NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 - Cemburu

Leon selalu menganggap dirinya orang yang tenang.

Ia terbiasa menghadapi ancaman tanpa panik. Terbiasa melihat orang-orang saling mengkhianati.

Terbiasa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Tetapi malam itu, hanya karena melihat Axel berjalan di samping Rachael sambil membuat gadis itu tertawa kecil.

Leon merasa emosinya berantakan, ia membenci itu. Tatapannya terus mengikuti mereka dari kejauhan.

Axel berjalan santai sambil memasukkan tangan ke saku hoodie hitamnya. Sesekali laki-laki itu menundukkan kepala mendengar jawaban Rachael lalu tertawa kecil lagi.

Sementara Rachael yang beberapa hari terakhir selalu dingin padanya justru terlihat jauh lebih nyaman bersama Axel. Dada Leon terasa semakin sesak.

Rasionalnya tahu Axel tidak punya niat aneh, Axel hanya mencoba membantu. Tapi emosinya tetap tidak suka melihat itu. Sangat tidak suka.

“Gila.” Leon mengusap tengkuknya kasar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ingin menarik seseorang menjauh hanya karena tidak suka melihat orang itu dekat dengan Rachael.

Itu terdengar sangat bodoh di kepalanya sendiri.

Namun sebelum Leon sempat pergi, Axel tiba-tiba menoleh ke arahnya dari kejauhan.

Tatapan mereka bertemu.

Brengseknya, Axel langsung menyeringai tipis seperti menyadari semuanya.

Leon langsung memasang wajah datar.

Sementara Axel justru terlihat semakin ingin tertawa.

Beberapa detik kemudian, Rachael dan Axel akhirnya sampai di dekat gerbang sekolah.

Rachael tampak mengatakan sesuatu sebelum berhenti berjalan.

Axel membalas dengan santai lalu mengacak rambutnya sendiri sambil tertawa kecil.

Kemudian Axel menepuk pelan kepala Rachael.

Hanya sebentar.

Gerakan santai biasa.

Tetapi mata Leon langsung berubah dingin, bahkan refleks mengepal kecil di samping tubuhnya.

Membuat Leon sadar satu hal yang menyebalkan. Ia benar-benar cemburu.

“Besok jangan murung lagi,” kata Axel santai.

Rachael langsung mendengus kecil. “Aku nggak murung.”

“Bohong.” Axel tertawa kecil lalu mundur beberapa langkah. “Oke, gua cabut dulu.”

Rachael mengangguk kecil. “Makasih.”

Axel melambaikan tangan santai sebelum akhirnya berbalik pergi.

Namun baru beberapa langkah, ia melihat Leon berdiri tidak jauh dari sana. Axel langsung berhenti.

Tatapan mereka bertemu, ekspresi Leon benar-benar membuat Axel hampir tertawa keras.

Leon dingin dan kesal jelas sekali sedang menahan sesuatu.

Axel berjalan mendekat sambil memasang wajah polos. “Kenapa lu?”

Leon langsung menjawab datar. “Nggak kenapa-kenapa.”

“Wah.” Axel menahan senyum. “Muka lu tuh literally bilang kebalikannya.”

Leon melirik ke arah Rachael yang sekarang sedang berdiri sendirian sambil mengecek ponselnya. Tatapannya sedikit berubah lagi.

Axel mengikuti arah pandangan Leon lalu akhirnya benar-benar tertawa kecil. “Anjir.” Ia menepuk bahu Leon pelan. “Lu cemburu?”

Leon langsung menatap tajam. “Jangan ngomong sembarangan.”

“HAHAH.” Axel makin puas. “Seriusan lagi.”

Leon langsung berjalan melewati Axel begitu saja.

Namun Axel buru-buru menyusul sambil tertawa pelan. “Leon Knight de Arther cemburu sama sepupunya sendiri.”

“Diam.”

“Ini sejarah.”

Leon berhenti mendadak lalu menatap Axel dingin.

“Lu sengaja dekatin dia?”

Axel langsung mengangkat alis. “Nah loh.”

Suasana mendadak berubah sedikit tegang.

Axel sadar, Leon benar-benar serius sekarang.

