NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Besar di Balik Nama Gendis

Malam setelah ciuman pertama itu seharusnya menjadi malam yang paling tenang di mansion Vittorio. Namun, bagi Gendis, tidur adalah hal yang mustahil. Ada getaran aneh yang merambat dari gelang tridatu di pergelangan tangannya, sebuah denyut yang selaras dengan detak jantungnya sendiri. Seolah-olah ciuman Kaivan bukan hanya membuka pintu hatinya, tetapi juga membuka segel memori yang selama ini terkunci rapat di dalam namanya sendiri.

​Di ruang kerja pribadinya, Kaivan pun tidak bisa memejamkan mata. Ia sedang menatap sebuah dokumen kuno yang dikirimkan oleh seorang informan rahasia dari Jawa Tengah, Indonesia—sebuah dokumen yang ia minta sejak ia mulai menyadari bahwa kemampuan Gendis bukanlah kemampuan indigo biasa.

​"Gendis..." gumam Kaivan, menatap barisan aksara Jawa kuno yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Italia di sampingnya. "Siapa kau sebenarnya?"

Pukul dua pagi, Gendis berjalan menyusuri koridor mansion dengan langkah seperti orang mengigau. Matanya terbuka, namun pandangannya kosong. Ia menuju ke perpustakaan bawah tanah, tempat di mana Kaivan menyimpan koleksi artefak sejarah.

​Kaivan, yang mendengar langkah kaki ringan melalui sistem keamanan monitornya, segera menyusul. Ia menemukan Gendis berdiri di depan sebuah cermin besar antik yang berasal dari abad ke-18.

​"Gendis? Kau bermimpi lagi?" tanya Kaivan lembut, mencoba tidak mengejutkannya.

​Gendis menoleh pelan. Suaranya tidak terdengar seperti biasanya; suaranya kini memiliki wibawa yang sangat dalam dan beresonansi. "Kak... nama saya bukan cuma pemberian Ibu karena saya lahir di kebun tebu."

​Kaivan mendekat, memegang bahu Gendis yang terasa dingin. "Apa maksudmu?"

​"Gendis... Gendis Gula Pasir itu cuma panggilan sayang. Nama asli yang diberikan nenek saya di dalam upacara ruwatan adalah Gendis Ratu Segoro Sari," ucap Gendis. "Dan malam ini, nama itu memanggil saya untuk bicara."

Gendis menyentuh permukaan cermin. Seketika, pantulan di dalam cermin itu berubah. Bukan lagi perpustakaan Vittorio yang terlihat, melainkan sebuah keraton megah di tepi pantai selatan Jawa yang diselimuti kabut hijau.

​"Keluarga saya bukan hanya petani, Kak," bisik Gendis, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kami adalah pelindung gerbang. Nama 'Gendis' di masa lalu adalah kode bagi mereka yang memiliki 'darah manis'—darah yang sangat disukai oleh para penguasa alam gaib, namun juga darah yang memiliki otoritas untuk memerintah mereka."

​Kaivan teringat dokumen yang baru saja ia baca. Gendis: Simbol kemurnian yang mampu menetralisir racun batin paling pekat.

​"Kakek buyut saya adalah seorang punggawa yang melarikan diri dari keraton karena membawa sebuah rahasia besar: sebuah janji antara penguasa laut dan darat. Nama itu diberikan untuk menyembunyikan identitas saya dari musuh-musuh gaib yang ingin mengambil kekuatan itu," jelas Gendis.

​Tiba-tiba, sebuah energi besar meledak dari tubuh Gendis. Rambutnya yang biasanya dikuncir kuda terlepas, berkibar tertiup angin yang entah datang dari mana. Aura emas yang selama ini hanya terlihat samar, kini menyala terang, memenuhi perpustakaan bawah tanah tersebut.

"Kak Kaivan tahu kenapa Kakak jatuh cinta sama saya?" tanya Gendis, kini matanya menatap tajam ke arah Kaivan.

​"Karena kau adalah kau, Gendis. Karena kau unik," jawab Kaivan pasti.

