NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Amarah Sang Asura dan Air Mata Emas di Atas Puing Kehancuran

Darah menghujani batuan tandus di Lembah Dimensi Purba. Pertempuran di jalur timur telah berlangsung sepanjang malam, menembus kegelapan pekat hingga fajar hari berikutnya mulai membayang samar di balik cakrawala. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa badai manusia jubah hitam itu akan mereda.

Wusss! SLASH!

Lin Xueru mengayunkan pedang khas teratainya dengan presisi yang mematikan. Kelopak-kelopak energi putih yang tajam melesat dari mata bilahnya, memenggal tiga kepala anggota Sekte Tengkorak sekaligus. Napasnya mulai terengah-engah, peluh membasahi keningnya yang terukir tanda tiga kelopak teratai. Di sampingnya, Yu Fan bergerak bagai dewa kematian yang tak berwujud. Pukulan tenaga dalam murninya menghancurkan dada musuh, mematahkan tulang-tulang topeng tengkorak mereka hingga hancur berkeping-keping.

Namun, jumlah musuh seolah tidak ada habisnya. Setiap kali seratus orang tumbang, dua ratus orang lainnya merangkak keluar dari balik tebing. Enam master tingkat 4 yang memimpin pasukan terus mundur, menolak berduel satu lawan satu dan hanya mengirimkan gelombang manusia untuk menguras energi spiritual Yu Fan dan Lin Xueru.

"Mereka sengaja menguras kita, Yu Fan!" seru Lin Xueru tanpa mengalihkan pandangannya dari tebasan pedang. "Jika kita terus tertahan di sini, energi spiritual kita akan kering sebelum kita bisa menembus kepungan!"

Yu Fan menghantamkan telapak tangannya ke tanah, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan puluhan musuh. Mata hitamnya berkilat tajam. "Aku tahu. Target mereka sejak awal bukan membunuh kita di sini, tapi memastikan kita tidak pernah melangkah kembali ke akademi." Rasa cemas yang samar mulai merayap di dada pemuda berjubah hitam itu, menandakan ada bencana besar yang sedang terjadi di markas utama mereka.

...****************...

Di saat yang sama, langit di atas Akademi Langit Biru telah berubah menjadi genangan kegelapan yang pekat. Tiga anomali tingkat 7 melayang bagai tiga penguasa akhir zaman.

Wanita master tingkat 7 yang memiliki wajah pucat seputih mayat tersenyum sinis. Rambut panjangnya berkibar liar saat dia menarik sebilah pedang panjang berkarat dari balik jubah hitamnya. Bilah pedang itu memancarkan aura kematian yang begitu pekat hingga membuat udara di sekitarnya mendistorsi.

"Kubah pelindung yang rapuh," cicit wanita itu dengan suara melengking.

Dengan satu gerakan lambat namun sarat dengan tekanan absolut ranah tingkat 7, dia mengayunkan pedangnya ke bawah. Sebuah tebasan vertikal berwarna abu-abu kehitaman melesat membelah udara, memanjang hingga ratusan meter.

BOOM!!! CRASH!!!

Kubah pelindung spiritual yang telah melindungi Akademi Langit Biru selama ratusan tahun, yang konon tidak bisa ditembus bahkan oleh serangan sepuluh Grandmaster sekalipun, seketika retak dan hancur berkeping-keping bagai kaca yang dipukul palu gada. Serpihan energinya runtuh dan larut ke udara, meninggalkan seluruh isi akademi dalam kondisi telanjang tanpa pertahanan.

Tidak berhenti sampai di situ, wanita itu mengangkat tangan kirinya ke langit. Dari telapak tangannya, seberkas cahaya hitam melesat menembus pusat awan. Sebuah formasi kuno berukuran raksasa, dipenuhi dengan ukiran simbol-simbol kutukan purba, langsung membentang luas menutupi langit di atas akademi dan kota perbatasan di sekitarnya.

Wusss!

Riak energi pembusukan jiwa turun bergelombang dari formasi tersebut. Efeknya instan dan mengerikan. Di luar akademi, ratusan penduduk kota perbatasan mendadak mencengkeram kepala mereka, mata mereka berubah menjadi merah darah tanpa kewarasan. Mereka mulai melolong bagai binatang buas, berbalik, dan saling menyerang, mencakar, serta membantai satu sama lain dalam kegilaan total.

Hal yang sama terjadi di dalam akademi. Murid-murid tingkat bawah yang tidak memiliki fondasi kultivasi yang kokoh tidak mampu menahan invasi energi kutukan tersebut. Mereka kehilangan kesadaran diri, menarik senjata mereka dengan mata merah mendelik, lalu mulai menyerang rekan-rekan di samping mereka secara membabi butu.

"Bertahan! Bentengi batin kalian dengan energi spiritual!" teriak Senior Han Fei, mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan seorang murid tingkat bawah yang terinfeksi tanpa berniat membunuhnya.

Putri Jin Yuexin berdiri di tengah lapangan, menggunakan Pedang Roh Api Phoenix barunya untuk membentuk barisan api pelindung. Gaun kuning-merahnya berkibar di antara kekacauan. "Sialan! Apa yang terjadi dengan mereka?! Jauhkan diri kalian dari mereka!" serunya, wajahnya pucat melihat rekan-rekan seangkatannya saling cabik.

Fa Hai, Mo Han, dan Xiao Feng bergerak dalam formasi segitiga, menahan gempuran dari luar dan dalam. Fa Hai memukul mangkuk emas alkemisnya, memancarkan riak cahaya Buddha untuk menahan laju murid yang terinfeksi. "Tenangkan jiwa kalian! Jangan biarkan kegelapan menguasai Dantian!" serunya lantang, namun suaranya tenggelam dalam riuhnya jeritan kematian.

