"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: BIAYA PENGOBATAN PALING MAHAL
Sinar matahari pagi menembus celah-celah atap daun emas pondok Alurra, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas wajah Nael. Pria itu perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan luar biasa yang melingkari tubuhnya.
Nael menunduk. Ia hampir saja tersedak napasnya sendiri saat menyadari Alurra—si bidadari aneh yang kemarin menghancurkan pistol dengan tangan kosong—sedang tidur meringkuk di sampingnya, memeluk lengannya seperti memeluk guling kesayangan.
Nael mencoba menarik tangannya dengan sangat perlahan. Ia tidak ingin membangunkan "singa betina" yang bisa berubah menjadi monster sakti dalam sekejap itu. Namun, baru saja ia bergeser dua sentimeter, pelukan itu justru semakin mengencang.
"Mau kabur ke mana, Pangeranku?" gumam Alurra dengan suara serak khas bangun tidur.
Mata Alurra terbuka sedikit, menatap Nael dengan tatapan mengantuk namun tajam. Ia kemudian bangkit duduk, meregangkan tubuhnya hingga tulang punggungnya berbunyi krek, lalu menatap Nael dengan senyum nakal yang lebar.
"Selamat pagi, Sayang! Tidurmu nyenyak, kan? Pasti nyenyak, soalnya kamu tidur di samping bidadari tercantik sejagat raya," cerocos Alurra tanpa malu.
Nael hanya bisa menatapnya datar. Ia menunjuk ke arah pintu, lalu menunjuk ke arah luka di bahunya yang kini benar-benar telah hilang tanpa bekas. Ia ingin memberi isyarat bahwa ia sudah sehat dan harus pergi.
"Eits! Jangan buru-buru," Alurra menahan dada Nael dengan telunjuknya. "Luka fisikmu memang sudah sembuh karena sihirku. Tapi jiwamu? Wah, jiwamu itu masih hitam-biru, Nael. Berantakan sekali."
Alurra bangkit berdiri, berjalan menuju sudut ruangan dan mengambil sebuah mangkuk kayu berisi buah-buahan yang bentuknya aneh—berwarna ungu neon dan bersinar redup.
"Ayo makan ini. Ini namanya Buah Penyejuk Sukma. Di langit, dewa-dewa harus antre seribu tahun cuma buat mencicipi satu gigitan," Alurra menyodorkan buah itu ke mulut Nael.
Nael menggeleng. Ia menutup mulutnya rapat-rapat. Buah itu terlihat seperti zat radioaktif baginya. Ia curiga ini adalah ramuan cinta atau sesuatu yang aneh.
"Nael... jangan membuatku kasar, ya," suara Alurra mendadak rendah, matanya berkilat ungu. "Aku sudah capek-capek memetik ini dari pohon dimensi, masa kau tolak? Ayo, buka mulutmu!"
Nael tetap bersikukuh. Ia menulis di meja kayu dengan jarinya yang gemetar: "TIDAK MAU. TERLIHAT BERBAHAYA."
"Berbahaya? Hei! Aku ini dokter paling hebat! Kalau aku mau membunuhmu, sudah aku lakukan kemarin saat kau bersimbah darah!" Alurra mulai kehilangan kesabaran "bar-bar"-nya.
Tanpa aba-aba, Alurra menjepit rahang Nael dengan satu tangan—kekuatannya luar biasa—dan dengan tangan lainnya, ia menjejalkan sepotong buah itu ke dalam mulut Nael.
"Makan! Telan! Jangan dibuang!" perintah Alurra agresif.
Nael terpaksa mengunyah. Matanya membelalak. Rasa buah itu... luar biasa. Seperti perpaduan madu, embun pagi, dan rasa damai yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. Seketika, rasa sesak di dadanya akibat trauma masa lalu terasa sedikit lebih ringan. Tubuhnya yang lemas mendadak bugar kembali.
Alurra yang melihat ekspresi terkejut Nael langsung tertawa penuh kemenangan. "Enak, kan? Makanya, jangan sok tahu di depan bidadari!"
Nael menunduk, merasa sedikit malu karena telah berprasangka buruk. Ia menulis lagi: "TERIMA KASIH. BERAPA SAYA HARUS BAYAR?"
Membaca tulisan itu, Alurra langsung menghentikan tawanya. Ia mendekati Nael, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah pria itu. Aroma mawar surgawi dari tubuh Alurra membuat Nael sulit berkonsentrasi.
"Bayar? Kau pikir aku ini dokter mata duitan di duniamu itu?" Alurra menyeringai licik. "Aku tidak butuh kertas-kertas bergambar orang tua yang kalian sebut uang."
Alurra menunjuk pipinya sendiri yang putih mulus.
"Setiap pagi, setelah aku memberimu pengobatan surgawi, kau harus membayarnya dengan satu ciuman di sini. Itu biaya administrasinya. Kalau keberatan, aku akan mengembalikan luka tembak di bahumu sekarang juga. Mau?"
Nael terpaku. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah hingga ke telinga. Ia adalah seorang CEO dingin yang ditakuti ribuan karyawan, tapi di depan bidadari gemblung ini, ia merasa seperti anak sekolah yang sedang digoda kakak kelasnya.
Nael menggeleng kuat-kuat. Ia menulis: "TIDAK SOPAN. SAYA TIDAK BISA."
"Oh, tidak bisa? Baiklah!" Alurra merentangkan tangannya, cahaya hijau mulai muncul. "Mari kita panggil kembali peluru kemarin ke dalam bahumu—"
Melihat kilatan sihir itu, Nael panik. Ia segera menahan tangan Alurra. Ia menatap Alurra dengan pasrah, seolah sedang menyerahkan nyawanya. Dengan sangat ragu dan pelan, Nael mendekatkan wajahnya, lalu cup—ia mengecup singkat pipi Alurra. Hanya sekejap, namun bagi Nael, rasanya seperti jantungnya mau meledak.
Alurra mematung sejenak, lalu ia meledak dalam tawa girang. Ia memeluk leher Nael dengan sangat erat sampai pria itu hampir sesak napas.
"Aaaa! Pangeranku manis sekali! Bagus, Nael! Dengan begini, kontrak kita resmi dimulai!"
Nael hanya bisa menghela napas panjang dalam keheningan. Ia baru menyadari satu hal: Peluru para pembunuh bayaran mungkin berbahaya, tapi tinggal bersama Alurra jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
...****************...
aku suka namanya Nael ....