NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Amarah Sang Asura dan Air Mata Emas di Atas Puing Kehancuran

Darah menghujani tanah tandus Lembah Dimensi Purba. Sepanjang malam penuh, Yu Fan dan Lin Xueru telah menghabisi ratusan anggota Sekte Tengkorak—namun seperti semut yang keluar dari sarang yang dibakar, musuh terus berdatangan tanpa henti.

WUSSS! SLASH!

Lin Xueru memutar pedang teratainya dalam busur sempurna. Enam kelopak energi putih melesat tajam, memenggal kepala tiga musuh sekaligus sebelum tubuh mereka sempat roboh. Gadis bermata dingin itu mendarat ringan di atas batu, napasnya mulai kasar, peluh membasahi tanda tiga kelopak teratai di dahinya. Di sisinya, Yu Fan bergerak seperti bayangan maut—telapak tangannya menghantam dada seorang master bertopeng tengkorak, tulang-tulang di balik besi itu remuk bagai kayu lapuk.

Enam master tingkat 4 yang memimpin serangan terus mundur, menolak duel langsung. Strategi mereka hanya satu: kirim gelombang manusia, uras energi spiritual dua muda-mudi itu hingga kering.

"Mereka sengaja menguras kita!" seru Lin Xueru di sela tebasan, "Jika ini berlanjut—"

"Aku tahu," potong Yu Fan singkat. Matanya yang biasanya tenang menyiratkan sesuatu yang jarang muncul—kegelisahan yang samar, seperti ada bencana besar yang sedang terjadi jauh di sana.

Kemudian burung pembawa pesan itu tiba. Bulunya setengah terbakar, paruhnya membuka dalam kondisi sekarat.

"Siapa pun yang mendengar ini... Akademi diserang. Tiga Master Tingkat 7... tolong—"

Pesan itu terputus oleh suara ledakan.

Hening sesaat. Lalu—

BOOM.

Gelombang energi spiritual meledak dari kaki Yu Fan, meretakkan batuan di sekelilingnya. Tanpa sepatah kata, tanpa menoleh, dia melesat ke udara. Lin Xueru menelan ludah, memanggil platform teratainya, dan mengikuti dengan wajah yang untuk pertama kalinya dalam hidupnya menampilkan rasa takut yang nyata.

Empat jam terbang terasa seperti empat detik.

Begitu mereka tiba di atas Akademi Langit Biru, Yu Fan terhenti di udara.

Di bawahnya, bukan lagi akademi. Yang tersisa hanyalah puing dan api. Kubah pelindung yang konon tak bisa ditembus sepuluh Grandmaster sekaligus—hancur. Atap-atap paviliun teratai yang dulu memantulkan sinar bulan dengan indah—abu. Di udara, Dekan dan Wakil Dekan masih bertarung dengan sisa tenaga terakhir mereka, tubuh kedua tetua itu dipenuhi luka parah, darah mengalir dari sudut bibir mereka setiap kali mereka memblok serangan.

Dan di tengah lapangan utama—

Seorang pria tua bermahkota jubah tengkorak emas robek duduk tenang di atas tumpukan reruntuhan seperti seorang raja di singgasananya.

Di kakinya, tergeletak sesosok gadis berpakaian kuning-merah.

Jin Yuexin.

Gadis yang tiga jam lalu melambai padanya dengan senyum manis di gerbang asrama. Kini tergeletak dalam kubangan darahnya sendiri, perut kanannya bolong, wajah cantiknya pucat pasi di ambang kematian.

Sesuatu di dalam dada Yu Fan... retak.

BOOOOOMMMM!!!

Aura merah darah meledak dari tubuhnya, menembus awan hitam hingga langit terkoyak. Tekanannya begitu masif hingga seluruh puing bangunan yang tersisa di akademi seketika hancur menjadi debu halus. Rambut hitam Yu Fan merambat memutih dari akar hingga ujung dalam hitungan detik—bersih seperti salju pertama musim dingin. Matanya yang biasanya hitam tenang berubah: sklera menghitam legam, iris menyala merah darah seperti dua bara api yang tidak akan pernah padam.

Jubah hitamnya pecah menjadi partikel spiritual, berganti zirah tempur kuno berwarna hitam-merah dengan ukiran ornamen berbentuk tengkorak asura yang memancarkan hawa membara.

Lin Xueru yang baru mendarat langsung membeku di tempat. Ini berbeda dari turnamen. Ini berbeda dari lembah terlarang. Ini... Tubuhnya bergetar tanpa bisa dikontrol. Ini bukan manusia fana lagi.

