NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 3: Fondasi

Pagi itu datang lebih terang dari sebelumnya.

Kabut yang biasanya menggantung rendah kini telah menipis, tersibak oleh cahaya matahari yang menembus kanopi hutan dengan lebih berani. Udara masih sejuk, namun tidak lagi menggigit. Embun di ujung daun perlahan jatuh, satu per satu, seperti sisa-sisa malam yang enggan benar-benar pergi.

Waktu telah berlalu.

Tidak banyak—namun cukup untuk meninggalkan perubahan kecil yang hanya bisa dirasakan, bukan dilihat.

Di depan gubuk yang sama, di tempat yang sama, Grachius kembali duduk bersila.

Namun kali ini… berbeda.

Punggungnya tegak, namun tidak kaku.

Tangannya terletak ringan di atas lutut, tidak lagi mencengkeram.

Napasnya… stabil.

Naik.

Turun.

Tanpa tergesa.

Tanpa dipaksa.

Matanya terpejam, namun alisnya tidak lagi mengerut.

Tidak ada keluhan yang keluar.

Tidak ada gerakan gelisah.

Ia hanya… diam.

Dan dalam diam itu, sesuatu bergerak.

Bukan di luar.

Di dalam.

Qi.

Tipis, seperti sebelumnya.

Namun kini… lebih mudah dirasakan.

Tidak lagi seperti sesuatu yang harus dicari.

Melainkan sesuatu yang… sudah ada.

Grachius tidak mencoba menggenggamnya.

Tidak mencoba mengarahkannya.

Ia hanya menyadarinya.

Seperti seseorang yang akhirnya menyadari keberadaan napasnya sendiri—sesuatu yang selalu ada, namun jarang diperhatikan.

Dan karena itu…

Aliran kecil itu tetap ada.

Tidak putus.

Tidak menghilang.

Di kejauhan, Purus berdiri di bawah bayangan pohon tua.

Ia tidak mendekat.

Tidak berbicara.

Tatapannya tenang, namun lebih dalam dari biasanya.

Ia memperhatikan.

Bukan hanya apa yang dilakukan Grachius—

melainkan bagaimana ia melakukannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak anak itu mulai berlatih…

tidak ada gangguan.

Tidak ada dorongan yang berlebihan.

Tidak ada usaha untuk “mendapatkan”.

Hanya… keberadaan.

Beberapa saat berlalu.

Angin bergerak pelan, menggeser dedaunan di atas mereka.

Cahaya matahari bergeser sedikit.

Dan saat itu—

Purus melangkah maju.

“Cukup.”

Satu kata itu memecah keheningan.

Grachius membuka matanya perlahan.

Tidak terkejut.

Tidak terganggu.

Ia menoleh.

“Kenapa?”

Purus berdiri di depannya.

“Kau sudah memahami dasarnya.”

Grachius berkedip.

Lalu wajahnya perlahan berubah.

Bukan bingung.

Melainkan… antusias.

“Berarti aku bisa lanjut ke tahap berikutnya?”

Nada suaranya naik sedikit, penuh harap.

Purus menatapnya beberapa saat.

Lalu—

“Belum.”

Satu kata itu jatuh tanpa penjelasan.

Dan cukup untuk membuat ekspresi Grachius berubah.

“Kenapa?”

Nada suaranya tidak lagi penuh harap.

Sedikit kecewa.

“Bukannya kau bilang aku sudah memahami?”

“Memahami bukan berarti menguasai.”

Grachius menghela napas kesal.

“Bedanya apa? Aku bisa merasakannya sekarang. Itu berarti aku sudah bisa, kan?”

Purus tidak langsung menjawab.

Ia duduk di hadapan Grachius, menatapnya sejajar.

“Kalau kau bisa berdiri di atas satu kaki selama beberapa detik… apakah itu berarti kau sudah menguasai keseimbangan?”

Grachius terdiam.

“Kalau kau bisa melakukannya sekali...”

