NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suasana kafe sudat mulai sepi. Semua karyawan sibuk beberes sebelum tutup. Kursi diangkat, meja dilap, suara gelas beradu samar dari area bar. Narisa masih duduk di salah satu meja sambil menahan kantuk. Kepalanya beberapa kali hampir jatuh sendiri. Sementara itu Kara masih mondar-mandir membereskan kursi.

Jamal yang sejak tadi curiga akhirnya mendekat.

"Eh, Ra. Itu siapa sih? Sodara lo ya?"

" Siapa kek. Kepo amat, bang," jawab Kara malas.

Jamal mendecih, lalu tetap nekat menghampiri Narisa yang matanya sudah tinggal setengah nyawa.

"Halo," katanya sok ramah sambil senyum lebar. "Temennya Kara ya? Kenalin, Jamal. Seniornya Kara di sini."

Narisa melirik tangan yang terulur itu beberapa detik.

"Kalau kenalan dapet cemilan gratis gak?"

"Oiya dong. Tenang aja."

"Narisa."

"Wih, namanya lucu juga." Jamal duduk santai di depannya. "Sekelas sama Kara?"

Narisa menghela napas panjang.

"Aku lagi ngantuk banget. Gak bisa ngobrol."

Jamal langsung kaku.

"Oh... gitu ya."

Di dekat mereka, salah satu karyawan yang sedang menyapu langsung ketawa pelan, "Kena semprot juga tuh abang-abang."

Yang lainnya menyahut. "Inget bini, Jamal."

Jamal mengabaikan. Tapi belum sempat cari topik lagi, Kara sudah datang sambil membawa ransel dan jaket.

"Ayo pulang."

Narisa mendongak pelan, lalu berdiri dengan gerakan lemas.

"Pulang sekarang?" tanya Jamal.

"Keburu ini anak tidur di meja," kata Kara datar.

Saat berjalan keluar kafe, langkah Narisa sudah oleng ke kanan kiri. Kara sampai harus memegang lengannya supaya tidak menabrak pot tanaman di depan pintu.

"Udah tau ngantuk, ngapa malah nunggu sih?" omelnya pelan.

"Biasanya juga gini kalau di rumah Tante Femi," gumam Narisa setengah sadar.

Kara memilih diam. Begitu sampai di samping motor, dia langsung menyerahkan jaketnya.

"Pake."

"Gak ah. Nanti lo kedinginan."

"Gak bakal."

Narisa pasrah saat Kara memakaikan jaket itu ke tubuhnya. Sementara Kara sendiri cuma pakai kaos hitam yang tadi dilapisi kemeja.

"Lo ngantuk gini gw jadi takut lo jatoh deh," gerutu Kara sambil menggaruk kepala. "Tau gitu tadi bawa mobil Tapi males banget."

Narisa cuma berdiri sambil menatapnya.

"Gw iket aja kali ya," lanjut Kara bingung sendiri. "Tapi pake apa..."

Tatapannya turun ke sweater Narisa.

" Sweater lo dilepas aja buat ngiket."

Narisa malah ketawa kecil. Aneh. Baru sekarang dia sadar Kara memang serepot ini kalau mengurus orang.

" Santen, "

"Hm?"

"Lo begini juga sama cewek lain?"

"Mau ngapain? Kagak kenal."

"Cantika kenal tuh,"

"Masih dia lagi?" Kara mendelik. "Lo lagi mimpi ya?"

Narisa tidak menjawab. Tiba-tiba dia maju dan memeluk Kara erat.

Kara langsung diam. Tubuh Narisa hangat karena jaketnya, sementara wajah cewek itu tenggelam di dadanya.

"Jangan jadian sama cewek lain ya," bisik Narisa pelan, "Awas lo."

Kara menahan senyum kecil.

"Ya susah. Banyak cewek yang demen sama gw."

"Pokoknya gak boleh."

"Oh, bini posesif."

"Bukan gitu." Narisa makin menyender. " Jatah jajan gw nanti berkurang."

"Lah, bangsat."

Narisa langsung mendongak tajam.

"Kasar amat itu bacot. Serius lo ngatain gw bangsat?"

"Ya maaf. Keceplosan."

Kara buru-buru memeluk Narisa lagi sebelum cewek itu ngamuk. Tapi matanya sempat melirik ke arah dalam kafe, takut ada yang melihat. Untung lampu depan sudah dimatikan, karyawan juga sibuk di belakang.

