Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Sementara itu, Adiba berjalan tergesa-gesa ke dapur resort, matanya sibuk menyapu deretan rak untuk mencari botol kecap manis. Berdasarkan mitos orang tua, mengoleskan kecap pada luka bakar baru bisa mencegah kulit melepuh dan mengurangi rasa perihnya.
"Sini botolnya," sebuah tangan kekar tiba-tiba merebut botol kecap dari genggaman Adiba begitu gadis itu baru saja berhasil menemukannya.
Adiba tersentak, menoleh kesal mendapati Aidan sudah berdiri di sampingnya. "Apa-apaan sih? Nggak usah ikut campur! Sini balikin botolnya!" seru Adiba berusaha merebut kembali botol kecap tersebut.
"Jangan pakai kecap, Didie! Itu cuma mitos dan bisa bikin lukamu infeksi. Biar saya obati dengan benar!" tegas Aidan dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.
Aidan meletakkan sebuah kotak P3K putih di atas meja dapur, lalu dengan sangat hati-hati, tanpa menyentuh kulit luar, ia menarik pelan ujung kain hoodie longgar yang dikenakan Adiba, menuntun gadis itu untuk duduk di salah satu kursi kayu dapur.
"Saya bilang nggak usah, saya bisa mengobatinya sendiri," tolak Adiba lagi, merasa tidak nyaman berduaan dengan pria asing di dapur malam-malam begini.
Aidan berdiri tegak di depan Adiba, menatap mata gadis itu dengan pandangan yang sangat serius dan jujur. "Duduk di sini, Didie. I swear that I will not touch your skin. (Saya janji, saya tidak akan menyentuh kulitmu yang bukan mahram saya)," ujar Aidan meyakinkan dengan suara rendah yang mendadak terdengar begitu jantan.
Mendengar janji suci yang begitu menjaga kehormatannya sebagai seorang Muslimah, pertahanan Adiba runtuh. Ia akhirnya diam, duduk dengan patuh dan membiarkan Aidan membantunya.
Aidan membuka kotak P3K, mengambil sebotol salep khusus luka bakar dan sebungkus cotton bud. Dengan gerakan yang sangat lambat, hati-hati, dan penuh ketelatenan yang luar biasa, Aidan mengoleskan salep putih itu pada luka bakar di jari Adiba menggunakan bantuan cotton bud. Pria itu benar-benar menjaga janjinya untuk tidak membiarkan kulit mereka bersentuhan langsung sedikit pun.
"Sshh... perih..." pekik Adiba lirih saat salep dingin itu menyentuh kulitnya yang memerah.
"Tahan sebentar ya, didiamkan dulu... ini sudah hampir selesai kok," hibur Aidan, suaranya melembut berkali-kali lipat dari biasanya, bahkan ia sedikit meniup-niup luka di jari Adiba dari jarak aman untuk mengurangi rasa perihnya.
Adiba terpaku. Ia mencuri-curi pandang menatap wajah serius Aidan dari dekat. 'Kata Syifa, orang ini sifat dan karakternya sebelas dua belas sama Pak Dosen Fadhlan, dingin, kaku, dan ketus. Tapi... kenapa malam ini dia bisa kelihatan begitu peduli dan perhatian sama aku ya? Apa... apa yang dibilang Jihan di pantai tadi sore itu bener kalau dia menyukaiku? Astaghfirullah... Adiba, jangan kegeeran dulu deh!' batin Adiba berkecamuk, menepis pikiran anehnya.
"Sudah selesai. Sementara waktu jarinya jangan sampai terkena air dulu ya, Didie," pesan Aidan merapikan kembali sisa obat ke dalam kotak P3K.
Adiba mengerjapkan matanya, detak jantungnya mendadak tidak karuan mendengar panggilan akrab itu lagi. 'Heh, panggilan 'Didie' itu lagi. Untung suasana dapur lagi sepi dan nggak ada yang denger,' batinnya gugup.
"Hm... iya, terima kasih banyak atas bantuannya. Saya mau langsung kembali ke kamar," pamit Adiba buru-buru berdiri, melangkah pergi meninggalkan area dapur untuk menetralkan rasa salah tingkahnya.
Namun, baru beberapa langkah Adiba berjalan mendekati ambang pintu, suara Aidan kembali menghentikannya.
"Oh ya, Didie. Tunggu sebentar... ada satu hal penting yang sebenarnya ingin saya tanyakan padamu sejak sore tadi."
