Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Nadir
"Tanda tangan, Naya. Atau aku akan memastikan kabar kematian Hendra sampai ke telinga ayahmu di rumah sakit pagi ini juga."
Arkan melemparkan selembar kertas ke atas meja rias Kanaya. Di sana tertera surat pernyataan depresi dan percobaan b*n*h diri. Naya menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan matanya merah karena tangisan semalam.
"Kenapa kamu tidak membunuhku sekalian di Bogor tadi malam, Arkan?" tanya Naya tanpa menoleh.
"Karena kamu terlalu berharga untuk mati sekarang. Aku masih butuh tanda tanganmu untuk pengalihan sisa saham ayahmu. Jadi, jangan membuang waktuku," Arkan berdiri di belakangnya, kedua tangannya mencengkeram bahu Naya.
Naya meraih pulpen, membubuhkan tanda tangan tanpa membaca lagi. "Sudah. Apa sekarang kamu puas telah menghancurkan satu lagi nyawa manusia?"
"Hendra memilih jalannya sendiri saat dia memutuskan untuk mengkhianatiku. Sama seperti Janu. Kamu seharusnya belajar dari mereka, Naya," Arkan menarik kertas itu dan melipatnya dengan rapi.
"Di mana Janu?"
"Dia sudah pindah tugas. Kamu tidak perlu mencarinya lagi. Fokus saja pada peranmu sebagai istri yang depresi. Mulai hari ini, kamu dilarang keluar dari kamar ini. Ibu akan mengawasimu secara langsung," Arkan berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Jangan mencoba mendekati jendela. Aku sudah memasang teralis permanen tadi subuh."
Pintu kamar terbuka kasar, dua jam kemudian. Sofia masuk membawa nampan berisi makanan yang aromanya hambar.
"Makan ini. Jangan sampai kamu mati kelaparan dan membuat Arkan repot mengurus pemakamanmu," ucap Sofia sambil meletakkan nampan itu dengan kasar di atas nakas.
"Kenapa Tante masih di sini? Bukankah Arkan sudah mendapatkan segalanya? Kenapa Tante tetap ingin melihatku menderita?" Naya menatap Sofia dengan kebencian murni.
"Panggil aku Ibu Mertua! Berapa kali aku harus bilang?" Sofia mendekati Naya, wajahnya mendekat. "Aku di sini untuk memastikan sampah sepertimu tidak mengotori nama baik putraku lagi. Kamu tahu apa yang paling aku benci darimu, Naya? Bukan kemiskinanmu, tapi caramu menatap Arkan seolah-olah kamu lebih mulia darinya."
"Aku memang lebih mulia dari kalian berdua! Setidaknya aku tidak membangun hidupku di atas mayat orang lain!" teriak Naya.
Plak!
Tamparan keras Sofia mendarat di pipi Naya. "Tutup mulutmu! Kamu tidak punya hak untuk bicara soal moral di rumah ini. Kamu hanya jaminan bisnis yang sudah kedaluwarsa. Arkan hanya menahanmu karena dia senang melihatmu menderita. Dia tidak mencintaimu, Naya. Dia hanya terobsesi untuk menaklukkanmu karena kamu adalah anak Baskara."
Naya memegang pipinya yang panas, tapi ia tidak menangis. Ia justru tersenyum getir. "Jika dia ingin menaklukkanku, dia sudah gagal. Karena semakin kalian menyiksaku, semakin aku sadar bahwa kalian berdua adalah orang yang paling malang di dunia ini. Kalian punya segalanya, tapi kalian hidup dalam ketakutan bahwa suatu hari kebenaran akan muncul."
"Kebenaran tidak akan muncul jika tidak ada yang tersisa untuk mengucapkannya," desis Sofia. "Habiskan makananmu, atau aku akan menyuruh pelayan menyuapimu secara paksa."
Sore harinya, Arkan kembali ke kamar dengan wajah yang tampak lelah. Ia duduk di pinggir tempat tidur, memperhatikan Naya yang sedang menatap langit-langit.
"Dokter bilang kondisi Ayahmu, Pak Baskara, menurun drastis sore ini," ucap Arkan pelan.
Naya langsung terduduk tegak. "Apa? Apa yang kamu lakukan padanya?!"
"Aku tidak melakukan apa-apa. Jantungnya melemah. Itu reaksi alami tubuh yang sudah terlalu lama bergantung pada mesin," Arkan menatap Naya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Aku bisa membawamu ke sana sekarang, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa lagi, Arkan? Apa lagi yang mau kamu ambil?"
"Berhenti melawanku. Katakan padaku bahwa kamu menyerah. Katakan bahwa kamu akan menjadi istri yang patuh dan tidak akan pernah mencoba mencari bukti apa pun lagi. Lakukan itu, dan aku akan membiarkanmu mendampingi saat-saat terakhirnya."
Naya mengepalkan tangannya. "Kamu menggunakan nyawa Ayah untuk mendapatkan pengakuan dariku?"
"Aku hanya ingin ketenangan, Naya. Aku lelah mengejarmu ke sana kemari. Aku ingin kamu diam dan berada di sampingku tanpa ada belati di balik punggungmu. Katakan, Naya. Katakan kamu menyerah."