Yu Fan melangkah mendekati Yuexin. Setiap langkah kakinya membuat udara di sekitarnya mendingin ekstrem—bukan karena hawa dingin, tapi karena seluruh energi alam di wilayah itu tersedot masuk ke dalam tubuhnya secara otomatis.

Dia berlutut. Telapak tangan kanannya melayang tepat di atas perut Yuexin yang bolong. Aura merah darah mengalir keluar, berputar membentuk simbol kuno yang tidak dikenal oleh siapapun di era ini. Darah yang telah membanjiri tanah berbatu—secara tidak masuk akal—bergerak terbalik, mengalir kembali masuk ke dalam tubuh sang putri. Luka bolong itu menutup satu milimeter demi satu milimeter, jaringannya meregenerasi di bawah kehendak mutlak sang Asura.

Yuexin membuka matanya sedikit. Jari-jarinya yang gemetar terangkat, menyentuh pipi dingin Yu Fan yang kini berambut putih. "Y... Yu Fan... kau ini..." omelnya lemah, suaranya hampir tidak ada, tapi sifat bawelnya menolak untuk mati.

Untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tipis yang sangat lelah namun sangat tulus terukir di bibir dingin pemuda itu.

"Istirahat, Putri bawel," bisiknya rendah. "Mulai detik ini... tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang bisa menyakitimu lagi."

Dia membaringkan Yuexin di samping Lin Xueru, lalu menghentakkan jari ke udara. Kubah heksagonal merah darah membentang, mengurung seluruh murid yang terluka di dalamnya. "Rawat dia," perintahnya singkat pada Xueru.

Lalu dia berbalik.

Tiga Master Tingkat 7 mengapung di udara, mengamati sosok berambut putih di bawah mereka dengan pandangan yang berubah dari meremehkan menjadi waspada.

Pria tua bermahkota tengkorak emas turun perlahan dari singgasana puingnya. Langkah kakinya di udara kosong membuat gravitasi di sekitar lapangan naik sepuluh kali lipat—batu-batu besar perlahan pecah menjadi kerikil di bawah tekanannya.

Yu Fan mendongak ke langit. Satu tatapan mata merahnya mengarah ke formasi kutukan kuno raksasa yang menutupi langit—formasi segel 10.000 tahun yang masih menginfeksi seluruh penduduk kota.

DEG.

Hanya satu tatapan.

Formasi raksasa itu retak dari tengah, lalu hancur berkeping-keping menjadi abu spiritual yang larut ditiup angin. Bersamaan dengan itu, seluruh penduduk yang terinfeksi ambruk pingsan serentak—kegilaan mereka berhenti seperti lilin yang ditiup.

"T-Tidak mungkin!" Wanita master tingkat 7 memuntahkan darah hitam karena serangan balik formasi, wajah pucatnya menjadi lebih putih dari kapur. "Segel kutukan 10.000 tahun—dihancurkan hanya dengan satu tatapan mata?!"

Pria tua itu menatap Yu Fan. Pengakuannya keluar dengan suara bergetar: "Aura Merah dengan kegelapan pekat ini... Kau adalah Dewa Asura. Eksistensi dari Ranah Tingkat 9. Bagaimana mungkin Penguasa Sembilan Alam bisa berada di dunia fana yang kotor ini—"

"Kau," Yu Fan memotong. Suaranya berlapis, bergema seperti dekret dari kedalaman alam kematian. Tatapannya turun ke tangan kanan pria tua itu—tangan yang masih menyisakan noda darah segar milik Yuexin.

"Kau yang telah melukai Yuexin dengan tangan itu?"

"Kekeke! Benar! Aku yang menusuk perut putri jalang itu—dia hanyalah wanita fana tak berharga—"

WUSSS—SHRAT!

Pria tua itu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Yu Fan tidak menghilang—dia bergerak terlalu cepat untuk dilihat sebagai perpindahan. Detik berikutnya, tangannya sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan sang master tingkat 7.

Satu sentakan.

Lengan itu tercabut bersih dari bahunya.

CRASH!!!

Darah hitam menyembur deras. "ARGHHH!!!" Pria tua itu melesat mundur ratusan meter, wajahnya menampilkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan dalam 10.000 tahun hidupnya: teror murni.

Namun sebagai anomali tingkat 7, lengan baru tumbuh dalam hitungan detik. Tiga master berkumpul dalam formasi segitiga maut, melepaskan seluruh taktik perang kuno mereka secara bersamaan. Badai energi hitam dari pria tua, tebasan pedang pembusuk dari wanita, rantai jiwa raksasa dari pria bermata hitam—semuanya menghujani satu titik: tubuh Yu Fan.

