Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 6. Selimut Dusta
Ganis duduk di kursi taman yang berada di depan rumah. Sembari menikmati suasana sore hari yang cukup membuat hatinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Hati yang sebelumnya diselimuti oleh prasangka buruk, perlahan coba ia lepaskan. Ia memilih untuk mendengarkan langsung penjelasan dari sang suami daripada ia terlalu banyak berspekulasi.
Tak berselang lama sebuah mobil SUV warna hitam memasuki halaman dan setelahnya muncullah Krisna dari balik kemudi.
"Sore Sayang, aku pulang!" ucap Krisna mencoba membuka pembicaraan dengan sang istri.
Ganis tersenyum. Ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendekat, ia raih punggung tangan Krisna dan ia kecup lembut.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini Mas? Lancar?" tanya Ganis menyambut kepulangan sang suami.
"Alhamdulillah lancar semua Sayang. Bahkan mulai hari ini ada online shop baru yang menggunakan ekspedisi kita untuk pengiriman barangnya."
"Syukur alhamdulillah kalau begitu Mas. Oh iya apa perlu aku siapkan air hangat untuk kamu mandi?" tanyanya menawarkan.
Krisna menggelengkan kepala sebagai satu isyarat jika ia sedang tidak ingin mandi memakai air hangat.
"Cuaca siang ini panas sekali Sayang. Aku mau mandi pakai air dingin saja biar segar."
"Baiklah kalau begitu Mas. Cepat mandi gih. Aku buatkan cokelat panas agar rasa lelahmu segera hilang."
Krisna menarik lengan tangan Ganis untuk ia bawa ke dalam pelukan. Ia berikan kecupan lembut di keningnya.
"Terima kasih Sayang. Aku sungguh sangat bersyukur memiliki seorang istri sepertimu."
Ganis tersenyum tipis. Entah mengapa untuk saat ini mendengar pujian sang suami tidak terlalu membuatnya bahagia. Masih ada hal yang mengganjal dalam hati tentang selembar foto USG yang ia temukan tadi pagi yang sampai saat ini jawabannya masih belum ia dapati.
"Terima kasih banyak Mas," ucap Ganis mengakhiri obrolannya dengan sang suami sebelum akhirnya keduanya sama-sama masuk ke dalam untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.
Entah jawaban apa yang akan aku terima, setidaknya aku harus tahu perihal foto USG itu. Aku tidak ingin jika pernikahan yang sudah aku bangun selama sepuluh tahun ini diselimuti oleh dusta dari orang yang aku percaya.
****
"Mas, lagi santai?"
Ganis menyusul Krisna yang tengah duduk di ruang tengah. Dari kejauhan lelaki itu nampak sibuk dengan ponsel yang ada di tangan dengan cokelat panas dan cookies yang terhidang di atas meja.
Aktivitas Krisna terhenti kala sang istri mendekat ke arahnya. Ia tersenyum simpul sembari menepuk-nepuk sofa yang masih kosong di sisinya. Sebagai tanda jika lelaki itu mempersilakan sang istri untuk duduk di sampingnya.
"Tidak Sayang. Kemarilah, duduk di sini!"
Ganis menurut. Ia daratkan bokongnya di samping sang suami.
"Kenapa istriku ini? Kok sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran?" Krisna mengangkat dagu Ganis kemudian ia berikan kecupan lembut di bibir. "Ada apa Sayang?"
Ganis tersenyum sumbang. Hatinya terasa begitu bergejolak, seakan begitu takut untuk mendengar jawaban apa yang akan diberikan oleh sang suami. Kali ini ia benar-benar harus mempersiapkan hati untuk menerima apapun kenyataannya.
Ganis mengambil foto USG yang ia simpan di dalam saku baju yang ia kenakan. Ia pun memperlihatkan foto USG itu di depan mata Krisna.
"Ini foto USG milik siapa Mas? Aku menemukan ini di saku kemejamu."
Kedua bola mata Krisna terbelalak sempurna melihat apa yang ditunjukkan oleh Ganis diiringi dengan jantung yang berdegup kencang seperti seorang pencuri yang ketahuan.
Astaga... kenapa aku bisa teledor seperti ini sih? Aku sampai lupa untuk menyimpan foto USG milik Dinda di tempat yang aman. Tenang Krisna, kamu harus tenang. Jika kamu gugup maka semua akan terbongkar.
Krisna tersenyum simpul, berusaha sekuat mungkin untuk menutupi kegugupan yang ia rasakan juga degup jantung yang tiada beraturan. Kali ini ia harus cepat-cepat mencari jawaban yang terdengar masuk akal.
"Oh itu foto USG milik istri Arya, Sayang. Arya itu salah satu orang kepercayaanku di Magelang. Kenapa foto USG itu bisa ada di saku kemejaku? Ceritanya sedikit panjang Sayang. Mau aku ceritakan?"
Dahi Ganis berkerut dalam. Ia seakan kurang bisa menerima jawaban yang diberikan oleh sang suami. Namun ia berusaha untuk mencerna dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Krisna.
