NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Burung gagak hitam itu kembali memekik keras.

“Craaak…!”

Suaranya yang serak menggema di antara jajaran pepohonan tua Pegunungan Sewu, menambah kesan mencekam. Namun, Warok sama sekali tidak bergerak. Sepasang matanya tetap terpaku menatap burung tersebut dengan dingin.

"Jangkrik."

"Ya."

"Jangan berkedip."

Jangkrik langsung memasang kuda-kuda siaga.

Sesaat kemudian, wusss! Sebilah anak panah melesat cepat dari balik kegelapan pepohonan. Anehnya, anak panah itu bukan mengarah ke posisi Warok, melainkan tepat menghunjam dada mayat lelaki tua yang tergeletak di tanah. Crak! Anak panah tersebut menembus tubuh hingga menancap dalam ke tanah, menyisakan secarik kain hitam yang terikat di pangkalnya.

Warok menghela napas pendek. "Mereka terlambat."

Jangkrik mengernyit bingung. "Mereka?"

Belum sempat Warok menjawab, empat bayangan hitam melompat turun dari atas tajuk pohon secara bergantian. Tap! Tap! Tap! Tap!

Keempat orang itu mengenakan pakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup kain. Di bagian dada masing-masing, tersulam lambang burung gagak berwarna merah darah. Orang yang berdiri paling depan melirik ke arah mayat di bawah mereka, lalu mendecit kecewa. "Lambat."

Salah satu rekannya mengangguk. "Rahasianya sudah mati bersama dia."

Barulah kemudian pandangan mereka beralih dan mengunci sosok Warok. Suasana di tempat itu seketika berubah tegang.

Pemimpin mereka tersenyum tipis di balik cadarnya. "Sudah lama tidak bertemu... Warok Ponorogo."

Warok mendengus remeh. "Aku tidak kenal kalian."

"Kau memang tidak kenal kami," balas pria itu tenang. "Tapi guru kami sangat mengenalmu."

Warok sedikit mengangkat alisnya, tertarik. "Siapa gurumu?"

Sebagai jawaban, pria itu mengeluarkan sebuah kepingan logam hitam dari balik jubahnya. Di permukaan logam itu terukir seekor gagak dengan sepasang mata emas yang berkilau.

"Pemimpin Gagak Hitam," ujar sang pria bangga.

Warok justru tertawa pelan, sama sekali tidak terkesan. "Hanya segerombolan suruhan. Bukan tuanmu sendiri yang datang."

Pria berbaju hitam itu tidak terpancing amarahnya. "Tuan kami hanya ingin bertanya satu hal. Apakah orang tua ini sempat mengatakan sesuatu padamu?"

Warok menjawab singkat dan padat. "Tidak."

"Kalau begitu, izinkan kami memeriksa mayatnya."

Warok menggeleng tegas. "Tidak."

Keempat pria itu saling berpandangan sekilas. Pemimpin mereka menghela napas panjang, seolah menyayangkan pilihan sang Warok. "Kalau begitu... kami terpaksa membunuh kalian berdua."

Mendengar ancaman itu, Jangkrik langsung melangkah maju dengan golok terhunus. Namun, Warok segera mengangkat tangan, menahan pergerakannya. "Diam."

"Tapi, Warok—"

"Kau lihat saja."

Jangkrik menggertakkan gigi menahan kesal, namun ia tetap mundur satu langkah menuruti perintah gurunya.

Keempat pria berpakaian hitam itu mencabut pedang mereka secara bersamaan. *Sring!*

Berbeda dengan tiga pembunuh bayaran yang mereka hadapi sebelumnya, gerakan keempat orang ini jauh lebih tenang dan terukur. Tanpa teriakan gertakan maupun ancaman kosong, mereka langsung menerjang maju dari empat arah dan empat sudut berbeda secara sinkron.

Warok masih berdiri bergeming di tempatnya.

Lima langkah. Empat langkah. Tiga langkah. Dua langkah.

Tepat ketika ujung-ujung pedang itu hampir mengoyak kulitnya, Warok baru bergerak. Alih-alih mencabut golok di pinggang, ia justru menghentakkan tangan kanannya.

Pletarrr!!

