NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:767
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

[15] Menyembunyikan Sesuatu

"Jadi kak Langit beneran gak mau ikutan?"

Orlin yang tengah menyiapkan sarapan melirik putrinya.

Langit memberi gelengan. Dia yang sudah memakai setelan baju olah raganya melakukan peregangan tangan di dekat meja makan. Minggu pagi ini ada kumpul keluarga besar. Main bareng di rumah Oma Opa, seharian. Sehabis itu bakal dibeli apapun sepuasnya. Sayangnya Langit tidak bisa ikutan. Jika bukan karena janji jogging nemenin Bumi dan ada kerja kelompok siang ini, dia pasti akan memilih ikut.

"Kenapa tumben jogging?" Ezhar menarik kursi dan duduk. Biasanya langit tidak suka dengan hal berbau olah raga yang membuatnya bangun pagi di hari yang seharusnya dia bisa bersantai.

"Biar sehat Pa." Dia menarik kursi di sebelah Gara dan mengambil roti beserta selai. Karena mau jogging, Langit makan yang ringan saja, beda dengan keluarganya pagi-pagi makan sayur bening dan lauk ikan.

"Sehat sehat. Paling abis jogging kak Langit bakal makan yang banyak lagi." Gea yang duduk di sebelah Orlin memberi cibiran.

"Seengaknya kak Langit jogging wlee!"

Langit balas mencibir. Ia melirik ponselnya yang berbunyi dan tertera nama Bumi. Ia lekas memasukkan satu roti penuh itu ke mulutnya dan berdiri.

"Langit pehi dolo-"

"Langit abisin dulu makannya."

Ia memberi gelengan. Mengambil tangan Ezhar dan Orlin buat salim lalu mengambil segelas susu dan meneguknya.

"Kunci motor udah ada di atas meja dekat televisi. Kak langit jangan lupa bawa SIM," pesan Orlin pada sang putri yang kini berlari keluar meja makan.

Gadis itu memberi anggukan. "Langit pamit Ma Pa. Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikumusalam."

Langit lekas memakai sepatu putihnya lalu berjalan cepat ke motor di dekat garasi. Motor Orlin yang akan ia gunakan. Langit bisa bawa motor. Punya SIM lagi, hanya saja dia belum diperbolehkan bawa ke sekolah.

Ia memacu motor matic itu di jalan raya.

Janji sama Bumi pukul enam. Tapi setengah tujuh ia baru on the way. Pantas saja Bumi menelfonnya. Minggu pagi, mereka akan jogging di jalanan kota. Kebetulan tiap minggu pagi ada CFD, Car free day sampai jam 10 pagi di Jalan Sisingamangaraja.

Butuh waktu 15 menit bagi Bumi yang lihat membawa motor sampai di area parkiran yang sudah ramai di jam delapan kurang seperempat. Langit lekas turun dan membuka helmnya. Dia menatap layar ponselnya yang kebanjiran notif WhatsApp dan panggilan tidak terjawab dari Bumi.

Astaga Bumi seperti rentenir saja!

Ia sentuh icon berwarna hijau dan menunggu panggilan seraya berjalan ke jalan raya yang kosong akan kendaraan. Banyak yang sekedar jalan kaki, ataupun berlarian kecil-kecilan. Tidak jarang juga di beberapa titik lagu yang tengah viral di tik tok berbunyi membuat beberapa orang bergoyang refleks.

"Bumi. Lo di mana?" Pertanyaan itu yang langit ajukan saat panggilan mereka terhubung. Terdengar decakan di sebrang sana.

"Bawa jembatan. Selonjoran. Lo udah

Bangun belum sih?"

"Udah dong. Gue udah di sini. Lambaikan tangan dong Bumi, banyak manusia nih."

"Wait."

Telfon dimatikan sepihak. Langit mengernyit. Beberapa saat kemudian ada notif masuk, Bumi mengirim pap fotonya yang memakai kaus putih dan topi hitam.

Dia menghela nafas dan mengirimkan Vn.

"Gue suruh lambaikan tangan. Bukan pap Bumiii!"

"Cepat aja. Ini makin tinggi mataharinya."

