Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh dari Masa Lalu
Sinar matahari pagi di Maladewa menyapu lautan dengan warna keemasan yang berkilau. Di dalam overwater villa, Mentari terbangun dengan senyum tipis di bibirnya. Embusan angin laut yang masuk melalui celah gorden membawa aroma garam dan kebebasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, ketika ia menoleh ke samping, tempat Devan berbaring sudah kosong.
Mentari bangkit, mengenakan gaun mandi sutra putihnya, lalu melangkah keluar menuju balkon kayu yang menghadap ke laut lepas. Di ujung dermaga privat, Devan berdiri membelakanginya. Pria itu sudah mengenakan kemeja linen hitam yang lengannya digulung hingga siku, tengah memegang telepon satelit dengan ekspresi wajah yang amat tegang.
"Pastikan seluruh aset tanah di kawasan BSD dan Karawaci atas nama keluarga Ayuningtyas masuk dalam pengawasan tim hukum utama kita," suara Devan terdengar dingin dan tajam, memotong desir angin laut. "Aku tidak peduli seberapa besar dana yang ditumpahkan Vaneck Corporation di bursa. Blokir setiap celah akuisisi. Jika ada berkas lama yang keluar dari arsip pertanahan nasional, aku ingin dokumen itu ada di mejaku sebelum matahari terbenam."
Mentari menghentikan langkahnya. Jantungnya berdesir pelan. Vaneck Corporation? Aset tanah keluarga Ayuningtyas?
Sembilan tahun lalu, sebelum ayahnya bangkrut dan dituduh melakukan kecurangan oleh keluarga Bramantyo, ada satu nama asing yang sering diucapkan ayahnya dalam bisik-bisik penuh kecemasan di ruang kerja: Vaneck. Sebuah keluarga pengusaha keturunan Eropa yang memegang hak konsesi tanah raksasa di Jawa Barat sebelum akhirnya menghilang dari panggung bisnis Indonesia secara misterius.
Devan mematikan saluran teleponnya, lalu mengembuskan napas panjang. Begitu ia berbalik, matanya langsung bertabrakan dengan tatapan Mentari yang dipenuhi sejuta pertanyaan.
Raut wajah Devan seketika melunak, berusaha menetralkan ekspresi tegangnya dalam hitungan detik. Ia tersenyum, melangkah mendekati istrinya. "Sudah bangun, Sayang? Kenapa tidak memanggilku?"
Mentari tidak membalas senyuman itu. Ia menatap Devan lekat-lekat, menyilangkan tangannya di dada. "Devan... siapa Julian Vaneck?"
Langkah Devan terhenti sejenak. Mata elangnya menyipit tipis, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menyembunyikan hal ini dari wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya. Devan menghela napas, berjalan mendekati Mentari, lalu merangkul pinggang wanita itu dan membawanya duduk di kursi santai di balkon.
"Kamu mendengarnya?" tanya Devan lembut.
"Aku mendengar semuanya," aku Mentari jujur. "Nama Vaneck... aku ingat Ayah pernah menyebutnya beberapa bulan sebelum bisnis keluarga kami hancur. Ayah bilang, ada dokumen perjanjian lama tentang tanah warisan Kakek yang diincar oleh keluarga itu. Devan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa nama itu muncul lagi sekarang?"
Devan menggenggam kedua tangan Mentari, mengusap punggung jemari istrinya dengan ibu jari untuk memberikan ketenangan.
"Julian Vaneck adalah putra dari Arthur Vaneck," Devan memulai penjelasannya dengan suara bariton yang tenang. "Sembilan tahun lalu, saat ayahmu dijebak oleh Bramantyo dan Paman Baskoro, Arthur Vaneck sebenarnya adalah pihak ketiga yang membiayai konspirasi itu dari balik layar. Pria itu menginginkan sertifikat induk atas lahan ratusan hektar milik keluarga Ayuningtyas yang kini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Elvano Group."
Mentari menahan napasnya. "Jadi... kebangkrutan Ayah bukan hanya karena persaingan lokal?"
"Bukan," tegas Devan, matanya memancarkan kilat berbahaya. "Bramantyo hanya anjing suruhan yang serakah, sedangkan Arthur Vaneck adalah serigala di balik semak-semak. Saat aku mengambil alih aset-aset itu dan membangun Elvano Group, aku secara tidak langsung memotong rantai bisnis keluarga Vaneck di Asia Tenggara. Arthur meninggal dua tahun lalu di Swiss, dan sekarang... putranya, Julian Vaneck, datang untuk menuntut balas."
Mentari merasakan dingin menyusup ke dadanya. Bayang-bayang masa lalu yang ia kira telah usai ternyata memiliki akar yang jauh lebih dalam dan beracun.
"Julian mencoba membeli saham anak perusahaan kita di Singapura kemarin," lanjut Devan, meremas pelan tangan Mentari untuk menyalurkan kekuatan. "Tapi kamu tidak perlu cemas, Mentari. Aku sudah membentengi seluruh aset kita. Dia tidak akan bisa menyentuhmu, tidak akan pernah bisa merebut apa pun yang menjadi hakmu."
Mentari menatap Devan, melihat keteguhan yang tak tergoyahkan di wajah suaminya. Namun, kali ini Mentari tidak ingin hanya menjadi wanita yang dilindungi di belakang punggung Devan. Ia merapatkan genggamannya pada tangan Devan.