"Pulang aja yuk," katanya akhirnya. "Udah malem."

"Emm.. "

Kara mengernyit. "Lo berat amat meluk gw. Jangan bilang lo tidur."

Narisa akhirnya melepas pelukan itu pelan-pelan, Kara langsung naik ke motor. Begitu Narisa ikut naik, Kara menarik tangannya agar melingkar lebih erat di pinggangnya.

"Awas jatoh. Pokoknya jangan tidur."

"Lo kayak sayang banget sama gue." celetuk Narisa pelan.

"Ya iya lah,"

Mesin motor keburu meraung sebelum Narisa sempat memastikan jawaban itu.

Angin malam langsung menyapu wajah mereka saat motor meluncur membelah jalanan yang mulai sepi. Tapi tangan Narisa malah makin erat memeluk pinggang Kara.

**

*

Senin pagi Kara akhirnya menyerah.

Kemarin hari Minggu yang seharusnya bisa dipakai tidur sepuasnya malah habis dibawa Bramantyo keliling entah ke mana. Makan, main golf, ngobrol, dan macam- macam lagi.

Narisa justru terlihat menikmati semuanya. Berkali- kali cewek itu bengong sendiri lalu komentar.

"Oh, ini tempat main orang kaya."

Dan setelah sebulan tanpa libur kerja, tubuh Kara akhirnya protes juga. Sejak pagi badannya hangat, tapi waktu Olin ingin memeriksa, Kara cuma menjawab pendek.

"Ngantuk doang."

Setelah jam pelajaran pertama selesai, Narisa kabur ke kantin lalu membawa dua plastik makanan dan piring ke UKS.

Saat membuka pintu, 0lin yang sedang mencatat langsung menoleh.

"Eh, Risa kok ke sini?"

"Mau ngasih makan orang, Bu,"

Narisa langsung menghampiri ranjang UKS. Kara masih tidur miring dengan satu lengan menutup mata.

"Santen," panggilnya pelan.

Kara membuka mata setengah lalu menggeliat malas.

"Ngapa, Bonar..."

"Lo makan dulu dah,"

"Tapi gw masih ngantuk."

"Lo udah tidur dua jam."

"Ya masih kurang."

Narisa langsung kehilangan sabar.

"Lo tinggal makan doang repot amat. Heran. Demen amat masuk UKS."

Kara cuma diam waktu Narisa mulai membongkar plastik makanan.

"Itu... batagor?" tunjuk Kara heran. Dia tadi sempat berharap dibawakan bubur atau sesuatu yang normal.

"Ini buat gw."

"Lah?"

"Sabar ngapa."

Narisa mengeluarkan bungkusan lain. Dia memindahkan nasi ke piring, lalu membuka lauk satu-satu. Tahu, telur, dan tumisan sayur.

"Ini doang?" Kara langsung protes.

"Iya. Kenapa?"

"Gw abis ngasih duit, tapi lauk gw begini?"

"Harus hemat," gumam Narisa bijak palsu.

Dua detik kemudian dia membuka plastik lain berisi ayam bakar. Kara langsung mingkem. Narisa cekikikan puas melihat ekspresinya.

Kara akhirnya duduk dan menerima piring itu.

"Ayamnya susah pake sendok."

Narisa memutar mata lalu berdiri menuju wastafel.

"Iya bawel. Sini gw suirin."

Dia kembali duduk ddi kursi dekat kasur sambil mulai menyuwir ayam dengan tangan. Kara akhirnya mulai makan walau malas-malasan.

"Kara sakit?" tanya Olin yang sejak tadi memperhatikan.

"Dia cuma laper, Bu," jawab Narisa cepat. "Ada obat demam gak?"

"Dia demam berarti sakit, Risa. Bukan cuma lapar."

Olin segera mengambil obat penurun panas dan vitamin lalu mendekat.

"Nanti habis makan diminum obatnya."

Kara mengangguk sambil tetap makan pelan.

Sementara Narisa mengunyah batagor sambil meletakkan suwiran ayam ke piring Kara.

"Gak selera?" Olin mengernyit. "Sini, biar disuapin."

Kara belum sempat menolak saat piringnya diambil alih.

Narisa langsung berhenti mengunyah.

Oke. Ini mulai aneh.

"Bu," katanya pelan.

"Iya?"

