NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Victoria Secret

Untuk pemulihan dan upaya menguatkan janin-nya, Vivian dirawat inap sampai 3 hari.

Dokter Hendra bilang rahimnya lemah, HB rendah, stres tinggi. Jadi gak boleh pulang dulu. Harus bed rest total, makan teratur, infus vitamin. Kalau maksa pulang, risikonya keguguran.

2 adik iparnya tak pernah datang lagi setelah hari pertama. Chindy sibuk meeting klien di SCBD, alasannya. Cika sibuk sekolah, katanya lagi minggu ujian. Chat pun cuma "Kak Vivian cepet sembuh ya".

Begitu juga Eric. Beberapa hari ini dia tak muncul di rumah sakit lebih dari sepuluh menit. Dateng cuma naruh paper bag isi baju ganti, buah potong, sama susu ibu hamil. Ditaruh di meja, terus pergi. Kayak kurir. Matanya ngindarin Vivian. Ngomong cuma "ini baju", "sudah ya", "istirahat". Dingin. Jaga jarak.

Cuman Bu Ratna yang selalu di sisi Vivian. Ngerawat dia seperti anak sendiri. Nyuapin bubur, nyisirin rambut, ngelap keringet, nemenin ngobrol tengah malem pas Vivian mual. Tanpa ngeluh. Tanpa ngungkit masa lalu. Kadang Vivian nangis diam-diam. Gak nyangka ibu mertua yang dulu dia lempar piring bisa setulus ini.

Hari ini hari ke 3. Pagi. Cahaya matahari masuk dari jendela, anget. Dokter Hendra udah visit dari jam 7.

"Janinnya kuat, Nyonya Vivian. Denyut jantungnya bagus, 150. HB udah naik ke 11. Mualnya masih wajar. Boleh pulang, tapi jangan kecapean. Banyak istirahat. Jangan stres. Kontrol 2 minggu lagi ya."

Setelah diperiksa dan dipastikan kondisi Vivian benar-benar baik, dia baru diperbolehkan pulang.

"Bu, sudah biar Vivian saja," ucap Vivian saat melihat ibu mertuanya mulai mengemasi barang. Bu Ratna jongkok, lipat baju satu-satu masuk koper kecil. Punggungnya udah agak bungkuk. "Ibu duduk aja. Aku yang beresin."

"Sudah, ini gampang kok, kamu istirahat saja," ucapnya sambil sedikit mendorong Vivian untuk duduk di atas ranjang. Tangannya halus tapi tegas. "Kamu itu bawa dua nyawa sekarang. Gak boleh angkat-angkat. Nanti Ibu yang dimarahin Eric."

Vivian nurut. Duduk manis. Tapi matanya awas ngeliatin Bu Ratna. Hatinya anget. _Di dunia nyata, aku gak punya ibu. Di sini... aku dikasih ibu lagi._

Tak lama, pintu kebuka pelan.

Seorang pria tampan datang. Badannya tegak, pundaknya lebar. Jas biru dongker, kemeja putih, rambut rapi. Wajahnya datar. Datar banget. Kayak kulkas dua pintu habis di-service, dinginnya maksimal.

Tapi Vivian tau. Di balik datar itu, ada semburat canggung.

"Eric, kamu sudah sampai? Cepat bantu Ibu bereskan ini," ucap Bu Ratna saat sadar putra sulungnya sudah ada di ruangan. Datang untuk menjemput mereka pulang ke rumah. Suaranya lega. "Ibu dari tadi nungguin."

Tangannya menunjuk setumpuk kain di sudut ranjang. Campur-campur. Ada daster, cardigan, celana panjang. Dan di paling atas... sesuatu yang pink, berenda.

Sementara wanita separuh baya itu masih sibuk membereskan barang yang lain. Peralatan mandi, charger, sisa buah.

Eric, tanpa bicara banyak, pria itu langsung menuruti perintah ibunya. Dia gak ngebantah. Gak ngeluh. Meskipun mukanya kayak disuruh bongkar septic tank.

Berjalan mendekat ke arah gundukan kain di pojok. Langkahnya ragu-ragu. Satu tangannya ngangkat salah satu kain. Dua jari doang. Dijepit. Kayak lagi ngangkat bangkai tikus.

Dia ngangkat tinggi-tinggi, dijauhin dari badan. Alisnya ngerut. Mata-nya nolak buat fokus.

_Ini... bra?_ pikirnya. _Ukuran... 34B? Punya Vivian?_

Mukanya langsung merah. Dari leher sampe ke ujung telinga. Panas.

Sementara itu Vivian yang melihat hanya tersenyum jahil. Puas. Dapet. Bibirnya ditekuk nahan tawa. Matanya berbinar nakal.