Di sudut taman, Chen Yang kecil mendekap boneka jerami pemberian Yu Fan erat-erat ke dadanya. Tubuhnya yang mungil gemetar hebat di balik pilar batu. Matanya yang bulat menatap ke langit, ke arah tiga monster kuno yang mengerikan itu. Air matanya menetes deras, membasahi pipi tembamnya. "Kakak... Kakak Yu Fan... di mana Kakak? Chen Yang takut... Kakak Yu Fan, tolong..." bisiknya parau penuh ketakutan.

"Berani sekali kalian mayat-mayat busuk menodai tanah akademi!"

Dekan dan Wakil Dekan Akademi tidak bisa lagi tinggal diam melihat pembantaian massal ini. Dengan raungan amarah yang menggetarkan langit, kedua tetua tertinggi itu menerjang maju ke udara. Dekan mengembuskan badai energi spiritual murni dari telapak tangannya, sementara Wakil Dekan mengayunkan tongkat pusakanya, memanggil riak petir putih untuk menyerang.

"Kekeke! Tetua-tetua yang sudah bau tanah, lawan kalian adalah kami!"

Wanita master tingkat 7 dan pria berusia 30 tahunan bermata hitam legam melesat turun untuk menghadang. Pertempuran hebat di udara tingkat tinggi pun pecah. Benturan energi tingkat tinggi menggelegar, menghancurkan atap-atap bangunan akademi di bawahnya. Namun, ketimpangan kekuatan terlihat jelas. Dekan dan Wakil Dekan, meskipun merupakan puncak kekuatan di dunia fana saat ini, terus terdesak oleh kekuatan anomali tingkat 7 yang tidak masuk akal milik kedua mayat hidup itu. Mereka berdua mulai muntah darah, menerima luka-luka dalam yang parah dalam waktu singkat.

Di lapangan bawah, keadaan semakin kritis. Korban jiwa berjatuhan dalam jumlah yang mengerikan. Baik di dalam maupun di luar akademi, tanah telah berubah menjadi merah oleh genangan darah. Murid-murid inti yang tersisa mulai kelelahan, energi spiritual mereka terkuras habis karena harus bertarung tanpa henti menahan gempuran manusia terinfeksi.

Melihat pertahanan bawah sudah goyah, sosok master tingkat 7 yang paling tua, pria paruh baya dengan jubah tengkorak emas robek, perlahan-lahan turun dari langit. Langkah kakinya di udara kosong memancarkan tekanan absolut yang membuat gravitasi di sekitar lapangan utama mendadak naik sepuluh kali lipat.

"Saatnya mengakhiri lelucon ini," ucap pria tua itu dengan nada dingin tanpa emosi.

"Serang bersama-sama! Jangan biarkan dia mendekati menara!" teriak Senior Han Fei memimpin.

Yuexin, Han Fei, Mo Han, Xiao Feng, dan Fa Hai mengumpulkan sisa-sisa energi spiritual terakhir mereka. Mereka melompat maju, melepaskan teknik terkuat mereka secara bersamaan ke arah pria tua itu. Badai api phoenix, tebasan pedang angin, pukulan Buddha, dan tusukan bayangan menyatu menjadi satu serangan raksasa yang mengarah ke dada sang master tingkat 7.

Namun, ketimpangan kekuatan ini bagai langit dan bumi.

Pria tua itu bahkan tidak berkedip. Dia hanya mengangkat tangan kanannya, lalu mengibaskan telapak tangannya dengan santai ke depan.

BOOM!!!

Satu kibasan tangan santai itu menghasilkan ledakan gelombang kejut berwarna hitam yang menghancurkan seluruh teknik gabungan mereka dalam sekejap. Tidak hanya itu, gelombang tersebut menghantam tubuh mereka dengan telak.

"Arghhh!"

Han Fei, Mo Han, Xiao Feng, dan Fa Hai terlempar ratusan meter ke belakang, menghantam dinding-dinding batu hingga retak hancur. Tubuh mereka jatuh ke tanah dengan kondisi mengenaskan, memuntahkan darah segar sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan. Mereka tidak sanggup lagi menahan sisa tekanan dari master tingkat 7 tersebut.

Hanya Jin Yuexin yang masih berusaha bangkit dengan bertumpu pada pedang barunya, meskipun seluruh tubuhnya sudah dipenuhi luka sayatan dan napasnya tersengal parah.

Sret.

Sebelum Yuexin sempat mengangkat pedangnya kembali, sesosok bayangan hitam telah berada tepat di depannya dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata. Tangan kokoh pria tua master tingkat 7 itu terulur maju, langsung mencengkeram leher ramping Yuexin dengan kuat, lalu mengangkat tubuh gadis itu ke atas udara.

"Uhuk... l-lepaskan..." Yuexin mencengkeram pergelangan tangan pria tua itu, kakinya menendang-nendang udara tanpa daya. Wajah cantiknya mulai membiru karena kehabisan napas.

"Putri kerajaan yang tidak berguna," ucap pria tua itu dingin.

Tanpa belas kasihan sedikit pun, tangan kiri sang master tingkat 7 merapat membentuk tusukan tombak, lalu menusuk lurus ke depan, menembus perut bagian kanan Yuexin hingga bolong.

JLEB!!!

"AHHH!!!"