Naya menatap mata Arkan. Untuk sesaat, ia melihat keraguan di sana. "Jika aku bilang aku menyerah, apa kamu benar-benar akan membiarkan Ayah pergi dengan tenang tanpa mengganggu biaya rumah sakitnya lagi?"
"Aku berjanji."
"Baik. Aku menyerah, Arkan. Aku kalah. Kamu menang. Aku akan menjadi istri yang kamu inginkan. Aku akan menjadi boneka di rumah ini. Sekarang bawa aku ke Ayah," ucap Naya dengan suara datar.
Di rumah sakit, suasana lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara mesin pendeteksi jantung yang berbunyi lambat di ruang ICU. Naya mendekati tubuh ayahnya, Pak Baskara, yang tampak semakin kurus.
"Ayah... Naya di sini," bisik Naya.
Arkan berdiri di sudut ruangan, memperhatikan dengan seksama. Naya merasakan amarah yang luar biasa mendidih di dalam dirinya, namun ia tetap tenang. Ia menempelkan telinganya ke dada ayahnya.
"Maafkan Naya, Ayah. Naya tidak bisa menjaga harta Ayah. Naya tidak bisa menangkap pelakunya," Naya berbisik tepat di telinga Baskara. "Tapi Naya berjanji, dia tidak akan menang. Ayah boleh pergi dengan tenang. Naya akan menyelesaikan ini dengan cara Naya sendiri."
Tiba-tiba, garis di monitor berubah menjadi lurus. Bunyi bip panjang membelah kesunyian ruangan.
"Dokter! Suster!" teriak Naya, meskipun ia tahu itu sudah terlambat.
Arkan segera menghampiri Naya, mencoba merangkul bahunya. "Naya, sudah... dia sudah pergi."
Naya menyentakkan tangan Arkan dengan kasar. Ia berbalik, menatap Arkan dengan tatapan yang belum pernah Arkan lihat sebelumnya. Bukan tatapan takut, bukan juga marah, melainkan tatapan kosong yang mematikan.
"Kamu senang sekarang, Arkan? Ayah sudah meninggal. Tidak ada lagi sandera yang bisa kamu gunakan untuk mengancamku," ucap Naya dengan nada sangat tenang.
"Naya, aku tidak merencanakan ini terjadi hari ini—"
"Jangan bohong! Kamu mencabut dukungan medisnya secara tidak langsung, kan? Kamu menekan dokter untuk berhenti memberikan dosis maksimal?"
"Cukup, Naya! Jangan mulai lagi!" bentak Arkan.
"Tidak, aku tidak akan mulai lagi. Kamu bilang aku harus menyerah, kan? Aku sudah menyerah. Tapi ingat satu hal, Arkan Dirgantara. Orang yang paling berbahaya adalah orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Dan mulai detik ini, aku tidak punya apa-apa."
Naya berjalan melewati Arkan, keluar dari ruang ICU tanpa menoleh lagi pada jasad ayahnya. Arkan mengejarnya di koridor rumah sakit yang sepi.
"Naya! Mau ke mana kamu?"
"Pulang ke nerakamu, Arkan. Bukankah itu yang kamu mau? Aku akan menepati janjiku. Aku akan menjadi istri yang paling patuh. Sampai kamu sendiri yang memohon padaku untuk pergi," Naya menatap Arkan dengan senyum tipis yang mengerikan.
"Apa maksudmu?"
"Kamu akan segera tahu. Siapkan pemakaman Ayah besok. Aku mau yang paling mewah, agar semua orang tahu betapa baiknya menantu Pak Baskara ini dalam menutupi dosa-dosanya," Naya masuk ke dalam lift, meninggalkan Arkan yang terpaku di lorong.
Naya duduk di depan meja rias. Sofia masuk dengan wajah pura-pura prihatin.
"Aku dengar soal ayahmu. Turut berduka," ucap Sofia tanpa emosi.
Naya tidak menoleh. "Terima kasih, Ibu Mertua. Besok adalah pemakaman besar. Aku harap Ibu Mertua menyiapkan perhiasan terbaik. Kita harus tampil sempurna sebagai keluarga yang sedang berduka, bukan?"
Sofia mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu tiba-tiba bicara seperti itu? Apa kamu sudah gila karena sedih?"
"Gila? Tidak. Aku baru saja menemukan tujuanku yang baru," Naya berdiri dan mendekati Sofia. "Mulai besok, aku akan melakukan semua yang Ibu Mertua minta. Belajar memasak, mengatur yayasan, menjamu kolega... aku akan menjadi Arkan yang lebih sempurna daripada kalian berdua."
"Apa rencanamu sebenarnya, Naya?" tanya Sofia curiga.
"Rencana? Tidak ada rencana. Aku hanya ingin menjadi bagian dari kalian. Bukankah itu yang kalian paksa sejak awal? Selamat malam, Ibu Mertua. Tolong sampaikan pada Arkan, aku menunggunya di tempat tidur. Sebagai istri yang patuh."
Sofia keluar dari kamar dengan wajah pucat. Ia merasa ada yang salah, namun ia tidak tahu apa. Sementara itu, Naya membuka laci meja riasnya. Di bawah tumpukan kain, ia menyimpan sebuah botol kecil yang ia ambil dari ruang obat rumah sakit tadi saat suster lengah.
"Lunas, Arkan," bisik Naya sambil menatap botol itu. "Lunas dengan caraku sendiri."