Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Waktu sudah menunjukkan pukul 11:30 malam, namun Queen sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Kamar penthouse yang hangat ini mendadak terasa begitu menyesakkan. Ia turun dari tempat tidur, melangkah lambat menuju jendela kaca besar yang menampilkan kerlap - kerlip kota Paris di bawah siraman salju tipis.
Pikirannya kalut. Bayangan tentang kedatangan Ayahnya yang tiba - tiba, ditambah kenyataan bahwa besok adalah hari terakhirnya bersama Nial, terus berputar layaknya kaset rusak yang menghantuinya.
Queen melirik ponsel di genggamannya. Setelah ragu sejenak, jemari mungilnya bergerak mengetikkan pesan untuk pria di kamar sebelah.
To Nial:
Sudah tidur?
Tak butuh waktu lama, layar ponselnya menyala, menampilkan balasan kilat.
From Nial:
Belum, Sweetheart. Kenapa?
Queen menghela napas pendek, menimbang kalimatnya sebelum kembali mengetik.
To Nial:
Besok adalah hari terakhir kita di sini. Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?
From Nial:
Tidak!
Queen berdecak pelan membaca balasan singkat itu. Tipikal Nial sekali. Ia pun mencoba memancing pria itu lagi.
To Nial:
Coba pikirkan lagi. Setelah dua puluh empat jam besok, aku harus pulang. Atau ... mungkin ada hal lain yang ingin kau lakukan?
Queen menunggu. Satu menit, dua menit, hingga lima menit berlalu, namun sama sekali tidak ada notifikasi pesan masuk dari Nial. Status pesannya hanya menumpuk tanpa balasan.
"Apa dia tertidur?" gumam Queen menebak - nebak.
Cklek.
Tepat setelah gumaman itu lolos, keheningan kamar pecah oleh suara pintu yang terbuka. Queen sedikit tersentak, refleks membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok tegap Nial melangkah masuk, lalu menutup kembali pintunya dengan gerakan tenang.
Pria itu hanya mengenakan kaus hitam polos, memamerkan lengan kekarnya yang kokoh. Namun, ada yang berbeda. Aura yang menguar dari tubuh Nial saat ini terasa jauh lebih pekat. Dominan dan dingin.
"Kau ... punya kunci cadangan?" tanya Queen, menatap tidak percaya pada gagang pintu yang baru saja dikunci dari dalam oleh Nial.
Nial berjalan santai mendekatinya, langkah kakinya nyaris tak bersuara di atas karpet bulu yang tebal. "Tentu saja. Aku pemilik penthouse ini, Sweetheart."
"Tapi sekarang ini kamarku. Kau tidak bisa masuk begitu saja tanpa izinku," protes Queen, mencoba memasang benteng pertahanan.
Nial menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Queen. Ia menaikkan satu alisnya tinggi - tinggi, menatap Queen dengan pandangan intens yang mengunci pergerakan wanita itu. "Oh ya?"
Melihat respons menyebalkan itu, Queen memilih mengalah.
"Lupakan."
Queen membuang muka, berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar lalu mendudukkan diri di sana. Nial tidak membiarkan jarak di antara mereka tercipta terlalu lama; pria itu menyusul dari belakang, berdiri menjulang di hadapan Queen sebelum akhirnya ikut duduk di sampingnya, mengurung pergerakan Queen dengan aroma mint dan tembakau yang begitu familier.
"Jadi, apa jawabanmu? Setelah dua puluh empat jam besok berakhir, aku harus pulang," Queen kembali mengingatkan, menuntut jawaban atas pesannya yang diabaikan tadi.
Nial menoleh lambat. Sorot mata elangnya meredup tajam. "Kenapa terburu - buru?"
Queen menggeleng pelan. "Aku tidak terburu - buru, Nial. Memang begitu perjanjian awal kita, 'kan? Aku pulang setelah dua hari. Dan..." Queen menjeda kalimatnya sejenak. Ia memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata Nial dengan tatapan sendu yang sulit diartikan. "...aku tidak yakin bisa bertemu denganmu lagi setelah ini."
Mendengar kalimat terakhir itu, rahang Nial seketika mengeras total. Urat di sekitar pelipisnya berdenyut samar, pertanda emosinya tersulut. "Apa maksudmu?"
"Ya, maksudku, kita punya kehidupan masing - masing," sahut Queen, mencoba bersikap se-rasional mungkin. "Aku harus kembali mengurus toko bungaku, dan kau pun harus segera kembali ke New York, 'kan? Kita tidak mungkin bisa bertemu setiap saat seperti ini."
Nial mendengus. Ia memajukan tubuhnya, memangkas jarak hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Tangan kekarnya bergerak mencengkeram dagu Queen dengan kelembutan yang menuntut kepatuhan, memaksanya untuk tidak mengalihkan pandangan.
