Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Paviliun Pedang
Tiga hari berlalu dengan cepat. Lin Han menjalani hari harinya sebagai murid luar dengan disiplin yang tidak berubah. Pagi hari ia membersihkan halaman belakang sesuai tugasnya. Siang hari ia mengambil jatah makanan di aula umum. Sore hingga malam ia habiskan untuk berlatih pedang dan bermeditasi di hutan kecil di belakang asrama.
Tidak ada yang mengganggunya. Para murid lain di asramanya kini memandangnya dengan campuran rasa kagum dan segan. Fang Yu beberapa kali mencoba mengajaknya bergabung dalam obrolan ringan, tapi Lin Han selalu menolak dengan halus. Ia tidak punya waktu untuk hal hal seperti itu.
Zhuge juga tidak banyak bicara. Kakak senior itu hanya sesekali mengingatkan jadwal tugasnya dan tidak lebih. Kemenangan Lin Han di kompetisi kemarin sepertinya membuat Zhuge sedikit berubah sikap. Tidak lagi memandangnya sebagai murid luar biasa yang tidak berguna.
Hingga akhirnya pagi hari ujian tiba.
Lin Han bangun lebih awal dari biasanya. Ia mencuci muka, merapikan jubah biru mudanya, dan memastikan pedang peraknya berada di dalam cincin penyimpanan. Token perak pemberian Tetua Shen ia genggam sejenak sebelum menyimpannya kembali.
Ia keluar dari asrama. Udara pagi masih dingin dan berkabut tipis. Lapangan utama sekte masih sepi. Hanya beberapa murid yang terlihat berlatih di kejauhan.
Lin Han berjalan menuju Paviliun Pedang. Bangunan itu terletak di bagian utara sekte, terpisah dari area murid luar. Jalannya menanjak, melewati beberapa anak tangga batu yang diapit pohon pinus tua.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, ia tiba di depan gerbang Paviliun Pedang. Gerbang itu terbuat dari kayu hitam dengan ukiran pedang bersilang di tengahnya. Di depannya sudah berdiri beberapa murid lain yang juga akan mengikuti ujian. Sebagian besar adalah murid dalam dari divisi lain yang ingin pindah ke Paviliun Pedang. Hanya sedikit murid luar seperti dirinya.
Mereka menunggu dalam diam. Tidak ada yang saling menyapa. Masing masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Gerbang terbuka. Seorang pria paruh baya dengan jubah biru gelap keluar. Kultivasinya Core Formation Akhir. Wajahnya keras dengan janggut tipis di dagunya.
"Calon murid Paviliun Pedang, masuklah. Ikuti aku."
Mereka semua masuk. Lin Han melangkah di barisan paling belakang. Di dalam, Paviliun Pedang ternyata jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Sebuah halaman besar dengan lantai batu putih. Di tengahnya berdiri beberapa boneka kayu untuk latihan. Di sisi sisi halaman, rak rak senjata berisi berbagai jenis pedang berjajar rapi.
Pria paruh baya itu berhenti di tengah halaman.
"Aku Tetua Mo, salah satu pengajar di Paviliun Pedang. Ujian hari ini akan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah ujian teknik pedang. Kalian akan bertarung melawan boneka kayu yang telah diberi formasi khusus. Boneka itu akan menyerang balik. Nilai kalian ditentukan dari seberapa banyak serangan yang berhasil kalian daratkan dan seberapa sedikit serangan yang mengenai kalian."
Ia menunjuk ke sisi lain halaman. Di sana sudah berdiri lima boneka kayu setinggi manusia dewasa. Di tubuh boneka itu terukir formasi rumit yang bersinar redup.
"Tahap kedua adalah ujian sparring. Kalian akan bertarung satu lawan satu melawan murid senior Paviliun Pedang. Tidak perlu menang. Kami hanya ingin melihat potensi dan mental bertarung kalian."
Tetua Mo menatap mereka satu per satu.
"Ada pertanyaan?"
Semua diam.
"Bagus. Kita mulai dari yang pertama."
Satu per satu calon murid maju. Mereka masuk ke area bertarung dan berhadapan dengan boneka kayu. Begitu sinyal diberikan, boneka boneka itu bergerak dengan kecepatan mengejutkan. Lengan kayu mereka berayun seperti pedang sungguhan.
Calon pertama berhasil mendaratkan beberapa serangan, tapi ia juga terkena banyak pukulan. Calon kedua lebih baik. Calon ketiga malah terpental dan jatuh.
Giliran Lin Han tiba.
Ia melangkah ke area bertarung. Lima boneka kayu berdiri di depannya dalam formasi setengah lingkaran. Formasi di tubuh mereka mulai bersinar lebih terang.
Tetua Mo memberi isyarat.
"Mulai."
Boneka pertama langsung menyerang. Lengan kayunya menyapu horizontal ke arah kepala Lin Han. Boneka kedua menusuk ke arah perutnya. Boneka ketiga menyerang dari samping.
Lin Han tidak panik. Ia sudah terbiasa menghadapi serangan dari berbagai arah. Ingatannya tentang pertarungan melawan iblis di Kota Bilou dan Baishi masih segar. Dibandingkan iblis iblis itu, boneka ini lebih lambat.
Ia melangkah ke samping, menghindari serangan boneka pertama dan kedua sekaligus. Pedangnya bergerak cepat. Satu tebasan ke leher boneka pertama. Berputar, menusuk dada boneka kedua. Melompat ke belakang, menghindari serangan boneka ketiga, lalu menebas kakinya.
Gerakannya mengalir seperti air. Tidak ada yang kaku, dan sangat presisi.
Satu per satu boneka itu ia lumpuhkan dengan serangan tepat di titik titik lemah formasi mereka. Dalam waktu kurang dari dua menit, kelima boneka sudah tidak bergerak.
Tetua Mo mengangkat alisnya. "Menarik. Teknik pedangmu dasar, tapi efisiensinya luar biasa. Kau tidak membuang sia sia satu gerakan pun."
Lin Han menangkupkan tangannya.
"Terima kasih, Tetua."
Para calon lain yang menonton berbisik bisik. Beberapa memandang Lin Han dengan tatapan tidak percaya.
Ujian tahap pertama selesai. Dari dua puluh calon, hanya dua belas yang lolos ke tahap kedua. Lin Han termasuk di dalamnya dengan nilai tertinggi.
tp gw seneng sm murid sekte, mereka rebutan tp ttp rasional, mereka gak ada niat membunuh( sejauh ini) ..