Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Malam di kediaman keluarga Handoko biasanya hangat dengan aroma esensial dan denting piano. Namun malam ini, atmosfernya lebih dingin dari ruang otopsi.
Papa Alana, Pak Handoko, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas yang memburu. Di atas meja marmer, sebuah amplop cokelat dari firma hukum terbuka lebar, menelanjangi kenyataan pahit yang selama ini ditutupi Alana dengan kebohongan.
"Papa sudah memberimu segalanya, Alana! Pendidikan di London, gaya hidup sosialita, hingga nama baik keluarga ini Papa pertaruhkan saat kamu mengaku hamil dengan Arkan! Dan sekarang? Pengacara bilang Arkan tidak punya apa-apa?" suara Pak Handoko menggelegar, membuat guci kristal di sudut ruangan seolah ikut bergetar.
Alana bersimpuh di lantai, memegangi ujung celana ayahnya. Gaun hamilnya yang mahal kini basah oleh air mata. "Papa, dengar dulu... Arkan sedang di luar kota. Proyek itu bernilai miliaran. Dia akan sukses lagi, dia hanya butuh waktu!"
"Waktu?!" sela Mamanya dengan nada sinis. "Arkan sukses karena Kinanti yang memegang kendali finansialnya. Tanpa wanita itu, suamimu hanyalah seorang arsitek kelas teri yang tidak punya modal bahkan untuk membeli semen satu sak pun! Kamu sadar tidak? Kamu sedang mengandung anak dari seorang gelandangan berbaju Direktur!"
Alana terpaku. Perutnya yang membuncit terasa kaku. "Ini cucu Papa..."
"Cucu saya tidak lahir dari pengkhianatan murahan yang berakhir dengan kemiskinan," ucap Pak Handoko tanpa belas kasihan. "Pilihannya hanya dua, kamu gugurkan kandungan itu dan Papa akan mengirimmu ke luar negeri untuk mencuci nama baikmu, atau kamu pergi dari rumah ini sekarang juga tanpa membawa satu sen pun. Papa tidak sudi memberi makan benalu yang tidak punya masa depan."
"Papa jahat!" jerit Alana.
"Satpam! Keluarkan dia! Buang koper-kopernya ke gerbang!" perintah Pak Handoko. Alana diseret keluar dari rumah yang selama ini menjadi benteng kesombongannya.
Hujan badai seolah ikut merayakan jatuhnya sang pelakor. Alana berdiri di depan gerbang besi raksasa rumah orang tuanya yang tertutup rapat. Di sampingnya, dua koper besar merk Louis Vuitton yang dulu ia banggakan kini basah kuyup, terlihat menyedihkan seperti pemiliknya.
Ia meraba sakunya, mengambil ponsel yang layarnya mulai retak. Jari-jarinya yang gemetar menekan nomor Arkan berkali-kali.
'Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.'
"Mas, angkat... tolong aku..." rintihnya.
Ia mencoba memesan taksi online, namun sebuah notifikasi muncul di layar - Metode pembayaran ditolak. Saldo tidak mencukupi. Ayahnya telah mematikan semua akses perbankannya dalam hitungan menit.
Dengan langkah tertatih dan kaki yang masih terasa ngilu akibat luka lama, Alana menyeret koper-kopernya menyusuri trotoar. Ia berakhir di sebuah motel kelas melati di pinggiran kota, tempat yang dulu sering ia ejek saat melewatinya dengan mobil mewah.
Kamar motel itu sempit, berbau rokok basi, dengan sprei yang warnanya sudah menguning. Alana duduk di tepi ranjang, menatap cermin yang buram.
"Kinanti... kamu pasti sedang tertawa sekarang," bisiknya dengan tawa histeris yang perlahan berubah menjadi raungan pilu di tengah kesunyian malam.
Di kantor pusat yang megah, aku duduk di kursi kebesaranku, menatap layar monitor yang menampilkan wajah Arkan melalui panggilan video.
Latar belakangnya adalah barak proyek yang panas dan berdebu di pesisir, namun Arkan tampak lebih rapi dari biasanya. Ia sedang mempresentasikan keberhasilannya menghemat anggaran sebesar 20%.
"Kerja bagus, Suamiku. Kamu memang jenius jika sedang tidak sibuk mengurusi wanita sok cantik itu," ujarku sambil menyesap kopi dengan tenang.
Arkan tampak tersipu, sebuah reaksi yang aneh bagi seorang suami kepada istrinya. Ia haus akan pujianku. "Terima kasih, Kin. Aku akan memastikan proyek ini selesai tepat waktu. Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku seorang suami yang masih bisa diandalkan."
Namun, di akhir pembicaraan, sorot matanya berubah ragu. "Kin... apa kamu tahu kabar Alana? Dia mengirim pesan sangat banyak, tapi ponselku kumatikan karena aku ingin fokus. Tapi... perasaanku tidak enak."
Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat lawan bicara merasa kerdil. "Kabar Alana? Ah, dia sudah terusir dari rumah orang tuanya. Kabarnya dia dicoret dari daftar ahli waris karena orang tuanya sadar bahwa menantunya ternyata tidak punya aset apa-apa. Menyedihkan, bukan?"
Wajah Arkan memucat. "Terusir? Lalu dia tinggal di mana?"
"Entahlah. Mungkin di suatu tempat yang layak untuknya," jawabku datar. "Tapi dengar, Arkan. Selama kamu fokus bekerja, aku akan memastikan biaya persalinannya terjamin. Tapi ingat satu hal, jangan pernah berpikir untuk menjemputnya sebelum proyek ini selesai. Jika kamu melangkah satu meter saja keluar dari lokasi proyek tanpa izinku, aku akan menghentikan seluruh pasokan medis untuknya. Mengerti?"
Arkan menunduk. "Mengerti, Kin."
Aku mematikan layar. Aku tahu Arkan hancur, tapi egonya sebagai arsitek sukses jauh lebih besar daripada rasa setianya pada wanita yang sedang berjuang sendirian di motel kumuh itu.
Aku menyuruh Pak Diman mengemudikan mobil Rolls-Royce miliku melewati kawasan motel yang kusam. Di sana, aku melihat pemandangan yang sangat memuaskan. Alana keluar dari pintu motel, mengenakan gaun yang tampak kotor, membawa bungkusan nasi bungkus murah di tangannya.
"Berhenti, Pak Diman," perintahku.
Aku turun dari mobil, sengaja membiarkan suara sepatu hak tinggiku beradu dengan aspal yang retak. Aku berdiri tepat di depan Alana. Aroma parfum Chanel-ku menabrak bau keringat dan debu yang melekat di tubuhnya.
"Kinanti?" Alana tersentak. Ia mencoba menutupi bungkusan nasinya ke belakang punggung.
"Jangan disembunyikan, Lan. Aku tahu kamu lapar," kataku sambil menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Rupanya selera Nyonya kita sudah berubah, ya? Dari restoran bintang lima ke nasi kucing?"
Alana menatapku dengan kebencian murni. "Mau apa kamu ke sini? Mau pamer?"
"Bukan pamer. Aku hanya ingin melakukan kegiatan amal," aku merobek selembar cek dari tas tanganku dan menyodorkannya. "Ini untuk makanmu sebulan. Nilainya kecil, hanya sepuluh juta. Cukup untuk kelasmu yang sekarang. Makanlah yang bergizi, jangan sampai anak Arkan lahir cacat hanya karena ibunya terlalu miskin untuk membeli susu."
Tangan Alana gemetar. Ia ingin melempar cek itu ke wajahku, tapi bayangan perutnya yang lapar dan masa depannya yang gelap membuatnya terdiam. Dengan sangat terhina, ia mengambil cek itu.
"Kamu benar-benar monster, Kinanti," bisiknya.
"Aku bukan monster, Alana. Aku hanya cermin. Kamu melihat dirimu yang hancur karena kamu yang merusak hidupku lebih dulu," balasku dingin sebelum masuk kembali ke mobil dan meninggalkannya dalam kepulan asap knalpot.
Malam di motel terasa sangat panjang bagi Alana. Ia menatap cek dari Kinanti yang tergeletak di meja kayu yang keropos.
Cek itu adalah simbol kekalahannya yang paling telak. Ia sadar, ia tidak lagi memiliki cinta Arkan yang bisa melindunginya, ia hanya memiliki belas kasihan Kinanti yang justru mencekiknya.
Sementara itu, di pesisir, Arkan menyalakan ponselnya sejenak. Ia melihat ratusan notifikasi dari Alana.
"Mas, Papa mengusirku !"
"Mas, aku di motel, jemput aku !"
"Aku benci kamu, Arkan !"
Arkan menghapus semua pesan itu tanpa membacanya sampai habis. Tak lama, sebuah notifikasi lain muncul, sebuah email dari bagian keuangan perusahaanku.
Bonus prestasi Arkan telah dicairkan ke rekening perusahaan (atas nama Kinanti).
Arkan menghela napas panjang. Ia merasa bangga karena dianggap berprestasi olehku, meski uangnya tidak bisa ia sentuh. Baginya, validasi dari istri sah yang berkuasa jauh lebih penting daripada rintihan istri siri yang merepotkan.
Di kamar motel yang pengap, Alana meringkuk di bawah selimut tipis. Ia baru menyadari bahwa dalam perang ini, Arkan bukanlah pahlawan yang akan datang menyelamatkannya. Arkan hanyalah seorang pengecut yang lebih memilih tahta daripada dirinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil anak ini, Kinanti... aku akan bertahan," isak Alana dalam gelap.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia hanyalah bidak yang sedang menunggu waktu untuk disingkirkan sepenuhnya dari papan catur Kinanti.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.