Adiba menghentikan langkahnya, berbalik perlahan dengan dahi mengernyit bingung. "Tentang apa? "
Aidan menatap Adiba lekat-lekat, tenggorokannya mendadak terasa kelu dan gugup. "Ekhm... itu...tidak jadi. Lupakan saja," ujar Aidan membatalkan niatnya, merasa mentalnya belum siap sepenuhnya malam ini.
Adiba mendengus pelan, hampir saja tertawa melihat kegugupan pria kaku di depannya. "Ya sudah kalau tidak jadi. Permisi, saya duluan," pamit Adiba melenggang pergi meninggalkan dapur.
Aidan menatap kepergian punggung anggun Adiba hingga bayangannya menghilang di koridor kamar. Pria itu menghela napas dalam, lalu menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja dapur dengan senyuman tipis yang manis.
"Good night, Didie... have a nice dream," lirih Aidan dengan suara yang teramat pelan, mengalun lembut menyatu bersama keheningan malam pantai yang sunyi.
...----------------...
Malam beranjak semakin sunyi, menyisakan deru ombak pantai yang terdengar samar dari balik dinding kaca kamar resort. Setelah membantu Ummi Salwa memastikan seluruh peralatan makan malam bersih dan rapi di dapur bawah, Syifa melangkah kembali ke kamarnya dengan langkah sedikit lelah. Di dalam kamar, Fadhlan rupanya sudah lebih dulu kembali. Merasa gerah dan bau asap setelah berjam-jam mengomandani panggangan ikan, dosen muda itu memutuskan untuk membersihkan diri.
Cklek.
Syifa mendorong pintu kamar mandi dalam yang tidak terkunci rapat, tepat di detik yang sama ketika Fadhlan baru saja melangkah keluar dari sana. Langkah kaki Syifa seketika terpaku di atas lantai. Netranya melebar sempurna, membeku menatap pemandangan di depannya.
Fadhlan berdiri tegak dengan rambut hitamnya yang basah berantakan, menyisakan butiran air yang perlahan menetes turun melewati leher menujunya dada bidangnya. Pria itu bertelanjang dada, mengekspos lekuk tubuh atletis dengan perut six-pack yang tercetak kokoh dan kulit putih bersih. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama bagi Syifa melihat aurat seorang pria dewasa dalam jarak sedekat ini. Maklum, di rumah Abi Musthofa hanya ada kamar mandi luar, sebuah hukum adat yang mengharuskan siapa pun yang keluar dari sana sudah berpakaian lengkap dan rapi.
Atmosfer kamar seketika diselimuti kecanggungan yang memekatkan udara. Fadhlan yang biasanya selalu tenang kini tampak salah tingkah. Dengan tergesa-gesa, ia melangkah lebar menuju kopernya yang tergeletak di dekat ranjang untuk mengambil baju ganti.
Namun, nahas. Mungkin karena lilitannya kurang kuat atau terburu-buru oleh rasa gugup, handuk putih yang melingkar di pinggang Fadhlan justru melorot jatuh begitu saja ke atas lantai.
"AAAAaa!!!"
Jeritan histeris Syifa langsung pecah memenuhi ruangan. Gadis itu refleks berbalik membelakangi Fadhlan dan menutup rapat-rapat kedua matanya dengan telapak tangan, wajahnya seketika memanas seperti disiram air mendidih.
'Kenapa harus melorot di waktu yang tidak tepat begini, Ya Allah!' pekik Fadhlan frustrasi dalam hati. Menahan rasa malu yang amat sangat, dengan gerakan kilat ia menyambar kembali handuknya, mengamankan posisinya, lalu menarik koper bajunya dengan terburu-buru masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sementara itu, jeritan melengking Syifa yang menembus dinding tipis resort sukses membuat Aidan dan Haikal yang menempati kamar tepat di sebelah mereka terperanjat dari kasur. Haikal yang sedang asyik bermain game di ponsel sampai menjatuhkan gawai miliknya ke atas selimut.
Haikal mengerjapkan matanya, lalu menoleh ke arah dinding pembatas dengan senyuman penuh arti. "Gila... Bang Fadhlan hebat juga ya mainnya? Sampai istrinya teriak histeris begitu di malam pertama," bisik Haikal menggeleng-gelengkan kepalanya kagum, mengagumi stamina bosnya.
Bukk!
Sebuah bantal sofa mendarat telak di wajah Haikal, dilempar dengan akurasi tinggi oleh Aidan. "Dasar otak mesum! Jaga batasan pikiranmu, Haikal!" dengus Aidan ketus, meski diam-diam ia sendiri ikut berdeham canggung mendengar keributan dari kamar pengantin baru tersebut.
...****************...