Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah pertama menuju harapan baru
Setelah selesai merapikan ruang tamu, aku berjalan menuju halaman untuk melihat keadaan kolam renang. Setelah itu aku naik ke lantai dua, sekadar berjalan pelan melihat ruangan-ruangan yang belum pernah kumasuki sebelumnya. Di sana ada banyak ruangan yang terlihat sangat mewah: ada tempat bermain biliar, ruang menonton film sendiri, ruang keluarga yang sangat luas, sampai ruang kerja milik Kak Adrian. Namun aku tidak berani melangkah masuk ke ruang kerja atau kamar tidur utamanya, aku masih ingat pesan tegasnya bahwa aku tidak boleh mendekati tempat itu tanpa izin darinya.
Aku sempat melihat ke arah halaman depan dan belakang, tapi melihat para tukang kebun sudah bekerja dengan sangat rapi dan baik, aku hanya memandanginya dari kejauhan sambil merasa kagum melihat betapa teraturnya semuanya di sini. Setelah merasa semua yang bisa kulakukan sudah selesai, aku kembali turun ke dapur, membungkus sedikit makanan ke dalam kotak bekal, lalu segera masuk ke kamar untuk mandi dan membersihkan diri dari sisa keringat.
Tak lama kemudian aku turun kembali dengan penampilan yang jauh lebih rapi. Aku mengenakan blus berwarna hitam yang bahannya terasa lembut di kulit, dipadukan dengan rok panjang berwarna putih gading yang jatuh anggun, dengan corak titik-titik halus yang samar. Tampilanku sederhana, sopan, namun terasa pantas berada di tempat ini tanpa berlebihan. Mengambil kotak bekal yang sudah kusiapkan tadi, aku pun berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk keadaan adik dan keluargaku.
Menjelang pukul tujuh malam saat masuk kembali ke kediaman, Yamal sudah berdiri menunggu dengan tenang dan tegap di pintu utama — seolah dia tak pernah pergi dari sana sejak tadi. Aku segera menghampirinya, dan ia menyampaikan pesan dengan nada sopan namun tegas: “Nyonya Zara, Tuan Adrian berpesan bahwa beliau harus berangkat ke luar negeri untuk urusan yang sangat penting. Kemungkinan tak akan pulang beberapa hari ke depan. Selain itu, dokumen dan perlengkapan sekolah Nyonya sudah disiapkan dengan lengkap — ada di atas sofa ruang tamu. Jika Nyonya butuh apa saja selama Tuan Adrian pergi, cukup sampaikan kepada saya, dan saya akan menanganinya sepenuhnya.”
“Terima kasih banyak, ini sudah lebih dari cukup bagiku,” jawabku dengan tenang dan lega — hati terasa hangat karena dia tak lupa pada janjinya. Begitu Yamal pergi, aku mendekati sofa dan membuka berkas-berkas itu satu per satu dengan jantung yang berdebar. Hampir semua data diriku sama persis dengan aslinya — nama, alamat, riwayat hidup — hanya tanggal lahir yang disesuaikan agar memenuhi syarat usia sekolah, dan tertulis jelas di sana bahwa aku adalah gadis biasa yang belum menikah. Sentuh permukaan buku dan perlengkapan baru yang masih berbau kertas segar sambil tersenyum bahagia, mataku berbinar penuh harapan: “Besok hari pertamaku bersekolah kembali… semuanya akan lancar. Harus tidur lebih awal.”
Sementara itu, di tempat yang jauh — jauh dari kenyamanan rumah itu — suasana jauh lebih gelap, sepi, dan sedingin es abadi. Adrian berdiri tegak di ruangan yang remang dan berbau logam. Kemeja hitamnya pas di tubuh, kerah sedikit terbuka membuatnya makin gagah dan berwibawa namun juga menakutkan. Di sudut bibir dan punggung tangannya masih terlihat sisa noda merah yang belum kering sempurna — darah yang bukan miliknya. Di hadapannya terbaring seorang pria tak sadarkan diri akibat pukulan keras yang menghancurkan rahangnya. Adrian memberi isyarat singkat dengan satu jari, dan anak buahnya segera bersihkan semua jejak di tempat itu — tak boleh ada satu pun bukti yang tersisa. Tak lama kemudian Yamal melapor dengan tenang: “Semua selesai dan aman sepenuhnya.” Tanpa menambah sepatah kata pun, tanpa menoleh ke belakang, Adrian berbalik pergi meninggalkan tempat itu — langkahnya mantap, tak terganggu sedikit pun, seolah menghancurkan seseorang adalah hal yang biasa dilakukan di waktu luangnya.
Tepat pukul enam pagi aku sudah terbangun dari tidurku, jauh lebih pagi dibandingkan hari-hari biasanya. Begitu teringat bahwa hari ini adalah hari pertamaku pergi ke sekolah kembali, hatiku langsung berdebar kencang — rasanya senang sekali, tapi ada juga rasa gugup yang tak bisa kusembunyikan. Tanpa berlama-lama aku segera bangkit dari tempat tidur, lalu merapikan seprai dan seluruh isi kamarku sampai terlihat rapi kembali.