Sebuah jeritan kesakitan yang teramat sangat lolos dari tenggorokan Yuexin sebelum suaranya mendadak tercekat oleh darah yang menyembur dari mulutnya. Pedang api phoenix di tangannya terjatuh ke tanah, berdenting pelonco. Pria tua itu menarik tangannya kembali yang kini berlumuran darah segar sang putri, membiarkan tubuh Yuexin yang lemas dan berlumuran darah tergantung tak berdaya di cengkeramannya, siap untuk memulai pembantaian selanjutnya. Kota akademi dan Akademi Langit Biru telah jatuh ke dalam kekacauan dan kepunahan total.

Di jalur timur, ribuan mayat Sekte Tengkorak akhirnya berhasil ditumpas sepenuhnya oleh Yu Fan dan Lin Xueru. Area lembah itu kini dipenuhi potongan tubuh hitam yang membusuk. Yu Fan berdiri di tengah arena dengan napas yang lumayan kelelahan, jubah hitamnya robek di beberapa bagian karena jumlah musuh yang terlalu masif.

Kepak! Kepak!

Seekor burung pembawa pesan internal akademi mendarat darurat di tanah depan Yu Fan dalam kondisi bulu yang setengah terbakar. Sebuah pesan suara spiritual bergetar hebat dengan nada penuh keputusasaan dari salah satu tetua luar.

“Siapa pun... siapa pun yang mendengar pesan ini... Akademi diserang! Tiga master tingkat 7 anomali bangkit... Akademi berada di ambang kehancuran total... Tolong..”

Pesan itu terputus dengan suara ledakan.

Mata Yu Fan dan Lin Xueru seketika membelalak lebar dalam keterkejutan mutlak. "Master tingkat 7?!" seru Lin Xueru, wajah esnya berganti dengan ketakutan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Yu Fan menghentakkan kakinya. Energi spiritualnya meledak liar. Dia melompat ke udara, terbang dengan kecepatan gila yang melampaui batas normal tubuhnya, membelah langit menuju barat dengan terengah-engah. Lin Xueru dengan wajah panik segera memanggil platform teratainya, melesat cepat mengikuti arah terbang Yu Fan.

...****************...

Empat jam penerbangan gila dirasakan bagai hitungan detik oleh batin Yu Fan yang bergejolak. Begitu mereka tiba di atas wilayah akademi, pemandangan yang tersaji di bawah mereka membuat jantung Yu Fan seolah berhenti berdetak.

Akademi Langit Biru telah berubah menjadi puing-puing reruntuhan yang terbakar. Di udara, Dekan dan Wakil Dekan masih bertarung dengan sisa-sisa tenaga terakhir mereka melawan wanita dan pria berusia 30 tahunan, tubuh kedua tetua itu sudah dipenuhi luka parah dan darah. Dan di tengah lapangan utama... sesosok pria tua master tingkat 7 duduk tenang di atas puing reruntuhan bangunan yang menyerupai takhta, menatap dingin ke arah kedatangan Yu Fan dan Lin Xueru.

Wusss!

Yu Fan mendarat darurat di tengah lapangan, debu-debu berterbangan akibat momentum pendaratannya. Namun, pandangan matanya tidak tertuju pada musuh. Matanya terkunci pada sesosok gadis berpakaian kuning-merah yang tergeletak tak berdaya di atas tanah berbatu tidak jauh dari takhta pria tua itu.

Itu Jin Yuexin.

Gadis yang selalu mengomelinya, gadis yang beberapa jam lalu tersenyum manis melambaikan tangan kepadanya di gerbang asrama, kini tergeletak di dalam kubangan darahnya sendiri. Perutnya bolong, mengalirkan darah segar yang tidak kunjung berhenti, wajahnya pucat pasi di ambang kematian dengan napas satu-satu yang sangat tipis. Di sekelilingnya, Fa Hai, Mo Han, dan rekan-rekan lainnya tergeletak pingsan tanpa daya.

Lin Xueru yang baru mendarat langsung menutup matanya sejenak, matanya bergetar ngeri melihat pembantaian ini. Dia dengan cepat berlari ke arah murid-murid lain yang pingsan untuk mencoba memberikan pertolongan medis pertama.

Yu Fan melangkah perlahan mendekati tubuh Yuexin. Setiap langkah yang dia ambil membuat atmosfer di sekitar akademi mendadak merosot drastis ke titik nol.

Melihat gadis yang berjanji akan dia lindungi sebagai perisai kerajaan kini sekarat di depan matanya, sesuatu di dalam lubuk jiwa Yu Fan... pecah total.

BOOOOOOMMMMMMM!!!!!

Sebuah ledakan aura berwarna merah darah yang sangat dahsyat, pekat, dan luar biasa mengerikan tiba-tiba meledak dari tubuh Yu Fan, melesat lurus menembus awan hitam di langit. Tekanan aura itu begitu besar hingga membuat seluruh puing bangunan yang tersisa di akademi seketika hancur menjadi debu halus. Energi itu memancarkan esensi dari kombinasi Dewa Kematian dan Dewa Perang yang turun ke bumi, mencekik batin siapa pun yang merasakannya.

Sret... Sret...

Perubahan drastis terjadi pada tubuh Yu Fan. Rambut hitamnya merayap berubah menjadi putih bersih bagai salju dalam hitungan detik. Sepasang bola matanya berubah menjadi merah darah yang menyala, sementara seluruh sklera matanya berubah menjadi hitam legam sepenuhnya, mencerminkan kegelapan Ashura. Jubah hitamnya hancur, bertransformasi menjadi sebuah baju tempur kuno berwarna hitam-merah dengan ukiran ornamen perang yang memancarkan aura membara.

Yu Fan berlutut di samping tubuh Yuexin yang sekarat. Wajahnya tidak lagi menampilkan ekspresi manusia fana hanya ada ketenangan sedingin liang kubur yang menyembunyikan badai amarah terbesar di dunia.