Yu Fan melangkah masuk ke dalam badai serangan itu.

Sret. Sret.

Dari kedalaman tanah yang terbelah, Pedang Yin miliknya melesat naik, masuk sempurna ke dalam genggaman tangan kanannya. Begitu telapaknya menyentuh hulu pedang, bilah hitam legam itu bergetar—dan garis-garis merah menyala merayapi seluruh permukaannya, mengubahnya menjadi Pedang Iblis Asura yang memancarkan haus darah ke seluruh penjuru arena.

CLANG! CLANG! CLANG!!!

Pertarungan pecah dalam bentuk yang belum pernah dilihat dunia fana. Tiga lawan satu, namun yang satu itu adalah Asura. Setiap tebasan pedang Yu Fan meninggalkan jejak merah di udara yang tidak langsung pudar—seperti luka di ruang itu sendiri. Gerakannya minimal namun mutlak: dia tidak berkelit, dia memotong. Tidak bertahan, dia membalas dua kali lebih keras. Riak benturan senjata mereka menghancurkan sisa-sisa gedung paviliun yang belum rata menjadi puing.

Dalam satu momen benturan brutal, pedang berkarat wanita itu berhasil menembus celah di pundak Yu Fan—luka sayatan hitam mengalir darah merah pekat.

Yu Fan bahkan tidak berkedip.

Asap merah tipis keluar dari luka itu. Dalam satu detik, jaringannya menutup sempurna tanpa bekas. Yu Fan meraung, auranya semakin pekat, dan tiga musuh kembali terdesak mundur dengan wajah panik.

"Kakak! Kakak Yu Fan!!!"

Suara itu membekukan seluruh arena.

Chen Yang berlari keluar dari balik pilar hancur—boneka jerami di tangannya, air mata deras di pipinya, kaki mungilnya membelah medan pertempuran penuh puing tanpa sadar bahaya maut di sekelilingnya.

"Yang Er! Kembali!!!" Lin Xueru teriak dari balik penghalang, wajahnya pucat pasi.

Sudut mata Yu Fan melirik. Gerakannya membeku satu detik.

Satu detik yang dimanfaatkan oleh pria bermata hitam dengan kecepatan kilat.

Tangan kokoh itu mencengkeram leher mungil Chen Yang, mengangkat tubuh bocah delapan tahun itu ke udara. "Kakak... Uhuk... Kakak Yu Fan... tolong..." Chen Yang menangis, kaki kecilnya meronta tanpa daya.

"Turunkan auramu, Dewa Asura," wanita master tingkat 7 tersenyum licik. "Satu gerakan saja... lehernya kami patahkan."

TANG.

Pedang Iblis Asura jatuh ke tanah. Auranya meredup.

Lalu lutut Yu Fan menyentuh batu.

Tiga master tertawa. Dan pria tua itu melesat maju.

BOOM! PAK! BOOM!

Ribuan pukulan menghujani tubuh Yu Fan yang berlutut tanpa pertahanan. Zirah retak. Tulang patah. Darah merah membasahi wajah putihnya. Namun mata merahnya—tidak pernah melepas pandang dari Chen Yang.

"Kakak!!! Hentikan!!! Chen Yang mohon!!!" Chen Yang menjerit histeris.

Di balik penghalang, Jin Yuexin membuka matanya. Samar-samar, dia melihat siluet berambut putih itu menerima ribuan pukulan tanpa perlawanan, demi seorang anak kecil. Demi dia. "Y-Yu Fan... jangan..." rintihnya, dadanya seperti diiris.

Kesadaran Yu Fan mulai menggelap. Maaf, Yang Er... Kakak tidak cukup kuat...

Lalu—

HUMMMMMMMMMM!!!!

Dengungan suci menggelegar dari dada Chen Yang.

Dari pembuluh darah bocah delapan tahun itu, cahaya emas murni yang menyilaukan meledak keluar—membelah awan hitam, mengusir kegelapan, menerangi seluruh puing akademi dalam cahaya suci yang belum pernah ada di dunia fana ini. Tubuh Dewa yang tersegel ribuan tahun, terbangun oleh satu hal yang tidak bisa dihancurkan oleh kekuatan apapun: air mata ketulusan seorang adik.

Tangan pria bermata hitam yang mencengkeram leher Chen Yang terbakar oleh api emas suci—meleleh menjadi abu dari ujung jari hingga ke bahunya. "ARGHHH!!!" Pria itu melepaskan cengkeramannya.

Chen Yang mendarat, lalu berlari.

