NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

​"Apa yang sebenarnya dilakukan unit kalian di depan Titanium Entertainment malam ini? Siapa yang memberi kalian hak untuk menderek kendaraan tanpa pemberitahuan atau prosedur yang jelas? Apakah mereka semua benar-benar melanggar aturan? Sepertinya aku perlu mengirim tim Inspektorat untuk mengaudit dan melihat apakah petugas kita di lapangan benar-benar melayani masyarakat atau justru sebaliknya." Kata-kata Ratna sangat tajam dan langsung ke sasaran, membuat wajah Wendy pucat pasi seketika.

​Jika Inspektorat benar-benar turun tangan, urusannya akan panjang. Kalau tidak ditemukan pelanggaran mungkin tidak apa-apa, tapi jika ada sedikit saja kejanggalan, ia setidaknya akan mendapat sanksi administratif atau surat peringatan. Itu akan tercatat dalam berkas kepegawaiannya, dan saat Badan Kepegawaian melakukan evaluasi jabatan, namanya pasti akan langsung dicoret dari daftar promosi.

​"Siap! Siap! Mohon maaf, Ibu Wakil Bupati. Mohon tenang, saya akan segera menangani masalah ini secara pribadi dan melaporkan hasilnya kepada Ibu sesegera mungkin," ujar Wendy dengan nada gemetar dan penuh ketakutan.

​"Baik, aku tunggu laporannya. Jika hasilnya tidak memuaskan, kamu tahu sendiri konsekuensinya." Tanpa menunggu jawaban Wendy, Ratna langsung memutus sambungan telepon.

​Wendy tentu tidak berani menaruh dendam pada Ratna. Saat ini, tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat dingin. Tangannya gemetar saat menyeka kening dengan tisu. Ia tahu betul bahwa operasi malam ini adalah ulah kepala unit operasional di lapangan, Aji. Hanya orang itu yang punya wewenang dan keberanian untuk mengambil keputusan sepihak seperti ini. Petugas biasa tidak akan mungkin—dan tidak akan berani—melakukannya tanpa perintah.

​"Sialan, aku sudah curiga ada yang tidak beres dengan orang itu hari ini. Dia tidak akan pernah turun memimpin tim sendiri kecuali ada tugas khusus dari atasan atau pesanan orang lain. Sepertinya dia sengaja membuat masalah untukku lagi," gumam Wendy dengan wajah asen.

​Setelah berpikir sejenak, Wendy berkata dengan suara berat kepada salah satu staf di dekatnya, "Uus, turun sekarang juga! Perintahkan unit derek untuk mengembalikan semua mobil yang diangkut dari Titanium Entertainment ke tempat semula. Pastikan semuanya balik tepat seperti saat mereka dibawa. Kalau ada yang bertanya, katakan itu perintah langsung dariku."

​Melihat Uus hendak bergegas pergi, Wendy menahan sejenak dan menambahkan, "Kalau ada atasan atau pihak lain yang bertanya kenapa operasi dihentikan, katakan saja bahwa ini adalah instruksi langsung dari Wakil Bupati, Ibu Ratna."

​"Dimengerti, Pak." Uus mengangguk patuh dan segera keluar.

​Menatap punggung Uus yang menjauh, kilatan kejam muncul di mata Wendy. Ia bergumam pelan, "Aji! Kita memang tidak pernah akur sejak dulu. Mari kita lihat bagaimana kamu bisa lolos dari kemarahan Ibu Ratna kali ini. Hmph!"

......................

​Setelah urusan di Titanium mereda dan botol-botol minuman mulai kosong, para sahabat itu pun membubarkan diri. Yudha mengajak Yasmin masuk ke dalam mobilnya. Sambil menatap wajah Yasmin yang kian hari tampak kian menawan di bawah temaram lampu jalan, Yudha membatin kagum. Bagaimana bisa ia tidak menyadari sebelumnya bahwa Yasmin memiliki kecantikan yang begitu klasik? Sepertinya benarlah kata orang, cinta bisa membuat aura seseorang semakin bersinar.

​Tak kuasa menahan dorongan di hatinya, Yudha memutar tubuh Yasmin, menatap dalam-dalam sepasang matanya yang bening bak telaga, lalu beralih ke bibirnya yang kemerahan. Ia berbisik lembut, "Min, kamu kangen nggak sama aku?"