Dia mengarahkan telapak tangan kanannya tepat di atas perut Yuexin yang bolong. Sebuah gumpalan aura merah darah yang sarat dengan esensi kehidupan kuno memancar keluar dari telapak tangannya. Demi keajaiban yang tidak masuk akal, darah segar yang telah membanjiri tanah mendadak bergerak memutar, mengalir masuk kembali ke dalam tubuh Yuexin. Luka bolong di perut sang putri perlahan-lahan menutup, jaringannya beregenerasi dengan kecepatan yang mencengangkan di bawah kendali aura Yu Fan.

Lin Xueru yang sedang merawat Fa Hai menoleh, dan tubuhnya seketika menegang kaku karena rasa ngeri yang teramat sangat. “Wujud ini... wujud ini jauh berbeda dan berkali-kali lipat lebih mengerikan daripada saat dia menghancurkan pedang Alaric di turnamen... Siapa... siapa sebenarnya Yu Fan ini?!” batin Xueru bergetar hebat.

Karena ledakan aura dan tekanan dewa kematian yang tidak masuk akal tersebut, pria tua master tingkat 7 yang duduk di atas puing langsung berdiri tegak dengan wajah mengeras. Di atas langit, pertempuran antara Dekan, Wakil Dekan, dan kedua anomali lainnya seketika terhenti total. Semua mata tertuju ke bawah, ke arah sosok berambut putih mata merah yang sedang memancarkan aura kehancuran.

"Menarik... aura yang sangat kuno," desis pria tua itu. Tubuhnya melompat turun dari puing bangunan, meluncur cepat menuju posisi Yu Fan.

Yu Fan tidak memedulikan pergerakan musuh tingkat 7 di depannya. Dengan gerakan yang sangat lembut, dia menyelipkan kedua tangannya di bawah tubuh Yuexin, mengangkat gadis itu ke dalam dekapan hangatnya dengan gaya menggendong ala bridal style.

Yuexin yang kesadarannya mulai kembali samar-samar akibat penyembuhan darurat itu membuka matanya sedikit. Jari-jari tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh pipi kaku Yu Fan yang berambut putih. "Y-Yu Fan... kau..." omelnya sangat pelan, hampir tidak terdengar, namun sifat bawelnya masih tersisa di ujung kematiannya.

Yu Fan menatap wajah pucat gadis itu, dan untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tipis yang sangat lembut terukir di bibirnya yang dingin. "Istirahatlah, Putri bawel," bisik Yu Fan dengan suara yang bergema rendah. "Mulai detik ini... tidak akan ada lagi satu pun makhluk di dunia ini yang bisa menyakitimu."

Yu Fan melangkah santai, melewati pria tua master tingkat 7 yang sedang mengawasinya dengan waspada. Dia berjalan menuju posisi Lin Xueru, lalu perlahan-lahan membaringkan tubuh Yuexin di atas tanah yang bersih di samping Xueru.

"Rawat dia," perintah Yu Fan pendek kepada Lin Xueru.

Sebelum Xueru sempat menjawab, Yu Fan menghentakkan jarinya ke udara. Wusss! Sebuah kubah penghalang berwarna merah darah berbentuk heksagonal langsung membentang, mengurung posisi Xueru, Yuexin, dan murid-murid akademi yang terluka di dalamnya. "Penghalang ini tidak akan bisa ditembus oleh mereka. Fokuslah pada penyembuhan," ucap Yu Fan tanpa berbalik.

Yu Fan menegakkan tubuhnya, berbalik menghadap ke arah tengah lapangan. Pandangan matanya yang merah-hitam mendongak ke langit, menatap langsung ke arah formasi kutukan kuno raksasa milik wanita master tingkat 7 yang masih aktif menginfeksi penduduk.

DEG!

Hanya dengan satu tatapan mata tajam dari Yu Fan, udara di langit seolah meledak. Formasi kutukan kuno raksasa yang menutupi langit itu tiba-tiba retak di tengahnya, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi abu spiritual yang larut ditelan angin. Bersamaan dengan hancurnya formasi, seluruh penduduk kota dan murid tingkat bawah yang terinfeksi mendadak sadar kembali dan jatuh pingsan karena kelelahan, menghentikan pembantaian massal seketika.

Di atas langit, wanita master tingkat 7 itu memuntahkan darah hitam karena serangan balik formasi. "T-Tidak mungkin! Itu adalah segel kutukan kuno 10.000 tahun lalu! Bagaimana mungkin bisa dihancurkan hanya dengan satu tatapan mata?!" teriaknya histeris penuh keterkejutan.

Pria tua master tingkat 7 di depan Yu Fan ikut terbelalak ngeri. Rasanya seolah seluruh pengetahuannya selama 10.000 tahun runtuh dalam sekejap saat merasakan jenis energi yang memancar dari tubuh Yu Fan sekarang.

"Aura merah dengan kegelapan pekat ini... tidak salah lagi...!" pria tua itu mundur satu langkah, suaranya bergetar hebat oleh pengenalan yang sakral. "Kau... Kau adalah Dewa Asura! Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin sosok eksistensi Dewa Penguasa dari Alam Tingkat 9 bisa berada di Dunia Fana yang kotor ini?!"

Yu Fan tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya turun, melirik ke arah telapak tangan kanan pria tua itu yang masih menyisakan bekas noda darah segar milik Jin Yuexin.

BZZZZT!!!

Aura merah di sekeliling tubuh Yu Fan mendadak membara bagai api neraka yang berkobar liar. Suaranya saat berbicara berubah menjadi berlapis, berat, dan dipenuhi oleh gema dewa kematian yang mutlak.

"Kau... yang telah melukai Yuexin dengan tangan itu?"

