NovelToon NovelToon
Tawanan Hasrat Sang Mafia

Tawanan Hasrat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Julianto

Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.

Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.

Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.

Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.

Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melaksanakan Kewajiban

Pukul tiga dini hari, Rayga baru memasuki rumahnya.

Walau beberapa hari ini dia sudah menetap di rumah itu, tetapi tetap saja langkahnya terasa berat memasuki rumah yang menyimpan banyak kenangan pahit di dalamnya.

Apalagi ketika melintasi ruang tamu, bayangan kelam masa kecilnya menari di pelupuk mata Rayga.

Bayangan kelam di masa lalu itu bak tengah menyerangnya secara membabi buta.

"Aku akan menemuinya," gumam Rayga, dia mempercepat langkahnya menaiki satu per satu anak tangga.

Rayga terus berjalan cepat menuju kamar yang ditempati Aurellia.

Sesampainya di depan pintu, dia tertegun sejenak memandang pintu berbahan jati di depannya.

"Apa dia masih menungguku?" Rayga memutar handle pintu, mendorongnya dan masuk ke dalam.

Saat dia masuk ke dalam kamar, matanya reflek tertuju ke arah tempat tidur.

Di sana ada Aurellia yang tertidur nyenyak dalam selimut yang menutup tubuhnya hingga bahu, sedangkan ponsel wanita itu masih menyala

memutar film di layarnya.

"Rupanya dia sudah tidur." Rayga duduk di tepi tempat tidur.

Rayga mengambil ponsel yang ditinggal tidur oleh pemiliknya.

Dia menyeringai melihat tontonan wanita itu yang terlalu kasar untuk seorang perempuan.

Rayga menutup film itu, lalu meletakkan ponsel Aurellia di atas nakas.

Tanpa basa-basi, Rayga mendekat pada Aurellia, menghirup aroma wangi yang begitu memanjakan indra penciumannya.

Harumnya campuran aroma mawar dan vanili yang begitu menggoda, membuat Rayga lupa pada komitmennya yang tidak akan memperlakukan wanita dengan baik.

Buktinya sekarang dia malah memeluk dengan penuh hati-hati, karena tidak mau mengganggu tidur wanita itu.

"Aku tidak peduli kamu siapa dan anak siapa, itu tidak akan merubah kesepakatan kita," bisik Rayga, jelas bisikan itu tidak akan didengar oleh Aurellia, karena wanita itu sudah

tidur begitu pulas.

Rayga menyibakkan helaian rambut yang menghalangi wajah Aurellia, dia selipkan ke balik daun telinga wanita itu.

Rayga tertegun memandang wajah Aurellia yang dipoles make up tipis natural dan terlihat begitu damai wajahnya saat tertidur seperti itu, seolah telah bebas sejenak dari permasalahan yang dia tanggung.

"Maafkan Rayga, Pa," ucap Rayga teringat papanya. "Hatiku masih terluka, pasti Papa marah sama aku melihat apa yang aku lakukan di sini, tetapi Papa juga pasti tahu alasannya kenapa aku begini kan, Pa?"

Rayga berbicara sendiri.

Kalau sudah teringat papanya, dia akan terlihat begitu rapuh.

Mata Rayga seketika langsung menganak sungai.

Namun, dia langsung menekan matanya dan menolak bulir bening itu supaya tidak jatuh melewati pipinya.

Beberapa kali Rayga menarik nafas dan

membuangnya kasar.

Setelah dia merasa hatinya mulai baik-baik saja, Rayga kembali fokus pada Rayga yang tidur terbaring di depannya.

Degh!

Jantung Rayga bergemuruh saat menarik selimut Aurellia, dan dibalik selimut itu hanya ada kain tile tipis seperti jaring yang dikenakan Aurellia.

Tongkat saktinya yang tadi tidur loyo, sekarang langsung bangun.

Tongkat Sakti yang masih original itu tak biasanya memberi respon begitu saat bertemu wanita, sekalipun wanita itu menampakkan seluruh asetnya.

Berbeda sekali dengan kondisi saat ini yang langsung mendesak ingin masuk ke sarangnya.

"Hei ..." Rayga membangunkan Aurellia dengan mengguncangkan tubuh wanita itu beberapa kali.

Mata Aurellia mengerjap, mulutnya menguap seperti hal normal terjadi pada orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.

"Tuan Rayga," ujar Aurellia dengan suara serak cenderung berat, menatap Rayga sambil mengumpulkan kesadarannya yang belum utuh.

"Hemm." Rayga berdehem, dia makin terpana saat Aurellia merubah posisinya jadi telentang.

Bukit indah yang begitu menawan hanya dibalut kain tipis yang tidak ada artinya, membuat Rayga susah payah untuk menelan salivanya.

Rayga menarik ujung simpul tali di pinggang Aurellia, sehingga baju berbentuk kimono itu terbuka, karena hanya tali itu saja pegangannya.

Tidak ada kancing maupun resleting.

"Lakukan tugasmu." Mata Rayga terkunci di bukit teletubies dan Aurellia

menyadari itu.