"Baru juga jam delapan pagi," Langit berdecak tanpa membalas pesan Bumi. Ia simpan dulu ponselnya sebelum berjalan ke posisi Bumi yang tidak jauh beberapa meter di depan sana.

Di saat posisinya dengan Bumi sudah dekat, cowok itu malah berlari mendekat ke arahnya. Bumi juga memakai celana selutut berwarna hitam. Outfit cowok itu pagi ini kian membuatnya tampak berbeda. Apalagi saat berhenti dan berdiri di hadapannya, Bumi membuka topinya dan menyugar rambut bagian depannya.

"Gak usah tebar pesona depan gue."

"Pede lo." Bumi memasangkan asal topinya ke kepala Langit yang dibungkus hijab berwarna hitam. Sedang outfit olah raganya berwarna pink dipadu putih di bagian samping. Bumi lalu berlari kecil duluan.

Langit mencebik seraya merapikan posisi topi itu biar tidak lepas. Dia kemudian berlari menyusul Bumi.

Netranya melirik postur tubuh Bumi yang tegap dan tampak bugar. Otot yang dibungkus kaus itu juga terlihat saat Bumi berkeringat seiring mereka yang terus berlari kecil. Sepertinya Bumi emang rajin olah raga.

"Lo punya roti sobek gak?" Langit blak-blakan. Bumi sontak menghentikan langkahnya dan menutupi dadanya shock.

"Lo bayangin tubuh gue ya?"

"Gue nanya aja."

"Kenapa. Mau lihat?"

Langit membulatkan matanya dengan pipi memerah. "Dih enggak. Bagusan juga perut kak Bumi," Ia mengalihkan pandang.

"Memang lo pernah lihat perutnya?"

"Ya enggak. Ntar kalau udah nikah gue kasih tahu."

"Masih juga ngarep dia bakal nikahin lo."

"Kenapa enggak?"

Bumi menunjuk arah depan mereka dengan dagunya. Langit mengikuti arah tersebut dan melihat keberadaan Albiru yang memakai sweater hitam dipadukan Sweatpants berwarna hitam juga. Pria itu tengah berjongkok memasangkan ikat sepatu seorang perempuan bergamis olah raga syar'i.

Glek! Langit menelan ludahnya.

Dia tidak tahu siapa wanita itu karena dari samping tidak terlalu jelas. Namun melihat interaksi keduanya membuat rasa cemburu hadir menyesakkan dada.

Langit menatap pedih saat tangan perempuan itu menepuk-nepuk kepala Biru dengan senyum lebar. Di sana Biru yang tampak kesal lalu berdiri. Cowok itu menyentil dahi si perempuan yang merupakan Hanum. Keduanya lalu kembali melanjutkan langkah bersama.

Biru yang tidak pernah dekat cewek dan kini bersentuhan begitu saja, jelas membuat Langit overthinking. Dia siapanya Biru?

"Gak usah nangis, Muk. Gue gak bawa tisu." Bumi melihat tatapan berkaca Langit. Cowok itu lalu berdiri di hadapan Langit dan menurunkan topi itu hingga pandangan langit terganggu.

"Siapa yang nangis." Langit membuang wajah dan memperbaiki kembali topi tersebut. Ia memutar badan kemudian. "Kita jogging balik aja. Gak usah sampai ujung."

"Lo baik-baik aja?"

"Baiklah! Itu paling cuman teman kak Biru," ucapnya ragu.

"Mau jajan apa lanjut jogging?"

"Jajan deh."

Bumi memberi anggukan. Tidak ada lagi yang bicara. Langit diam saja. Pagi-pagi wajahnya sudah tidak bersemangat. Hal itu membuat Bumi memutar otak.

"Muk, sebelum jajan diem di sini dulu.."

Kening Langit mengernyit. Walaupun heran dia mengikuti saja kata Bumi. Menghentikan langkah.

"Duduk di sana." Bumi menunjuk tepi trotoar.

"Ngapain sih?"

Bumi menangkat telunjuknya. "Tunggu gue balik."