"Perasaan tangannya dia masih fungsi."

"Dia lagi sakit, Risa."

"Tapi gak segitunya juga kali."

Olin tetap tenang. Sendok di tangannya sudah terulur ke depan Kara.

"Buka mulutnya."

Narisa langsung duduk tegak. "Geli banget."

Olin menghela napas sabar.

"Ini biasa kalau ada yang sakit."

"Putri sama Fahri pernah demam di sini. Kagak ada tuh acara suap-suapan,"

"Itu karena mereka masih kuat makan sendiri."

"Lah ini juga masih kuat." Narisa langsung menunjuk Kara. "Tuh tangannya masih lengkap dua."

Kara mulai pusing sendiri.

"Bonar, udah."

"Udah gimana?" Narisa main sewot. "Bini gw diginiin depan mata gw, njir. Ya kali gw diem aja."

Ruangan langsung hening dua detik.

Kara reflek menutup muka pakai tangan. Sementara Olin mengernyit dalam.

"Bini?" ulang Olin pelan.

Narisa sempat kaget, baru sadar dengan kalimatnya sendiri. Tapi dia malah melipat tangan sok santai.

"Kenapa emang?"

"Kalian pacaran?"

"Kurang lebih."

"Kurang lebih apaan dah," gerutu Kara lemas.

Narisa langsung melotot ke arahnya. "Lo diem aja."

Olin terdiam sebentar sebelum akhirnya menyerahkan lagi piring itu ke Kara.

"Hati orang emang cepet pindah ya," gumamnya pelan sambil mundur, kembali ke mejanya.

Narisa langsung menganga.

"Heh, maksudnya apaan tuh?"

"Gak tau," jawab Kara cepat sambil menyendok nasi.

Narisa makin curiga.

"Santen, "

"Hm?"

"Lo ada apaan sama dia?"

"Kagak ada."

"Yang bener?"

"Bener."

Narisa menyipitkan mata curiga maksimal. Tapi sebelum dia lanjut interogasi, Kara sudah lebih dulu menyerahkan piring. Narisa menerimanya dengan tatapan bingung.

"Kok tumben makan gak abis?"

"Gak selera. Gw pengen tidur lagi."

Narisa menyerahkan obat sambil berpikir keras.

"Pulang aja lah ya," katanya akhirnya.

"Harus?"

"Iya. Di rumah lebih enak tidurnya."

Kara diam sebentar. Benar juga. Badannya sudah pegal semua, dan UKS tetap saja UKS kasurnya tipis, bantalnya keras, dan suara anak keluar masuk bikin kepalanya makin pening.

Akhirnya dia menoleh ke Olin.

"Olin, bikinin surat izin. Gw balik aja."

Olin mengangguk pelan.

"Nanti aku siapin obat buat di rumah,"

Cara ngomongnya masih lembut. Terlalu lembut menurut Narisa. Tatapannya langsung pindah antara Kara dan Olin bergantian.

Curiga banget.

Tapi anehnya, Kara malah kelihatan santai. Itu yang bikin Narisa makin penasaran sendirian.

Setelah mendapat izin dari wali kelas, Harum mengantar Kara dan Narisa ke parkiran. Dia makin khawatir melihat wajah Kara yang pucat. Hidung nya juga sudah memerah karena pilek.

"Gw ikut nganter deh ya," katanya akhirnya.

"Lo mau bolos?" tanya Narisa sambil membantu Kara memakai jaket.

"Lah, udah biasa kali,"

Narisa dan Kara saling lihat sekilas. Kalau cuma Harum yang tahu rumah mereka, seharusnya aman.

Akhirnya dua motor mela ju keluar sekolah. Harum membonceng Kara karena Narisa tidak mengizinkan cewek itu nyetir sendiri.

"Lo kalau gelindingan di jalan bakal gw tambahin sampai babak belur," ancamnya tadi.

Karena Harum juga ngeri melihat Kara yang kelihatan mau tumbang kapan saja, dia langsung mendukung ancaman itu. Akhirnya motor Kara malah dipakai Narisa.

Sebelum jalan, Kara sempat mengingatkan dengan suara sengau.

"Awas lecet motor gw."

Narisa hampir melempar helm ke kepalanya. Untung masih ingat orangnya lagi sakit.

*

Begitu sampai rumah, Harum ikut masuk. Kara sampai heran sendiri. Padahal dia cuma demam biasa, tapi dua manusia ini sibuk seperti dia baru selamat dari perang.

