Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"
Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Lysander
Brak! Brak! Brak!
Suara gedoran di pintu kayu ek yang tebal itu bergema bagai petir di dalam kamar yang tenang. Keheningan subuh Skyrosia pecah seketika. Di balik pintu itu, suara berat Grand Duke Mendelssohn terdengar penuh amarah, bersahutan dengan nada melengking panik dari Count Felix Davenport.
"Cyprian! Buka pintunya! Kau tidak bisa menyembunyikan gadis itu selamanya setelah kekacauan di katedral!" teriak Grand Duke.
Sybilla (Christina) merasakan jantungnya mencelos, namun saat jemari kasar Cyprian meremas bahunya, sebuah ketenangan asing merambat masuk. Ia melihat pria itu berdiri, merapikan kemeja hitamnya yang kusut, lalu menatap Sybilla dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.
"Ingat," bisik Cyprian, suaranya sedingin es namun menenangkan. "Kau bukan lagi Christina, kau juga bukan Sybilla. Kau adalah pemilik energi Skyrosia. Biarkan mereka melihatnya."
Cyprian melangkah maju, lalu dengan satu gerakan sentakan yang kuat, ia membuka pintu ganda kamar tersebut.
Count Felix dan Grand Duke Mendelssohn nyaris terjerembab masuk. Di belakang mereka, barisan pengawal bersenjata lengkap dan para pendeta bertopeng burung hantu berdiri siaga.
Count Felix tampak berantakan. Jubah kebesarannya miring dan matanya merah karena kurang tidur. "Cyprian! Serahkan dia! Ritual itu gagal total karena ulahnya! Tambang Aethelgard meredup, dan dewan menuntut dia dikembalikan ke ruang penyucian!"
Grand Duke Mendelssohn melangkah maju, wajahnya yang tua namun perkasa menatap putranya dengan murka. "Pulau ini bergoyang sepanjang malam, Cyprian! Rantai Adamant mengerang seolah akan putus! Gadis itu telah merusak keseimbangan dunia kita. Dia harus dieksekusi atau disegel kembali!"
Cyprian tidak mundur satu inci pun. Ia berdiri tegak di depan Sybilla, menutupi sebagian tubuh gadis itu dengan bahunya yang lebar. "Eksekusi?" desis Cyprian, tawanya terdengar hambar dan berbahaya. "Kalian ingin mengeksekusi satu-satunya orang yang saat ini menahan Skyrosia agar tidak jatuh dan hancur berkeping-keping di atas daratan Aethelgard?"
"Apa maksudmu?!" geram Grand Duke.
Sybilla melangkah maju dari balik bayangan Cyprian. Ia tidak lagi menunduk. Ia berjalan dengan punggung tegak, matanya yang ungu kini memancarkan pendar cahaya biru elektrik yang halus sisa sihir katedral yang telah ia jinakkan.
"Ayah," panggil Sybilla pada Count Felix, suaranya tenang namun memiliki nada otoritas yang membuat Felix tersentak mundur. "Dan Anda, Grand Duke yang terhormat."
Sybilla mengangkat tangan kanannya. Tanda cahaya di pergelangan tangannya bersinar terang. Secara instan, seluruh lampu kristal di koridor luar meredup, dan suara deru angin di luar istana mendadak sunyi total, seolah-olah ia baru saja mematikan detak jantung pulau tersebut.
"Ritual itu tidak gagal," ucap Sybilla, suaranya bergema di sepanjang koridor. "Ritual itu berhasil... namun dengan cara yang tidak kalian harapkan. Energi Skyrosia tidak lagi berada di dalam Rantai Adamant atau di dalam altar katedral. Energi itu ada di sini."
Ia menunjuk dadanya sendiri.
"Jika kalian menyentuhku, atau mencoba menyegelku kembali, aku akan melepaskan kendaliku pada Rantai Adamant. Dan kita semua... Aethelgard maupun Skyrosia, akan berakhir menjadi debu di bawah sana."
Keheningan yang mencekam menyelimuti koridor. Para pendeta menjatuhkan tongkat mereka ketakutan. Count Felix jatuh terduduk di lantai, menyadari bahwa putrinya yang dulu penurut kini telah menjadi dewi kematian bagi hartanya.
Cyprian menyeringai tipis, lalu ia berlutut di samping Sybilla. Sebuah gestur tunduk yang disaksikan oleh seluruh penghuni istana.