"Dokumen perjanjian tanah itu..." bisik Mentari, ingatannya mendadak berputar kembali ke masa kecilnya. "Devan, aku ingat sesuatu. Sebelum Ayah meninggal di rumah sakit, Ayah pernah memberiku sebuah kotak kayu kecil berukir milik Kakek. Ayah bilang, kotak itu berisi kaset pita tua dan selembar peta tanah asli yang tidak pernah diserahkan ke bank."
Devan tertegun. Matanya membelalak kecil. "Kotak kayu? Di mana kotak itu sekarang, Mentari?"
"Aku menyimpannya di dalam brankas deposit bank tua di Jakarta," jawab Mentari mantap. "Paman Baskoro pernah menggeledah rumah kami dulu untuk mencari kotak itu, tapi dia tidak pernah menemukannya karena Ayah menyembunyikan kunci brankasnya di dalam liontin kalung yang kupakai sejak kecil."
Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kemenangan perlahan terukir di bibir Devan. Kotak kayu itu bukan sekadar dokumen tua; itu adalah senjata rahasia yang bisa menghancurkan legitimasi klaim Vaneck Corporation secara hukum internasional.
"Sepertinya liburan kita di Maladewa harus kita percepat sedikit, Nyonya Elvano," ujar Devan dengan binar mata penuh determinasi. "Musuh kita sudah berada di luar pagar, dan ini saatnya kita memberi mereka sambutan yang pantas."
Sementara itu, di sebuah suite mewah hotel bintang lima di Male, pulau utama Maladewa, Julian Vaneck berdiri di dekat jendela setinggi langit-langit, menatap pemandangan pelabuhan. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi anggur merah diputar-putar pelan.
Pintu suite terbuka, dan seorang pria berotot bersetelan jas kelabu—kepala keamanannya, Marcus—melangkah masuk dengan cepat.
"Tuan Julian, laporan dari agen kita di penerbangan privat," ujar Marcus dengan nada bicara yang teratur. "Devan Elvano dan istrinya telah menyelesikan proses check-out dari pulau pribadi. Helikopter mereka baru saja mendarat di bandara Male. Mereka akan terbang kembali ke Jakarta dua jam lagi dengan jet pribadi."
Julian menghentikan gerakan tangannya. Ia tersenyum sinis, memperlihatkan deretan giginya yang putih sempurna. "Reaksi yang sangat cepat. Devan menyadari pergerakanku di bursa Singapura lebih cepat dari yang kuperkirakan."
"Apakah kita perlu menyabotase penerbangan mereka, Tuan?" tanya Marcus dingin.
"Jangan bodoh, Marcus," potong Julian seraya menyesap anggurnya. "Membunuh Devan Elvano di penerbangan internasional hanya akan memicu penyelidikan interpol yang tidak perlu dan membekukan seluruh aset Elvano Group yang ingin kuasai. Aku tidak menginginkan mayatnya. Aku menginginkan kekaisarannya... dan aku menginginkan wanita yang memegang hak waris atas tanah tersebut."
Julian berjalan ke meja kerjanya, mengambil sebuah foto lama yang memperlihatkan sosok Mentari remaja bersama ayahnya di depan rumah lama mereka.
"Sembilan tahun lalu, Devan Elvano bertindak sebagai pahlawan yang menyelamatkan wanita itu dari kemiskinan," bisik Julian, jemarinya mengusap permukaan foto tersebut dengan kejam. "Tapi kali ini, aku akan memastikan bahwa pahlawan itu sendiri yang menyerahkan istrinya dan seluruh kekayaannya kepadaku. Persiapkan jet kita. Kita kembali ke Jakarta hari ini."
Pukul empat sore waktu lokal, jet pribadi Elvano Air membelah awan di atas Samudra Hindia, membawa Devan dan Mentari kembali ke jantung pertempuran di Jakarta.
Di dalam kabin eksekutif yang tenang, Mentari duduk memeluk cangkir teh hangatnya. Di lehernya, sebuah liontin perak berbentuk hati—yang selama ini dianggapnya hanya sebagai perhiasan kenangan dari almarhum ayahnya—kini berada dalam genggaman jemarinya. Di dalam liontin itulah tersimpan kunci kecil menuju jawaban atas seluruh konspirasi sembilan tahun lalu.
Devan duduk di sampingnya, melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemejanya. Pria itu tidak lagi memandang pertempuran ini sebagai sekadar pertarungan korporasi biasa. Ini adalah pertarungan untuk mempertahankan warisan keluarga istrinya dan menjaga kedamaian yang baru saja mereka raih.
Devan merangkul bahu Mentari, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya. Mentari menyandarkan kepalanya di sana, mendengarkan detak jantung Devan yang tenang namun penuh kekuatan.
"Takut?" bisik Devan lembut di telinga Mentari.
Mentari menggelengkan kepala, menatap lurus ke depan dengan mata yang memancarkan keberanian baru. "Tidak lagi, Devan. Dulu aku sendirian menanggung rasa sakit ini. Tapi sekarang... aku adalah istri dari Devan Elvano. Kita akan menghadapi Julian Vaneck bersama-sama."
Devan tersenyum bangga, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Perang baru telah ditabuh di atas papan catur bisnis internasional, namun di atas lautan awan itu, dua hati yang telah menyatu dalam janji suci pernikahan siap meruntuhkan siapa saja yang mencoba mengusik kedamaian mereka.