Axel akhirnya menghela napas kecil sambil menahan senyum. “Gua cuma bantu.”

“Bantu apa?”

“Bantu dua orang keras kepala yang jelas-jelas saling suka tapi malah bikin situasi makin ribet.”

Leon langsung memalingkan wajah. “Gua nggak suka dia.”

“Bullshit.” Jawaban Axel terlalu cepat.

Leon langsung diam.

Itu justru membuat Axel semakin yakin. “Lu tuh gampang dibaca kalau soal dia.”

Leon mengusap wajahnya frustrasi pelan, ia benci kenyataan bahwa Axel benar.

Karena sekarang, Leon bukan cuma takut kehilangan Rachael. Tapi ia juga mulai takut kalau suatu hari Rachael merasa lebih nyaman bersama orang lain.

Perasaan itu jauh lebih mengganggu daripada ancaman keluarga Moretti sekalipun.

Di sisi lain gerbang sekolah, Rachael akhirnya menyadari Leon masih berada di sana. Tatapannya sempat bertemu dengan Leon beberapa detik.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Rachael melihat sesuatu yang berbeda di mata Leon. Bukan dingin, juga bukan marah. Melainkan sesuatu yang terlihat... kesal.

Aneh.

Seolah Leon sedang menahan emosi tertentu.

Sebelum Rachael sempat memahami itu, Leon sudah lebih dulu memalingkan wajah lalu berjalan pergi begitu saja.

Meninggalkan Rachael berdiri bingung sendirian di bawah lampu gerbang sekolah.

Axel juga pergi setelahnya mengikuti Leon.

...----------------...

Malam itu hujan turun pelan.

Rintik air membasahi kaca jendela kamar Rachael sementara lampu meja belajarnya masih menyala sejak tadi.

Namun buku di depannya sama sekali tidak dibaca.

Tatapannya kosong pikirannya terlalu penuh.

Ucapan Leon, sikap Leon beberapa hari terakhir, tatapan dinginnya, jawaban pendek, jarak yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan. Semua terus berputar di kepalanya tanpa henti.

Yang paling menyebalkannya, Rachael tidak bisa berhenti memikirkannya. Ia membenci dirinya sendiri karena itu.

Rachael memejamkan mata sambil menyandarkan tubuh ke kursi.

Dadanya terasa sesak lagi.

Perasaan itu datang lagi. Perasaan lama yang paling ia benci.

Diabaikan.

Dijauhi.

Diperlakukan seolah keberadaannya mengganggu.

Tangannya perlahan mengepal kecil di atas meja.

Napasnya mulai terasa lebih pendek. “Jangan...” bisik nya pelan pada dirinya sendiri.

Tetapi pikirannya sudah terlanjur kembali ke masa lalu.

“Kamu aneh.”

Suara itu kembali terdengar di kepalanya, sangat jelas.

“Terlalu sensitif.”

“Kamu capek banget sih diajak ngomong.”

“Kenapa sih harus marah cuma karena hal kecil?”

Potongan-potongan suara lama terus bermunculan satu per satu. Suara teman-teman sekolah lamanya.

Tatapan mereka, bisik-bisik yang dulu selalu muncul saat Rachael kehilangan kontrol emosinya.

Ia masih ingat semuanya terlalu jelas. Ruang kelas yang ramai. Suara kursi digeser. Tertawaan kecil saat dirinya tiba-tiba panik karena terlalu banyak suara sekaligus.

Tatapan aneh orang-orang saat ia terlalu fokus pada sesuatu sampai tidak mendengar orang memanggilnya.

Dan hari ketika seseorang mengatakan kalimat yang paling membekas di kepalanya sampai sekarang.

“Kalau sama Rachael tuh capek. Dia aneh, ngerepotin.”

Kalimat yang sederhana, namun cukup untuk membuat dunia remaja Rachael runtuh perlahan.

Sejak saat itu, ia mulai belajar menyembunyikan dirinya sendiri. Belajar tersenyum di waktu yang tepat, menahan marah, belajar pura-pura baik-baik saja.

Karena Rachael paling takut satu hal: ditinggalkan karena dianggap berbeda.

Dan sekarang, sikap Leon membuat semua rasa takut itu muncul lagi.