​Gendis menggelengkan kepala. "Itu karena jiwa Kakak mengenali 'Gendis' yang asli. Di dalam darah saya, ada frekuensi yang disebut Penyambung Nyawa. Alasan kenapa Kakak selalu merasa tenang di dekat saya, alasan kenapa kutukan tujuh turunan Kakak bisa saya serap... itu karena nama Gendis adalah sebuah wadah penampung segala kegelapan."

​Kaivan tertegun. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. "Jadi, selama ini kau bukannya mengusir setan-setan di sekitarku, Gendis... tapi kau menyerap mereka ke dalam dirimu sendiri?"

​"Itulah rahasia besarnya, Kak. Nama saya adalah kutukan sekaligus berkah. Saya adalah 'gula' yang menetralisir pahitnya dunia Mafia Kakak. Tapi setiap kali saya melakukannya, hidup saya berkurang sedikit demi sedikit."

​Wajah Kaivan memucat. Ia menarik Gendis ke dalam pelukannya, mendekapnya seolah-olah ia bisa melindungi Gendis dari takdirnya sendiri. "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?! Kenapa kau tidak bilang bahwa setiap kali kau menyelamatkanku, kau sedang mengorbankan dirimu?!"

Tiba-tiba, ruangan itu dipenuhi oleh suara deburan ombak yang sangat keras. Sesosok bayangan pria tua berpakaian adat Jawa lengkap dengan keris di punggungnya muncul di tengah ruangan. Dia adalah kakek buyut Gendis, sang Penjaga Nama.

​"Vittorio... kau telah menciumnya. Kau telah menyegel takdirmu dengan Gendis Ratu Segoro Sari," suara pria tua itu bergema. "Sekarang kau punya pilihan: biarkan dia tetap menjadi Gendis si Gadis Indigo yang akan layu sebelum waktunya, atau kau berikan 'darah mafiamu' untuk melengkapi kekuatannya."

​"Apa maksudmu?!" teriak Kaivan pada bayangan itu.

​"Darahmu adalah darah kehancuran, darahnya adalah darah penyembuhan. Jika kalian bersatu dalam sumpah yang sesungguhnya—bukan hanya tunangan, tapi pernikahan darah—maka kegelapanmu akan memberinya perlindungan fisik, dan cahayanya akan memberimu kedamaian abadi. Tanpa itu, dia akan hancur karena beban kegelapan klan Vittorio yang terlalu besar untuk namanya."

​Gendis tampak sangat lemas, ia terkulai di pelukan Kaivan. Nama besarnya ternyata terlalu berat untuk ia tanggung sendiri di tanah asing seperti Italia.

Kaivan menatap bayangan tua itu dengan mata yang berkilat penuh tekad. Selama ini ia mengira ia adalah pelindung Gendis, namun ternyata Gendis adalah perisai jiwanya yang sedang retak.

​"Aku akan melakukannya," ucap Kaivan tanpa ragu. "Aku tidak peduli soal rahasia keraton atau janji laut. Aku hanya peduli pada Gendis. Jika namaku, darahku, dan kekuasaanku bisa menjadi perisai bagi namanya, maka aku akan memberikannya sekarang juga."

​Kaivan mengambil belati kecil di atas meja perpustakaannya. Dengan gerakan mantap, ia menggores telapak tangannya sendiri. Ia kemudian menggenggam tangan Gendis, membiarkan darah mereka bersentuhan di atas gelang tridatu tersebut.

​"Aku, Kaivan Vittorio, bersumpah demi langit dan bumi Sisilia, dan demi leluhur Jawa yang menjaga namamu... aku memberikan hidupku, kekuatanku, dan seluruh perlindunganku untuk menyempurnakan nama Gendis Ratu Segoro Sari. Bebannya adalah bebanku, rasa sakitnya adalah rasa sakitku."

​Seketika, cahaya emas dari tubuh Gendis berubah menjadi kemerahan, menyatu dengan aura hitam-biru milik Kaivan. Sebuah harmoni baru tercipta. Cahaya yang tadinya menyilaukan dan rapuh, kini menjadi stabil dan kuat.

​Bayangan pria tua itu tersenyum puas, lalu perlahan menghilang, meninggalkan aroma bunga kantil yang harum di dalam ruangan.

Gendis tersentak bangun, napasnya tersengal-sengal. Matanya kembali normal, namun ada kedalaman yang baru di sana. Ia menatap Kaivan, lalu menatap telapak tangan mereka yang masih bersatu.