“...itu kemampuan.”

Ia berhenti sejenak.

“Kalau kau bisa melakukannya tanpa berpikir… itu penguasaan.”

Grachius menatap tangannya sendiri.

“Jadi… yang tadi itu hanya kebetulan?”

“Bukan.”

Purus menggeleng pelan.

“Itu langkah.”

“Lalu kenapa tidak lanjut saja?”

“Karena langkah yang tidak stabil hanya akan membuatmu jatuh lebih cepat.”

Hening.

Grachius tidak langsung membalas.

Ia menggigit bibirnya pelan.

“Aku merasa sudah lebih baik.”

“Dan itu benar.”

Purus tidak menyangkal.

“Namun perasaan bukan ukuran yang bisa kau pegang.”

Grachius mengangkat kepalanya.

“Lalu apa?”

Purus menatapnya.

“Pengulangan.”

Satu kata.

Sederhana.

Namun berat.

“Latihan yang sama. Lagi. Dan lagi.”

Grachius menghela napas panjang.

“Itu membosankan.”

“Memang.”

Purus tidak mencoba memperhalusnya.

“Namun semua yang bertahan lama… selalu dimulai dari sesuatu yang membosankan.”

Grachius menjatuhkan bahunya.

“Jadi aku harus terus seperti ini?”

“Untuk sekarang.”

Purus mengangguk.

“Fondasi mu belum lengkap.”

Grachius mengerutkan kening.

“Fondasi?”

“Mediasi.”

“Sudah.”

“Qi.”

“Sudah.”

Purus menatapnya.

“Pengendalian Qi.”

Grachius terdiam.

Ia tahu.

Bagian itu… belum.

Ia bisa merasakannya.

Namun tidak bisa mempertahankannya.

Tidak bisa mengarahkannya.

Tidak bisa melakukan apa pun selain… menyadari.

“...Aku mengerti.”

Nada suaranya pelan.

Tidak lagi membantah.

Purus mengangguk sekali.

“Bagus.”

Hening sejenak.

Lalu—

“Sekarang, mandi.”

Grachius mengangkat kepalanya dengan cepat.

“...Apa?”

“Air sungai.”

Purus berdiri.

“Tubuhmu juga perlu belajar.”

Grachius menatapnya, sedikit tidak percaya.

“Serius?”

Purus tidak menjawab.

Ia hanya mulai berjalan.

Grachius mendesah.

Namun tetap berdiri dan mengikuti.

...—...

Sungai itu tidak jauh dari gubuk.

Airnya jernih, mengalir di antara bebatuan besar yang tertutup lumut hijau. Cahaya matahari memantul di permukaannya, menciptakan kilau-kilau kecil yang bergerak mengikuti arus.

Suara air mengalir… menenangkan.

Namun juga—

Dingin.

Grachius berdiri di tepi sungai, menatap air itu dengan ekspresi ragu.

“...Ini dingin.”

Purus berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Ya.”

“Dingin sekali.”

“Ya.”

Grachius menoleh.

“Dan kau ingin aku masuk ke sana?”

“Ya.”

Grachius menatap air lagi.

Lalu kembali ke Purus.

Lalu ke air lagi.

“Kenapa?”

“Karena itu air.”

“...Itu bukan alasan.”

“Tidak semua hal butuh alasan.”

Grachius menghela napas panjang.

“Kau tidak pernah masuk, bukan?”

Purus tidak menjawab.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Grachius menggerutu pelan.

Lalu perlahan melepas pakaiannya.

Ia memasukkan satu kaki ke dalam air—

“Dingin!”

Ia langsung menariknya kembali.

“Ini bukan air, ini es!”

Purus tetap diam.

Grachius menatapnya, berharap ada reaksi.

Tidak ada.

“Baiklah…”

Ia menarik napas.

Lalu, dengan ekspresi seolah akan melompat ke dalam jurang—

ia masuk.

“DINGIN!”