Sesampainya di kamar, Kara langsung membuka kemejanya asal lalu rebahan sambil menarik selimut sampai dada. Efek obat tadi mulai terasa. Matanya berat lagi.

Harum menoleh ke Narisa yang masih berdiri dekat ranjang.

"Air anget ada?"

"Oiya."

Narisa buru-buru ke dapur. Tidak lama kemudian dia kembali membawa baskom kecil dan handuk.

"Nih,"

Harum mengambil handuk itu lalu memerasnya pelan sebelum menempelkannya ke dahi kara.

Kara mendesis kecil.

"Dingin."

"Air anget, peak."

"Berasa dingin."

"Berarti demam lo lumayan."

Narisa berdiri sambil memperhatikan dua orang itu bergantian. Entah kenapa melihat Kara diam dan lemas begini terasa aneh. Biasanya mulutnya paling berisik sedunia.

"Gw mandi bentar ya." katanya akhirnya.

Harum mengangguk. Dia kembali menempelkan kompres ke dahi Kara sambil menghela napas kecil.

Sejak kelas sepuluh, Kara hampir tidak pernah sakit. Paling cuma masuk angin lalu besoknya sudah ribut lagi.

Jadi melihat sahabatnya tumbang begini bikin Harum ikut kepikiran.

"Lo kecapekan kali," gumamnya.

Kara malas membuka mata.

"Sok tau,"

"Ya emang. Sekolah, basket, kerja. Tidur lo aja kagak jelas. Lagian kafe apa yang ngasih syarat gak boleh libur bulan pertama."

Kara cuma mendengus pelan lalu kembali tertidur.

*

Sore harinya Harum baru pamit pulang. Sebelumnya, Narisa menyeret dia ke dapur buat membantu bikin bubur. Tadinya Narisa mau menelepon Nuri, tapi takut malah dicecar pertanyaan macam-macam. Jadi akhirnya mereka mengandalkan video resep dengan hasil yang cukup meragukan.

"Ini udah mateng belum sih?" Narisa mengaduk panci dengan curiga.

"Kalau masih keras berarti belum."

"Ya gw juga tau,"

"Lah nanya."

Narisa mendelik kesal sementara Harum malah cekikikan.

Untung akhirnya bubur itu jadi juga. Bahkan lumayan enak.

"Nah kan, Dia gak bakal nolak makan ini," kata Harum bangga sambil mencicip sedikit. "Apalagi masaknya pake cinta."

" Cinta jidat lo, anjir."

"Emang kenapa? Wajar kali udah nikah ada cinta-cintaannya."

Narisa langsung merinding sendiri.

"Geli tau gak."

"Oh, berarti maunya dibilang sayang?

"Lo bawel banget sumpah."

Narisa mulai menyendok bubur ke mangkuk.

"Balik lo sana."

"Setelah gw bantuin dari tadi? Jahat banget,"

"Lebay."

Melihat Narisa mulai nyolot lagi, Harum cuma terkekeh. Dia akhirnya pamit setelah sempat mengecek keadaan Kara sebentar.

*

Malam semakin larut saat Kara akhirnya bangun lagi. Kepalanya sudah sedikit ringan, tapi hidungnya masih panas dan badan terasa lemas semua. Kamarnya gelap. Mungkin Narisa sudah tidur.

Ceklek.

Ternyata belum.

Pintu kamar terbuka pelan. Narisa masuk sambil membawa baskom kecil. Habis mengganti air.

"Lo bangun?" Dia buru-buru menyalakan lampu tidur. "Gimana? Masih panas?"

Kara diam saja saat Narisa mendekat lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi dan lehernya bergantian.

"Masih anget," gumam Narisa pelan. "Besok gw bilang ke Tante Eka aja kali ya. Takutnya lo kenapa-napa."

Kara langsung sedikit menjauh.

"Gw cuma pilek. Jangan deket-deket. Ntar nular."

"Gw kebal."

"Goblok."

Narisa tidak membalas. Dia malah duduk di pinggir ranjang sambil memeras handuk kompres. Tatapannya diam di wajah Kara yang masih pucat.

Setelah bertahun-tahun kenal, baru kali ini Narisa melihat Kara selemah ini. Biasanya cewek itu ribut terus, kuat terus, nyebelin terus. Sekarang malah diam dan kelihatan capek sekali.