​"Kak... Kakak sudah melakukannya," bisik Gendis. "Rahasia itu... sudah bukan lagi rahasia. Namaku sudah terkunci dengan namamu."

​"Sekarang kau tidak perlu lagi menyerap kegelapan sendirian, Gendis," ucap Kaivan, suaranya sangat lembut namun penuh otoritas. "Biarkan namaku yang menjadi temboknya, dan namamu yang menjadi cahayanya."

​Gendis tersenyum, kali ini senyumannya terasa lebih berat, lebih matang. Ia menyadari bahwa identitasnya sebagai "Gadis Semprul" adalah topeng yang ia gunakan untuk menutupi beban nama besarnya. Namun di hadapan Kaivan, ia tidak perlu lagi bersembunyi.

​"Ternyata nama saya mahal ya, Kak? Sampai harus ditebus pakai darah bos Mafia segala," canda Gendis, mencoba mencairkan suasana yang sangat tegang tadi.

​Kaivan mencium kening Gendis lama sekali. "Nama itu adalah hartaku yang paling berharga. Dan mulai hari ini, tidak akan ada satu hantu atau manusia pun yang bisa menyentuhmu tanpa melewati mayatku dulu."

Rahasia besar di balik nama Gendis akhirnya terungkap sepenuhnya. Nama itu bukan sekadar label, melainkan sebuah identitas spiritual yang menghubungkan dua dunia dan dua budaya yang sangat jauh berbeda. Di balik kepolosan dan tingkah semprulnya, Gendis adalah seorang "Ratu" yang sedang dalam pengasingan, dan Kaivan adalah "Raja" yang telah menemukan permaisuri gaibnya.

​"Kak," panggil Gendis saat mereka berjalan keluar dari perpustakaan bawah tanah menuju kamar.

​"Ya?"

​"Karena nama saya sekarang sudah resmi 'berat', boleh nggak saya minta satu hal?"

​Kaivan menghela napas, sudah menduga arah pembicaraannya. "Apa itu?"

​"Tolong, jangan panggil saya 'Ratu' kalau di depan umum. Saya tetep mau jadi Gendis yang suka makan seblak dan ngejar hantu kucing. Menjadi Ratu itu capek, Kak. Enakan jadi Gadis Semprul-nya Kak Kaivan aja."

​Kaivan tertawa, suaranya yang berat mengisi kesunyian mansion. "Baiklah, Gendis-ku. Kau akan tetap menjadi Gadis Semprul yang paling mahal di seluruh dunia."

​Malam itu, rahasia besar telah terkubur, namun sebuah kekuatan baru telah lahir. Di bawah naungan atap mansion Vittorio, dua jiwa yang berbeda frekuensi itu kini benar-benar telah menyatu dalam satu harmoni yang tidak akan pernah bisa dipatahkan oleh siapa pun.

​Nama Gendis kini tidak lagi menjadi beban yang menggerogoti nyawanya, melainkan menjadi mahkota yang diperkuat oleh cinta dan pengabdian seorang Kaivan Vittorio. Dan di pergelangan tangan Gendis, gelang tridatu itu kini bersinar dengan warna pelangi yang lembut, menandakan bahwa sang penjaga gerbang telah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

​"Mimpi indah, Ratu-ku," bisik Kaivan di depan pintu kamar Gendis.

​"Mimpi indah juga, Pelindungku," balas Gendis dengan kedipan mata yang nakal, kembali menjadi dirinya yang ceria.

​Di luar, laut Sisilia bergemuruh tenang, seolah memberikan penghormatan pada bersatunya dua garis takdir yang telah menyeberangi samudera untuk bertemu dalam satu nama.

1
paijo londo
enak kali yah honeymoon di gurun pasir kan g ada hantunya 🤣🤣🤣 panas...panasss
paijo londo
keeereeen 👍👍
paijo londo
ya ampun thor ngakak sumpah🤣🤣
paijo londo
aduh 🤦🤦 ceritanya kocak banget 🤣🤣
paijo londo
🤣🤣🤣🤣dasar gendis semprul
paijo londo
thor mampir 🤭
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Queen mafia: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!