Dua master tingkat 7 meluncur turun untuk membunuhnya.

Dan sebuah sentakan kesadaran meledak paksa di otak Yu Fan.

BAM!!!

Dua tendangan lateral meledak dari tubuh Yu Fan yang hampir pingsan, menghantam dada kedua master tingkat 7 dengan kekuatan sisa Asura yang masih membara. Dua tubuh kuno itu terlempar ratusan meter, menghantam bukit batu hingga runtuh.

Chen Yang menabrakkan dirinya ke pelukan Yu Fan, menangis sejadi-jadinya.

"Kakak... hiks... jangan tinggalkan Chen Yang..."

Yu Fan mendekap tubuh mungil itu dengan satu tangan. Dan saat pelukan itu terjadi, aliran hangat mengalir dari tubuh Chen Yang masuk ke meridiannya—energi emas murni itu memulihkan tulang yang patah, menyatukan organ yang hancur, mengisi dantian yang kosong hingga meluap.

"Tenanglah, Yang Er," bisiknya rendah di rambut bocah itu. "Kakak di sini. Semuanya sudah berakhir."

Yu Fan berdiri tegak. Chen Yang tetap digendong di sisi kirinya.

Tangan kanannya mengulur ke samping—dan Pedang Iblis Asura yang tergeletak di tanah bergetar sendiri, melesat masuk ke genggamannya dengan akurasi mutlak.

Tiga master tingkat 7 berdiri di depannya. Tubuh mereka penuh luka, aura mereka kacau balau—namun di mata mereka kini hanya ada satu hal.

Ketakutan yang sesungguhnya.

Yu Fan melangkah maju. Pelan. Ujung Pedang Iblis Asura terseret di atas batu, menciptakan percikan api merah di sepanjang jalur langkahnya. Aura yang dilepaskannya kali ini tidak meledak-ledak—melainkan memadat menjadi garis-garis hitam-merah tipis yang mengunci seluruh udara di wilayah akademi. Tiga master tingkat 7 mendapati tubuh mereka membeku, tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas.

"Dosa kalian sudah terlalu berat untuk ditampung tanah dunia fana," ucap Yu Fan. Suaranya datar, namun di dalamnya bergema dekret kematian penguasa tertinggi sembilan ranah. "Hari ini... ini adalah pemusnahan abadi. Tanpa reinkarnasi."

"T-Tunggu! Jangan—"

WUSSS!!!

Satu ayunan tangan kanan. Perlahan—sangat perlahan, seperti dewa yang tidak perlu terburu-buru.

Sebuah alunan energi berbentuk bulan sabit hitam-merah raksasa melesat dari pedangnya, membelah udara dengan keanggunan yang tidak masuk akal untuk sebuah serangan mematikan. Ia melewati tubuh tiga master tingkat 7—terus melaju—membelah sisa bangunan sekte hitam di kejauhan—memotong barisan bukit gundul—dan di cakrawala timur, sebuah gunung raksasa terbelah dua dengan jalur potongan yang bersih dan rapi, bagai dipotong cermin.

Hening.

Tiga master tingkat 7 berdiri mematung.

Garis merah tipis muncul di pinggang mereka bertiga, bersamaan.

Tubuh mereka retak—dan hancur menjadi serpihan abu hitam yang larut ditiup angin pagi. Musnah sepenuhnya. Tanpa sisa. Tanpa jiwa. Tanpa reinkarnasi.

Awan hitam di langit terkikis perlahan. Cahaya matahari pagi turun membasahi puing-puing akademi—hangat, tenang, seolah tidak peduli betapa mengerikannya malam yang baru saja berlalu.

Yu Fan menurunkan Chen Yang perlahan. Berlutut di depan bocah itu, ibu jarinya mengusap lembut sisa air mata di pipi tembam yang masih terisak.

"Sudah baik-baik saja, Yang Er... tidak ada yang perlu ditakutkan lagi..."

Bruk.

Seluruh energi yang menopang perubahan Asura ditarik paksa keluar dari tubuhnya sebagai kompensasi batas waktu. Pandangannya berputar—dan tubuh jangkung berambut putih itu ambruk ke depan, jatuh pingsan di atas tanah berbatu.

"Kakak!!! Kakak Yu Fan!!!" Chen Yang mengguncang pundaknya panik.

Dari balik penghalang merah, Lin Xueru dan Jin Yuexin menatap siluet pingsan pemuda itu dalam keheningan yang dalam.

Di antara puing, kabut asap, dan cahaya pagi yang perlahan memenuhi langit, tidak ada satu pun yang berbicara.

Karena tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang baru saja mereka saksikan.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!