Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabar aneh di lorong rumah sakit
“Kau belum mendengar kabar yang menyebar sejak tadi pagi bukan? Restoran yang sempat heboh dibicarakan orang itu tiba-tiba saja harus tutup sepenuhnya. Bahkan kabarnya pemiliknya langsung jatuh miskin dalam waktu yang sangat singkat, dan ayahnya meninggal mendadak karena terkena serangan jantung setelah mendengar berita itu.”
“Benarkah apa yang kau katakan itu? Sungguh hal yang sangat cepat terjadi, tak kusangka sama sekali.”
“Itu benar sekali. Tapi tahukah kau apa yang paling aneh dari semua peristiwa ini?”
“Apa itu? Ceritakanlah kepadaku.”
“Janjilah dulu kau tak akan menyampaikannya kepada siapa pun. Katanya sebelum semua kemalangan itu menimpa mereka, wanita pemilik restoran itu sempat merundung seorang gadis muda di tempat umum. Bahkan rekaman videonya sempat menyebar luas ke mana-mana. Namun yang anehnya, keesokan harinya semua rekaman itu lenyap seketika tanpa bekas—hilang sama sekali dari mana saja, seolah peristiwa itu tidak pernah terjadi sama sekali. Kata orang-orang, pasti ada sosok yang sangat berkuasa yang sedang melindungi gadis yang diperlakukan buruk itu.”
Wajah teman bicaranya seketika berubah menjadi pucat karena terkejut. “Sungguh hal yang sangat mengerikan jika demikian… berarti bisa saja gadis itu berasal dari keluarga yang sangat terpandang dan berkuasa. Hal seperti itu sama sekali bukan sesuatu yang biasa terjadi pada orang biasa.”
“Besar kemungkinannya memang begitu. Sudahlah, sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini sekarang juga sebelum ada orang lain yang mendengarnya.”
Mereka pun segera berjalan pergi meninggalkan lorong itu dengan tergesa-gesa, sama sekali tidak menyadari bahwa setiap kata yang terucap tadi telah tertangkap dengan sangat jelas olehku yang berdiri diam terpaku di balik tembok. Hatiku berdebar kencang tak karuan, dan banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba bermunculan bersamaan di dalam kepalaku tanpa aku tahu harus mulai mencari jawabannya dari mana.
Aku bergumam pelan sambil masih berdiri diam di tempat sejenak untuk menenangkan diri: “Sungguh hal yang sangat aneh… namun jika semua itu benar-benar nyata terjadi, sungguh ada sesuatu yang terasa sangat menakutkan di balik semuanya ini.”
Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk mengusir segala pikiran yang terasa ganjil itu dari kepalaku, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, sebelum akhirnya melanjutkan langkah kakiku keluar dari rumah sakit itu menuju mobil yang menunggu.
Tepat saat suara azan Maghrib mulai berkumandang dari kejauhan, kendaraan itu berhenti dengan mulus di halaman depan kediaman yang besar itu. Sopir segera bertindak sigap membukakan pintu untukku, dan aku pun turun perlahan lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, Fara sedang duduk santai sambil menonton siaran televisi dan sesekali mengunyah camilan yang ada di hadapannya. Begitu melihatku hendak berjalan menuju arah tangga, ia segera bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiriku dengan penuh rasa ingin tahu. “Zara, dari mana saja kau pergi sejak tadi siang?”
Wajahku terasa agak kaku karena masih teringat akan kabar yang baru saja kuterima, namun aku tetap berusaha mengukir senyum tipis di bibirku. “Aku baru saja dari rumah sakit, Kak. Tadi aku pergi menjenguk keadaan adikku.” Sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan lain kepadaku, aku segera menyahut lebih dulu dengan nada yang pelan namun tegas. “Mohon maaf ya Kak, rasanya aku merasa sangat lelah sekali hari ini. Aku ingin segera naik ke kamar untuk beristirahat.”
Mendengar itu Fara hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tampak penuh pengertian. Aku pun segera berbalik badan dan melangkah menaiki anak tangga, lalu masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu itu rapat-rapat dari dalam.
