NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lempengan Aksara Kuno

Sambil mengguyur tubuhnya menggunakan seember air sumur yang dingin di belakang

gubuk, Luo Chen membersihkan sisa-sisa cairan hitam kental yang mengering di

kulitnya. Air bilasan yang mengalir ke tanah berlumpur tampak berwarna abu-abu

keruh, membawa sisa-sisa kotoran spiritual yang berhasil dikeluarkan dari dalam

tulang dan sumsumnya semalam.

"Kondisi fisikku sudah jauh lebih padat dan ringan sekarang," bisik Luo Chen

meraba otot lengannya yang kini terasa sekeras kayu gelondongan,

berbicara langsung pada dirinya di bawah naungan dinding gubuk yang

sepi. "Namun, untuk membeli bahan alkimia dasar dan memindahkan orang tuaku ke

kota besar, aku butuh koin emas dan batu roh dalam jumlah banyak. Aku tidak bisa

terus membiarkan Ibu mencuci pakaian kotor warga desa hanya untuk menyambung

hidup."

Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekati area belakang gubuk, disusul

dengan munculnya Mu Xue yang membawa selembar kain bersih kering.

"Kau tampak jauh lebih bersih dan segar pagi ini, Chen'er," ujar Mu Xue

menyerahkan kain bersih tersebut dengan senyum tipis di wajahnya yang lelah.

"Bau tidak sedap dari kamarmu semalam bahkan tercium sampai ke halaman depan.

Apakah proses menempa sumsumnya berjalan lancar?"

"Iya, Ibu. Aliran darahku terasa jauh lebih hangat dan tenagaku meningkat

pesat," jawab Luo Chen mengeringkan tubuhnya menggunakan kain bersih

tersebut dengan gerakan cepat. "Hari ini aku berencana untuk pergi sendiri

menuju Kota Qingfeng untuk mencari informasi."

Sambil merapikan kerah jubah abu-abu bersih milik putranya, Mu Xue tampak

menimbang keputusan tersebut dengan dahi yang sedikit berkerut cemas. "Hati-hati

di jalan, Chen'er. Wilayah kota penuh dengan para praktisi dari klan utama yang

mungkin masih mengenali wajahmu. Jangan sampai kau memancing keributan yang

tidak perlu dengan mereka."

"Jangan khawatir, Ibu. Aku hanya akan berjalan di area pasar luar yang kumuh,

tempat para pemburu liar biasa berkumpul," sahut Luo Chen mengikatkan

sabuk kainnya dengan erat. "Aku tidak akan mendekati paviliun klan utama atau

memancing perhatian mereka."

"Hati-hati di jalan. Pulanglah sebelum matahari mulai turun di balik puncak

gunung," ujar Mu Xue mengantar putranya hingga ke pintu gerbang halaman

gubuk mereka yang berpagar kayu liar.

Langkah kaki pemuda itu terasa sangat ringan saat ia berjalan menyusuri jalan

setapak berdebu sejauh lima ratus meter menuju ke arah gerbang selatan Kota

Qingfeng. Selama berjalan sendiri di sepanjang jalan sepi yang dikelilingi

rimbunnya semak liar, ia terus memikirkan langkah awal yang harus diambilnya

hari ini.

"Jalan setapak ini... lima ratus meter menuju kota," gumam Luo Chen

melangkah dengan ritme kaki yang konstan, berbicara lirih kepada dirinya sendiri

di tengah keheningan jalan. "Jika aku ingin mulai memurnikan pil menggunakan

Seni Pemurnian Sembilan Tungku Kuno, aku harus mendapatkan setidaknya lima batu

roh kualitas rendah untuk membeli Rumput Qi Hijau dan Bunga Bara Api. Tapi

bagaimana aku bisa mendapatkan batu roh sebanyak itu dalam waktu singkat tanpa

memiliki modal awal?"

Di ujung deretan kios pasar luar Kota Qingfeng yang tampak kumuh dan dipenuhi

debu tebal, Luo Chen berjalan perlahan di antara hamparan tikar pandan milik

para pemburu liar yang menjual barang-barang rongsokan. Di atas tikar-tikar

tersebut, terpajang tumpukan bilah pedang berkarat, pecahan slip giok kuno yang

tidak lagi memiliki energi, serta sisa-sisa tulang binatang buas yang tidak

berharga.

"Aku butuh informasi tentang binatang buas ber-Inti Api di sekitar lereng Gunung

Tiga Jari," bisik Luo Chen mengedarkan pandangannya ke sekeliling area

pasar kumuh, berbicara pelan pada dirinya sendiri. "Kios-kios pemburu ini adalah

tempat terbaik untuk mencari tahu, tetapi mereka tidak akan memberikan informasi

secara gratis kepada orang asing yang tidak memiliki koin perak."

