NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27 : Target

Sementara itu... di Mansion Moretti.

Malam telah larut. Seluruh lorong mansion mulai lengang. Lampu-lampu utama dimatikan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu dinding.

Di kamar yang berada di lantai dua...

Aurora masih belum bisa memejamkan mata. Ia duduk di dekat jendela sambil memandang taman yang diselimuti embun malam. Di atas meja, kotak kayu, liontin bunga lily, dan surat peninggalan Maria Laurent masih tertata rapi.

Ia mengusap perlahan permukaan surat itu.

Aurora tersenyum kecil. "Aku memang tidak sendirian sekarang."

Namun entah mengapa... hatinya masih mengatakan belum waktunya membuka surat itu. Ia bangkit dari kursi, lalu berjalan menuju balkon kecil di luar kamarnya.

Udara malam Zurich terasa dingin. Aurora memeluk kedua lengannya sendiri sambil menatap langit.

"Aurelia..."

Nama itu terasa asing, tetapi juga begitu dekat di hatinya.

"Kalau kau benar-benar ada..." Matanya mulai berkaca-kaca. "Apa kau juga sedang melihat langit yang sama?"

Angin malam berembus pelan, memainkan helaian rambut panjangnya. Entah kenapa, kali ini Aurora tidak lagi merasa sendirian.

Di suatu tempat...

Ada seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya.

Tok... tok...

Suara ketukan pelan membuat Aurora menoleh.

"Masuk."

Pintu kamar terbuka perlahan.

Yang muncul ternyata bukan pelayan, melainkan Adrian. Pria itu masih mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku. Di tangannya terdapat sebuah nampan berisi secangkir cokelat hangat.

Aurora tampak sedikit terkejut. "Tuan Adrian?"

"Aku mengetuk beberapa kali."

Aurora tersenyum malu. "Maaf... aku sedang melamun."

Adrian berjalan mendekat lalu meletakkan cangkir itu di atas meja. "Kau belum tidur."

Aurora menggeleng.

"Tidak bisa?"

"Iya."

Adrian melirik surat dan liontin di atas meja. "Kau terus memikirkannya."

Aurora mengangguk pelan. "Aku selalu ingin mengetahui siapa diriku." Ia tersenyum pahit. "Sekarang saat sedikit demi sedikit jawabannya muncul..." Aurora menundukkan kepala. "Aku justru takut."

Adrian menatapnya beberapa saat. "Takut apa?"

Aurora menggigit bibir bawahnya. "Takut semuanya berakhir buruk, takut ternyata keluargaku sudah benar-benar tidak ada, dan aku juga takut kalau saudara yang mungkin masih hidup..." Suaranya bergetar. "Membenciku karena aku tidak pernah mencarinya."

Adrian tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia berkata pelan, "kalau dia benar-benar saudaramu..."

Aurora mengangkat wajahnya. "Dia pasti juga sedang mencarimu."

Aurora terdiam. "Tapi..."

"Ikatan keluarga tidak selalu hilang karena waktu." Adrian memandang langit malam. "Ada hal-hal yang tetap bertahan... meski dipisahkan puluhan tahun."

Aurora menggenggam liontinnya. "Menurutmu begitu?"

Adrian mengangguk singkat. "Aku yakin."

Kali ini senyum tulus kembali menghiasi wajah Aurora. "Terima kasih."

"Hm."

"Karena kau selalu membuatku lebih tenang."

Adrian hanya mengangguk pelan. Mereka kemudian berdiri berdampingan di balkon tanpa berbicara. Keheningan itu justru terasa nyaman.

Di lantai bawah...

Leonardo yang baru selesai minum teh tanpa sengaja melihat ke arah balkon lantai dua. Ia tersenyum kecil saat melihat Aurora dan Adrian berdiri berdampingan memandang langit.

"Ternyata..." gumamnya pelan. "Anak itu akhirnya menemukan seseorang yang bisa menjadi tempat bersandar."

Tak jauh darinya, kepala pelayan tua ikut melihat ke arah yang sama. "Tuan muda Adrian banyak berubah."

Leonardo mengangguk sambil tersenyum. "Dulu dia selalu memikul semuanya sendirian. Sekarang..." tatapannya kembali mengarah kepada Aurora. "Dia mulai belajar menjaga seseorang."

Sementara itu...

Di kamar Aurora.

Setelah beberapa menit berbincang, Adrian akhirnya berbalik menuju pintu. "Beristirahatlah."

Aurora mengangguk. "Baik."

Saat Adrian hampir membuka pintu... "Tuan Adrian."

Pria itu berhenti. "Ada apa?"

Aurora tersenyum hangat. "Selamat malam."

Adrian memandangnya beberapa detik. Sorot matanya yang biasanya dingin tampak sedikit melembut. "Selamat malam, Aurora."

Pintu pun tertutup perlahan.

Aurora mengembuskan napas panjang. Ia menatap kembali liontin bunga lily di tangannya. Kemudian, tanpa sadar, senyum kecil kembali terukir di bibirnya.

"Entah kenapa..." bisiknya lirih. "Aku merasa... hari dimana aku bertemu denganmu, Aurelia... sudah tidak akan lama lagi."

Di luar jendela, bulan akhirnya muncul dari balik awan. Seolah menjadi pertanda bahwa dua saudari yang telah terpisah selama dua puluh dua tahun kini sedang melangkah menuju takdir yang sama.

Keesokan harinya...

Fajar baru saja menyingsing di Kota Zurich. Cahaya matahari perlahan menerobos tirai tipis kamar Aurora. Burung-burung kecil berkicau di taman Mansion Moretti.

