuri jalan
setapak berdebu sejauh lima ratus meter menuju ke arah gerbang selatan Kota
Qingfeng. Selama berjalan sendiri di sepanjang jalan sepi yang dikelilingi
rimbunnya semak liar, ia terus memikirkan langkah awal yang harus diambilnya
hari ini.
"Jalan setapak ini... lima ratus meter menuju kota," gumam Luo Chen
melangkah dengan ritme kaki yang konstan, berbicara lirih kepada dirinya sendiri
di tengah keheningan jalan. "Jika aku ingin mulai memurnikan pil menggunakan
Seni Pemurnian Sembilan Tungku Kuno, aku harus mendapatkan setidaknya lima batu
roh kualitas rendah untuk membeli Rumput Qi Hijau dan Bunga Bara Api. Tapi
bagaimana aku bisa mendapatkan batu roh sebanyak itu dalam waktu singkat tanpa
memiliki modal awal?"
Di ujung deretan kios pasar luar Kota Qingfeng yang tampak kumuh dan dipenuhi
debu tebal, Luo Chen berjalan perlahan di antara hamparan tikar pandan milik
para pemburu liar yang menjual barang-barang rongsokan. Di atas tikar-tikar
tersebut, terpajang tumpukan bilah pedang berkarat, pecahan slip giok kuno yang
tidak lagi memiliki energi, serta sisa-sisa tulang binatang buas yang tidak
berharga.
"Aku butuh informasi tentang binatang buas ber-Inti Api di sekitar lereng Gunung
Tiga Jari," bisik Luo Chen mengedarkan pandangannya ke sekeliling area
pasar kumuh, berbicara pelan pada dirinya sendiri. "Kios-kios pemburu ini adalah
tempat terbaik untuk mencari tahu, tetapi mereka tidak akan memberikan informasi
secara gratis kepada orang asing yang tidak memiliki koin perak."
Satu kios kumuh di sudut paling belakang pasar luar menarik perhatian Luo Chen
saat ia merasakan adanya getaran energi hangat yang sangat tipis beresonansi
kuat dari dalam ulu hatinya. Langkah kakinya mendekati sebuah tikar pandan tua
berdebu yang dijaga oleh seorang pria tua berpakaian dekil dengan mata yang
terpejam rapat bersandar pada dinding batu.
"Ugh... kepalaku... Kitab Maha Tahu di dalam lautan kesadaranku mendadak
bergetar sangat kencang saat aku mendekati tumpukan barang rongsokan ini," bisik
Luo Chen memegangi keningnya yang mendadak terasa berdenyut halus akibat
resonansi energi spiritual yang kuat. "Ada benda apa di atas tikar tua ini yang
bisa memicu reaksi sebesar ini dari kitab tingkat Surgawi?"
Sambil menundukkan tubuhnya, Luo Chen mengulurkan tangan kanannya untuk
menyingkirkan beberapa belati berkarat, hingga ujung jarinya menyentuh sebuah
lempengan kuningan kuno berbentuk persegi berukuran telapak tangan dengan ukiran
satu aksara kuno yang hampir terkikis habis di permukaannya. Begitu lempengan
tersebut disentuh, getaran hangat yang halus merambat cepat dari ujung jarinya
langsung menuju ke arah dantiannya yang tersegel.
"Bocah, jika kau tertarik dengan mainan tua itu, harganya lima batu roh kualitas
rendah," ujar pedagang tua misterius tersebut tanpa membuka matanya sedikit pun,
suaranya terdengar serak dan dingin di tengah kebisingan pasar.
"Tuan, saya tidak memiliki lima batu roh kualitas rendah saat ini," sahut Luo
Chen menatap lempengan kuningan di tangannya dengan pandangan mata yang
tenang, berbicara secara jujur tanpa mencoba melakukan tawar-menawar yang licik.
"Tetapi saya sangat membutuhkan lempengan kuningan kuno ini untuk suatu
keperluan."
Dengan mata yang perlahan terbuka setengah, pedagang tua itu menatap tajam ke
arah wajah Luo Chen, memperhatikan kesederhanaan jubah abu-abunya serta
ketenangan sikapnya yang tidak biasa bagi pemuda seusianya. "Klan Luo tidak
mengajarkan murid-muridnya untuk meminta barang secara gratis dari pedagang
pasar luar, bukan?" tanya pak tua itu dengan dengusan dingin yang halus.
"Saya tidak sedang meminta barang ini secara gratis, Tuan," jawab Luo Chen
menatap lurus ke dalam mata dekil pedagang tua tersebut dengan pandangan
yang mantap. "Saya berjanji secara jujur. Jika Tuan mengizinkan saya membawa
lempengan kuningan kuno ini terlebih dahulu, saya akan kembali ke kios ini besok
pagi dan membayar dua kali lipat, yaitu sepuluh batu roh kualitas rendah sebagai
pembayarannya."
Sambil melipat kedua lengannya di depan dada, pedagang tua misterius itu tampak
menatap pemuda di hadapannya dengan ketertarikan yang mulai tumbuh di matanya.
"Menarik. Kebanyakan murid klan yang datang ke mari akan mencoba menipu, menawar
dengan harga murah, atau bahkan mencoba mencurinya saat aku memejamkan mata.
Tapi kau... kau justru menawarkan pembayaran dua kali lipat dengan jaminan
kejujuran lisan."
"Saya menghargai barang dagangan Anda, Tuan, dan saya yakin janji saya jauh
lebih berharga daripada lima batu roh kualitas rendah," balas Luo Chen dengan
nada suara yang mantap dan datar.
"Ambil saja lempengan itu terlebih dahulu secara gratis," ujar pedagang tua
tersebut memejamkan matanya kembali dengan senyum tipis yang misterius di
sudut bibirnya. "Kau bisa membayarnya kapan saja nanti ketika kau sudah memiliki
batu roh di kantong jubahmu. Aku sudah hidup cukup lama di pasar luar ini untuk
mengetahui mana praktisi yang memegang janji dan mana praktisi yang bermulut
sampah."
"Tuan benar-benar memercayai saya hanya dengan satu kali pertemuan?" tanya Luo
Chen menatap lempengan kuningan di genggamannya dengan heran.
"Aku memercayai matamu, bocah fana yang aneh," sahut pedagang tua tersebut tanpa
membuka matanya kembali. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menaikkan
harganya menjadi dua puluh batu roh."
Dengan rasa terima kasih yang mendalam, Luo Chen membungkukkan tubuhnya sedikit
sebagai tanda hormat sebelum segera melangkah pergi dari area kios kumuh
tersebut, menyimpan lempengan kuningan kuno itu dengan aman di balik lipatan
jubah abu-abunya seraya memikirkan rencana perburuannya hari ini.