"Kalian dengar itu?" tanya Cyprian tanpa menoleh. "Sekarang, pergilah. Duchess ingin beristirahat. Dan jika ada yang berani mengetuk pintu ini lagi tanpa izinnya... pedangku tidak akan segan-segan mencari leher kalian."
.
.
.
Pintu besar itu akhirnya tertutup rapat, meninggalkan kesunyian yang berat di dalam kamar. Sybilla menyandarkan punggungnya ke pintu, napasnya tersengal seolah baru saja berlari maraton. Cahaya biru di pergelangan tangannya meredup, namun ia bisa merasakan denyut energi itu masih mengalir, sinkron dengan detak jantungnya.
Ia menatap Cyprian dengan tatapan memohon. "Cyprian... bagaimana jika aku tidak sengaja melepaskannya? Bagaimana jika aku tertidur dan pulau ini jatuh karena aku kehilangan kendali? Katakan padaku ada cara untuk 'mematikan' ini."
Cyprian mendekat, wajahnya tampak suram. "Tidak ada tombol mati, Sybilla. Kekuatan ini bukan lagi alat yang menempel padamu; itu adalah dirimu. Jika kau mati, pulau ini jatuh. Jika kau melepaskannya, pulau ini hancur." Ia meraih tangan Sybilla, menatap tato cahaya itu. "Satu-satunya cara adalah belajar mengendalikannya. Dan kita tidak punya banyak waktu."
Tiba-tiba, pandangan Sybilla memutih. Kepalanya berdenyut hebat. Bukan lagi memori London atau Sybilla asli, melainkan kilasan masa depan yang mengerikan.
Sekta Bayang-Bayang: Di kedalaman Perbatasan Bawah, ribuan jubah hitam berlutut di depan sebuah altar batu yang retak. Mereka merasakan "getaran" energi baru di langit. Mereka tidak lagi menginginkan darah Davenport—mereka menginginkan jantung Sybilla sebagai baterai abadi kegelapan.
Kekuatan Ketiga: Bukan hanya sekte. Di balik kabut, ia melihat bayangan armada kapal perang dengan lambang matahari hitam yang bergerak menuju Skyrosia.
Belum sempat Sybilla menceritakan visinya, suara terompet emas bergema dari pelataran utama istana. Bukan lagi Count atau Grand Duke, kali ini adalah sang pemegang otoritas tertinggi di seluruh negeri. Raja Aethelgard telah tiba, didampingi oleh putra tunggalnya.
Pintu terbuka kembali tanpa ketukan. Kali ini, auranya jauh lebih menekan.
Seorang pemuda melangkah masuk terlebih dahulu. Penampilannya sangat kontras namun mematikan. Rambutnya berwarna perak murni yang disisir rapi ke belakang, namun yang paling mencolok adalah matanya. Sepasang permata Ruby yang merah menyala, tajam, dan tampak haus akan informasi.
"Jadi, ini adalah pengantin yang membuat langit gemetar semalam?" suara pemuda itu halus seperti sutra namun dingin seperti belati.
Cyprian segera berlutut, diikuti oleh Sybilla yang masih bingung. "Hamba memberi salam kepada Pangeran Mahkota Lysander von Valerius dan Yang Mulia Raja."
Lysander berjalan mengelilingi Sybilla, matanya yang semerah darah meneliti setiap jengkal tubuh gadis itu, berhenti tepat pada pergelangan tangan yang bertanda cahaya.
"Menarik," gumam Lysander, jemarinya yang mengenakan cincin segel kerajaan hampir menyentuh dagu Sybilla. "Cyprian, kau bilang dia adalah kunci. Tapi dari apa yang kudengar di koridor tadi, dia lebih seperti bom waktu yang cantik."
Sang Raja, seorang pria tua dengan jubah yang sangat berat oleh permata, berdiri di pintu dengan wajah tanpa ekspresi. "Skyrosia tidak boleh jatuh, tapi kekuasaan sebesar itu tidak boleh berada di tangan seorang gadis berusia empat belas tahun yang 'tidak stabil'. Pangeran Lysander akan tinggal di istana ini selama satu bulan untuk 'mengawasi' perkembanganmu, Sybilla."
Sybilla merasakan bulu kuduknya berdiri. Tatapan Lysander tidak seperti tatapan Cyprian yang protektif. Mata Ruby itu menatapnya seolah ia adalah sebuah eksperimen yang ingin ia bedah.