"Kekeke! Benar, aku yang menusuk perut putri jalang itu! Dia hanyalah wanita fana yang tidak berharga di mataku.."

WUSSS! SHRAT!

Pria tua itu belum sempat menyelesaikan kalimat provokasinya saat sosok Yu Fan mendadak lenyap dari pandangan. Detik berikutnya, Yu Fan sudah berdiri tepat di samping pria tua itu dengan satu tangan memegang pergelangan tangan kanan sang master tingkat 7. Dengan satu sentakan santai tanpa emosi, Yu Fan mencabut lengan kanan pria tua itu hingga putus dari bahunya.

CRASH!!!

Darah hitam menyembur deras dari bahu pria tua itu. "ARGHHH!!!" Dia menjerit kesakitan, melompat mundur ratusan meter dengan wajah penuh kengerian. Seluruh petinggi akademi yang menyaksikan dari menara terbelalak ngeri melihat seorang master tingkat 7 diperlakukan seperti kecoa di hadapan Yu Fan.

Namun, sebagai anomali tingkat 7 yang tak bernyawa, pria tua itu merapalkan mantra ilmu hitam. Otot-otot di bahunya bergelatuk, dan dalam hitungan detik, sebuah lengan kanan yang baru berhasil tumbuh kembali sepenuhnya. Wajahnya dipenuhi amarah kegilaan. "Sialan! Rasakan ini! Jangan meremehkan kekuatan puncak era kuno!"

Pria tua itu berteriak keras, memberi isyarat kepada dua rekannya di langit. Wanita master tingkat 7 dan pria berusia 30 tahunan melepaskan kepungan mereka dari Dekan dan Wakil Dekan, meluncur turun dengan kecepatan penuh menuju posisi pria tua itu.

Tiga master tingkat 7 kini berdiri bersejajar, mengepung Yu Fan dari tiga arah dalam formasi segitiga maut. Mereka bertiga melepaskan seluruh jurus rahasia, mantra hitam, dan formasi pembelah jiwa tingkat tinggi secara membabi butu ke arah Yu Fan. Badai energi hitam, tebasan pedang pembusuk, dan rantai-rantai jiwa raksasa menghujani posisi pemuda berambut putih itu.

Namun, Yu Fan terlihat sangat santai. Langkah kakinya bergerak tenang di tengah badai serangan, tangan kosongnya bergerak secara minimal namun konstan untuk menangkis seluruh jurus mematikan tersebut dengan akurasi mutlak. Tingkat kekuatan, kecepatan, dan pertahanan batin Yu Fan dalam perubahan kali ini benar-benar dua kali lipat lebih dahsyat daripada semua perubahan yang pernah dia tunjukkan sebelumnya di masa lalu.

Di saat tubuh fisiknya sedang mendominasi pertempuran di luar, di dalam dimensi bawah sadarnya yang terdalam...

Eksistensi kesadaran Yu Fan sendiri saat ini sedang terduduk lemas di atas lantai cermin hitam yang sunyi. Nafas jiwanya tersengal, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di dalam benaknya, bayangan tubuh Yuexin yang bolong berlumuran darah terus berputar. “Aku tidak bisa melindunginya... aku hampir kehilangan dia karena kelemahanku sendiri...” batin Yu Fan meremas rambutnya frustrasi.

"Hahaha! Hahahahaha!"

Sebuah suara tawa yang nyaring, berat, dan penuh dengan nada intimidasi yang maskulin mendadak menggema dari kegelapan di depannya. Sesosok siluet pria yang memiliki wujud fisik yang persis sama dengan Yu Fan, namun mengenakan zirah perang Asura sepenuhnya dengan tanduk energi merah di kepalanya berjalan keluar dari kegelapan. Sosok itu terus tertawa dia bukan iblis, melainkan manifestasi dari jiwa purba Asura yang bersemayam di dalam garis darahnya.

Sosok mirip dirinya itu menatap Yu Fan dengan tatapan memprovokasi, senyuman miringnya terlihat sangat kejam. "Lihat dirimu, lemah dan mengenaskan! Kau membiarkan semut-semut itu menyentuh apa yang ingin kau lindungi! Berikan tubuhmu kepadaku... Berikan kendali jiwamu lebih lama lagi dalam pertempuran ini, dan aku bersumpah akan membuat tiga mayat busuk di luar sana tewas dengan kondisi yang paling mengenaskan dalam sejarah dunia!"

Yu Fan mendongak, mata jiwanya menatap tajam ke arah manifestasi Asura di depannya. Tidak ada lagi keraguan atau ketakutan akan kehilangan kendali. Yang tersisa hanyalah keinginan mutlak untuk menghancurkan musuh.

"Ambil," ucap Yu Fan dengan nada dingin yang tegas. "Lakukan sesukamu. Buat mereka musnah tanpa sisa."

Mendengar persetujuan itu, sosok Asura itu tertawa terbahak-bahak, tawanya mengguncang seluruh dimensi batin. "Pilihan yang sangat bagus, Yu Fan! Tiga semut kuno di luar itu... mereka sama sekali tidak ada apa-apanya di hadapan keagungan kita! Mari kita mulai pembantaian yang sesungguhnya!"

Kembali ke realitas di lapangan akademi...

Tiga master tingkat 7 mulai menyadari bahwa serangan tangan kosong mereka tidak mampu menggores baju tempur Yu Fan. Mereka menggertakkan gigi, mengumpulkan seluruh sisa energi puncak mereka hingga tubuh mereka memancarkan cahaya hitam membara untuk mengimbangi tekanan Yu Fan.

Melihat musuh mulai menggunakan kekuatan penuh, mata merah Yu Fan berkilat haus darah. Dia mengangkat tangan kanannya ke samping udara kosong.