Aurora membuka matanya perlahan. Untuk sesaat ia hanya menatap langit-langit kamar. Lalu ingatan tentang hari kemarin kembali memenuhi pikirannya. Gereja tua... makam tanpa nama... liontin bunga lily... dan nama yang terus terngiang di kepalanya... Aurelia.

Aurora perlahan duduk. Tatapannya langsung tertuju pada meja di dekat jendela. Liontin itu masih berada di sana.

Ia mengambilnya, lalu menggantungkan kembali di lehernya.

"Selamat pagi..." gumamnya pelan kepada dirinya sendiri.

Entah mengapa, pagi itu dadanya terasa lebih ringan.

***

Di ruang makan Mansion Moretti...

Leonardo sudah duduk sambil menikmati secangkir kopi.

Beberapa menit kemudian Adrian masuk dengan pakaian rapi seperti biasa. "Selamat pagi, Ayah."

"Pagi."

Leonardo memperhatikan putranya. "Sepertinya tidurmu tidak nyenyak."

"Ada beberapa hal yang harus kupikirkan."

Leonardo mengangguk pelan. "Apa kau masih ingin kembali menemui Pastor Markus?"

"Iya."

"Tapi jangan membawa Aurora dulu."

Adrian mengangkat pandangan. "Kenapa?"

Leonardo menghela napas. "Anak itu baru mulai menerima kenyataan bahwa ia memiliki keluarga. Kalau sekarang kita memberitahunya terlalu banyak. Beban di kepalanya akan semakin berat."

Adrian terdiam, ia tahu apa yamg di katakan Ayahnya benar.

Tak lama kemudian...

Aurora memasuki ruang makan. Gaun sederhana berwarna putih gading membuat wajahnya tampak lebih segar dibanding malam sebelumnya.

"Selamat pagi."

Leonardo tersenyum hangat. "Pagi, Aurora."

Adrian hanya mengangguk singkat.

Aurora membalas anggukan itu sambil tersenyum kecil. Seorang pelayan segera menyajikan sarapan. Untuk beberapa saat suasana terasa tenang.

Namun kemudian Aurora memecah keheningan. "Tuan Leonardo."

"Iya."

"Apa hari ini kita akan pergi lagi?"

Leonardo melirik Adrian sejenak sebelum menjawab. "Tidak hari ini."

Aurora tampak sedikit kecewa.

"Aku ingin kau beristirahat."

"Aku baik-baik saja."

Leonardo tersenyum lembut. "Bukan hanya tubuhmu yang butuh istirahat."

Ia menunjuk pelan kepala Aurora. "Pikiranmu juga."

Aurora akhirnya mengangguk. "Baik."

Sementara mereka sarapan...

Di luar gerbang Mansion Moretti, sebuah mobil sedan hitam berhenti di seberang jalan. Kacanya sangat gelap, seorang pria berjas abu-abu duduk di kursi belakang sambil mengamati gerbang mansion melalui teropong kecil.

"Target berada di dalam."

Pria di kursi depan bertanya pelan, "apakah kita mulai mengawasi?"

Pria itu menggeleng. "Belum saatnya."

"Lalu?"

"Kita hanya memastikan." Tatapannya tetap tertuju pada gerbang. "Apakah Don Moretti benar-benar menjaga Putri Bellini." Ia lalu mengambil ponsel terenkripsi. "Laporkan."

Suara wanita terdengar dari seberang sambungan. "Ada perkembangan?"

"Ya, Nyonya."

"Bagaimana keadaan Aurora?"

"Dia aman."

Wanita itu mengembuskan napas lega. "Syukurlah..."

"Tapi..."

"Ada apa?"

"Pengamanan di Mansion Moretti jauh lebih ketat dari perkiraan."

Wanita bermantel krem itu menatap ke luar jendela rumah persembunyiannya. "Itu memang yang kuharapkan." Ia memejamkan mata sejenak. "Jangan dekati Aurora, terus awasi dari jauh."

"Baik, Nyonya."

Sambungan terputus.

Wanita itu kemudian membuka sebuah laci kecil. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian tua berbalut kulit. Pada halaman pertama tertulis dengan tinta yang mulai memudar.

"Untuk Aurora dan Aurelia, semoga suatu hari nanti kalian bisa membaca buku ini bersama." Jemarinya bergetar saat menyentuh tulisan itu. "Sebentar lagi..." bisiknya lirih. "Kalian akan mengetahui semuanya."

Pada saat yang sama...

Di ruang bawah tanah markas Black Eagle. Pria bertopeng elang hitam sedang memandangi layar monitor. Salah satu bawahannya melangkah masuk.

"Tuan."

"Ada laporan."

"Katakan."

"Orang-orang kita kehilangan jejak wanita itu."

Pria bertopeng tidak terlihat terkejut. "Wajar, dia memang pandai bersembunyi."

"Tapi..."

Bawahan itu menyerahkan sebuah tablet. "Kami berhasil mendapatkan foto terbaru."

Pria bertopeng memperhatikan layar. Di sana terlihat seorang pria sedang mengawasi Mansion Moretti dari kejauhan.

Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Jadi kau juga mulai bergerak, Elena Bellini." Ia tertawa pelan. "Kalau begitu..."

Tatapannya berubah dingin. "Permainan ini akhirnya benar-benar dimulai."

Di layar monitor lain, foto Aurora dan Aurelia ditampilkan berdampingan. Dua wajah yang hampir identik, di bawah kedua foto itu muncul tulisan berwarna merah.

TARGET A-01: Aurora Bellini TARGET A-02: Aurelia Bellini

Pria bertopeng mengepalkan tangannya. "Kali ini... tidak akan ada satu pun pewaris Bellini yang lolos."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!