Cambuk Samandiman meledak dahsyat di udara. Suara ledakannya begitu keras hingga membuat dedaunan di sekitar mereka rontok dan bergetar hebat. Namun, kali ini Jangkrik menyadari ada hal yang ganjil. Ayunan cambuk itu sama sekali tidak mengenai tubuh seorang pun dari keempat penyerang. Cambuk itu hanya berputar membentuk lingkaran angin di atas kepala mereka.

Meski begitu, keempat penyerang langsung menghentikan langkah secara mendadak. Masing-masing melompat mundur sejauh beberapa tombak dengan wajah yang mendadak berubah pucat pasi di balik cadar.

Jangkrik yang tidak paham berbisik bingung, "Warok... seranganmu meleset."

Warok tersenyum tipis, penuh arti. "Apa benar?"

Hanya berselang beberapa detik setelah ucapan itu...

Brak! Pedang milik sang pemimpin patah menjadi dua. Crak! Pedang orang kedua ikut retak seribu. Pedang orang ketiga pecah berkeping-keping di bagian tengah, sementara pedang orang keempat bahkan langsung hancur menjadi beberapa potongan kecil.

Keempat pria itu membelalakkan mata dengan tubuh bergetar. "Mustahil..."

Warok menatap cambuknya dengan santai. "Kalau cambukku tadi mengenai tubuh kalian, kepala kalian sudah terpisah dari leher sejak tadi."

Jangkrik ikut terdiam, tenggorokannya mendadak kering. Ia baru menyadari kehebatan gurunya yang sesungguhnya; Warok sama sekali tidak mengincar manusia, melainkan senjata mereka. Dan hanya dalam satu kali ayunan yang presisi, keempat pedang baja itu hancur total akibat tekanan angin cambuknya.

Pemimpin kelompok Gagak Hitam mundur beberapa langkah. Keringat dingin mulai mengalir deras di pelipisnya. "Ilmu... Samandiman tingkat tinggi."

Warok mengangguk pelan. "Kalian masih ingin melanjutkan ini?"

Keempat orang itu saling melempar kode lewat tatapan mata. Lalu, tanpa aba-aba, mereka melemparkan empat buah bola kecil ke atas tanah di kaki mereka.

Puffff!

Asap hitam pekat yang berbau menyengat langsung memenuhi area hutan tersebut. Jangkrik secara spontan menutup hidung dan mulutnya dengan lengan baju. "Warok!"

"Jangan bergerak!" seru Warok waspada.

Beberapa saat kemudian, embusan angin hutan menyapu bersih asap hitam tersebut. Namun, keempat orang dari Kelompok Gagak Hitam itu sudah lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Jangkrik mengepalkan tangannya dengan geram. "Mereka kabur!"

Warok hanya menghela napas panjang, tampak tenang. "Memang."

"Kenapa tidak kita kejar saja?" tanya Jangkrik tidak puas.

Warok menatap ke arah bekas jejak kaki mereka yang samar di tanah. "Mereka sengaja memancing kita agar mengejar. Di depan sana, pasti sudah disiapkan jebakan yang jauh lebih berbahaya."

Jangkrik tertegun, lalu perlahan menurunkan tangannya. Lagi-lagi, ia belajar satu hal penting hari ini: seorang pendekar sejati tidak hanya menang karena mengandalkan kekuatan fisik semata, melainkan juga berkat kesabaran dan ketajaman taktik.

Warok berjalan mendekati mayat lelaki tua itu, mencabut pisau bergambar gagak merah yang tertancap di sana, lalu menyelipkannya ke balik sabuk kulitnya. "Mulai hari ini... musuh kita bertambah."

Jangkrik menoleh dengan dahi berkerut. "Musuh kita?"

Warok melirik muridnya sekilas, sebuah seringai tipis muncul di wajah sangarnya. "Kau masih ingin membunuhku, bukan?"

"Itu urusan nanti," jawab Jangkrik ketus.

"Tapi kalau orang-orang dari Gagak Hitam itu lebih dulu membunuhku sebelum tanganmu sendiri yang melakukannya... bukankah kau akan sangat kecewa?"

Jangkrik mendengus pelan, terpaksa mengakui kebenaran ucapan itu. "Itu benar."

Warok tertawa keras, suaranya menggelegar memecah kesunyian hutan Pegunungan Sewu. "Hahaha! Bagus! Kalau begitu, mulai sekarang buka matamu lebar-lebar. Permainan yang sesungguhnya... baru saja dimulai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!