"Ba-baik, Tuan," jawab Aurellia tanpa bantah.

Aurelia bangkit dan merubah posisinya jadi duduk, berhadap-hadapan dengan Rayga.

Dia memberanikan diri menatap wajah Rayga, mata mereka bersirobok dan itu berhasil membuat Aurellia grogi dan salah tingkah.

Aurelia lekas mengalihkan pandangan matanya pada arah lain, menghindari tatapan mereka yang bertemu.

"Dia suamiku dan memang sebuah kewajiban aku melayaninya." Aurellia berbicara dalam hati, meyakinkan dirinya kalau permintaan Rayga bukan lah suatu hal yang salah.

Aurellia membuat dirinya rilex dan mengusir rasa keterpaksaan, agar dia bisa melakukannya tanpa unsur paksaan.

Apa yang ditekankan Aurellia pada dirinya juga tidak salah, karena Rayga memang sudah menikahinya.

"Maaf, Tuan," ucap Aurellia sebelum melaksanakan perintah sekaligus melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri untuk pertama kalinya.

Aurellia melepas kain tile tipis berwarna baby pink yang dia kenakan, sehingga menunjukkan seluruh aset miliknya.

Ini aksi nekat Aurellia untuk pertama kali di hadapan seorang pria, walaupun pria itu telah menikahinya, tetapi tetap saja membuat tubuh Aurellia gemetar.

Aurellia mendekat pada Rayga, membuka kancing kemeja pria itu dari atas sampai bawah.

Mata Aurellia terkunci pada dada bidang Rayga yang begitu menawan untuk dipandang mata seorang wanita.

"Maaf," ucap Aurellia sekali lagi.

Dengan tangan bergetar, Aurellia merabanya.

Mengusap lembut, memberi sensasi yang berbeda yang dirasakan Rayga.

Wajah Rayga memerah, baru kali ini ada wanita yang dia izinkan meraba dada bidangnya secara langsung seperti itu.

Ada desiran hangat yang menjalari tubuh Rayga, apalagi usapan lembut dari tangan Aurellia terus bergerilya.

Jemari lembut itu bergerilya dengan gerakan acak.

Membuat darah Rayga berdesir hebat.

Kabut fantasi mulai menguasai mata, pikiran dan hati Rayga.

Begitu tak sabar rasanya dia ingin menerkam Aurellia yang terus memancingnya.

Saat Aurellia memainkan dua bulatan kecil berwarna coklat di dada bidangnya, Rayga menggeram menahan gejolak yang terus dikobarkan oleh aksi wanita itu.

Sedangkan Aurellia yang melakukannya dengan tulus, menganggap apa yang dia lakukan itu memang tugasnya sebagai istri, membuat dia juga ikut terpancing oleh gelora fantasi tanpa ada beban dalam pikirannya.

Melihat Rayga tidak marah dan membebaskannya untuk melakukan apa saja, Aurellia menggeser posisinya lebih mendekat lagi pada Rayga.

Bahkan kali ini dia berpindah posisi duduk ke atas pelukan pria yang pasrah diperlakukan apa saja olehnya.

Aurellia mengikis jarak antara mereka,

mengalungkan tangannya ke leher Rayga.

Sehingga dada bidang yang tadi dia gerayangi menempel sempurna dengan bukit teletubbies-nya yang juga sudah tidak ada sehelai benang sebagai pembatasnya.

Aurellia mencium sekilas leher Rayga, lalu berbisik dengan suara serak.

"Apakah boleh saya bermain di sini?" tanya Aurellia yang masih ada rasa was-was, takut area tertentu tidak diperbolehkan oleh Rayga untuk dia

mainkan.

"Semuanya bisa kamu mainkan," jawab Rayga.

Kali ini Rayga juga mulai beraksi, dia membalas pelukan Aurellia, melingkarkan tangannya dan mengusap lembut punggung Aurellia.

Namun, itu hanya sebentar saja, tangan Rayga pindah ke depan, mencari bukit teletubies yang kata banyak pria di sana begitu empuk dan spesial untuk dimainkan.

Saat sebelah tangan Rayga berhasil menggenggam apa yang dicarinya, dia memainkannya dan menikmati kelembutan bukit teletubbies itu.

Ini merupakan pertama kalinya bagi tangan Rayga memainkan bukit teletubbies, karena sebelumnya dia sangat anti dengan kaum perempuan.

Jangankan bermain-main seperti saat ini, melihat perempuan saja dia begitu muak dan benci.

1
Dalena Dalena
lanjut thor up nya jangan bertele tele donk, penasaran jadinya
Lian_06: Ini lagi up kak, saya kalo weekend sebisa mungkin up nya lebih sering. yng penting jangan lupa absen dengan like dan komen saja itu udah cukup kok 😁
total 1 replies
Dalena Dalena
lanjut donk🙏
Lian_06: kakak maaf ya ini saya lagi nulis kak😁. makasih banget ya udah mampir di cerita ini😉
total 1 replies
Dalena Dalena
kok ngak update lagi sih,,🙏 lanjut donk thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!