"Lo ke mana?" Pertanyaan itu tidak ada jawaban. Bumi berjalan pergi tanpa penjelasan. Langit, karena moodnya mendadak jelek, dia enggan bertanya lagi. Dia biarkan saja Bumi pergi dulu. sedang dirinya menatap arah tadi melihat Albiru. Meratapi kisahnya. Apa jangan-jangan tadi istrinya Biru? Diam-diam Biru nikah tanpa dia tahu? Tapi kan kenapa gak tidur satu rumah? Kalau bukan istri. Kok pakai sentuhan sih?

Sungguh ini buat langit kesal. Dia ingat di kafe waktu itu juga ada Albiru dan seorang perempuan. Langit tidak tahu apakah orang yang sama, saat itu kata Biru bukan siapa-siapanya.

Terus siapa dong?

Beda dengan Langit yang tengah meratapi cinta sepihak dan overthinkingnya. Di bagian lain yang sudah jauh dari posisi Langit, Biru mendatangi tiga cowok yang tengah dance di tepi jalan dengan banyak penonton yang begitu minat.

Menunggu mereka selesai. Bumi beranjak

Ke tempat lain dan membeli setangkai bunga yang kebetulan ada di jajaran berbagai jualan.

Selesai ketiga laki-laki itu dance, ia mendatangi mereka dan mengatakan sesuatu.

Setelah itu menyerahkan bunga tadi dan pergi begitu saja, kembali ke tempat Langit.

"Lo dari mana sih Bum? Lama banget."

Langit tampak kesal. Bumi hanya menggeleng.

"Kepo lo. Buruan berdiri. Katanya mau jajan."

"Ish iya iya. Lo yang lama juga. Gak usah galak-galak!" Langit berdiri dan menepuk bagian belakang celananya.

"Siapa yang galak?"

"Iya lo lah."

"Lo aja yang mendadak pemarah gara-gara cemburu."

"Gue gak cemburu. Gue kesal sama lo."

Keduanya malah bertengkar namun tetap melanjutkan langkah.

"Kenapa jadi gue?"

"Gimana gak? Lo pergi lama. Terus baru balik. Ditanyain malah bilang gue kepo. Emang cowok tuh bikin kesal semua!" Langit melongos lalu berjalan duluan.

Bumi mengangga. Ia geleng-geleng melihat langit yang berjalan seraya mencak-mencak. Keduanya memang selalu berujung ribut.

"Ya udah muk. Minta maaf gue." Bumi mengalah setelah menyusul. Langit hanya melirik kesal tanpa jawaban hingga disaat mereka terus berjalan jalan mereka dihadang oleh beberapa cowok bersama iringan musik yang mengalun.

Langit menatap heran saat ketiga cowok itu dance di tengah jalan. Menghadap arah dia pula. Ia menoleh pada Bumi yang berdiri menikmati.

Dance itu berlangsung beberapa menit.

Walau awalnya bingung. Karena gerakan mereka yang asik dan musik yang juga heboh membuat Langit menikmati dance tersebut. Ia sampai lupa akan kekesalannya beberapa menit lalu. Beberapa orang juga mengelilingi buat menonton.

Hingga di akhir dance seorang cowok menyerahkan setangkai bunga yang membuat Langit menutup mulutnya kaget.

"Setangkai mawar buat yang lagi cemburu."

Kalimat itu tertulis di sana. Ia sontak menatap Bumi yang malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Loh. Kenapa orang ini tahu?

Langit mengukir senyuman lalu menerimanya. Ia kemudian melangkah pada Bumi setelah pertunjukan dance itu selesai.

"Bum gue mau nanya sesuatu deh." Ia menatap curiga Bumi yang mendongak lalu menyimpan ponselnya.

"Ayo jajan. Malah nonton mereka dance."

Bumi memasukkan kedua tangannya ke kantong celana dan berjalan dahulu.

"Bukan lo yang nyuruh mereka kan?" Langit menyamakan langkah mereka.

Dua alis Bumi naik. "Maksud lo?"

"Kok mereka tahu gue cemburu? Lo yang bilang ya?"