Fara hanya diam memandangi punggungku yang perlahan menjauh hingga akhirnya hilang di ujung tangga. Tidak ada rasa cemas atau keinginan untuk mencari tahu lebih jauh tentang apa yang sedang kurasakan atau apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya mengangkat bahunya sekilas seolah tidak ada hal yang penting untuk dipermasalahkan, lalu kembali duduk tenang di tempatnya dan melanjutkan acara tontonannya seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi.
Waktu pun berlalu hingga malam semakin larut, dan ruang kamarku kini sudah sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan. Awalnya aku sempat terlelap cukup nyenyak, namun perlahan-lahan keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhku. Tidurku pun terasa semakin gelisah seolah ada sesuatu yang terus-menerus mengganggu ketenanganku dari balik kegelapan. Tanganku meremas kain selimut itu dengan sangat kuat, napasku menjadi tidak teratur dan terasa berat, sementara bibirku bergumam tak sadar dengan suara yang terdengar parau dan gemetar: “Jangan… kumohon jangan… jangan lakukan itu…”
Tiba-tiba aku tersentak bangun dari tidurku secara mendadak, dan teriakan kagetku seketika memecah keheningan malam yang sunyi itu: “TIDAKKK!”
Seluruh tubuhku masih terasa gemetar hebat saat aku segera meraih sakelar lampu di samping tempat tidur dan menyalakan lampu kecil yang ada di sana. Cahaya yang lembut itu perlahan menerangi seluruh sudut ruangan, dan aku memandang ke segala arah dengan napas yang masih terasa memburu dan berat. Hanya mimpi… syukurlah itu hanyalah sebuah mimpi buruk saja, bisikku pelan di dalam hati sambil mencoba menenangkan detak jantungku yang masih berpacu kencang. Namun rasa takut itu belum sepenuhnya hilang dari hatiku—aku sungguh merasa takut, seandainya saja apa yang baru saja kulihat dalam mimpi itu benar-benar terjadi pada Aslan di dunia nyata.
Keesokan harinya, tepat saat jarum jam menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit, aku sudah terbangun lebih dulu dari tidurku. Hari ini aku mengenakan pakaian yang sangat sederhana namun nyaman: sebuah kaos berwarna hitam polos yang terasa longgar di badan, dipadukan dengan celana panjang berwarna krem gading yang jatuh dengan santai hingga menyentuh punggung kakiku. Pakaian itu memang sederhana sekali, namun tetap terlihat rapi dan enak dipandang siapa saja yang melihatnya. Aku mengikat rambutku secukupnya saja agar tidak mengganggu setiap kali aku bergerak ke sana kemari, lalu segera mulai mengerjakan segala hal yang harus diselesaikan: memasukkan pakaian yang kotor ke dalam mesin cuci, menyiapkan segala bahan yang dibutuhkan untuk membuat sarapan, menyapu debu yang terlihat menempel di sudut-sudut ruangan, serta menyalakan alat pembersih lantai agar ia bekerja sendiri merapikan sisa bagian rumah yang lain.
Tak lama kemudian Fara pun terbangun dari tidurnya, dan saat ia turun ke bawah ia melihat aku sudah sibuk mengurus segala hal di dalam rumah. Dalam hatinya ia pun bergumam kagum: Wah, gadis ini sungguh memiliki sifat yang sangat rajin sekali. Kalau begini keadaannya, rasanya tidak apa-apa jika aku sesekali bangun agak terlambat dari biasanya. Ia pun segera menghampiriku dengan nada bicara yang terdengar agak canggung. “Zara, maafkanlah aku ya kalau hari ini aku terlihat terlambat bangun. Rasanya aku merasa sungkan sekali melihat kau sudah sibuk mengurus semuanya sendirian sejak pagi buta.”
Namun aku hanya tersenyum lembut dan tulus kepadanya mendengar perkataan itu. “Tidak perlu dipikirkan begitu, Kak Fara. Segala sesuatu sudah terurus dengan baik, dan hidangan sarapan pun sudah tersaji hangat-hangatnya di atas meja makan. Silakan Kakak makan saja sekarang sebelum menjadi dingin,” jawabku dengan nada yang ringan dan menenangkan hati.
“Wah, terima kasih banyak ya Zara! Perutku sebenarnya sudah terasa lapar sekali sejak tadi pagi,” ujar Fara sambil tersenyum lega mendengar itu, lalu segera berjalan menuju ruang makan untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan.