Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.
Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.
Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.
Terimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Cuek Tetapi Perhatiin.
Ayana dan Emir berada di dalam mobil dengan perjalanan yang sudah mereka lalui sekitar 2 jam, di dalam mobil tidak ada pembicaraan satu sama lain.
Dari pada hanya bengong saja Ayana memilih untuk memeriksa kembali pekerjaannya, mengerjakan apa yang bisa dia lakukan dan sementara Emir sejak tadi fokus menyetir.
Ayana tiba-tiba saja memegang perutnya, ekspresi wajahnya tampak berubah dan ternyata hal itu mencuri perhatian Emir, melihat bagaimana Sekretarisnya itu terlihat kesakitan sampai dahinya berkeringat.
"Kamu kenapa?" tanya Emir.
"Hhhhh, asam lambung saya kumat, apa boleh mampir sebentar untuk membeli obat?" tanya Ayana berbicara terdengar lirih menahan rasa sakit.
"Kamu tidak membawa obatnya?" tanya Emir.
Ayana menggeleng kepala samar dan mungkin karena buru-buru atau sempat terjadi perdebatan dengan ibunya sampai lupa.
"Kamu itu bagaimana sih, bisa-bisanya untuk kesehatan sendiri saja lupa," Emir marah-marah tetapi tetap menghentikan mobil tersebut bertepatan di depan apotek.
Ayana membuka sabuk pengamannya, terlihat begitu lemas ingin keluar dari mobil.
"Tunggu di sini!" Emir mengambil tindakan dengan cepat.
Dia seorang manusia dan mana mungkin membiarkan Sekretarisnya itu dalam keadaan lemah, pergi sendiri ke apotek dan sementara dia hanya diam saja menonton. Ayana mengatur nafas melihat bagaimana Emir sudah keluar dari apotek dengan membawa obat tersebut.
"Ini!" Emir memberikan obat yang sudah dikeluarkan dari tabletnya.
Emir juga tidak lupa memberikan air mineral yang sudah dibuka tutup botolnya. Ayana menelan obat tersebut dan sepertinya reaksinya sangat cepat dengan kondisi tubuhnya sudah lumayan.
"Bagaimana?" tanya Emir.
"Saya baik-baik saja," jawab Ayana.
"Kamu sudah makan?" tanya Emir.
Ayana menggelengkan kepala. Emir menghela nafas dan melanjutkan mengendarai mobil tersebut.
Akhirnya Ayana dan Emir berhenti di salah satu tempat makan di pinggir jalan. Tempat makan tersebut tampak layak, biasanya Ayana yang menyiapkan semua dari memesan makanan yang sudah pasti diinginkan atasannya dan lain sebagainya, tapi sekarang Emir melakukan hal itu sampai makanan itu sudah terhidang di meja mereka dan keduanya menikmati makan malam tersebut.
"Bagaimana?"
"Apa kamu merasa enakan?" tanya Emir secara tidak langsung memberi perhatian pada Ayana.
"Hmmm, jauh lebih baik daripada sebelumnya. Maaf ya, Pak, saya sudah merepotkan," ucap Ayana.
"Lanjutkan makan kamu," sahut Emir membuat Ayana menganggukkan kepala.
*****
Keduanya melanjutkan perjalanan, melewati beberapa desa dan jalanan cukup sepi karena dipenuhi dengan hutan, tetapi untung saja jalanan tersebut mulus, kendaraan juga tidak terlalu ramai, lewat secara satu persatu.
Ayana dan Emir sudah bergantian menyetir setelah kurang lebih 4 jam Emir menyetir dan sekarang giliran Sekretarisnya itu.
Sebagai sekertaris Ayana memang harus bisa segalanya dan termasuk menyetir mobil, ketika supir tidak ada dan sudah pasti dia yang harus menggantikannya karena Emir jarang sekali menyetir.
Sepanjang di dalam mobil mereka tetap diam tanpa berkomunikasi. Emir juga hanya fokus pada tablet untuk melihat bagaimana pekerjaannya.
"Untuk vendor yang juga akan datang ke desa itu, apa tempat tinggal mereka juga sudah kamu siapkan?" tanya Emir.
"Sudah pak, saya meminta bantuan Nenek untuk mengosongkan salah satu rumah warga yang layak untuk mereka," jawab Ayana.
"Lalu bagaimana dengan tempat tinggal saya?" tanya Emir.
"Hmmmm, saya baru mendapatkan rumah yang dekat dengan lokasi proyek, tapi hanya satu rumah saja, dan saya juga belum dapat izin dari beliau apakah diizinkan untuk ditinggali beberapa hari ke depan," ucap Ayana ragu-ragu memberi jawaban kepada atasannya itu
"Kamu itu bagaimana sih Ayana, kenapa baru mengatakannya sekarang, kita sudah hampir sampai dan kita akan tidur di mana jika tidak ada tempat tinggal?" tanya Emir.
"Ada hotel, tetapi jaraknya cukup jauh kurang lebih 1 jam 20 menit sampai ke tempat proyek," jawab Ayana.
"Kenapa kamu tidak sekalian saja menyuruh saya untuk tidur di Jakarta," sahut Emir sudah mulai kesal dengan Ayana.
Ayana diam sudah mulai panik dengan kemarahan atasannya itu.
"Jika bapak tidak keberatan untuk satu malam saja kita menginap di rumah Nenek saya. Saya sudah menyampaikan kepada Nenek dan beliau akan memberikan senyaman mungkin," ucap Ayana ragu-ragu menyampaikan pendapatnya kepada Emir.
"Hahhhhh, terserah kamu saja yang terpenting begitu sampai saya bisa tidur!" tegas Emir.
"Baik. Pak," sahut Ayana berharap tidak akan dimarahi atasannya itu.
Dari siang melakukan perjalanan sampai malam hari dan kembali Emir yang menyetir, mereka sebentar lagi akan memasuki area desa tujuan mereka, tetapi Emir sudah tidak bisa menahan kantuknya bentar-bentar menguap dengan matanya memerah.
"Pak biar saya saja yang menyetir," sahut Ayana lebih baik mengambil alih daripada mereka sampai terjadi sesuatu.
"Bukankah kamu mengatakan sebentar lagi akan sampai," sahut Emir.
"Iya, memang hanya tinggal 15 menit lagi," jawab Ayana.
"Sudahlah hanya tinggal sebentar lagi dan juga sampai," sahut Emir tidak mengalihkan kepada Ayana.
Tetapi tetap saja Ayana yang tidak tenang dan takut terjadi sesuatu, sebentar sebentar dia terus aja melihat ke depan dan juga melihat ke arah Emir.
"Kamu kenapa? apa kamu pikir saya akan menabrakkan mobil ini ke pohon?" tanya Emir menyadari tingkat kekhawatiran dari Sekretarisnya itu.
"Wajar saja jika saya khawatir. Bapak sepertinya sangat mengantuk," jawab Ayana.
"Saya tidak bodoh dan jika saya masih merasa bisa untuk menyetir dan maka bisa, lihat sudah sampai," ucap Emir melihat ke depan ketika mereka melewati proyek pembangunan dari perusahaan mereka dan artinya memang sudah sampai desa tersebut dan hanya belum sampai ke tempat tinggal Nenek Ayana.
"Alhamdulillah," ucap Ayana merasa lega.
Hanya tinggal 2 menit lagi jarak proyek tersebut ke kediaman rumah sederhana milik Nenek Ayana.
Nenek Ayana juga tampaknya menunggu kedatangan cucunya itu dan terlihat sepasang suami istri tua renta itu menunggu di depan rumah dan juga terlihat ada seorang pria yang tak lain adalah paman Ayana. Abang dari ayahnya.
"Alhamdulilah, akhirnya sampai juga," ucap Ayana merasa lega dan itu saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk kepada mereka.
"Kamu saja yang berlebihan beranggapan bahwa saya akan menabrakkan mobil ini," sahut Emir.
"Maaf. Pak," sahut Ayana.
Emir tidak menanggapi dan keluar dari mobil tersebut begitu juga dengan Ayana.
"Alhamdulillah Ayana kalian sampai juga!" ucap Nenek memeluk cucunya itu dengan penuh kerinduan.
"Nenek, kenapa harus menunggu di luar seperti ini, malam-malam seperti ini sangat berbahaya untuk kesehatan," ucap Ayana sudah melepas pelukan itu dan terlihat begitu khawatir.
Ayana juga memeluk kakeknya dan mencium punggung tangan pamannya, melakukan perjalanan bisnis sekalian bertemu dengan keluarganya yang memang tidak pernah dikunjungi Ayana kecuali dalam urusan pekerjaan.
Emir juga terlihat sopan menyapa kedua orang tua tersebut mencium punggung tangannya, meski seorang atasan tetapi tidak terlihat kesombongan atau perbedaan yang dia lakukan.
Nenek sangat ramah menyuruh mereka masuk ke dalam rumah. Rumah sederhana dengan ruang tamu dengan sofa berbahan kayu. Nenek sudah menyiapkan makanan untuk menyambut cucu dan juga atasan cucunya itu.
Emir diperlakukan sangat baik, dijamu dengan baik dan mungkin Emir sedikit merasa tidak enak harus diperlakukan seperti itu dan padahal dia harus berterima kasih kepada orang desa karena mengizinkan proyeknya dikembangkan di desa tersebut, tetapi semua itu tidak terlepas dari Ayana untuk menyakinkan orang-orang desa.
Bersambung.....