"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembus
“Darah…?”
Bu Kiran menatap permukaan kasur.
Beberapa tetes darah terlihat mulai mengering di sana.
Sejenak, ia terdiam.
Lalu—senyum perlahan terbit di wajahnya.
Bahkan semakin lama… semakin lebar.
Pikirannya langsung berkelana ke mana-mana.
“Oh…” gumamnya pelan, seolah memahami sesuatu.
Tadinya ia berniat membangunkan Cya—mengingat ia membawa bubur kacang hijau yang dibuatkan oleh pelayan di rumahnya sejak subuh.
Namun niat itu urung.
Sebaliknya, ia kembali merapikan selimut yang menutupi tubuh Cya. Tangannya terulur, mengusap lembut puncak kepala menantunya itu. “Pantas saja kamu belum bangun, Nak…” bisiknya pelan. “Semalam kamu pasti kelelahan melayani suamimu.”
Senyumnya tidak luntur sedikit pun.
Ia benar-benar yakin bahwa malam tadi… adalah malam pertama mereka.
“Semoga kamu cepat hamil…” Bu Kiran mengecup kening Cya dengan penuh kasih, lalu perlahan keluar dari kamar.
Begitu tiba di ruang tamu, Bu Kiran duduk di sofa.
Namun baru beberapa detik—ia mengernyit.
“Loh… Rajendra ke mana?”
Ia baru sadar, putranya tidak ada di kamar.
Masa setelah malam pertama… langsung menghilang?
Pikirannya kembali berjalan liar.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka.
Rajendra masuk. “Loh, Mama…”
Ia tampak terkejut melihat ibunya sudah duduk santai di ruang tamu.
Rajendra segera menghampiri dan mencium punggung tangan Bu Kiran. “Mama kapan datang?”
“Barusan.”
Rajendra mengangguk, lalu bertanya, “Kenapa Mama gak bangunin Cya?”
Bu Kiran langsung tersenyum penuh arti. “Jangan… dia pasti kelelahan karena melayani kamu semalam.”
Rajendra mengernyit.
Ia bukan anak kecil lagi.
Ia tau betul maksud ucapan ibunya.
Namun anehnya—ia memilih diam.
Tidak membantah.
“Lagian kamu dari mana sih?” lanjut Bu Kiran. “Kenapa Cya kamu tinggal sendirian di kamar?”
Rajendra langsung tau—ibunya pasti sudah naik ke atas.
“Aku habis beli sesuatu buat Cya.”
Nada suaranya sedikit canggung.
Ia jelas tidak ingin mengatakan bahwa dirinya baru saja… membeli pembalut.
Bayangan kasir laki-laki tadi yang tersenyum aneh saat ia kebingungan memilih pembalut langsung terlintas di kepalanya.
Bu Kiran malah semakin sumringah. “Ya ampun… Mama senang lihat kamu perhatian sama istri kamu.”
Ia berdiri, lalu menepuk-nepuk pundak Rajendra dengan bangga. “Masih pagi banget, tapi kamu sudah membelikan sesuatu untuk istrimu.”
Rajendra hanya tersenyum tipis, setengah pasrah. “Mama kok datang pagi banget?”
“Mama bosan di rumah. Papa kamu lagi keluar kota, jadi Mama ke sini sekalian jenguk menantu Mama.” Ia menunjuk ke arah dapur. “Tadi Mama juga bawa bubur kacang hijau buat Cya.”
Rajendra langsung bersuara, “Buat aku gak ada?” Nada suaranya terdengar sedikit… iri.
Bu Kiran terkekeh. “Buat kamu juga ada, kok. Tapi jangan dimakan duluan. Tunggu istrimu bangun.”
Rajendra menghela napas kecil. “Ya sudah, aku bangunin Cya dulu.”
Ia baru saja hendak melangkah—namun tangan Bu Kiran menahannya.
“Jangan dibangunin. Biar dia bangun sendiri saja. Dia pasti kelelahan gara-gara kamu.”
Rajendra menggaruk pelipisnya.
Ia tidak melakukan apa-apa semalam.
Namun mamanya sudah menarik kesimpulan sendiri.
Dan yang lebih parah—ia memilih tidak meluruskan.
Karena ia tau… kalau sampai mamanya tau ia belum menyentuh Cya sama sekali—bisa-bisa ia yang dimarahi.