Rachael menundukkan kepala sambil menekan kedua tangannya kuat-kuat. Ia benci kenapa dirinya seperti ini.

Kenapa tatapan dingin seseorang bisa begitu memengaruhinya.

Kenapa perubahan sikap kecil bisa membuat pikirannya langsung kacau.

Ia ingin biasa saja.

Ingin tidak peduli, tapi luka lama tidak semudah itu hilang.

Ponselnya tiba-tiba menyala pelan di atas meja, sebuah pesan masuk.

Dari Leon.

Jantung Rachael langsung menegang.

Beberapa detik ia hanya menatap layar ponselnya diam. Lalu perlahan membukanya.

"Jangan pulang sendirian besok." Hanya itu, pesan singkat yang datar.

Namun justru membuat dada Rachael terasa semakin sakit.

Karena Leon masih bersikap seolah peduli, tapi tetap menjaga jarak darinya.

Itu membuat Rachael semakin takut. Takut kalau suatu saat Leon benar-benar bosan dengannya.

Takut kalau Leon mulai melihat dirinya sebagai orang yang merepotkan.

Takut kalau akhirnya Leon juga menganggap dirinya aneh.

Tanpa sadar mata Rachael mulai terasa panas. Ia cepat-cepat menunduk sambil menggigit bibir bawahnya pelan.

Tidak.

Ia tidak boleh menangis karena hal seperti ini.

Sudah cukup dulu. Ia tidak mau kembali menjadi Rachael yang selalu sendirian karena dijauhi orang lain.

Namun semakin ia mencoba menahan semuanya semakin sesak dadanya terasa.

Rachael akhirnya berdiri cepat dari kursinya lalu berjalan menuju wastafel kecil di sudut kamar.

Ia membuka keran air dingin lalu membasuh wajahnya pelan.

Napasnya sedikit gemetar. Tatapannya bertemu dengan pantulan dirinya sendiri di cermin.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachael merasa takut lagi.

Takut kalau semua yang ia bangun perlahan akan hancur.

Takut kalau akhirnya Leon juga pergi menjauh seperti orang-orang sebelumnya.

...----------------...

Keesokan paginya.

Rachael datang ke sekolah lebih awal dari biasanya.

Ia memakai earphone seperti biasa dan langsung duduk di kursinya sambil membuka buku.

Tenang, diam, dan berusaha terlihat normal.

Namun sejak tadi pikirannya kacau. Setiap suara di kelas terasa lebih mengganggu dari biasanya.

Tawa murid.

Suara meja bergeser.

Percakapan kecil di belakang kelas.

Semuanya membuat kepalanya pusing.

Dan saat pintu kelas terbuka, jantung Rachael langsung menegang.

Leon masuk ke kelas. Seperti biasanya, tinggi, tenang dengan tatapan dingin.

Kali ini, Rachael langsung menunduk cepat sebelum mata mereka bertemu. Karena ia takut melihat tatapan Leon sekarang.

Takut melihat rasa bosan.

Takut melihat kejengkelan.

Atau lebih buruk, rasa tidak peduli.

Tanpa sadar Rachael mulai menarik dirinya menjauh dari semua orang lagi. Persis seperti dulu.

Suasana kelas pagi itu terasa biasa bagi semua orang.

Rachael duduk diam di kursinya sambil memakai earphone, tetapi musik yang biasanya menenangkan kini tidak banyak membantu.

Karena masalah sebenarnya bukan suara di sekitar.

Melainkan isi kepalanya sendiri. Dan itu jauh lebih sulit dihentikan.

Rachael mulai menyalahkan dirinya sendiri lagi.

Mungkin ia terlalu emosional. Mungkin dirinya terlalu melelahkan untuk dihadapi. Mungkin lama-lama Leon juga mulai sadar kalau dirinya aneh. Pikiran-pikiran itu terus berputar tanpa henti.

Sampai seseorang duduk di samping mejanya.

Selina. “Pagi.”

Rachael langsung tersadar lalu buru-buru mengangguk kecil. “Pagi.”

Selina memperhatikan wajah Rachael beberapa detik. “Kamu sakit?”

“Nggak.” Jawabannya terlalu cepat.