Satu kios kumuh di sudut paling belakang pasar luar menarik perhatian Luo Chen

saat ia merasakan adanya getaran energi hangat yang sangat tipis beresonansi

kuat dari dalam ulu hatinya. Langkah kakinya mendekati sebuah tikar pandan tua

berdebu yang dijaga oleh seorang pria tua berpakaian dekil dengan mata yang

terpejam rapat bersandar pada dinding batu.

"Ugh... kepalaku... Kitab Maha Tahu di dalam lautan kesadaranku mendadak

bergetar sangat kencang saat aku mendekati tumpukan barang rongsokan ini," bisik

Luo Chen memegangi keningnya yang mendadak terasa berdenyut halus akibat

resonansi energi spiritual yang kuat. "Ada benda apa di atas tikar tua ini yang

bisa memicu reaksi sebesar ini dari kitab tingkat Surgawi?"

Sambil menundukkan tubuhnya, Luo Chen mengulurkan tangan kanannya untuk

menyingkirkan beberapa belati berkarat, hingga ujung jarinya menyentuh sebuah

lempengan kuningan kuno berbentuk persegi berukuran telapak tangan dengan ukiran

satu aksara kuno yang hampir terkikis habis di permukaannya. Begitu lempengan

tersebut disentuh, getaran hangat yang halus merambat cepat dari ujung jarinya

langsung menuju ke arah dantiannya yang tersegel.

"Bocah, jika kau tertarik dengan mainan tua itu, harganya lima batu roh kualitas

rendah," ujar pedagang tua misterius tersebut tanpa membuka matanya sedikit pun,

suaranya terdengar serak dan dingin di tengah kebisingan pasar.

"Tuan, saya tidak memiliki lima batu roh kualitas rendah saat ini," sahut Luo

Chen menatap lempengan kuningan di tangannya dengan pandangan mata yang

tenang, berbicara secara jujur tanpa mencoba melakukan tawar-menawar yang licik.

"Tetapi saya sangat membutuhkan lempengan kuningan kuno ini untuk suatu

keperluan."

Dengan mata yang perlahan terbuka setengah, pedagang tua itu menatap tajam ke

arah wajah Luo Chen, memperhatikan kesederhanaan jubah abu-abunya serta

ketenangan sikapnya yang tidak biasa bagi pemuda seusianya. "Klan Luo tidak

mengajarkan murid-muridnya untuk meminta barang secara gratis dari pedagang

pasar luar, bukan?" tanya pak tua itu dengan dengusan dingin yang halus.

"Saya tidak sedang meminta barang ini secara gratis, Tuan," jawab Luo Chen

menatap lurus ke dalam mata dekil pedagang tua tersebut dengan pandangan

yang mantap. "Saya berjanji secara jujur. Jika Tuan mengizinkan saya membawa

lempengan kuningan kuno ini terlebih dahulu, saya akan kembali ke kios ini besok

pagi dan membayar dua kali lipat, yaitu sepuluh batu roh kualitas rendah sebagai

pembayarannya."

Sambil melipat kedua lengannya di depan dada, pedagang tua misterius itu tampak

menatap pemuda di hadapannya dengan ketertarikan yang mulai tumbuh di matanya.

"Menarik. Kebanyakan murid klan yang datang ke mari akan mencoba menipu, menawar

dengan harga murah, atau bahkan mencoba mencurinya saat aku memejamkan mata.

Tapi kau... kau justru menawarkan pembayaran dua kali lipat dengan jaminan

kejujuran lisan."

"Saya menghargai barang dagangan Anda, Tuan, dan saya yakin janji saya jauh

lebih berharga daripada lima batu roh kualitas rendah," balas Luo Chen dengan

nada suara yang mantap dan datar.

"Ambil saja lempengan itu terlebih dahulu secara gratis," ujar pedagang tua

tersebut memejamkan matanya kembali dengan senyum tipis yang misterius di

sudut bibirnya. "Kau bisa membayarnya kapan saja nanti ketika kau sudah memiliki

batu roh di kantong jubahmu. Aku sudah hidup cukup lama di pasar luar ini untuk

mengetahui mana praktisi yang memegang janji dan mana praktisi yang bermulut

sampah."

"Tuan benar-benar memercayai saya hanya dengan satu kali pertemuan?" tanya Luo

Chen menatap lempengan kuningan di genggamannya dengan heran.

"Aku memercayai matamu, bocah fana yang aneh," sahut pedagang tua tersebut tanpa

membuka matanya kembali. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menaikkan

harganya menjadi dua puluh batu roh."

Dengan rasa terima kasih yang mendalam, Luo Chen membungkukkan tubuhnya sedikit

sebagai tanda hormat sebelum segera melangkah pergi dari area kios kumuh

tersebut, menyimpan lempengan kuningan kuno itu dengan aman di balik lipatan

jubah abu-abunya seraya memikirkan rencana perburuannya hari ini.

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!