Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Bertemu Mantan
Malam di rooftop restoran itu terasa hangat dan nyaman. Lampu-lampu kota Jakarta berkilauan di kejauhan seperti lautan bintang. Angin malam bertiup pelan menggerakkan sedikit rambut Naomi. Suasana yang awalnya canggung perlahan berubah jauh lebih santai.
Naomi benar-benar baru sadar kalau Junie sebenarnya lucu. Bukan lucu berisik seperti Jihan. Tapi lucu dengan cara yang tenang. Kadang sarkastik tipis, dan justru itu yang membuat Naomi berkali-kali tertawa tanpa sadar.
“Serius?” Naomi masih tertawa sambil menutup mulut. “Ada pasien kayak begitu?”
Junie ikut tersenyum kecil sambil mengaduk minumannya pelan. “Aku bohong kalau dapat untungnya apa?”
Naomi masih geleng-geleng kepala tidak percaya. Junie bersandar santai di kursinya lalu mulai bercerita lagi.
“Jadi waktu itu ada pasien mau implan payudara,” katanya. “Sudah konsultasi panjang. Sudah dijelasin prosedurnya. Sudah deal ukuran juga.”
Naomi mulai tertarik mendengarkan.
“Terus pas hari operasi…”
Junie berhenti sebentar sengaja.
Naomi langsung menyipitkan mata. “Kenapa?”
“Dia nangis.”
Naomi spontan tertawa kecil. “Takut?”
“Bukan.” Junie menahan senyum. “Dia minta dibesarin lagi.”
Naomi langsung pecah tertawa.
“Di ruang operasi?!”
Junie mengangguk pasrah. “Dia bilang, ‘Dok sekalian aja jangan nanggung.’”
Naomi ngakak sampai matanya sedikit berair sekarang.
“Ya ampun…”
Junie ikut tertawa pelan melihat reaksinya. Jujur saja, dia rela menceritakan semua hal memalukan di dunia asal bisa melihat Naomi tertawa seperti ini.
“Terus?” tanya Naomi penasaran.
“Aku bilang nggak bisa semaunya mendadak begitu.”
“Terus dia marah?”
Junie mengangguk kecil. “Dia ngambek sama aku hampir dua minggu.”
Naomi tertawa lagi sambil menggeleng tidak habis pikir.
“Dunia dokter ternyata absurd ya.”
“Parah!"
Naomi masih tersenyum lebar sekarang. Sudah lama sekali dia tidak merasa seringan ini saat berbicara dengan seseorang.
“Kalau kamu?” tanya Junie balik. “Ada pengalaman aneh waktu koas?”
Naomi langsung tertawa kecil mengingat sesuatu.
“Ada.”
Junie menunggu.
“Waktu aku jaga di IGD dulu,” katanya sambil menahan senyum. “Ada anak SMP datang nangis histeris.”
Junie mulai tertarik.
“Dia takut hamil.”
Junie mengernyit. “Hah?”
Naomi mulai tertawa lagi sekarang. “Katanya dia habis disentuh cowok.”
Junie langsung tertawa kecil. “Terus?”
“Dia panik banget sampai dibawa mamanya ke IGD.”
Junie mulai menahan tawa.
“Aku tanya disentuh gimana…”
Naomi berhenti sebentar sambil tertawa geli sendiri.
“Terus?”
“Dia bilang cuma pegangan tangan.”
Junie langsung tertawa cukup keras untuk ukuran dirinya.
Naomi ikut tertawa sampai bahunya bergetar kecil. "Kasihan sih sebenarnya,” ucapnya sambil mengusap sudut mata. “Tapi lucu banget…”
Junie menatap Naomi beberapa detik lebih lama sekarang. Cantik, tapi bukan cuma cantik wajah.
Cara Naomi tertawa. Cara matanya menyipit kecil saat bahagia. Cara perempuan itu mulai terlihat nyaman di dekatnya. Semuanya membuat dada Junie terasa hangat.
Sementara di sisi lain restoran, Zayn masih berdiri dari balik area lobby sambil mengamati meja mereka. Semakin lama dia melihat, semakin tidak nyaman perasaannya sendiri.
Naomi tertawa lepas. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak pernah dia lakukan saat masih bersamanya. Dulu Naomi lebih sering diam. Lebih sering mengalah.bLebih sering terlihat hati-hati setiap berbicara dengannya.
Namun sekarang perempuan itu tampak hidup, dan laki-laki di depannya terlihat sangat menikmati setiap ekspresi Naomi.