“Ya sudah…” Rajendra mengangkat paper bag di tangannya. “Aku simpan ini di kamar dulu.”
Di dalam kantong itu—bukan hanya satu bungkus. Melainkan berbagai macam pembalut. Dari berbagai merek, ukuran… bahkan yang “bersayap” pun ia beli.
Benar-benar tanpa strategi. Yang penting… aman.
“Ya sudah, sana,” jawab Bu Kiran santai.
Rajendra pun berjalan menuju tangga—dengan satu misi sederhana yang entah kenapa terasa… sangat memalukan baginya.
***
Di tempat lain, Bu Riska dan suaminya tengah sarapan bersama.
Namun, alih-alih menikmati makanan, topik pembicaraan mereka justru kembali pada Rajendra… dan istri barunya.
“Mas, pokoknya aku gak rela kalau Rajendra bahagia dengan istri barunya,” ucap Bu Riska, nada suaranya penuh ketidaksukaan.
“Sama. Aku juga,” sahut Pak Sammy singkat, tapi tegas.
“Terus… kapan kita melabrak mereka?” tanya Bu Riska, matanya menyipit penuh rencana.
“Secepatnya,” jawab Pak Sammy tanpa ragu. “Aku gak mau perempuan itu enak-enakan tinggal di rumah Aurel.”
Bu Riska mengangguk setuju, lalu tiba-tiba berkata, “Bagaimana kalau kita minta saja rumah itu ke Rajendra, lalu kita jual?”
Pak Sammy langsung melirik tajam. “Kamu ini seperti orang kekurangan uang saja.”
“Lho, lumayan, Mas…” balas Bu Riska santai. “Kalau rumah itu dijual, harganya pasti selangit.”
Memang, kalau soal uang—Bu Riska selalu cepat tanggap.
Namun Pak Sammy menggeleng pelan. “Aku yakin Aurel gak akan setuju kalau dia tau rumah itu mau kita jual.”
“Alah…” Bu Riska mendengus. “Aurel gak mungkin kembali ke rumah itu. Jasadnya saja gak pernah ditemukan keluarga Rajendra.”
Senyum tipis, nyaris dingin, terbit di wajahnya.
“Tetap saja,” sahut Pak Sammy. “Rumah itu milik Aurel.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Lagipula, kalau kita jual rumah itu… hubungan kita dengan Rajendra justru makin jauh.”
Bu Riska mengernyit. “Maksudnya?”
Pak Sammy menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap istrinya penuh arti.
“Rajendra akan semakin bebas. Semakin seenaknya menjalani hidupnya dengan perempuan itu.”
Hening sejenak.
Lalu—“Daripada kita jual rumah itu…”
Pak Sammy mencondongkan tubuhnya sedikit. “Aku punya ide yang jauh lebih bagus.”
Mata Bu Riska langsung berbinar. “Ide apa?”
Pak Sammy tersenyum samar. “Sini…”
Ia memberi isyarat agar Bu Riska mendekat.
Dengan penuh penasaran, Bu Riska pun mendekatkan telinganya.
Pak Sammy membisikkan sesuatu.
Dan seketika—senyum Bu Riska mengembang lebar.
Namun kali ini… penuh licik.
“Wah… Itu ide bagus banget, Mas.”
Pak Sammy tersenyum puas. “Tentu saja.”
Bu Riska menyandarkan tubuhnya kembali, wajahnya tak bisa menyembunyikan antusiasme. “Aku jadi gak sabar pengen menjalankan rencana ini…”
Ada sesuatu yang besar sedang mereka siapkan.
Dan jelas bukan sesuatu yang baik untuk Rajendra… maupun Cya.
***
Sekitar pukul setengah delapan pagi, Cya akhirnya terbangun.
Dengan mata masih setengah terbuka, ia menoleh ke arah nakas.
Di sana, sebuah paper bag cokelat dengan logo minimarket langsung menarik perhatiannya.
“Ini apa, ya…?”
Dengan rasa penasaran, ia meraih dan membukanya.
Dan seketika— “Ya ampun…”
Mata Cya membesar. “Banyak banget pembalutnya!”
Di dalamnya, berbagai macam pembalut dengan merek dan ukuran berbeda tertata penuh.
Tanpa perlu berpikir lama, ia tahu siapa yang membelinya.
Rajendra.
Cya menghela napas, setengah gemas. “Dia kira gue ngeluarin darah satu liter per jam kali ya…” gumamnya. “Sampai dibeliin sebanyak ini.”