Aneh. Dadanya jadi ikut tidak enak sendiri.

"Kalau sekarang gw ajak lo gelut, gw pasti menang," gumamnya pelan.

Kara malah tertawa kecil.

"Gw masih kuat kalau cuma ngelawan lo doang."

"Oh, jadi lo mau mukul gw?"

"Kok jadi ke sana?"

Narisa tidak menjawab. Dia malah mendekat lalu menempelkan dahinya ke dahi Kara.

"Ternyata lo emang sakit."

Kara langsung mendorong pundaknya pelan lalu bangkit duduk.

"Dibilangin jangan deket-deket. Lo pengen sakit juga?"

Narisa cuma bengong beberapa detik. Lalu tanpa aba-aba, dia maju dan mengecup bibir Kara singkat.

Tubuh Kara langsung menegang.

Narisa mundur sambil cekikikan,

"Dicium pas sakit ada rasanya gak?"

Kara memejamkan mata sambil mengusap wajahnya kasar. Dia lagi sakit, tapi Narisa malah bikin jantungnya kerja rodi.

Melihat Kara diam dengan mata masih terpejam, Narisa malah penasaran. Pelan-pelan dia mendekat lagi. Kali ini bibir mereka tidak sekadar bertemu sebentar.

Napas Kara masih hangat karena demam, Narisa bisa merasakannya jelas saat Kara mulai membalas perlahan. Tidak buru-buru, tapi cukup untuk membuat jantungnya langsung berisik.

Tangan Kara naik ke pinggang Narisa, menariknya makin dekat. Sementara Narisa yang tadinya cuma penasaran malah jadi lupa berhenti.

Ciumannya makin dalam. Pelan. Tapi bikin kepala kosong. Narisa bahkan tidak sadar sejak kapan matanya terpejam rapat. Yang dia rasakan cuma bibir Kara yang hangat dan tangan Kara yang sesekali mengusap punggungnya pelan.

Saat napas mereka mulai habis, Kara akhirnya menjauh sedikit. Tangannya naik mengusap rambut Narisa pelan.

"Gw sayang sama. lo," bisiknya serak.

Narisa langsung salah tingkah.

"Napas lo anget. Bibir lo juga anget. Ini ciuman apa spa bibir sih?"

Kara langsung tertawa kecil.

Iya juga. Dia lupa Narisa memang begini orangnya.

Tapi Narisa belum selesai. Dia mendelik kecil sambil masih memegang bibirnya sendiri.

"Lo ciumannya udah kayak pro."

Kara mengernyit.

"Hah?"

"Sering cium cewek lo ya?"

"Ngapa jadi ke sana dah?"

"Ngaku lo."

Kara malah makin geli melihat muka Narisa yang sudah merah tapi masih galak. Tangannya naik mencubit pipi cewek itu pelan.

"Yang tadi emang bukan ciuman pertama gw. Gimana dong?"

Muka Narisa berubah syok bercampur tersinggung. Baru juga dia mau ngamuk, Kara sudah lebih dulu menarik tangannya sampai Narisa jatuh rebahan di sampingnya.

"Berisik banget."

"Lo jangan ngalihin topik-"

Kara memeluk pinggang Narisa erat lalu memejamkan mata lagi.

"Gini amat punya bini," gumamnya malas. "Tau gitu gw biarin bibir gw perawan dari dulu."

Narisa langsung bengong dua detik. Setelah itu mukanya makin merah.

"Bacot lo miring amat. Lo sakit apa stress sih?"

Tapi tangannya malah refleks balas memeluk Kara lebih erat.

Beberapa saat kamar itu akhirnya benar-benar sunyi. Narisa yang tadi masih ingin ngomel sekarang malah diam sambil memainkan ujung baju Kara.

"Gw... juga sayang." gumamnya pelan. "Dikit sih. Jadi lo jangan sakit. Gw kepikiran."

Senyum Kara langsung melunak. Dia menarik Narisa makin dekat sampai kepala cewek itu nyaman di dadanya.

Malam itu mereka tidur tanpa lempar bantal, tanpa adu bacot, tanpa saling ejek.

Hanya kamar redup, tubuh Kara yang hangat, dan suara AC yang mengisi hening panjang di antara mereka.

.

1
Felafel
Seru
Felafel
wkwkwk🤣 risa denial banget tinggal bilang cemburu aja loh
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!