NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Di Dunia Modern

Dewa Pedang Di Dunia Modern

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Dunia Masa Depan
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: R. Seftia

Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.

Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.

Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.

Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.

...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewa Pedang Di Dunia Modern

Zhang Lin, sang "Dewa Perang" yang namanya pernah membuat gemetar musuh-musuh di perbatasan Dinasti Yin, kini berlutut di atas altar eksekusi. Di hadapannya, ribuan rakyat yang pernah ia lindungi dengan taruhan nyawa kini bersorak gembira, melempari dirinya dengan caci maki.

​“Pengkhianat negara!”

“Matilah kau, Zhang Lin!”

Demi melindungi nama baik sang pangeran yang melarikan diri dari medan perang, beberapa pejabat negara menjebak Zhang Lin— mengatakan jika dialah sosok penghianat yang telah melarikan diri dari medan perang karena takut kematian.

Padahal yang sebenarnya, Zhang Lin adalah sosok pemberani yang tidak pernah mundur atau pun takut dengan kematian! Tetapi kini semua itu sudah tidak lagi berarti, karena demi melindungi nama baik sang pangeran, ia harus menerima semua makian, hinaan dan juga kematian.

​"Tegakkan kepalamu, Zhang Lin!" bentak sang algojo, mengangkat pedang besar yang berkilau dingin di bawah terik matahari.

​Zhang Lin tidak takut mati. Namun, dadanya sesak oleh amarah yang membakar. Jika ada kehidupan selanjutnya, aku bersumpah tidak akan pernah lagi menjadi perisai bagi mereka yang tidak tahu diri!

​SRAKKK!

Kilatan perak pedang menebas lehernya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam, pandangannya menggelap, dan detak jantung sang Dewa Perang berhenti seketika.

​HIIIIKKKK—!!

​Suara lengkingan tajam yang belum pernah didengarnya seumur hidup memaksa kesadaran Zhang Lin kembali. Alih-alih mencium bau tanah altar atau dinginnya alam baka, hidungnya justru dipenuhi bau asap aneh yang menyengat dan aroma karet terbakar.

​"Hei! Kalau mau mati jangan di tengah jalan, Goblok!" sebuah teriakan kasar bergema.

​Zhang Lin tersentak, matanya terbuka lebar. Rasa sakit di lehernya lenyap tanpa bekas. Ia tidak lagi berlutut di atas altar kayu, melainkan bersimpuh di atas permukaan hitam yang sangat keras dan rata.

Kebingungan... Zhang Lin benar-benar tidak tahu di mana keberadaannya dirinya saat itu. Tempat aneh, orang-orang aneh, pakaian aneh... bahkan, gaya rambut yang aneh.

Semuanya benar-benar sangat aneh bagi Zhang Lin!

Melihat keanehan yang ada di depan matanya, Zhang Lin benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Segala hal yang ada di depan matanya pada saat itu benar-benar baru bagi dirinya—kotak besi yang bisa berjalan dengan empat roda, dan di mana di dalam kotak besi tersebut ada seseorang... pemandangan itu benar-benar sangat aneh bagi Zhang Lin.

Zhang Lin terpaku. Ia perlahan bangkit berdiri, menatap sekeliling dengan jantung yang berdegup kencang. Ini bukan Dinasti Yin. Ini bahkan tidak terlihat seperti bumi yang ia kenal.

Di sekelilingnya, menara-menara kaca raksasa menjulang tinggi hingga seolah menembus awan.

Cahaya lampu berwarna-warni berkedip dari papan-papan besar yang menampilkan gambar manusia yang bergerak. Dan orang-orang... puluhan, ratusan orang di sekitarnya berjalan dengan tergesa-gesa.

Zhang Lin menunduk melihat dirinya sendiri. Ia masih mengenakan jubah perang berlapis zirah perak milik Dinasti Yin yang compang-camping dan berlumuran darah kering. Rambut panjangnya terurai berantakan.

​"Wah, lihat itu. Cosplay-nya niat banget ya?" bisik seorang gadis muda yang lewat sambil mengarahkan kotak kecilnya ke arah Zhang Lin.

"Keren sih, tapi mukanya pucat banget. Kayak habis keluar dari set film beneran."

"Bukan hanya orang-orangnya saja yang aneh... tetapi, cara mereka berbicara juga sangat aneh. Dan kenapa orangtua mereka membiarkan para wanita memakai pakaian ketat dan terbuka seperti itu? Benar-benar tid—"

Brukk!

