Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pagi itu, matahari menyinari ruang tamu rumah megah keluarga Prasetya. Haikal sudah rapi dengan kemeja kerja, tapi pikirannya masih berantakan sejak perdebatan semalam dengan Gita.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Beni, sekretaris setia Haikal, masuk bersama seorang gadis muda yang membuat udara di ruangan seakan berubah.
“Selamat pagi, Bos,” sapa Beni Aspri sekaligus sahabat Haikal. “Ini kandidat yang kamu minta. Namanya Laura.”
Haikal mengangkat wajah, dan untuk beberapa detik, ia terdiam.
Laura berdiri anggun di ruang tamu. Tubuhnya berisi pada tempat-tempat yang sulit diabaikan. Kulitnya putih bersih, rambut hitam panjang tergerai, dan senyum tipis menghias bibir merahnya. Tapi yang paling menusuk adalah tatapannya mata bulat yang seakan menatap Haikal penuh arti, bukan sekadar formalitas seorang pelamar kerja.
“Selamat pagi, Pak Haikal.” Suaranya lembut, tapi ada getar menggoda.
Haikal berdeham kecil, berusaha tetap tenang.
“Pagi. Jadi kamu… Laura?”
“Iya, Pak.” Ia menunduk sopan, tapi sebelum kepalanya benar-benar turun, matanya sempat mengedip nakal ke arah Haikal.
Jantung Haikal berdegup lebih cepat. Ada sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhnya, terutama ke bagian yang selama ini mati rasa. Sejenak ia tertegun, tak percaya ada sedikit kedutan halus di bawah sana.
“Kalau begitu, kamu bisa mulai bekerja hari ini juga,” ucap Haikal cepat, hampir terdengar gugup.
Laura tersenyum manis.
“Baik, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin. Semoga… Bapak betah dengan saya di sini. Maaf pak apa hanya saya pembantu disini?, rumah ini sangat besar pak.” tanya Laura.
"Biasanya ada bi Asih yang selalu datang tiap hari untuk membersihkan rumah ini, tapi beberapa hari ini beliau pulang kampung dan tidak akan kembali lagi."
"Ooh gitu..."
"Tugas kamu hanya melayani saya, menyiapkan semua keperluan saya. Kalau untuk kebersihan rumah terserah kamu. Kalau kamu mau mengerjakan nya maka gaji kamu akan saya lipat gandakan."
"Wah... Terima kasih pak. Kalau boleh tau, gaji saya berapa kalau saya kerjakan semua nya pak?." tanya Laura begitu antusias.
"Dua puluh juta." Jawab Haikal tegas membuat Laura tersenyum kegirangan. Ia sama sekali tak menyangka jika gaji yang ia dapatkan sebagai ART sebesar itu. Atau.. Haikal memang tipe orang kaya yang royal dan tidak pelit.
Kata-katanya sederhana, tapi intonasinya ambigu. Beni yang berdiri di samping hanya bisa menunduk, pura-pura tak paham.
“Kalau begitu, saya permisi,Bos,” ujar Beni setelah menyerahkan dokumen. “Saya ada rapat di kantor.”
“Ya, terima kasih, Ben.”
Begitu Beni pergi, tinggal mereka berdua di ruang tamu. Haikal berusaha menjaga sikap, tapi Laura kembali menatapnya dengan senyum genit, lalu berbalik menuju dapur. Lenggak-lenggoknya tak bisa Haikal abaikan.
Sebelum benar-benar menghilang dari pandangan, Laura sempat menoleh sekali lagi. Senyumnya mengembang, lalu ia… mengedipkan mata.
Detak yang Tak Biasa
Haikal duduk di sofa, meraih dadanya yang berdegup tak karuan. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran yang melintas.
“Apa-apaan ini…? Kenapa aku bisa…” bisiknya pada diri sendiri.
Sejak menikah, ia terbiasa dengan rasa frustrasi setiap kali Gita menuntut lebih di ranjang. Tapi kali ini, hanya dengan tatapan seorang gadis asing, tubuhnya bereaksi. Meski samar, meski sekadar kedutan, tapi itu cukup untuk membuatnya goyah.
Ada sesuatu pada Laura—sesuatu yang bisa jadi obat bagi luka harga dirinya.
