Kematian misterius yang ada di rumah ujung membuat siapa saja akan ketakutan, bahkan puncak nya para warga sama sekali tidak kenal dengan penghuni rumah tersebut.
satu keluarga di bantai dan mayat mereka membusuk di dalam rumah tersebut, warga menguburkan secara layak namun seram nya rumah itu membuat siapa saja yang lewat akan ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Laporan Arya
"Kau dari mana saja jam segini baru pulang ke rumah?" Purnama langsung menyambut kedatangan Arya.
"Ah aku sedang kesal sekali ketika tadi habis dari desa sana untuk panen kelapa, itu kalau kakak yang bertemu dengan dia maka pasti akan langsung terjadi banting-membanting." Arya berkata dengan penuh emosi.
"Aduh, baru saja pulang sudah membara seperti itu." Nolan juga ikut mendekat Karena penasaran.
"Ah entah lah, aku yang kalem Dan lemah lembut ini saja bisa emosi dia buat." Arya membanting bokong di sofa.
"Ini emang ada apa sih kok kau juga terlihat sangat emosi seperti itu?" Maharani ikut mendekat karena tidak biasa Arya akan bersikap seperti itu.
Arya menghelai nafas berulang kali sebelum bercerita karena dia harus menetralkan emosi dulu yang ada di dalam dada ini, nanti kalau bercerita dengan emosi tinggi maka yang ada mereka tidak akan bisa mendengar dengan cermat karena terlalu fokus dengan emosi yang ada pada diri Arya itu.
Memang bayangkan saja orang yang sekalem Dan lemah lembut seperti ini tapi menjadi tidak bisa menguasai diri akibat terlalu emosi mendengar ucapan dari Angelina dan juga Darius, lalu bagaimana dengan Purnama seandainya dia tadi bertemu dengan pasangan suami istri itu, maka dapat dipastikan mereka bertiga akan terlibat perkelahian yang begitu sengit sekali.
Namun pasti akan ada reaksi jera dari Angelina dan juga Darius, sebab Purnama tidak akan pernah tinggal diam bila bertemu dengan orang angkuh seperti pasangan suami istri tersebut, entah membanting atau menendang namun yang jelas Purnama akan mengambil tindakan terhadap mereka berdua yang sudah berani bersikap angkuh.
Masih untung kedua orang tersebut karena dia tidak bertemu dengan purnama dan justru bertemu dengan Arya si ular kalem, jadi masih selamat dan justru mereka berhasil mendapatkan apa yang sedang mereka inginkan saat ini, Purnama juga masih belum mengetahui apa yang telah terjadi pada desa itu sehingga Arya malah bertemu dengan orang tak dikenal.
Lalu Arya menceritakan secara detail apa yang telah terjadi di desa milik Davin tersebut, dimulai dari malam pembantaian dan sampai tadi mereka bertemu dengan pasangan suami istri itu lalu mendapat tuduhan jahat karena telah masuk ke dalam rumah milik keluarga Sayuti tanpa izin dari mereka.
Purnama yang mendengar saja mulai terbawa emosi walau dia tidak ada di sana secara langsung saat kejadian tersebut, mendengar keangkuhan dari pasangan suami itu maka Purnama sudah bisa membayangkan sendiri bagaimana wajah mereka saat sedang memaki Arya dan juga Pak RT serta Pak Lurah, bukan main geram nya ratu ular ini setelah mendengar itu semua.
"Jadi apa yang kau lakukan kepada mereka setelah itu?" tanya Purnama sambil menatap Arya.
"Tidak ada, kami pergi keluar dan tidak menanggapi omongan Mereka lagi." sahut Arya.
"Kau memang dasar ular bodoh tidak tahu diri, Kenapa tidak langsung kau hajar mereka saja!" teriak Purnama dengan sangat geram.
Arya memutar bola mata malas karena saat itu masalah pasti akan semakin panjang bila dia sampai mengambil tindakan demikian, Arya selalu berpikir panjang untuk mengambil tindakan terhadap seseorang. beda dengan Purnama yang memang lebih mengutamakan emosi terlebih dahulu saat mengambil tindakan, jadi mereka memang dua orang yang begitu berbeda sekali saat sedang menghadapi masalah.
"Kau seperti tidak ada harga diri saja mendapat hinaan seperti itu, apa dia itu tidak tahu bahwa kita adalah klan ular yang memiliki kekayaan berlimpah?!" Nolan juga ikut kesal.