Wusss!

Dari balik tanah yang terbelah, sebilah pedang panjang berwarna hitam legam yang memancarkan aura Yin pekat, Pedang Yin milik Yu Fan, melesat masuk ke dalam genggamannya. Begitu telapak tangan Yu Fan mencengkeram hulu pedang, bilahnya mendadak bergetar hebat, memanifestasikan garis-garis merah menyala yang mengubahnya menjadi Pedang Iblis Asura yang memancarkan haus darah yang luar biasa kuat ke sekeliling arena.

CLANG!!! CLANG!!!

Pertarungan antar anomali tingkat tinggi pun pecah dalam bentuk yang paling brutal. Pergerakan pedang Yu Fan yang cepat dan sarat dengan tebasan energi merah membuat tiga master tingkat 7 terpaksa bergerak mundur dan mengombinasikan seluruh taktik perang mereka. Tiga lawan satu, pertarungan itu begitu mengerikan hingga riak benturan senjata mereka menghancurkan beberapa sisa gedung paviliun akademi menjadi puing-puing berserakan.

Di tepi lapangan, Wakil Dekan yang sedang mengobati luka dada Dekan menatap pertempuran itu dengan mata bergetar. "Kakek Dekan... ini benar-benar tidak masuk akal. Dahulu, saat di lembah terlarang, Yu Fan bisa mengimbangi penjaga kuno master tingkat 6 dengan wujud ini. Tapi sekarang... dia bahkan mendominasi tiga Master Tingkat 7 sekaligus tanpa terluka sedikit pun... kekuatan macam apa yang sebenarnya dia simpan di dalam tubuh mudanya itu?"

Meskipun Yu Fan mendominasi, taktik serangan teratur dan licik dari tiga master tingkat 7 yang telah hidup 10.000 tahun lalu itu mulai memberikan tekanan konstan. Dalam satu momen benturan yang brutal, wanita master tingkat 7 berhasil memanfaatkan celah, melesatkan tusukan pedang berkaratnya yang berhasil menembus pelindung pundak Yu Fan, meninggalkan luka sayatan hitam yang mengalirkan darah merah pekat.

Namun, sebelum wanita itu sempat tersenyum menang, luka di pundak Yu Fan mengeluarkan asap merah tipis, dan dalam hitungan satu detik, jaringan kulitnya telah menutup dan sembuh total tanpa sisa. Yu Fan meraung keras, gelombang auranya semakin pekat dan berbahaya, membuat tiga musuh kembali terdesak mundur dengan wajah panik.

"Kakak! Kakak Yu Fan!"

Di tengah-tengah puncak pertempuran yang mematikan itu, sebuah suara pekikan anak kecil yang sangat familier tiba-tiba terdengar dari arah sudut taman yang hancur. Chen Yang kecil, yang tidak bisa lagi menahan rasa takutnya melihat Yu Fan bertarung sendirian, mendadak berlari keluar dari tempat persembunyiannya menuju ke arah tengah lapangan, air matanya mengalir deras sambil memanggil nama Yu Fan.

"Yang Er! Jangan ke sana! Kembali!" teriak Lin Xueru dari balik penghalang dengan wajah pucat pasi.

Mendengar suara itu, sudut mata merah Yu Fan melirik ke samping. Gerakannya menegang sejenak melihat bocah delapan tahun itu berlari di tengah medan pertempuran tingkat 7 yang sarat dengan riak energi penghancur.

Melihat celah fatal tersebut, pria berusia 30 tahunan bermata hitam dari master tingkat 7 bergerak dengan kecepatan kilat. Tubuhnya melesat melintasi lapangan, dan sebelum Yu Fan bisa menjangkaunya, tangan kokoh pria itu telah lebih dulu mencengkeram leher mungil Chen Yang, mengangkat tubuh bocah itu ke udara sebagai sandera.

"Kakak... Uhuk... Kakak Yu Fan... tolong..." Chen Yang menangis hebat, kaki kecilnya meronta-ronta di udara kosong dengan wajah penuh ketakutan.

"Berhenti di tempat, Dewa Asura!" wanita master tingkat 7 berteriak dengan senyuman kemenangan yang licik, menunjuk ke arah Chen Yang. "Jika kau berani mengayunkan pedangmu atau melangkah satu senti saja dari posisimu saat ini... leher anak kecil ini akan langsung kami patahkan hingga hancur berkeping-keping! Turunkan auramu sekarang juga!"

Yu Fan terpaku di tempatnya berdiri. Otot-otot di wajah putihnya menegang hebat, mata merahnya memancarkan amarah yang bisa membakar seluruh benua ini, namun dia tidak bisa mengambil risiko keselamatan Chen Yang. Anak perempuan yang telah bersumpah akan melindunginya itu tidak boleh mati di sini.

TANG.

Dengan berat hati, Yu Fan melepaskan genggaman tangannya. Pedang Iblis Asura miliknya terjatuh menghantam batu, auranya meredup tipis. Bersamaan dengan itu, Yu Fan perlahan-lapan menurunkan fluktuasi aura merah membara di sekeliling tubuhnya hingga ke titik terendah, membiarkan pertahanan fisiknya terbuka tanpa pelindung energi.

BUK.

Yu Fan menurunkan kedua lututnya, berlutut di atas tanah berbatu dengan kepala tertunduk, menyerahkan dirinya sepenuhnya demi keselamatan sang adik angkat.

"Hahaha! Hahahahaha! Ternyata kelemahan seorang dewa adalah seekor anak manusia yang tidak berguna!" tiga master tingkat 7 tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan itu.