Karena asik berbicara sendiri, Zhang Lin sampai tidak menyadari bahwa sebuah mobil bergerak dengan laju kearah dirinya dan kemudian menabraknya hingga ia melayang sedikit jauh dari posisi awal ia berdiri.

Dan tepat ketika Zhang Lin membuka matanya kembali, ia sekali lagi terkejut karena ini berada di sebuah tempat dimana pencahayaan disana begitu terang bahwa juga sangat dingin.

"Apakah sekarang aku benar-benar sudah pergi ke alam lain? Apakah ini yang dinamakan alam baka?"

Di tengah-tengah kebingungan yang dirasakan oleh Zhang Lin, tiba-tiba saja di balik tirai seorang wanita muncul.

Wanita itu terlihat sangat cantik, namun wajahnya terlihat sangat kelelahan. Dia juga terlihat gugup serta panik ketika berhadapan langsung dengan Zhang Lin.

Dan tepat ketika Zhang Lin ingin bertanya, wanita itu langsung menunduk di hadapannya dan kemudian memohon maaf kepada Zhang Lin.

"Maafkan aku..." Wanita itu terus membungkuk di hadapan Zhang Lin yang kebingungan. "Aku benar-benar tidak sengaja menabrak kamu. Sebenarnya aku sangat kelelahan karena terus bekerja lembur beberapa hal terakhir ini; dan karena itulah hal seperti ini akhirnya terjadi. Kumohon tolong maafkan aku... dan jika bisa tolong jangan laporkan hal ini kepada polisi. Aku ini orang miskin... aku benar-benar tidak punya uang untuk memberikan kompensasi."

Ketika wanita aneh itu terus berbicara, Zhang Lin tidak terlalu mendengarkan karena pada saat itu ia terlalu sibuk melihat kesibukan para dokter dan juga suster dalam merawat orang-orang sakit yang ada di ruang unit darurat tersebut.

Zhang Lin tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap kelincahan para tenaga medis dalam menangani orang-orang yang sedang sakit; dan jauh di dalam hatinya, Zhang Lin sedikit berharap... jika saja Dinasti Yin memiliki semua ini, maka orang-orang tidak akan mati begitu saja ketika wabah datang.

Saat wanita itu terus berbicara tanpa henti, dan ketika Zhang Lin terus mengagumi semua hal yang ada di sekitarnya... tiba-tiba seorang suster datang dan kemudian membuat keduanya langsung mengalihkan perhatian mereka kepada suster itu.

"Maaf sebelumnya, tetapi kami harus mengetahui dahulu data pasien. Dan jika boleh tahu, siapa nama Anda, tuan?" tanya Suster kepada Zhang Lin.

"Zhang Lin," jawab Zhang Lin dengan lancar.

"Baik. Tuan Zhang Lin... apakah Anda punya kartu identitas?"

Zhang Lin sekali lagi kebingungan karena ditanya hal-hal yang tidak dia mengerti.

"Ka-kartu identitas? Apa itu?" tanya Zhang Lin, menatap wanita yang menabrak dirinya, dan kemudian menatap suster.

Ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Zhang Lin, suster tersebut kemudian langsung menarik wanita yang menabrak Zhang Lin— membawa wanita itu untuk menjauh dari Zhang Lin.

Setelah beberapa saat, wanita itu berbalik seorang diri tanpa ada suster di sampingnya. Dan ekspresi wanita itu jauh lebih kelihatan lelah daripada sebelumnya.

"Apakah saat ini kamu tahu kamu sedang berada di mana?" tanya wanita itu tiba-tiba.

Zhang Lin menjawab dengan jujur dengan menggelengkan kepalanya.

Ketika mendapat di jawaban yang diberikan oleh Zhang Lin, wanita itu tampak ingin menangis.

"Baiklah... mungkin ini memang sudah menjadi nasibku. Nasib buruk... benar-benar buruk."

Zhang Lin benar-benar tidak mengerti kenapa wanita itu menyalahkan nasibnya sendiri; tetapi setelah ia keluar dari rumah sakit itu, akhirnya ia mengerti kenapa wanita tersebut menyalahkan nasib buruknya.

"Karena ini adalah kesalahanku, dan karena aku tidak punya cukup uang untuk memberikan kompensasi lebih lanjut kepadamu... karena itu, mulai sekarang kamu bisa tinggal denganku; setidaknya sampai kamu bisa mendapatkan kembali kewarasanmu," ucap wanita itu.

"Dan... kenalkan. Aku Li Na."

...

-Bersambung-

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!