Air memercik ke mana-mana.

Grachius hampir terpeleset, namun berhasil menjaga keseimbangan.

Tubuhnya gemetar.

“Kenapa harus sedingin ini?!”

Purus tetap berdiri, tidak bergerak.

Grachius menggertakkan giginya.

“Ini tidak masuk akal…”

Namun perlahan—

napasnya mulai teratur.

Tubuhnya mulai menyesuaikan.

Dingin itu… tidak lagi menusuk seperti sebelumnya.

Masih ada.

Namun tidak menyakitkan.

Ia berdiri diam di tengah aliran air.

Matahari menyentuh permukaan sungai.

Angin bergerak pelan.

Dan tanpa ia sadari—

ia berhenti mengeluh.

Matanya perlahan terpejam.

Napasnya…

naik.

Turun.

Air mengalir di sekelilingnya.

Menyentuh kulitnya.

Mengalir melewati kakinya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak hanya merasakan dirinya sendiri.

Ada sesuatu yang lain.

Di luar dirinya.

Halus.

Namun ada.

Grachius tidak mencoba memahami.

Tidak mencoba menangkap.

Ia hanya… merasakan.

Dan sesuatu itu…

tidak hilang.

Purus memperhatikan dari kejauhan.

Matanya sedikit menyempit.

Tidak karena curiga.

Melainkan karena… pengamatan.

“...Terlalu cepat.”

Gumamnya pelan.

Grachius masih berdiri di air.

Diam.

Tenang.

Seolah dunia di sekitarnya tidak lagi terpisah darinya.

Qi dalam dirinya…

dan sesuatu di luar—

tidak terasa berbeda.

Hanya… mengalir.

Namun seperti sebelumnya—

saat kesadaran itu muncul—

ia mencoba sedikit memahami—

Dan—

semuanya hilang.

Grachius membuka matanya.

“...Eh?”

Ia menatap sekeliling.

Lalu menunduk ke air.

“Apa itu tadi…?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara sungai.

Ia berdiri beberapa detik lagi.

Lalu—

“Baiklah, cukup!”

Ia keluar dari air dengan cepat.

“Ini tetap dingin!”

Ia menggigil, mencoba mengeringkan dirinya.

Ekspresinya kembali seperti biasa—

seorang anak yang kesal karena hal sederhana.

Purus tidak berkata apa-apa.

Namun tatapannya tidak berubah.

Ia telah melihat cukup.

Grachius mengenakan kembali pakaiannya, masih menggerutu pelan.

“Aku tidak tahu kenapa ini bagian dari latihan.”

Purus berjalan mendekat.

“Karena kau tidak hanya hidup di dalam dirimu.”

Grachius menoleh.

“...Maksudnya?”

Purus tidak menjawab langsung.

Ia hanya menatap sungai.

Lalu kembali berjalan.

Grachius menatap punggungnya.

Masih bingung.

Namun kali ini—

tidak bertanya.

Ia hanya mengikuti.

...—...

Matahari kini lebih tinggi.

Cahaya menyinari hutan dengan lebih terang.

Burung-burung mulai bersuara.

Dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Namun sesuatu telah berubah.

Kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun nyata.

Grachius berjalan di belakang Purus, sesekali mengibaskan rambutnya yang masih sedikit basah.

“Besok aku tidak mau mandi di sana lagi.”

“Besok kau akan masuk lebih cepat.”

“Tidak akan.”

“Ya.”

“Tidak.”

“Ya.”

Grachius mendesah.

Namun kali ini, ada sedikit senyum di wajahnya.

Langkahnya lebih ringan.

Lebih tenang.

Dan di dalam dirinya—

sesuatu yang kecil itu…

tidak lagi terasa asing.

Purus tidak menoleh.

Namun ia tahu.

Langkah itu—

meskipun kecil—

akan membawa perubahan yang tidak kecil.

Dan dunia…

masih belum menyadarinya.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!