NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

***

Sisa hujan semalam masih meninggalkan jejak berupa tanah basah dan udara yang luar biasa dingin di Desa Sukamaju. Namun, bagi Laras, pagi ini adalah perjuangan fisik yang sesungguhnya. Saat ia mencoba membuka mata, kepalanya terasa seberat batu besar. Tenggorokannya perih, dan ketika ia mencoba memanggil Arka, suaranya hanya keluar berupa bisikan parau yang hilang ditelan udara.

"Ngghh..." Laras meringis. Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun seketika otot betisnya menegang hebat. Kram.

"Aakh! Mas... Mas Bagas..." rintih Laras tertahan. Wajahnya pucat pasi, tangannya meraba-raba kasur mencari sosok suaminya.

Bagas, yang sudah bangun lebih dulu namun masih berbaring karena sisa pening, langsung tersentak. Ia melihat istrinya meringis memegangi kakinya yang membengkak. Kesadaran Bagas pulih seketika; rasa bersalah menghujam jantungnya. Gara-gara keegoisannya bermain hujan kemarin, kini pelindung rumah ini tumbang.

"Ras! Kenapa? Kakinya kram lagi?" Bagas dengan sigap menarik kaki Laras, mencoba meluruskan jemarinya dengan hati-hati.

Laras hanya bisa mengangguk lemah, air mata menetes di sudut matanya. "Sa-sakit, Mas... Suara Laras... habis," bisiknya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar.

"Sudah, sudah. Jangan bicara dulu. Badanmu panas sekali, Ras," Bagas menyentuh dahi Laras dan terkejut. "Ya Allah, ini Mas yang salah. Mas benar-benar minta maaf. Hari ini kamu tidak boleh turun dari kasur. Titik!"

"Tapi... anak-anak, Mas. Sarapan... baju kotor..."

"Biar Mas yang urus! Mas ini Kepala Desa, masa urus rumah saja tidak bisa? Kamu diam di sini, istirahat," tegas Bagas, meski sebenarnya hatinya mulai ketar-ketir membayangkan tumpukan tugas domestik.

**

Dua jam kemudian, kegagahan Bagas sebagai pemimpin desa benar-benar diuji. Di dapur, suasana sudah seperti medan perang. Gilang dan Arka yang sudah mulai membaik berkat sup jahe semalam, kini justru menjadi "mandor" bagi bapaknya.

"Bapak! Itu gosong! Baunya pahit!" teriak Gilang sambil menunjuk panci kecil di atas kompor.

Bagas panik. Ia sedang mencoba membuat bubur untuk Laras. "Sabar, Lang! Ini Bapak lagi cari mana garam mana gula. Ini putih semua warnanya!"

Bagas mengambil sejumput bubuk putih, hampir saja memasukkannya ke dalam bubur.

"Itu micin, Pak! Mamah bilang kalau banyak micin nanti jadi pelupa!" seru Gilang lagi.

"Aduh, pusing Bapak! Arka, jangan ditarik sarung Bapak, Nak!" Bagas hampir terjungkal karena Arka terus menggelayuti kakinya sambil merengek minta susu.

"Cucu! Mau cucu, Pak! Acka laper!" cadel Arka memekik.

"Iya, sebentar! Bapak bikin bubur dulu buat Mamah!" Bagas menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Siapa sangka, mengatur ratusan warga di balai desa jauh lebih mudah daripada mengatur satu panci bubur dan dua anak balita.

Setelah perjuangan panjang, Bagas beralih ke tumpukan baju kotor. Baju-baju penuh lumpur sisa kemarin menumpuk tinggi. Bagas menatap mesin cuci seolah-olah itu adalah mesin sandi yang rumit. Ia memasukkan semua baju, tanpa memisahkan daster batik Laras yang baru dengan kaos putihnya.

"Bapak, kata Mamah baju putih nggak boleh campur sama yang warna-warni," tegur Gilang lagi, bertindak sebagai polisi rumah.

Bagas mendesah berat. "Sudahlah, Lang. Yang penting bersih. Bapak sudah pusing lihat tombol-tombol ini."

Dari kamar, Laras yang mendengar keributan itu mencoba bangun. Ia menyeret langkahnya perlahan, bersandar di pintu dapur.

Pemandangan di depannya membuatnya ingin marah, tapi yang keluar justru tawa kecil yang lemas. Bagas tampak sangat berantakan; kaos dalamnya terkena cipratan air, sarungnya miring, dan wajahnya penuh tepung entah dari mana.

"Mas... itu... tutup pancinya jangan dibuka terus, nanti nggak matang," bisik Laras parau.

Bagas menoleh, wajahnya memelas. "Ras, kok kamu bangun? Mas keder, ini garamnya yang mana? Tadi Mas masukkan yang ini, tapi kok rasanya aneh?"

Laras mendekat, mencicipi sedikit. "Itu tepung maizena, Mas... bukan garam."

Bagas mengacak rambutnya frustrasi. "Ya Tuhan... Ampun, Ras. Mas menyerah. Ternyata kerjaanmu sepuluh kali lebih berat dari rapat di balai desa. Mas baru sadar, kalau kamu nggak ada, rumah ini bubar."

Laras tersenyum tipis, meski kepalanya masih berdenyut. Ia mengarahkan tangan Bagas untuk mengambil botol yang benar.