​Melihat bibir yang menggoda, kulit seputih salju, dan rambut hitam panjang yang terurai, pertahanan Yudha runtuh. Ia menarik tengkuk Yasmin dan menciumnya dengan penuh gairah. Dalam dekapan emosi itu, Yasmin tak kuasa menolak; ia melingkarkan lengannya di leher Yudha, membalas setiap kecupan hangat di dalam keheningan kabin mobil. Tangan Yudha mulai menjelajah dengan lembut, merasakan tekstur yang halus dan kenyal, membuat napas keduanya kian memburu.

​"Mmm..." lenguh Yasmin pelan.

​Suara itu seolah menjadi bensin bagi api gairah Yudha. Tak butuh waktu lama, suasana di dalam mobil Mercedes itu pun dipenuhi dengan kemesraan yang membara.

​Setelah mengantarkan Yasmin pulang, pikiran Yudha tiba-tiba tertuju pada Mbak Ratna. Wanita itu sudah sangat banyak membantunya malam ini, dan ia merasa belum mengucapkan terima kasih dengan layak. Ia pun segera merogoh ponsel dan mendial nomor sang Wakil Bupati.

​Panggilan itu dijawab hampir seketika.

​"Yudha sayang, urusanmu sudah beres, kan? Kamu menelepon bukan karena ada masalah lagi, kan?" suara Ratna terdengar sangat lembut di seberang sana, mirip seperti suara kakak perempuan yang sangat perhatian.

​"Mbak, aku ingin berterima kasih secara langsung. Mbak ada waktu?" tanya Yudha tiba-tiba.

​Keheningan sempat menyapa di ujung telepon setelah Yudha mengucapkan kalimat itu. Beberapa saat kemudian, Ratna menjawab, "Yudha, bagaimana kalau kamu datang ke rumahku saja? Mbak tidak tahu apakah ini nyaman buatmu... Kalau iya, nanti Mbak tunggu di depan."

​Yudha sempat ragu sejenak, namun ia segera mengiyakan. Setelah mengonfirmasi lokasi, Yudha memacu mobilnya menuju Perumahan Citra Pesona. Itu adalah kawasan hunian paling elite di Bandung; orang tanpa kekayaan yang melimpah hanya bisa bermimpi untuk memiliki rumah di sana. Meskipun bukan kawasan ekonomi khusus, harga tanah di sana sudah melambung tinggi karena ulah para pengembang. Mengetahui Mbak Ratna tinggal di sana, Yudha sedikit terkejut, namun ia maklum mengingat jabatan tinggi yang disandang wanita itu.

​Yudha tiba di gerbang kompleks, di mana Mbak Ratna sudah menunggu. Wanita itu tampak terkejut melihat Yudha turun dari mobil Mercedes mewah. Tatapannya pada Yudha tampak penuh selidik namun dihiasi senyum tipis yang menggoda.

​"Mbak tidak menyangka, adikku yang satu ini ternyata tidak suka pamer!" ujar Ratna sambil tersenyum menatap Yudha.

​​"Hehe, ini cuma pinjam punya teman, Mbak," jawab Yudha santai sambil nyengir.

​"Oh begitu," Ratna hanya menanggapi singkat tanpa bertanya lebih lanjut.

​Yudha mengekor di belakang Mbak Ratna masuk ke dalam rumahnya. Sepertinya wanita itu tinggal sendirian. Interior rumahnya didekorasi dengan sangat elegan; perpaduan warna dan elemen di dalamnya menciptakan atmosfer yang sangat nyaman. Setelah Yudha duduk, Ratna masuk ke kamar dan kembali dengan pakaian yang jauh lebih santai. Terusan longgar dengan kerah rendah itu samar-samar memperlihatkan kulitnya yang putih mulus dan garis leher yang menggoda, menambah aura kecantikan yang tak tertandingi. Yudha berusaha keras untuk tetap sopan, namun secara naluriah, matanya sulit berpaling dari pesona wanita dewasa di depannya.

​"Yudha, kamu mau minum?" tanya Ratna tiba-tiba sambil mengeluarkan sebotol red wine dan dua gelas kristal.

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!