"Ya gak lah. Niat bangett gue hibur lo pakai nyuruh mereka segala." Bumi enggan mengaku. Langit tidak puas. Ia juga tidak yakin sih Bumi akan melakukan hal ini untuknya.

"Terus lo tadi dari mana?"

"Toilet. Makanya lama."

"Kok gak bilang ke toilet aja tadi?"

"Memang lo mau nemenin gue cari toilet?"

Langit terdiam. Ia tidak lagi bertanya dan kini menatap bunga mawar itu. Ia cium bunga tersebut. "Wangi deh bunganya."

Bumi melirik. Tanpa sepengetahuan langit ia tersenyum kecil.

***

Jogging hari ini larinya sebentar.

Selebihnya bertengkar dan makan. Memang ujung-ujungnya batal bakar kalori.

Saat ini Bumi tengah menemani Langit menikmati ice cream atas keinginan gadis itu usai menghabiskan seporsi tokayoki, sepuluh tusuk sosis dan seporsi sate.

"Kayaknya yang bakal jadi jodoh lo mendadak miskin kalau makan lo sebanyak ini Muk." Bumi menatap Langit yang duduk di depannya. Meja mereka penuh dengan sampai sisa makanan langit. Saat ini mereka duduk di salah satu kursi yang disediakan penjual untuk pembeli mereka.

"Makannya gue incar orang kaya."

"Ck ck ck. Gak tulus lo."

"Berchandya Berchandya..." Langit menjulurkan lidahnya dan mengikuti trend tik tok saat ini. Bumi melipat tangannya dan menyandarkan punggung di sandaran kursi. Dia sendiri sudah menghabiskan seporsi sate tadi.

"Ngomong-ngomong entar kita belajar di mana?"

"Rumah gue aja."

Langit memberi anggukan. Ia kembali menikmati ice creamnya yang hampir meleleh karena panas matahari sudah semakin naik.

***

Sesuai rencana. Kelompok Langit, Bumi, Bina dan Liam belajar kelompok di rumah Bumi. Seusia jogging tadi pagi dan pulang buat bersih-bersih. Sehabis zuhur Langit sudah otw dijemput Bina untuk ke rumah Bumi.

Pertama kali datang ke sana, rumah Bumi tidak terlalu besar. Minimialis namun luas. Rumahnya rapi namun sepi. Langit yang baru masuk bersama Bina diajak duduk langsung ke ruang tamu. Liam belum datang dan masih di perjalanan.

Bumi beranjak ke dapur. Katanya ambil minum, sementara itu Langit mengedarkan

Pandang melihat ruang tamu rumah Bumi yang hanya memiliki satu figura. foto anak kecil bersama seorang wanita cantik.

Selebihnya tidak ada apa-apa. Hanya ada kaligrafi yang terpajang. Sofa dan meja yang mengisi ruang tamu lalu televisi.

Apa itu Bumi? monolognya dalam hari.

Langit tiba-tiba teringat kata Alden. Bumi bekerja untuk membantu ibunya yang sedang sakit.

"Waduh Bum repot-repot segala. Kan jadi enak." Bina terkekeh dan membantu Bumi yang membawa minuman untuk mereka.

Bumi tertawa. Langit sontak mengalihkan tatapannya pada Bumi yang menata minuman untuk mereka di atas meja.

"Bum?"

"Hm?"

"Alden bilang ibu lo sakit. Ibu lo dirawat?" Pertanyaannya membuat gerakan tangan Bumi terhenti. Bumi terdiam sesaat lalu memberi anggukan kecil.

"Eh serius. Gue baru tahu. Ibu lo sakit apa Bum?" Bina mulai ikutan. Keduanya tidak menyadari perubahan ekspresi Bumi.

"Kita boleh lihat enggak?"

"Gula gue habis. Jadi gak manis minumnya. Kalian buka dulu pada materinya.

Sambil nunggu Liam," suruhnya mengalihkan pembicaraan. Bumi kemudian berdiri dan membawa balik nampan ke belakang.

Langit memperhatikan punggung Bumi yang menjauh.

Sangat jelas jika cowok itu tengah menutupi sesuatu.

Apa yang Bumi sembunyikan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!