"Memang ada cerita apa Mas?"
Krisna tersenyum manis. Dalam situasi seperti ini ia bangga pada dirinya sendiri karena mendapatkan sebuah ide yang cukup cemerlang. Ia yakin jika rahasia yang ia sembunyikan bisa tetap aman.
"Jadi gini Sayang, pas hari apa ya itu, aku lupa. Arya izin untuk mengantar istrinya ke dokter kandungan. Nah setelah itu, dia kembali lagi ke kantor. Di kantor ia memberikan foto USG itu kepadaku. Katanya biar cepat nular, karena dia tahu kalau sampai saat ini kita masih belum punya keturunan. Dia bilang suruh sholawatin biar aku bisa cepat dapat keturunan juga."
Ganis mencoba mencerna setiap apa yang keluar dari mulut Krisna. Ingin rasanya ia mempercayai namun tidak bisa ia lakukan begitu saja. Masih terbesit rasa tak percaya yang bercokol di hati. Ganis terdiam tak memberikan respon apapun.
"Kamu tidak percaya Sayang?" tanya Krisna memastikan. "Kalau kamu tidak percaya biar aku hubungi Arya. Kamu bisa tanya langsung kepadanya."
Ganis menatap lekat manik mata Krisna sebagai pertanda jika ia menyetujui apa yang ditawarkan oleh sang suami.
Krisna mencari nama Arya di fitur kontak yang ada di ponselnya. Tak berselang lama, sambungan video call tersambung kepada Arya.
"Malam Pak..." sapa Arya.
"Malam Ar, ada di mana kamu?"
"Masih ada di kantor Pak, kenapa? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Ini Ar, istriku ingin ngobrol sebentar sama kamu."
Krisna mengarahkan kameranya ke arah Ganis. Hingga kini Ganis bisa melihat wajah Arya untuk pertama kalinya. Ganis merasa kikuk sendiri. Namun ia sadar ada hal yang harus dibuat terang benderang sehingga tidak menimbulkan prasangka-prasangka buruk dalam rumah tangganya.
"Ayo Sayang, bicaralah. Semoga jawaban dari Arya bisa membuat hatimu lega."
"Malam Mas Arya, maaf mengganggu sebentar."
"Iya Bu, tidak apa-apa. Ada apa ya Bu?"
"Apa benar saat ini istri Mas Arya sedang hamil?" tanya Ganis memulai pembicaraan.
"Betul Bu, istri saya tengah hamil."
"Kalau boleh tahu nama istri mas Arya siapa ya?"
"Dinda Larasati, Bu. Sekarang usia kehamilannya sudah masuk lima bulan."
Ganis melirik ke arah Krisna dan hanya dibalas dengan senyum lebar.
"Apa ada lagi yang ingin Ibu tanyakan? Kalau tidak, saya ingin melanjutkan pekerjaan saya. Masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai."
"Oh silakan dilanjutkan Mas. Maaf sudah mengganggu waktunya."
"Tidak apa-apa Bu."
"Ya sudah Ar, silakan kamu lanjutkan pekerjaanmu. Kalau sudah selesai langsung pulang, kasihan istrimu sudah menunggu di rumah," timpal Krisna.
"Siap Pak!"
Video call itupun berakhir, menyisakan Krisna dan Ganis yang sama-sama terdiam.
"Bagaimana Sayang? Apa masih ada keraguan dalam hatimu setelah mendengar jawaban dari Arya?" tanya Krisna memecah keheningan yang ada.
Dada Ganis terasa bergemuruh. Hampir saja ia larut dalam prasangka-prasangka buruk tentang suaminya yang mungkin bisa menjadi awal kehancuran rumah tangga yang sudah ia bangun. Matanya memanas, hidungnya kembang kempis menahan tangis. Hingga ia pun memeluk tubuh Krisna dengan erat.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku karena sudah berburuk sangka kepadamu."
Krisna mengusap-usap punggung Ganis. "Tidak apa-apa Sayang. Sekarang kamu percaya kan kalau aku tidak mungkin melakukan hal yang akan menghancurkan rumah tangga kita?"
Ganis menganggukkan kepala. "Iya Mas, aku percaya. Maafkan aku."
"Sssttttt.... sudah Sayang, tidak perlu dibahas lagi ya. Yang terpenting saat ini tidak ada hal yang mengganjal di hatimu."
Ganis terdiam. Ia hanya mengeratkan pelukannya di tubuh Krisna sebagai isyarat permintaan maaf karena sudah berburuk sangka dan berpikir yang tidak-tidak terhadap suaminya.
Fiiuuuuhhhh.... Untungnya aku sudah mempersiapkan ini sejak awal. Karena hanya Arya lah satu-satunya orang yang tahu bahwa aku sudah menikah lagi. Dan hanya dia yang bisa aku ajak kerjasama sejak awal jika sampai hal-hal semacam ini terjadi.
.
.
.