Rahang Zayn perlahan mengeras.
'Siapa pria itu? kok kayak nggak asing?' Pikiran itu membuat dadanya makin sesak.
“Zayn?”
Suara perempuan dari belakang membuat Zayn langsung tersentak. Dia menoleh cepat dan mendapati Anggun berdiri sambil melepas sunglasses dari kepalanya.
“Kamu ngapain berdiri di sini?” tanya Anggun heran.
Zayn langsung panik sepersekian detik. “Ah… enggak. Baru datang.”
Anggun mengernyit kecil lalu melirik ke dalam restoran. “Terus kenapa nggak masuk?”
“Ya ini mau masuk.”
Namun Anggun sudah berjalan lebih dulu tanpa curiga.
Zayn refleks melirik ke arah Naomi lagi dan jantungnya langsung berdegup cepat. Kalau Anggun melihat Naomi, atau kalau Naomi melihat mereka keadaan bisa kacau.
Tanpa pilihan lain, Zayn akhirnya ikut masuk sambil berusaha memasang wajah biasa.
Sementara di meja dekat jendela, Naomi masih tertawa kecil saat pelayan datang mengantarkan makanan.
“Aku nggak nyangka dokter seserius kamu ternyata suka ngomongin payudara pasien,” godanya.
Junie mendesah dramatis. “Itu pekerjaan saya, Dok.”
Naomi tertawa lagi. Namun tawanya perlahan memudar saat tanpa sengaja matanya melihat ke arah pintu masuk restoran. Tubuhnya langsung membeku. Wajahnya perlahan pucat.
Junie yang sadar perubahan ekspresi itu langsung mengernyit. “Naomi?”
Namun Naomi seperti tidak mendengar. Tatapannya lurus ke satu titik. Zayn dan Anggun.
Dunia Naomi seperti mendadak berhenti beberapa detik. Dadanya langsung terasa sesak. Luka lama yang selama ini mulai perlahan mengering mendadak seperti disobek lagi begitu saja. Tangannya otomatis mengepal kecil di bawah meja.
Junie langsung mengikuti arah pandangan Naomi. Begitu melihat pasangan itu masuk, alis Junie perlahan berkerut.
Sementara Zayn juga akhirnya bertatapan langsung dengan Naomi. Anehnya, momen itu terasa jauh lebih menghantam dibanding yang dia bayangkan. Karena sekarang Naomi terlihat benar-benar berbeda.
Cantik, tenang, dan duduk bersama laki-laki lain. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang dalam diam.
Sampai Anggun akhirnya menyadari sesuatu. “Eh?” imbuhnya kecil sambil menoleh ke arah Naomi.
Mata Anggun langsung sedikit membesar. Naomi dan laki-laki di depannya. Anggun menyipitkan mata pelan. Tampan, tinggi dan tampak berkelas. Dia sempat-sempatnya terpesona pada Junie saat sedang bersama suaminya. Sudut bibir Anggun perlahan naik tipis.
Sementara Naomi justru buru-buru memalingkan wajah lebih dulu. Jantungnya berdegup kacau sekarang.
Junie memperhatikan Naomi beberapa detik lalu bertanya pelan, “Kamu nggak apa-apa?”
Naomi cepat-cepat mengangguk meski jelas bohong. “Iya.”
Namun jemarinya terlihat sedikit gemetar saat mengambil gelas minum.
Junie langsung mengerti. Melihat Naomi setegang itu membuat sisi protektif dalam dirinya langsung muncul.
Zayn masih berdiri mematung sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Sampai Anggun akhirnya menyenggol lengannya pelan.
“Mau berdiri terus?”
Zayn baru tersadar lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
Mereka akhirnya berjalan masuk lebih dalam. Sialnya meja mereka tidak terlalu jauh dari meja Naomi dan Junie.
Zayn duduk sambil mencoba memasang wajah tenang. Namun matanya beberapa kali tetap tanpa sadar melirik ke arah Naomi. Sedangkan Anggun yang sangat peka langsung menangkap itu. Dia tersenyum tipis penuh arti.
"Itu mantan istrimu kan?" pungkas Anggun.
Mata Zayn langsung terbelalak.
nanti aja tunggu tanggal mainya kalau mereka berdua tau menantu dan mertua laki" ada hubungan sepesial di balik layar, koma kali mereka berdua,, 🤭
mertua sendiri di ajak maen gituan