Haikal menarik napas panjang. Ia sadar, langkahnya semalam yang penuh emosi bisa membawa malapetaka. Karena wanita bernama Laura ini bukan sekadar pembantu. Ia adalah godaan dalam wujud paling nyata.
Dan Gita… belum tahu apa-apa.
Sudah beberapa hari Laura bekerja di rumah megah keluarga Prasetya. Ia lincah, cekatan, dan entah bagaimana selalu bisa membuat suasana rumah terasa lebih hidup.
Namun yang paling mengejutkan adalah perasaan Haikal sendiri.
Setiap kali Laura berada di dekatnya, ada percikan aneh yang muncul. Sesuatu yang selama bertahun-tahun hilang.
Ia tak berani mengakuinya pada siapa pun, tapi dalam hati ia tertegun,
Kenapa… tubuhku bisa bereaksi normal saat melihat Laura? Tapi dengan Gita, istriku sendiri, aku selalu gagal…
Pertanyaan itu menghantui pikirannya setiap malam. Dan tanpa sadar, tatapan Haikal pada Laura mulai berbeda.
Hari itu, Sagita akhirnya pulang dari luar kota setelah pemotretan panjang. Seperti biasa, ia masuk dengan langkah anggun, membawa tas belanja bermerek, dan aroma parfum mahal.
Namun kali ini, ada yang berbeda. Di ruang tamu, seorang gadis muda dengan seragam sederhana berdiri sambil menata bunga di vas kaca.
“Selamat datang, Bu,” sapa Laura sopan, menundukkan kepala.
Sagita menoleh cepat, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Senyum tipis tersungging, tapi matanya dingin, menusuk.
“Jadi ini… pembantu yang Mas ambil?” katanya pelan, tapi penuh nada meremehkan.
Laura mencoba tetap tersenyum.
“Iya, Bu. Nama saya Laura. Saya akan bantu-bantu di rumah ini.”
Tatapan Sagita menyapu tubuh molek Laura dengan sinis.
“Hm. Pantas… Mas pilih kamu.”
Laura tercekat. Ia tak butuh penjelasan lebih jauh untuk mengerti maksud tatapan itu: merendahkan. Seolah dirinya hanya sebongkah kotoran yang kebetulan diberi tempat di rumah megah itu.
“Baik, Bu,” jawab Laura pendek, lalu kembali ke pekerjaannya. Tapi dalam hati, bara kecil mulai tumbuh.
Api yang Tersembunyi
Malamnya, Haikal duduk di ruang kerja sambil membuka berkas. Sagita masuk dengan wajah masam.
“Mas,” ujarnya dingin. “Aku nggak suka sama pembantu baru itu.”
Haikal menoleh, sedikit terkejut. “Kenapa? Laura rajin kok. Selama kamu pergi, rumah ini terurus dengan baik.”
“Itu bukan soal rajin atau nggak, Mas,” Sagita menyilangkan tangan di dada. “Aku cuma nggak suka tatapan matanya. Terlalu berani.”
Haikal berusaha menahan senyum. Bukan karena meremehkan, tapi karena hatinya justru terselip rasa puas mendengar nada cemburu istrinya.
“Bukankah kamu yang bilang aku harus cari pembantu? Jadi jangan protes sekarang.”
Sagita mendengus kesal.
“Aku cuma nggak mau ada perempuan lain sok penting di rumah ini.”
Haikal menatap istrinya dalam-dalam. Ada luka, ada amarah, tapi juga ada sesuatu yang berbeda kali ini. Untuk pertama kalinya, Gita merasa terancam. Dan itu membuat Haikal merasa… sedikit menang.
Di kamarnya sendiri, Laura duduk di tepi ranjang kecilnya, menatap cermin. Bibirnya tersenyum tipis, meski hatinya panas oleh tatapan meremehkan nyonya rumah.
Jadi dia istri Pak Haikal… pikirnya. Cantik, glamor, tapi arogan. Dia menganggap aku sampah? Kita lihat saja nanti…
Tangannya menyentuh pipinya sendiri, lalu ia terkekeh kecil.
“Kalau saja dia tahu… bahkan hanya dengan tatapan, aku sudah bisa bikin Pak Haikal berdebar.”
Dan malam itu, tanpa disadari, api cemburu, harga diri, dan godaan mulai menyala dalam rumah tangga yang rapuh itu.