Selina langsung sadar ada sesuatu yang salah.

Biasanya Rachael akan membalas obrolannya meski singkat. Namun sekarang gadis itu bahkan tidak benar-benar menatapnya.

“Kamu habis nangis?”

Rachael langsung menggeleng cepat. “Nggak kok.”

Tangannya refleks menggenggam ujung lengan bajunya sendiri. Gerakan kecil yang selalu muncul saat dirinya mulai tidak nyaman.

Selina semakin khawatir. “Rachael—”

“Aku baik-baik aja.” Nada suaranya masih lembut.

Tetapi terdengar seperti sedang memaksa dirinya sendiri percaya pada kalimat itu.

Selina terdiam.

Karena sekarang Rachael terlihat seperti sedang membangun tembok besar di sekeliling dirinya lagi.

Itu terasa menyedihkan.

Leon yang duduk beberapa bangku di belakang memperhatikan semuanya diam-diam.

Tatapannya sejak tadi tidak pernah benar-benar lepas dari Rachael. Ia langsung menyadari sesuatu.

Rachael terlihat berbeda hari ini.

Bukan marah.

Bukan dingin.

Melainkan... menarik diri.

Axel yang baru masuk kelas juga langsung menyadari suasana aneh tersebut. Ia berjalan mendekati meja Rachael sambil membawa roti kecil dari kantin. “Halo manusia overthinking.”

Biasanya Rachael akan mendengus kecil atau membalas sindiran Axel.

Kali ini Rachael hanya mengangguk kecil. “Makasih.” Lalu kembali menunduk ke bukunya.

Axel langsung mengernyit. “Oke. Ini serem.” Tidak ada jawaban.

Axel melirik Leon cepat. Leon langsung berdiri dari kursinya.

Rachael yang menyadari langkah kaki mendekat langsung menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Leon berhenti di samping mejanya beberapa detik. “Aku mau ngomong.”

Biasanya meski sedang marah, Rachael tetap akan menoleh.

Tetapi sekarang tidak.

Rachael tetap menunduk. “Aku lagi nggak mau ngobrol.”

Suasana kelas mendadak terasa canggung.

Axel dan Selina saling melirik kecil.

Karena nada suara Rachael bukan terdengar marah.

Melainkan lelah. Dan itu jauh lebih mengkhawatirkan.

Leon memperhatikan Rachael beberapa detik lebih lama.

Tatapannya perlahan turun ke arah jemari gadis itu yang bergerak kecil tanpa sadar di atas meja. Ia gugup, tidak nyaman, mungkin... hampir kehilangan kontrol emosinya lagi.

“Aku cuma mau—”

“Aku nggak mau bicara dengan mu.” Potongan kalimat Rachael terdengar lirih. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar rapuh.

Rachael akhirnya mengangkat kepala sedikit.

Dan saat Leon melihat matanya, dadanya langsung terasa sesak. Karena mata itu terlihat sangat lelah. Seolah Rachael sudah terlalu lama menahan sesuatu sendirian.

“Aku nggak mau bikin masalah lagi. Kau bilang jangan dekat dengan mu, maka sebaiknya kau juga menjauh dariku.”

Kalimat itu langsung membuat Leon membeku.

Dan sebelum siapa pun sempat mengatakan apa-apa, bel sekolah berbunyi keras.

Suara nyaring itu membuat tubuh Rachael sedikit tersentak.

Terlalu tiba-tiba, kepalanya langsung terasa semakin penuh.

Rachael buru-buru berdiri. “Aku keluar dulu.”

Ia mengambil tasnya cepat lalu berjalan keluar kelas tanpa menunggu jawaban siapa pun.

“Rachael!” panggil Selina khawatir.

Namun Rachael tidak berhenti. Langkahnya justru semakin cepat menyusuri koridor sekolah.

Ia ingin pergi dari keramaian.

Dari tatapan orang-orang.

Dari semua perasaan yang terus menyesakkan dadanya.

Sementara di dalam kelas, Leon berdiri diam sambil menatap pintu yang baru saja tertutup. Tangannya mengepal pelan. Karena sekarang bukan cuma dirinya yang menjauh, tapi Rachael mulai menghilang dari semua orang.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!