"Queen Lexian, jangan membuatku sakit kepala malam - malam begini," desis Nial parau. Ada kilat frustrasi yang coba ia redam di balik tatapan dinginnya. "Inti dari ucapanmu itu apa, hm? Tidak bisa bertemu setiap saat apanya? Aku bisa meluangkan waktu, dan kau juga bisa menemuiku. Semuanya bisa, asalkan kau mau."
Queen memejamkan mata sejenak, merasakan tangan Nial yang masih menangkup dagunya dengan posesif. Ia tahu ia tidak bisa terus - terusan berbohong. Pria di hadapannya ini bukanlah orang yang bisa dikelabui dengan argumen rasional tentang toko bunga atau jarak New York.
"Bukan soal mau atau tidak, Nial..." Queen akhirnya menepis tangan Nial dengan lembut, lalu berdiri dan berjalan menjauh ke arah jendela. Ia membelakangi pria itu. "Keadaanku jauh lebih rumit dari yang kau bayangkan."
"Rumit?" Nial mendengus, bangkit berdiri dan menghampiri Queen, berdiri tepat di belakangnya. "Tidak ada yang rumit jika kau menginginkannya. Katakan padaku, apa yang sebenarnya membuatmu begitu khawatir?"
Queen memejamkan mata, membiarkan dinginnya kaca jendela menjalar ke jemarinya. "Ayahku, baru saja tiba di Paris. Dan, ibuku ... maksudku ibu tiriku mungkin juga ada bersamanya."
"Dan? Apa masalahnya? Aku bisa mengatur pertemuan dengan mereka jika itu yang kau inginkan."
Queen tertawa pahit, sebuah tawa yang sarat akan luka lama. Ia berbalik, menatap Nial dengan mata yang mulai berkaca - kaca. "Kau tidak paham, Nial. Mereka bukan sekadar orang tua bagiku. Terutama ayahku. Keduanya adalah alasan kenapa selama satu tahun terakhir aku harus melarikan diri ke Paris bersama Axel."
Nial terdiam, membiarkan Queen melanjutkan dengan suara yang mulai serak.
"Helena, yang dunia tahu adalah ibuku ... dia membongkar fakta bahwa aku bukan darah dagingnya. Aku adalah anak dari hasil perselingkuhan ayahku dengan wanita lain." Queen menunduk, tak sanggup melihat reaksi Nial. "Di matanya, aku hanyalah noda. Seseorang yang hanya pantas disembunyikan. Dan besok, untuk pertama kalinya setelah satu tahun, aku harus berhadapan dengannya lagi."
Hening merajai ruangan itu. Queen menunggu Nial mencemoohnya, atau mungkin meninggalkannya karena menganggapnya sebagai wanita dengan latar belakang keluarga yang kacau.
Namun, Nial justru melakukan sebaliknya. Pria itu menarik Queen ke dalam pelukan yang begitu kuat dan protektif, menyembunyikan wajah Queen di dada bidangnya.
"Noda?" Nial menggeleng. "Bagiku, kau adalah satu - satunya wanita yang mampu membuat seorang Nial Percy kehilangan akal sehatnya."
Ia melepas pelukan, lalu menarik dagu Queen agar menatapnya, "Dengar, Queen. Aku tidak peduli siapa ibumu, atau apa statusmu di keluarga itu. Aku tetap mencintaimu."
"Tapi ... Nial, aku tidak ingin nama baikmu ikut rusak jika nantinya statusku terkuak." bisik Queen lirih, matanya menatap Nial penuh kecemasan.
Menjadi noda di keluarganya sendiri sudah cukup membebani hidup Queen, ia tidak sanggup jika harus menyeret pria sekuat Nial ke dalam pusaran skandalnya.
Nial menatap Queen lurus - lurus, seulas seringai tipis yang sarat akan keangkuhan khas seorang Percy terbit di bibirnya. Ia kembali menarik Queen kedalam pelukannya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, Sweetheart. Aku yang akan mengatasi semuanya. Tugasmu hanya satu; tetap berada di jangkauanku."
Queen tertegun, kehangatan dari pelukan dan ucapan Nial perlahan mengikis rasa dingin yang sempat membekukan hatinya.
"Sekarang, waktunya tidur, Sweetheart. Ayo."
Nial berbalik, berniat menuntun Queen melangkah menuju ranjang berukuran king size yang terletak di tengah ruangan. Namun, baru dua langkah berjalan, Queen menahan pergelangan tangan Nial, membuat langkah kaki pria itu terhenti seketika.
Nial menoleh, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan bertanya.
"Kau juga ... pergilah tidur," ujar Queen sedikit canggung, mengkode agar Nial kembali ke kamarnya sendiri.
Bukannya melangkah pergi, Nial justru menatap ranjang Queen dengan santai. "Aku akan tidur di sini."
"Tidak!" seru Queen cepat, "Tidak boleh!"
Jantung Queen berdegup kencang. Memorinya kembali memutar kejadian di dalam mobil.
