Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 26
Setelah makan bersama dengan penuh candaan dari kakak juga ipar Ansel, bahkan orang tua Ansel sendiri ikut menanggapi candaan itu, membuat Jenia kembali merasa percaya diri begitu ia di terima baik oleh keluarga Ansel. Bukan hanya dirinya, tapi juga putrinya, Bahkan Cwen mendapatkan banyak mainan dan juga hadiah, yang ternyata sudah di siapkan oleh kakak juga ipar Ansel, bahkan kedua orang tua Ansel tidak mau kalah, mereka juga memberikan hadiah untuk Cwen.
“Kamu senang?”tanya Ansel menghampiri Jenia yang sedang duduk menemani Cwen bermain ayunan di taman belakang rumah.
Jenia menoleh dan melemparkan senyum manisnya kepada Ansel.
“Jangan tersenyum seperti itu lagi!”ucap Ansel dengan mimik seriusnya membuat Jenia kembali menarik senyumnya.
“Kenapa?" tanya Jenia kebingungan.
“Kamu cantik kalau tersenyum, kecantikanmu berkali lipat saat kamu tersenyum,” bisik Ansel sukses membuat pipi Jenia kembali memerah.
Ia sudah seperti anak remaja yang sedang mengalami jatuh cinta, padahal umurnya sudah begitu tua, rasanya tidak pantas lagi Jenia mengalami perasaan jatuh cinta seperti saat remaja dulu.
Jenia terdiam sebentar, ia menatap putrinya yang sedang bermain ayunan dengan salah satu kakak Ansel, Jenia tidak tahu siapa namanya, karena sejak perbincangan di meja makan tadi, tidak ada satupun kakak ansel yang memperkenalkan dirinya.
“Ansel,”
Entah sejak kapan embel-embel ‘pak’ untuk Ansel menghilang.
“Terima kasih banyak untuk malam ini, aku senang keluargamu bisa menerimaku dan Cwen dengan baik,”
Ansel tersenyum,“mereka tidak pernah tidak menyukai orang lain yang di bawa anak-anaknya ke rumah untuk di perkenalkan, bunda dan ayah memang sangat terbuka, bahkan yang mengide untuk mengajak kakak-kakakku pulang ke Indonesia adalah bunda, walaupun di awal sempat tidak setuju, tapi bunda sebenarnya setuju, ia bahkan yang paling semangat menyuruh kakak-kakaku pulang karena senang akhinya aku membawa seseorang ke rumah,”
Jenia semakin senang mendengar jika sejak awal keluarga keluarga Ansel menerimanya, perasaan khawatir ia tidak di terima itu langsung meluap begitu saja.
“Mereka bahkan sangat semangat membicarakan hadiah apa yang cocok untukmu dan juga Cwen, mereka yang paling sibuk membicarakan dan juga mencarikan hadiah untukmu. Tadi itu, mereka hanya terkejut karena tidak ada satu pun dari keluargaku yang menyangka jika yang aku bawa adalah wanita yang bukan orang Indonesia, sejak awal aku tidak cerita jika wanita itu adalah orang Jerman, itu sebabnya keluargaku sempat diam saat kita masuk, mereka hanya terkejut bukan tidak menyukaimu,”beritahu Ansel agar Jenia tidak salah paham lagi perihal kedatangan tadi.
Sebenarnya Ansel sendiri sempat salah paham, tapi begitu sang bunda juga kakaknya mengatakan mereka sangat terkejut begitu Ansel membawa Jenia dan Cwen masuk ke ruang makan, kata-kata penyambutan yang sudah keluarganya siapakan tertahan begitu saja di dalam tenggorokan begitu melihat sosok asli wanita yang Ansel cintai.
“Ansel terima kasih,”
Ansel tersenyum lembut dan mengusap pipi Jenia lembut,“berhenti berterima kasih Jenia, kamu memang pantas mendapatkan banyak cinta dari banyak orang,”
Jenia tersenyum dan entah dorongan dari mana, ia berani memeluk Ansel. Tubuh Ansel membeku, ia tidak menyangka jika Jenia akan memeluknya. Tolong sadarkan Ansel jika ini bukan mimpi, Ansel sama sekali tidak pernah berfikir jika Jenia akan memeluknya seperti ini, karena saat di apartement tadi pun, Jenia masih berbicara sedikit formal kepadanya.