Tanpa membuang waktu, pria tua master tingkat 7 melesat maju. Dengan sepasang tinjunya yang dilapisi energi hitam pekat tingkat 7, dia mulai memukuli tubuh Yu Fan yang sedang berlutut secara membabi butu tanpa ampun.

BOOM! PAK! BOOM!

Hantaman pukulan dan tendangan brutal secepat kilat menghujani tubuh Yu Fan, terjadi hingga ribuan kali dalam hitungan detik. Tubuh Yu Fan terombang-ambing di atas tanah, memuntahkan darah segar berulang kali, tulang-tulang zirahnya mulai retak hebat akibat menerima ribuan pukulan tanpa pertahanan energi sedikit pun.

"Kakak!!! Jangan pukul Kakak Yu Fan!!! Hentikan!!! Chen Yang mohon hentikan!!!" Chen Yang menjerit histeris dari cengkeraman musuh, air matanya mengalir deras melihat sosok yang selalu melindunginya kini dihajar hingga berlumuran darah tanpa perlawanan.

Di balik penghalang merah, Lin Xueru mencengkeram pelindung batinnya dengan air mata menetes, sementara Jin Yuexin yang kesadarannya samar-samar membuka mata, melihat siluet berambut putih yang selalu kaku itu kini rela dihancurkan tubuhnya demi seorang anak kecil. "Y-Yu Fan... jangan..." rintih Yuexin lemah dengan hati yang serasa diiris sembilan pisau.

Tubuh Yu Fan tergeletak di atas tanah berbatu dalam kondisi yang sangat mengenaskan, napasnya tersengal parah dengan kesadaran yang mulai samar-samar akibat siksaan ribuan pukulan tingkat 7. Darah merah mengalir membasahi wajah putihnya. Di tengah pandangannya yang mulai menggelap menuju kegelapan total, mata merah Yu Fan samar-samar masih tertuju pada sosok Chen Yang yang sedang menangis histeris.

“Maaf... Yang Er... Kakak... tidak cukup kuat untuk melindungi mu...” batin Yu Fan melemah.

Namun, di saat kesadaran Yu Fan berada di ambang batas kepunahan... sebuah anomali spiritual terbesar dalam sejarah dunia fana mendadak meledak dari dalam tubuh mungil Chen Yang.

HUMMMMMMMMMMM!!!!!

Suara dengungan suci yang sangat sakral, agung, dan memenuhi seluruh jagat raya tiba-tiba bergema dari dada Chen Yang. Tangisannya mendadak berhenti saat dari balik pembuluh darah bocah delapan tahun itu, memancar keluar seberkas cahaya emas murni yang luar biasa terang, menyilaukan mata siapa pun hingga mengusir seluruh kegelapan awan hitam di atas langit.

Itu adalah Esensi Energi Keemasan Purba manifestasi dari kekuatan Tubuh Dewa yang tersegel selama ribuan tahun di dalam dirinya.

BOOM! BURN!

Hanya dengan sentuhan tipis dari riak energi emas yang memancar dari tubuh Chen Yang, tangan pria master tingkat 7 yang sedang mencekiknya seketika terbakar oleh api emas suci yang melahap jaringannya hingga hangus menjadi abu dalam sekejap.

"ARGHHH!!! T-Tangan ku!!! Api apa ini?!" pria itu berteriak histeris, melepaskan cengkeramannya karena ketakutan yang teramat sangat saat lengannya terus terkikis habis oleh cahaya emas tersebut.

Chen Yang jatuh ke tanah, namun dia tidak memedulikan musuh. Dengan kaki kecilnya yang kini diselimuti riak energi emas murni, bocah perempuan itu berlari kencang menuju ke arah tubuh Yu Fan yang tergeletak.

Melihat anomali emas tersebut, dua master tingkat 7 lainnya, pria tua dan wanita mendadak sadar dari keterkejutannya. "Anak itu berbahaya! Bunuh dia sekarang juga!" teriak mereka bersamaan, meluncur turun dengan senjata terhunus untuk menerjang tubuh Chen Yang yang sedang berlari.

Melihat bahaya maut kembali mengancam sang adik kecil, sebuah sentakan kesadaran mendadak meledak paksa di dalam otak Yu Fan. Jiwa Asuranya menolak untuk mati. Dengan raungan amarah yang menggelegar bagai guntur batin, Yu Fan bangkit berdiri dari tanah dalam sekejap mata dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

BAM!!!

Tepat saat senjata kedua master tingkat 7 itu hampir menyentuh kepala Chen Yang, tubuh jangkung Yu Fan sudah berada di depan bocah itu. Dengan dua tendangan kaki lateral yang sarat dengan sisa energi ledakan Ashura, Yu Fan menghantam dada pria tua dan wanita master tingkat 7 tersebut dengan telak, mementalkan tubuh kedua anomali tingkat 7 itu hingga melesat ratusan meter menabrak bukit batu hingga hancur runtuh.

Greb.

Chen Yang langsung menabrakkan tubuh mungilnya ke pelukan Yu Fan, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk leher pemuda itu dengan erat. "Kakak... Kakak Yu Fan... hiks... Chen Yang takut... jangan tinggalkan Chen Yang..." tangisnya pecah.

Yu Fan berlutut dengan satu kaki, menggunakan tangan kirinya untuk mendekap tubuh mungil Chen Yang dengan sangat erat ke dadanya. Saat pelukan itu terjadi, Yu Fan mendadak merasakan sebuah aliran kehangatan yang luar biasa murni masuk dari tubuh Chen Yang menuju ke dalam meridiannya. Energi emas murni dari air mata dan ketulusan bocah itu mengalir deras, memulihkan seluruh organ tubuh Yu Fan yang hancur, menyatukan kembali tulang-tulangnya yang patah, dan mengisi ulang seluruh dantian spiritualnya hingga meluap ke tingkat tertinggi keabadian.

