Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Foto Lama
Malam semakin larut, namun mata Arga sama sekali tidak terasa mengantuk. Pikirannya terus menerus berputar mengingat perkataannya sendiri tadi.
"Rahasia besar yang belum terungkap..."
Arga bangkit dari duduknya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Ia membuka lemari tua yang sudah ada sejak dulu, lalu mengambil sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di bagian paling bawah. Kotak itu berisi barang-barang peninggalan ayahnya yang sudah meninggal dunia bertahun-tahun lalu.
Dengan hati-hati, Arga membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa surat, kunci tua, dan sebuah foto berbingkai kayu yang sudah agak memudar.
Foto itu menampilkan dua orang pria yang sedang tertawa bahagia. Salah satunya adalah ayahnya, Bapak Surya. Dan pria satunya lagi...
Mata Arga membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.
"Siapa itu, Mas?"
Suara Clara mengejutkannya. Wanita itu sudah berdiri di belakangnya sambil mengucek mata, terbangun karena menyadari suaminya tidak ada di samping.
Arga menoleh, wajahnya terlihat kaget dan bingung. Ia menyerahkan foto itu kepada Clara.
"Kau kenal pria ini kan, Clara?" tanya Arga terbata-bata.
Clara mengambil foto itu, lalu menatapnya dengan seksama. Matanya membesar tak percaya.
"Ya ampun... Ini... ini Kakekku! Kakek Richard!" seru Clara kaget. "Tapi... kenapa Kakek ada di foto ini bareng Ayahmu, Mas?"
"Itulah yang jadi pertanyaan besar selama ini," jawab Arga pelan. "Aku tidak pernah tahu kalau Ayahku mengenal Kakekmu. Selama ini aku pikir Ayahku cuma mekanik biasa yang hidup sederhana."
Clara memandangi foto itu dengan takjub. "Kakek sering cerita kalau dia punya sahabat baik masa muda yang sangat dia hormati dan sayangi. Kakek bilang sahabatnya itu orang paling jujur dan pandai sekali soal mesin. Tapi Kakek bilang mereka kehilangan kontak bertahun-tahun lalu."
"Ternyata sahabat itu Ayahku..." gumam Arga. "Tapi kenapa Ayah tidak pernah cerita sedikitpun padaku?"
Arga lalu merogoh bagian paling dalam kotak itu, menemukan sebuah amplop cokelat tua yang tertulis "Untuk Anakku, Arga. Buka jika kau sudah siap."
Dengan tangan gemetar, Arga membuka amplop itu dan membaca isinya. Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat dan matanya semakin terbelalak.
"Mas... isinya apa?" tanya Clara cemas melihat perubahan wajah suaminya.
Arga menelan ludah susah payah, lalu menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.
"Clara... Ternyata bengkel ini... tanah ini... dulunya adalah milik bersama Ayahku dan Kakekmu. Mereka mendirikannya bersama-sama saat masih muda."
"Lalu kenapa jadi milik Ayahmu sendirian?"
"Karena Kakekmu memutuskan untuk fokus mengembangkan bisnis keluarganya di bidang lain, dan dia menyerahkan seluruh hak tanah dan bengkel ini sepenuhnya kepada Ayahku sebagai tanda persahabatan mereka," jelas Arga. "Tapi... ada satu hal yang lebih mengejutkan."
"Apa itu?"
"Ayahku menulis di sini... Bahwa dia meninggal bukan karena sakit biasa... tapi karena kecelakaan yang tidak wajar. Dia curiga ada pihak yang sengaja ingin mengambil alih tanah ini karena letaknya yang sangat strategis."
Mata Clara terbelalak. "Jangan bilang... yang melakukan itu..."
"Dan di sini juga tertulis nama orang yang dipercayai Ayah untuk menjaga kami kalau terjadi sesuatu," tangan Arga menunjuk ke sebuah nama di kertas itu.
Tuan Leonard.
"Jadi... Om Leonard sudah kenal Ayahmu sejak lama?" tanya Clara.
"Iya. Dan kemarin saat dia membantu kita begitu mudahnya... bukan karena kebetulan atau hanya karena sayang padamu, Clara. Tapi karena dia menepati janji lama pada sahabatnya... ayahku."
Dunia seakan berputar di kepala mereka. Semua kejadian yang mereka alami belakangan ini—mulai dari pertemuan yang tak disengaja, bantuan Tuan Leonard, sampai niat jahat Tuan Wijaya—ternyata memiliki benang merah yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
"Jadi... kita ini ditakdirkan untuk bertemu ya, Mas?" bisik Clara terharu. "Bukan cuma karena kontrak, tapi karena ikatan persahabatan orang tua kita juga."
Arga memeluk istrinya erat-erat. "Iya Sayang. Kita ditakdirkan. Dan sekarang aku mengerti kenapa Tuhan mempertemukan kita. Bukan cuma untuk saling mencintai, tapi juga untuk menyelesaikan apa yang belum selesai dari masa lalu."
"Kita akan ungkap semua kebenarannya ya Mas? Kita akan buktikan kalau Ayahmu tidak mati sia-sia," ucap Clara tegas.
"Ya. Kita akan lakukan bersama-sama. Dan kali ini, kita tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga diri kita lagi," jawab Arga mantap.
Malam itu, mereka tidak hanya merasa seperti suami istri, tapi juga seperti partner yang siap membongkar misteri besar demi kebenaran.