Dari dalam rumah Lasmaya dan juga Dhani menatap putranya itu senang. Karena setelah bertahun-tahun, putranya kembali berani membuka hati lagi.
***
“Pak guru, cwen mendapatkan banyak hadiah loh dari keluarganya pak guru,” beritahu Cwen begitu mereka masuk ke dalam mobil untuk pulang, karena malam sudah semakin larut dan Cwen besok masih ada sekolah.
Ansel menoleh ke belakang, tangannya terulur untuk mengelus lembut puncak kepala Cwen, “pak guru senang melihat Cwen senang,”
“Pak guru, bundanya pak guru baik sekali, tadi sampai memberikan Cwen boneka sangat besar loh, tapi sekarang di mana ya semua hadiah Cwen, kenapa tidak di bawa pak guru?” tanya Cwen karena ia baru sadar jika hadiah-hadiah yang di berikan keluarga Ansel tidak ada satu pun yang masuk ke dalam mobil yang mereka naiki.
“Semua hadiah milik Cwen sudah pak guru taruh di mobil belakang kita, kalau di taruh di sini semua tidak akan muat, jadi pak guru biarkan kakak pak guru yang bawa semuanya sampai nanti di rumah,”jawab Ansel membuat Cwen mengangguk mengerti.
“Oh begitu ya pak guru,”
Ansel mengangguk, lalu kembali menatap ke depan, menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya yang sedikit luas.
“Mama, tadi mama lihat Cwen bermain ayunan dengan kakak pak guru tidak?”ranya Cwen memajukan tubuhnya agar mamanya yang duduk di depan di sebelah kursi Ansel mendengar.
Jenia menoleh dan mengangukkan kepalanya, "iya mama lihat, Cwen tahu tidak siapa namanya?”
Cwen mengangguk semangat,“saat bermain tadi, kakak pak guru memperkenalkan dirinya, namanya Thalita, cantik sekali ya bunda namanya,”
Jenia mengangguk, ia mengusap kepala Cwen dengan sayang, senang rasanya mendengar Cwen berceloteh tentang bagaimana senangnya ia bertemu dengan keluarga dari Ansel bahkan mereka sudah mengajarkan Cwen untuk memanggilnya tante juga nenek dan kakek.
Entah berapa lama Cwen berceloteh, menceritakan semua kesenangannya malam ini di rumah Ansel, ia tertidur, membuat suasana di dalam mobil yang awalnya ramai dengan suara Cwen mendadak sepi.
“Jenia,”
Jenia menoleh dan menatap Ansel yang masih focus pada jalanan di depoannya.
“Aku tahu kamu belum siap, tolong jangan memaksakan diri, aku bisa menunggu sampai kamu siap," ucao Ansel, ia tahu apa yang sedang di pikirkan Jenia, walaupun wajahnya terlihat senang dan bahagia dengan dirinya yang di terima baik oleh keluarganya, tapi Ansel bisa melihat jika Jenia masih sedikit ragu dengan Ansel.
“Aku hanya takut,” lirih Jenia menghela napas pelan dan menatap tangannya yang ia taruh diu atas pahanya.
Dan entah sajak kapan, panggilan ‘saya-kamu’ keduanya berganti dengan ‘aku-kamu’, tidak ada yang menyadari jika mereka sudah mengunakan kata aku dan kamu dalam perbincangan mereka.
“Aku paham, aku bisa menunggu sampai rasa takutmu hilang. Aku benar-benar tidak main-main dengan ini, aku menyukaimu dan aku tidak sadar sejak kapan perasaan itu tumbuh,”
“Bagaimana kalau kamu bosan menunggu aku?”
Ansel tersenyum dan menatap Jenia sebentar sebelum kembali fokus ke jalanan.
“Aku bukan tipe laki-laki yang bosan menunggu, aku tunggu kamu sampai siap, aku tidak bisa memaksa,”
“Kamu akan menyesal begitu kamu sudah menikah denganku, kamu akan bosan begitu aku sudah melahirkan anak untukmu, Ansel,”
Bukannya menenangkan Jenia yang sedang khawatir dengan perasaannya juga pikirannya, Ansel malah membisu dengan wajah memerah sampai ke telinga. Rasanya Ansel ingin menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan memeluk Jenia, ia benar-benar merasa salah tingkah begitu Jenia membahas masalah anak di antara mereka. Tolong selamatkan Ansel yang sangat mudah salah tingkah ini!.
seru ceritanya