Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Jejak Kehampaan dan Pertemuan di Gerbang Satu
Derap langkah belasan kuda perkasa dari Guild Elang Emas akhirnya berhenti tepat di batas terluar Hutan Sihir Kegelapan. Setelah berpamitan dengan sang maestro Moses di Kota Toga, rombongan elit yang dipimpin oleh Kapten Arlan itu kini berdiri menatap hamparan pepohonan hitam yang mencekam.
Sesuai prosedur ekspedisi, Kapten Arlan melangkah ke depan dan memicu mekanisme sihir kuno hutan tersebut. Dalam sekejap, sebuah proyeksi sihir cahaya keemasan merekah di udara, menampilkan denah dan detail informasi wilayah yang akan mereka tempuh.
[INFORMASI EKSPEDISI HUTAN SIHIR KEGELAPAN]
GERBANG NOL (Pintu Masuk Awal):
Penjaga: The Long-Armed Stone Lurker (Monster Tangan Panjang).
Atribut Sihir: Sihir Elemen Batu dan Manipulasi Tanah Sekitar.
Bahaya: Menyerang dari balik kabut hitam pekat yang menyelimuti area.
"Semuanya, merapat dan pasang barrier sihir tingkat tiga!" perintah Kapten Arlan dengan suara berat penuh kewaspadaan, mencabut pedang besarnya. "Informasi menyebutkan ada monster tangan panjang yang berkamuflase di balik kabut hitam. Tetap dalam formasi pertahanan!"
Rose menarik tongkat sihir safirnya, menyerap kelembapan udara untuk bersiap merapalkan sihir pelindung air. Namun, setelah beberapa menit rombongan melangkah masuk melintasi garis Gerbang Nol, suasana ganjil justru menyambut mereka.
Tidak ada serangan mendadak dari balik tanah. Tidak ada cangkram lengan batu raksasa yang mengincar leher mereka.
Bahkan, kabut hitam pekat yang seharusnya menyelimuti wilayah ini telah meluas tipis dan memudar sepenuhnya, menyisakan pemandangan tanah hancur yang dipenuhi oleh serpihan batu obsidian yang telah mengering menjadi abu.
Kapten Arlan menghentikan langkahnya, mengernyitkan kening dengan cemas dan bingung. "Ada yang tidak beres... Ke mana monster tangan panjang penjaga Gerbang Nol? Dan mengapa kabut sihirnya hilang sama sekali?"
Seorang kesatria senior di sampingnya menyapu pandangan ke sekeliling area yang tampak porak-poranda. "Kapten, tempat ini... seperti baru saja diterjang oleh kehancuran masif.
Seseorang telah membunuh penjaga Gerbang Nol dan menyerap habis energi sihir di tempat ini hingga kabutnya sirna!"
Rose yang mendengar hal itu mendadak teringat pada cerita Moses di bengkel. Senyuman tipis terukir di bibirnya. Ia tahu betul siapa satu-satunya orang gila yang mampu membersihkan area berbahaya ini sendirian dalam waktu singkat.
"Kita tidak perlu membuang waktu di sini," ucap Kapten Arlan, meski kebingungan masih menutupi wajahnya. "Area ini sudah aman. Lanjutkan perjalanan menuju Gerbang Satu!"
Rombongan Guild Elang Emas bergerak cepat menyusuri jalur setapak yang telah bersih dari rintangan. Namun, begitu mereka mendekati struktur gerbang batu raksasa yang menandai wilayah lapis kedua—Gerbang Satu—gemuruh gelombang kejut dan dentuman benturan logam yang sangat
dahsyat memekakkan telinga mereka.
BRRAAAK! BANG!
"Ada pertarungan tingkat tinggi di depan!" teriak Kapten
Arlan. "Siapkan senjata kalian!"
Para kesatria Guild Elang Emas melesat keluar dari balik reruntuhan gerbang batu, namun langkah kaki mereka seketika terhenti mematung. Matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan gila di tengah lapangan batu tersebut.
LPDi sana, sesosok monster raksasa berkepala dua—Double-Headed Vanguard—sedang mengayunkan gada besarnya secara brutal. Namun yang membuat seluruh anggota guild terperanjat adalah lawan dari monster tersebut.
Bukanlah sebuah pasukan kesatria senior bercincin sihir tinggi, melainkan seorang pemuda sendirian berjubah hitam robek.
SLAAP! TRANG! SLAAP!
Pemuda itu bergerak bagaikan bayangan hitam yang menari di antara kematian. Dengan kecepatan refleks yang luar biasa, ia tidak hanya menghindari setiap pukulan maut sang monster, tetapi juga membalasnya dengan tebasan-tebasan jarak dekat yang teramat sangat presisi. Setiap kali pedangnya menyentuh barrier murni milik monster, pendaran sihir pelindung itu seketika tersedot masuk ke dalam bilah abu-abu gelapnya.
"M-mustahil..." gumam salah satu kesatria senior Elang Emas dengan suara bergetar. "Anak itu... dia bertarung jarak dekat melawan Double-Headed Vanguard sendirian?! Monster itu punya pelindung absolut dan regenerasi instan! Biasanya butuh minimal lima kesatria sihir kelas atas untuk mengimbangi pergerakannya!"
Kapten Arlan hanya bisa melotot tak percaya. "Bagaimana bisa seorang pemuda memfokuskan sihir dan ketajaman pedangnya hingga setipis rambut seperti itu? Ketepatan kontrol energinya benar-benar berada di tingkat jenius monster!"
Sementara itu, Askara yang berada di pusat badai pertempuran sama sekali tidak menyadari kehadiran rombongan Guild Elang Emas. Seluruh panca indra, fokus, dan jiwa bertarungnya telah terkunci sepenuhnya pada pergerakan Double-Headed Vanguard. Bagi Askara saat ini, yang ada hanyalah aliran sihir musuh, ritme tebasan Sunya, dan cara untuk merobek pertahanan absolut di depannya.
Di barisan belakang guild, Rose berdiri mematung. Matanya yang jernih menatap tanpa kedip pada siluet pemuda berjubah hitam yang sangat ia kenali.
Rasa kagum yang teramat besar membuncah di dalam dada Rose. Melihat bagaimana Askara bertarung dengan begitu tenang, mendominasi monster lapis kedua yang sangat ditakuti oleh para kesatria veteran, membuat jantung Rose berdetak kencang. Ia tidak hanya melihat seorang pemuda yang pernah menyelamatkannya dulu, tetapi seorang pendekar sejati yang telah berhasil menjinakkan takdir kehampaannya.
Rose merapatkan jemarinya pada tongkat sihir safirnya. Binar matanya berkilat penuh tekad dan gairah bertarung yang membara. Ia tidak mau lagi hanya menjadi penonton yang terpana dari kejauhan.
Askara... kau benar-benar telah menjadi sejauh ini, batin Rose, seulas senyuman indah dan bangga merekah di wajah cantiknya. Kali ini, biarkan aku bertarung di sampingmu!