Berada dalam jarak sedekat ini dengan Nial, dalam suasana kamar yang sepi dan remang, benar - benar ancaman besar bagi kewarasannya. Queen tidak yakin ia bisa berpikir jernih jika pria ini berbaring di sampingnya semalaman.
Nial membalikkan tubuh sepenuhnya menghadap Queen, seringai tipis terukir di sudut bibirnya. "Kenapa tidak boleh? Kita hanya tidur, Queen. Atau ... kau mengharapkan hal lain?"
"A–apa? Tentu saja tidak!" Queen mendengus, lalu melipat kedua tangan di dada dengan dahi berkerut sebal. "Kau yakin tanganmu bisa diam?"
Mendengar tuduhan itu, Nial justru terkekeh. Pria itu mengangkat sebelah tangan kanannya ke udara, lalu menggerakkan jari - jari kokohnya dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat menggoda.
"Aku janji, tangan ini tidak akan menyusup ke dalam pakaian dalammu dan—"
"Nial!" pekik Queen histeris. Ia langsung mengangkat kedua tangannya, menutupi telinga dengan wajah yang sudah memerah sempurna sampai ke leher. Ia benar-benar merutuki ucapan Nial yang keluar begitu saja tanpa disaring.
Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal vulgar seperti itu dengan wajah sedatar telaga?
Tawa kecil Nial pecah melihat reaksi menggemaskan wanitanya. Sebelum Queen sempat memprotes lebih jauh, Nial maju selangkah dan langsung mengangkat tubuh Queen ke dalam gendongannya.
"Nial, turunkan!" Queen memukul pelan dada bidang Nial, namun pria itu mengabaikannya dan terus melangkah mantap menuju ranjang.
Dengan sangat hati - hati, Nial membaringkan tubuh gadis itu di atas kasur yang empuk, lalu ikut merangkak naik, memposisikan dirinya berbaring di sebelah Queen, dan menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua hingga sebatas dada.
"Jangan khawatir," bisik Nial, suaranya melembut namun terdengar begitu sensual. "Aku tidak akan melakukan apa-apa ... kalau kau tidak mengajakku melakukannya lebih dulu."
Astaga!
Queen rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Kalimat Nial sukses membuat otaknya mendadak traveling kembali ke kejadian di dalam mobil. Sialnya, ingatan itu berputar dengan sangat jelas; fakta memalukan bahwa memang ia yang pertama kali memancing pria itu.
"Aku akan membuat batas," cetus Queen dengan sisa - sisa wajahnya yang masih memerah matang.
Guna menyelamatkan harga dirinya yang baru saja jatuh, ia buru - buru meraih satu bantal di dekatnya, lalu memposisikannya tepat di tengah - tengah kasur, membelah area tidur mereka menjadi dua bagian yang adil.
"Jangan coba - coba melanggar batas yang sudah kubuat ini," tegas Queen lagi, menunjuk bantal itu dengan tatapan mengancam yang alih-alih menakutkan, justru terlihat menggemaskan di mata Nial. "Dan aku juga tidak akan melanggarnya."
Nial memperhatikan tingkah defensif wanitanya dengan senyuman tipis yang tertahan di sudut bibir. Tanpa berniat mendebat, pria itu mengangguk patuh. "Baiklah, Sweetheart. Sesuai maumu."
Queen mendengus pelan, lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Nial, mencoba memejamkan mata dan menjemput kantuk yang sempat hilang.
Sementara Nial hanya menatap punggung kecil itu dalam diam sebelum akhirnya ikut memejamkan mata, membiarkan keheningan malam Paris menyelimuti kamar mewah tersebut.
Beberapa puluh menit berlalu, benteng pertahanan dan batas suci yang dibuat Queen dengan penuh harga diri tadi resmi runtuh tak bersisa.
Nial perlahan mengerjapkan matanya saat merasakan sebuah pergerakan halus di sampingnya. Detik berikutnya, ia merasakan sentuhan hangat saat tubuh mungil Queen bergeser, melewati pembatas bantal, dan langsung menabrak dada bidangnya tanpa permisi.
Nial menunduk, menatap wanita yang beberapa menit lalu begitu galak membuat aturan, kini justru sudah tertidur dengan sangat pulas. Kedua lengan kecil Queen melingkar posesif di pinggang Nial, menjadikan dada bidang pria itu sebagai sandaran ternyaman.
Nial tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah tawa rendah nan seksi lolos dari tenggorokannya. Ia menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kontradiksi menggemaskan dari wanitanya ini.
"Wanita memang tidak bisa ditebak." gumam Nial.
Alih - alih menjauhkan tubuh Queen demi mematuhi 'perjanjian' tadi, Nial justru mengulas senyum lebar. Tangan kokohnya bergerak lembut, membalas pelukan Queen dan mendekap tubuh mungil itu semakin erat ke dalam dadanya.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