_Ini baru permulaan, Tuan Eric,_ batin gadis itu. _Baru pegang bra udah jijik. Lama-lama kamu juga suka dalamnya. Suka orangnya. Suka anaknya. Kita liat 9 bulan ke depan siapa yang tahan._

Dengan cepat Eric memasukan pakaian dalam Vivian ke sebuah kantong plastik hitam. Gerakannya cepet, kasar, kayak mau buang barang haram. Wajahnya sudah tak karuan. Antara jijik, malu, sama... gugup. Belum pernah ia merasa semalu ini seumur hidup. Bahkan pas presentasi rugi 2M di depan direksi gak semalu ini.

Setelah selesai, Eric mengikat kantong itu kencang. Mati. Dua kali simpul. Kayak mau nyegel bukti kriminal. Terus tanpa ba-bi-bu, dia melemparnya ke tempat sampah yang berada di dekat ranjang. Plak.

Melihatnya Vivian protes. Matanya melotot. "Suamiku, itu punyaku! Kenapa dibuang? Kalau sudah dicuci bisa dipakai lagi!"

Dia refleks bangun, nahan pusing, ngambil kantong dari tempat sampah. Diungkit-ungkit. "Ini mahal tau! Victoria Secret! Kamu pikir beli di pasar?"

"Barang seperti itu buang saja," ucap Eric. Suaranya berat, nahan emosi. Dia udah jalan ke pintu. "Kotor. Suruh Chindy belikan yang baru. Sepuluh. Dua puluh. Terserah."

Wajahnya sedikit kesal. Tapi kalau diperhatiin, kupingnya masih merah. Gagal cool.

Bu Ratna hanya tersenyum kecil. Geleng-geleng kepala. "Udah, udah. Jangan berantem. Ayo pulang," ucapnya kemudian. Dia ngambil koper kecil, nuntun Vivian pelan.

...

Langkah dua wanita itu mengekori Eric dari belakang. Lorong rumah sakit pagi ini rame. Suster lalu-lalang. Pasien dorong infus. Bau karbol campur obat.

Eric jalan di depan. Cepet. Jaga jarak 2 meter. Kayak takut ketularan hamil. Punggungnya tegak, tapi kaku.

Vivian jalan pelan, dipapah Bu Ratna. Sesekali dia curi pandang ke punggung Eric. _Lebarnya segini. Kalo meluk enak kali ya. Eh, fokus Vi! 9 bulan!_

Tak lama, sebuah kejadian membuat langkah mereka terhenti.

Dari salah satu ruangan rawat, keluar seorang dokter muda. Cantik. Rambutnya diikat satu, beberapa anak rambut lepas di pelipis. Jas putih, name tag samar keliatan "Dr. A". Umur 27-an. Wajahnya capek, tapi tetep glowing. Auranya... dingin. Tapi elegan. Misterius.

Dia tergesa-gesa. Di tangannya menumpuk lembaran kertas hasil lab. Tebel. Mungkin 30 lembar. Dia nunduk, baca sambil jalan. Gak liat depan.

Karena tak melihat dengan baik, tak sengaja langsung menabrak Eric yang jalan cepet dari arah berlawanan.

Bruk.

Badannya Eric berputar setengah. Kertas berhamburan di udara. Putih-putih beterbangan kayak salju. Ciptain slow motion di tengah lorong rumah sakit.

Tatapan mereka bertemu.

Mata Eric ketemu mata si dokter. De deket banget. Sedeket Vivian kemarin. Tapi beda. Ini... asing. Wangi. Lembut. Tapi ada sesuatu yang bikin dada Eric sesak. Familiar.

Eric dengan sigap menangkap tubuh mungilnya. Refleks. Satu tangan di pinggang, satu tangan nahan punggung. Biar gak jatuh ke lantai.

"Hati-hati, Dok," suaranya pelan. Kali ini gak datar. Ada... nada khawatir? Nada yang Vivian gak pernah denger dari Eric.

Si dokter kaget. Matanya kedip-kedip. "Maaf... maaf saya gak liat..." Pipinya merah. Entah karena malu atau karena deg-degan. Tangan-nya refleks megang lengan jas Eric. Erat. Lama.

Sementara Vivian dan Bu Ratna yang masih di belakang hanya bisa diam melongo. Menyaksikan kejadian itu.

Vivian berhenti jalan. Kaki-nya kayak dipaku ke lantai.

Di depannya, suaminya lagi gendong dokter cantik. Pelukan. Tatapan. Drama banget. Kayak adegan FTV azab.

Bu Ratna ngelus dada. "Astaghfirullah..."

Dan Vivian? Tangannya ngepal di samping badan. Kantong plastik Victoria Secret-nya diremas kenceng.

_Baru juga keluar dari RS... badai baru udah dateng?_

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!