Setelah itu aku mengumpulkan pakaian kotor, membawanya ke ruang cuci, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk memasak sarapan, sekaligus menyapu dan membersihkan bagian rumah yang terlihat. Semua ini aku kerjakan seorang diri. Aku tahu Fara biasanya baru bangun agak siang, jadi aku tidak ingin menunggunya atau membebaninya dengan pekerjaan ini.
Sambil tanganku sibuk bergerak mengerjakan semuanya, aku terus tersenyum sendiri membayangkan seperti apa nanti suasana di sekolah itu. Kadang ada rasa takut yang sedikit menyelinap ke dalam hati, namun keinginanku untuk belajar kembali jauh lebih besar daripada rasa takut apa pun.
Setelah semua selesai, aku segera mandi dan mengenakan seragam sekolah baruku: kemeja putih yang bersih dan rapi, dasi berwarna biru keabu-abuan yang kaitannya sudah pas, rok lipit panjang berwarna kelabu yang jatuh rapi hingga betis, serta sepatu putih yang masih terasa baru dan nyaman dipakai. Tampilanku sederhana saja, tapi terasa sopan dan pas sekali di tubuhku.
Saat hendak keluar dari kamar, Fara yang baru saja bangun turun tangga dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah yang masih mengantuk. Namun saat melihatku, ia tersenyum ramah dan tulus: “Wah, cantik sekali. Semoga harimu menyenangkan dan lancar ya di sekolah baru.” Aku mengucapkan terima kasih dengan senyum yang tulus, lalu segera menuju mobil yang sudah menunggu di halaman. Minta sopir berhenti sebentar di rumah sakit — hanya melihat keadaan Aslan dari jauh sebentar, menatap jendela ruang rawatnya dengan doa yang terucap dalam hati — sebelum melanjutkan perjalanan ke sekolah yang kuimpikan.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah yang besar itu, aku hanya bisa diam terpaku memandang ke depan. Tempat ini terlihat sungguh megah, jauh lebih besar dan lebih indah dari apa yang pernah kubayangkan dalam mimpiku sekalipun.
Seluruh bangunannya tampak bersih dan terawat dengan sangat baik, berwarna putih bersih dengan garis-garis bangunan yang rapi dan tegap. Lantai di lorong-lorongnya mengkilap seolah seperti cermin, dan langit-langit di bagian tengah sekolah itu tingginya menjulang dengan susunan papan yang rapi berjejer, sehingga cahaya matahari pagi bisa masuk dengan lembut tanpa menyilaukan mata. Di halaman yang luas itu tertata rapi hamparan bunga berwarna merah muda dan ungu, serta pohon-pohon kecil yang bentuknya indah berdiri kokoh di sudut-sudut tempat terbuka.
Tangga-tangga yang lebar menghubungkan satu bangunan dengan bangunan yang lain, dilengkapi pagar besi halus yang terlihat kokoh namun tetap terasa anggun dipandang. Setiap ruangan dipenuhi jendela kaca yang luas, sehingga setiap sudut sekolah ini terasa terang dan segar setiap saat. Udara di sini terasa bersih dan sejuk, dan langit biru yang cerah terlihat jelas di sela-sela bangunan yang menjulang tinggi itu.
Banyak sekali siswa yang berjalan beriringan dengan tenang ke arah kelas masing-masing, seragam mereka terlihat rapi dan serasi. Segalanya terasa begitu tertib, damai, dan penuh keteraturan yang membuat hatiku makin berdebar — rasanya aku masih belum percaya sepenuhnya, bahwa hari ini aku benar-benar bisa melangkahkan kakiku masuk ke tempat yang begitu baik seperti ini.
Saat aku melangkah turun dari mobil, rambut panjangku yang berwarna cokelat kehitaman terurai jatuh bebas di punggungku, berkilau lembut seperti benang sutra saat terkena sinar matahari pagi, yang membuat kulitku yang putih bersih terlihat semakin bersinar alami.
“Sungguh besar dan indah sekolah ini… katanya hanya anak-anak dari keluarga terpandang yang bisa belajar di sini,” gumamku pelan dalam hati. Aku sadar beberapa pasang mata siswa lain mulai menoleh ke arahku, membuat jantungku berdegup sedikit lebih kencang karena gugup. Namun aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri, menguatkan hati dalam sekejap, lalu melangkah maju dengan kepala yang terangkat tenang.
Begitu sampai di lorong utama yang luas, aku sempat berhenti sebentar karena merasa bingung — aku sama sekali tidak tahu harus berjalan ke arah mana untuk menemukan kelasku. Mungkin ada papan petunjuk di ujung lorong sana ya? pikirku sambil menoleh ke kiri dan kanan. Namun sebelum aku sempat melangkah lebih jauh, sekelompok gadis yang sedang berjalan melihat kebingunganku dan segera menghampiri. Salah satu di antaranya tersenyum sangat ramah padaku lalu bertanya: “Hai, apakah kau murid baru di sini?”