"Ya kalau mereka tahu kita adalah siluman ular maka pasti akan berpindah memuja kita." jawab Arya dengan santai.
"Apa mereka telah memuja pesugihan?" Purnama langsung menoleh.
"Kalau menurut yang aku lihat mereka memang tidak kaya biasa, tapi tidak tahu secara pasti karena memang belum ada bukti sih." ujar Arya.
"Ah kalau kau sendiri sudah memiliki firasat seperti itu maka mereka pasti memiliki pesugihan, alah kaya seperti itu saja gaya pun sudah tidak karuan!" Purnama sangat kesal.
"Lebih baik sekarang kita kembali ke desa itu lagi untuk menemui mereka." ajak Nolan kepada Purnama.
"Heee sudah tidak usah diperpanjang lagi karena mereka juga pasti sudah pulang ke kota." Arya mencegah mereka berdua yang memiliki emosi tinggi itu.
Agak menyesal juga telah bercerita kepada mereka berdua ini, sebab mereka menjadi begitu emosi dan ingin membantai orang kaya yang dari, tapi kalau dia tidak bercerita maka Purnama juga nanti pasti akan mengetahui sendiri dan nantinya akan membuat masalah semakin panjang sehingga melebar ke mana-mana karena dia tidak mau bercerita sejak awal.
"Jangan jangan justru mereka yang sudah membantai keluarga Sayuti itu." Purnama mulai merasa curiga.
"Kenapa malah mereka yang membantai keluarga Sayuti itu sendiri?" Arya bingung dengan pikiran Purnama.
"Lah kau tadi mengatakan kalau yang mengurus mayat itu saja rombongan para warga, bahkan sampai saat ini para warga tidak ada yang pernah memberitahu keluarga Sayuti." Purnama berusaha untuk menjelaskan.
"Nah itu sangat masuk sekali." Nolan juga sependapat.
"Betul kan? jadi sebenarnya dia tahu dari mana kalau Sayuti sekeluarga itu sudah meninggal dunia." Purnama tersenyum karena dia berhasil mendapatkan poin penting.
"Memang kalau kita pikirkan secara ulang maka itu aneh sekali, Pak Lurah mengatakan bahwa mereka memang belum ada memberitahu keluarga Sayuti yang lain." Arya juga baru menyadari.
"Ya benar memang, bila Pak Lurah saja tidak memberitahu lalu dari mana mereka bisa mengetahui kalau Sayuti sudah meninggal?" Purnama tersenyum begitu licik.
"Jadi kesimpulan yang sekarang bisa saja mereka itu yang sudah membunuh keluarga Sayuti." Nolan juga ikut tersenyum.
Arya mengangguk paham karena dari tadi dia sudah mencurigai tentang hal itu namun masih belum mendapat poin yang tepat sehingga bingung untuk menyimpulkan bagaimana, baru sekarang ketika Purnama mengatakan demikian maka dia menyadari bahwa itu memang menjadi kecurigaan terbesar untuk mereka berdua saat ini.
"Apa kita akan mengurus tentang tragedi pembantaian itu?" Maharani bertanya kepada mereka bertiga.
"Ah ribet juga kalau mau mengurus itu." Nolan terlihat sama sekali tidak tertarik.
"Tapi kalau kita tidak mengurus maka kita tidak bisa membalas penghinaan yang sudah dia lakukan kepada Arya." Purnama masih dalam tahap pertimbangan.
Maharani diam karena dia terserah saja dengan keputusan Purnama, andai Purnama mau mengurus maka dia akan ikut serta membantu dalam misi kali ini. tapi bila memang Purnama tidak ingin lagi mengurus tentang masalah itu maka Maharani juga tidak akan memaksa, terlebih Nolan sudah undur diri karena dia tidak ingin mencari ribet.
Selamat sore besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
atau mungkin kah Pardi akan mati membusuk di lemari itu ❓❓
kualat tuh si Pardi ,, syukurin Kowe 🤣🤣🤣
wes angel iki mah ,,, ora iso di kandani ,, sak karep mu Dewe ,, Yoo Ben lah ,, Ben mati wae si Pardi di cekik setan 🤣🤣🤣
apakah Rais sdh terikat dh para arwah pembantaian itu ❓