"Tenanglah, Yang Er," bisik Yu Fan dengan suara rendah yang sangat menenangkan di telinga bocah itu, tangan kirinya mengusap rambut Chen Yang lembut. "Kakak di sini. Semuanya sudah berakhir."

Yu Fan menegakkan tubuhnya kembali. Tangan kirinya menggendong tubuh mungil Chen Yang dengan kokoh di sisi dadanya, sementara mata merah-hitamnya melirik ke arah tiga master tingkat 7 yang kini kembali berkumpul di tengah lapangan dengan wajah penuh ketakutan dan luka parah akibat api emas dan tendangannya.

Sret.

Yu Fan mengulurkan tangan kanannya ke samping. Dengan satu isyarat batin, Pedang Iblis Asura yang tergeletak di tanah mendadak bergetar hebat, lalu melesat terbang kembali ke dalam genggaman tangan kanannya dengan akurasi mutlak.

Begitu pedang itu kembali ke tangannya, tatapan mata Yu Fan mengunci ketiga musuh di depannya. Tekanan aura yang dilepaskan kali ini tidak lagi meledak-ledak liar, melainkan memadat menjadi garis-garis tipis berwarna hitam-merah yang mengunci pergerakan udara di seluruh wilayah akademi. Itu adalah aura paling berbahaya, mematikan, dan absolut yang pernah ada di dunia fana sebuah tekanan yang membuat tiga master tingkat 7 mendadak merasa tubuh mereka membeku, tidak bisa digerakkan bahkan untuk bernapas sekalipun.

Yu Fan melangkah maju secara perlahan, menggendong Chen Yang dengan satu tangan, sementara tangan kanannya membiarkan mata pedang iblisnya terseret di atas tanah berbatu, menciptakan percikan api merah di sepanjang jalurnya.

"Dosa kalian... sudah terlalu berat untuk ditampung oleh tanah dunia fana ini," ucap Yu Fan, suaranya terdengar datar namun sarat dengan dekret kematian dari penguasa tertinggi sembilan ranah. "Hari ini... kalian bertiga akan meratapi kematian kalian untuk kedua kalinya... dan ini adalah pemusnahan abadi tanpa ada jalan untuk bereinkarnasi."

"T-Tunggu! Jangan—"

WUSSS!!!

Yu Fan tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk memohon. Dengan satu ayunan tangan kanan yang memegang pedang iblis, dia melepaskan sebuah teknik tebasan horizontal yang sangat lambat namun menghasilkan alunan energi berbentuk bulan sabit berwarna merah-hitam raksasa yang membelah ruang dan waktu.

SERRRRRRRR!!!!!

Tebasan pedang itu melesat melintasi lapangan dengan keanggunan seorang dewa. Dalam hitungan satu detik, alunan energi pedang tersebut melewati tubuh tiga master tingkat 7, lalu terus melesat ke belakang, membelah sisa-sisa bangunan sekte hitam di kejauhan, memotong barisan bukit gundul di belakang akademi, hingga membelah sebuah gunung raksasa di cakrawala timur menjadi dua bagian simetris dengan jalur potongan yang sangat panjang dan rapi.

Keheningan malam yang panjang mendadak turun di lapangan akademi.

Tiga master tingkat 7 anomali itu berdiri mematung di tempat mereka. Detik berikutnya, garis merah tipis muncul di pinggang mereka. Tubuh mereka retak, berubah menjadi serpihan abu hitam yang larut ditiup angin pagi, musnah sepenuhnya dari muka bumi tanpa menyisakan satu pun helai jasad atau jiwa hitam. Mereka telah mati untuk selamanya di tangan sang Asura.

Bersamaan dengan runtuhnya tiga musuh utama, awan hitam pekat yang menutupi langit selama berjam-jam perlahan-lahan mulai terkikis habis, membiarkan cahaya matahari pagi yang cerah dan hangat turun membasahi puing-puing reruntuhan Akademi Langit Biru yang dipenuhi kabut asap kebakaran. Bencana besar itu akhirnya selesai.

Yu Fan menurunkan Chen Yang perlahan dari gendongannya, berdiri di atas tanah berbatu dengan jubah tempur Asuranya yang mulai memudar kembali menjadi partikel spiritual.

Dia berlutut di depan Chen Yang, mengulurkan ibu jari tangannya yang gemetar untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi tembam sang adik kecil.

"Sudah baik-baik saja, Chen Yang... tidak ada lagi yang perlu ditakutkan..." bisik Yu Fan dengan senyuman tulus yang sangat lelah.

Bruk.

Begitu kalimat itu selesai diucapkan, seluruh sisa energi kehidupan yang ditopang oleh perubahan Asura 2 kali lipat dan transferensi energi emas tadi mendadak ditarik paksa keluar dari tubuh Yu Fan sebagai kompensasi batas waktu. Pandangan matanya seketika berputar, dan tubuh jangkung Yu Fan ambruk ke depan, jatuh pingsan di atas pangkuan tanah berbatu dengan kesadaran yang sepenuhnya padam akibat kelelahan jiwa yang ekstrem.

"Kakak!!! Kakak Yu Fan!!!" pekik Chen Yang panik, mengguncang-guncang pundak pemuda berambut putih yang kini telah tertidur lelap setelah menyelamatkan seluruh isi dunia mereka dari kepunahan. Lin Xueru dan Jin Yuexin dari balik penghalang hanya bisa menatap siluet pingsan pemuda itu dengan tatapan batin yang dipenuhi rasa hormat, ngeri, dan cinta yang mendalam.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!