Melihat Bagas yang begitu keras kepala ingin membantunya meski sangat payah, membuat hati Laras luluh. Rasa dongkolnya kemarin hilang berganti rasa haru.

**

Sore harinya, setelah rumah perlahan kembali tenang meskipun hasil cucian Bagas membuat semua baju putihnya menjadi berwarna merah muda pucat karena lunturan daster—Bagas kembali ke kamar. Anak-anak sudah tertidur karena kelelahan bermain "membantu" Bapaknya.

Bagas membawa sebaskom air hangat dan minyak urut. Ia melihat Laras yang berbaring miring, wajahnya sudah tidak sepucat tadi

pagi meski suaranya masih berat.

"Sini, Mas pijat kakinya," ucap Bagas lembut.

Ia duduk di ujung ranjang, mengambil kaki bengkak Laras ke atas pangkuannya.

Laras merasa hangat air membasuh kakinya, diikuti jemari kuat Bagas yang mulai memijat perlahan dari telapak kaki hingga betis.

"Enak, Mas..." bisik Laras.

"Maafin Mas ya, Ras. Semalam Mas egois. Tadi siang Mas baru benar-benar ngerasain gimana capeknya jadi kamu. Mas janji, mulai sekarang Mas bakal lebih dengerin omonganmu. Mas nggak mau kamu sakit begini lagi, apalagi ini sudah bulan kedelapan," Bagas menatap perut besar Laras dengan rasa takzim.

Laras terharu. Jarang sekali Bagas bicara selembut ini. "Terima kasih, Mas. Laras cuma ingin Mas dan anak-anak sehat."

Pijatan Bagas perlahan berubah ritmenya. Rasa lelah di tubuh Laras seolah ditarik keluar oleh sentuhan suaminya yang kini jauh lebih penuh perhatian. Hawa dingin pasca-hujan di luar membuat kehangatan di dalam kamar itu terasa sangat kontras.

Bagas menghentikan pijatannya, matanya menatap Laras dengan dalam. Rasa bersalahnya kini bercampur dengan kekaguman. Di matanya, Laras yang sedang flu dengan daster tipis dan perut besarnya justru terlihat luar biasa cantik.

"Ras... Mas mau minta hak Mas malam ini," bisik Bagas serak, suaranya mengandung permohonan yang tak bisa ditolak. "Tapi Mas nggak mau bikin kamu capek lagi. Biar Mas yang jaga kamu."

Laras menatap suaminya. Ia melihat keinginan yang besar di mata Bagas, namun ada kelembutan yang berbeda dari biasanya. Meskipun badannya masih sedikit lemas, Laras merasakan dorongan untuk memberikan cintanya sebagai balasan atas usaha Bagas seharian ini.

"Tapi Laras lemas, Mas... Kakinya juga masih sering kram," lirih Laras.

Bagas tersenyum, ia membantu Laras duduk perlahan di tengah ranjang. "Kalau begitu, biarkan kamu yang memegang kendali. Kamu tidak perlu banyak bergerak, Mas yang akan mengikuti ritmemu."

Bagas membimbing Laras untuk berada di atasnya. Ini adalah posisi yang jarang mereka lakukan karena perut Laras yang besar, namun Bagas dengan sangat hati-hati mengatur bantal-bantal untuk menyangga panggul Laras.

"Pelan-pelan ya, Mas... Laras masih agak pening," bisik Laras saat ia mulai merasakan sentuhan Bagas yang menuntut.

Bagas memberikan ciuman-ciuman lembut di perut buncit Laras, seolah meminta izin pada calon anaknya. "Mas akan jaga kamu, Sayang..."

Malam itu, di bawah temaram lampu dan sisa suara rintik hujan, suasana menjadi sangat intens. Laras, meski dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih, menemukan kekuatan baru dalam perannya malam ini. Desahan-desahan halus mulai lolos dari bibir Laras yang masih terasa panas akibat demam.

"Nngghh... Mas Bagas... ahh..." rintih Laras, tangannya bertumpu pada dada bidang Bagas yang hangat.

Bagas memejamkan mata, menikmati setiap gerakan Laras yang penuh kelembutan dan kepasrahan. Erangan puas Bagas bersahutan dengan napas Laras yang kian memburu.

"Kamu... ahh... luar biasa, Laras... nngghh..." gumam Bagas dengan suara yang kian serak.

Cengkrama batin dan raga itu berlangsung panjang dan penuh emosi. Desahan Laras yang parau akibat flu justru terdengar sangat menggoda bagi Bagas, memicu gairah yang kian tak terbendung. Di tengah rasa nyeri yang sesekali muncul di pinggangnya, Laras merasakan gelombang kebahagiaan karena merasa benar-benar diinginkan dan dihargai.

Setelah mencapai puncak kepuasan bersama, Laras terkulai lemas di atas dada Bagas.

Napas mereka berdua terengah-engah, bersatu dalam keheningan malam desa yang syahdu.

"Terima kasih, Laras... Tidurlah, Mas nggak akan ke mana-mana," bisik Bagas sambil memeluk erat istrinya, memberikan kehangatan yang paling dibutuhkan Laras untuk sembuh sepenuhnya.

****

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!