Meski begitu… entah kenapa ada rasa hangat yang terselip di hatinya.
Ia mengambil salah satu, lalu bergegas ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian—pintu kamar mandi terbuka.
Dan— “YA AMPUN!!”
Teriakan Cya menggema keras di seluruh rumah. “Gue tembus di kasur!”
Di lantai bawah, Bu Kiran dan Rajendra langsung menoleh. “Jendra, coba kamu lihat Cya! Kenapa dia teriak begitu?” ujar Bu Kiran panik.
“Iya, Ma.” Tanpa menunggu lama, Rajendra langsung bergegas naik ke lantai dua.
Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu kamar.
“Kamu kenapa?” tanyanya cepat.
Ia melihat Cya sedang sibuk melepas sarung bantal dengan gerakan panik.
Cya langsung menoleh dan membeku.
“Eh—!” Dengan refleks, ia berlari ke arah Rajendra dan mengangkat tangannya, menutupi pandangan laki-laki itu.
“Jangan lihat!”
Rajendra mengernyit. “Kamu kenapa, sih?”
“Gak apa-apa! Tadi cuma… ada kecoak!”
“Kecoak?” Rajendra langsung celingak-celinguk. “Mana?”
“Udah pergi!” jawab Cya cepat. “Kamu tunggu di bawah aja!”
Rajendra masih menatapnya curiga. “Terus… kenapa sarung bantalnya kamu lepas?”
“Gapapa! Aku cuma… mau ganti warna aja,” jawab Cya gelagapan.
"Tapi saya gak punya sprei lain yang gak terpakai, saya lupa beli."
"Hem, gapapa. Nanti biar saya yang pesan online."
"Jadi kamu beneran gapapa?"
"Iya om. Saya gapapa kok."
Rajendra akhirnya mengangguk. “Oke. Saya tunggu di bawah. Mama juga ada—dia bawa bubur kacang hijau buat kamu.”
“Iya… Kamu ke bawah dulu saja, temani Mama. Nanti kalau ini sudah selesai, aku menyusul.”
“Oke.”
Rajendra pun keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup—Cya langsung berbalik cepat.
“Ya ampun, malu banget…” Ia menatap kasur dengan wajah frustasi.
Sprei putih itu kini ternodai. “Gimana, sih ini…” gumamnya panik.
Dengan gerakan cepat, ia mulai membereskan semuanya—
berharap tidak ada yang tahu kejadian memalukan itu.
***
“Cya kenapa?” tanya Bu Kiran begitu Rajendra kembali ke ruang tamu.
“Gapapa, Ma. Tadi dia teriak karena ada kecoa.”
“Oh…” Bu Kiran mengangguk, lalu kembali bertanya, “Terus Cya mana? Kok gak ikut kamu ke sini?” Nada suaranya terdengar tidak sabar.
“Dia lagi melepas sarung bantal sama sprei. Katanya nanti nyusul kalau sudah selesai.”
Bu Kiran langsung teringat noda merah yang ia lihat tadi di kasur.
Seketika—senyum tipis terukir di wajahnya.
“Mama kenapa?” Rajendra mengernyit heran.
“Gak kenapa-kenapa, kok…” jawab Bu Kiran santai. “Mama cuma jadi gak sabar pengen cepat-cepat punya cucu.”
Rajendra menghela napas kecil. “Mama kok tiba-tiba bahas cucu?”
“Ya karena Mama pengen cepat gendong cucu,” balasnya ringan.
Tak lama kemudian— “Ma…!”
Cya turun dari tangga dan langsung berlari memeluk mertuanya, meski langkahnya masih sedikit pincang.
“Ya ampun…” Bu Kiran langsung memperhatikan cara jalannya. “Sepertinya semalam Rajendra mainnya terlalu kasar, ya? Sampai kamu jalannya begitu, Nak.”
Cya langsung mengernyit bingung. “Main apa, Ma?”
“Main di ranjang.”
Cya spontan menggeleng. “Gak kok, kita gak main-main. Tadi malam aku malah disuruh ti—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya—Rajendra langsung membekap mulut Cya.
“Mmpph!” Cya langsung memberontak, memukul tangan Rajendra.
“Jendra, lepaskan! Kamu ngapain nutup mulut istri kamu?” tegur Bu Kiran.
Rajendra tersenyum canggung, lalu segera melepasnya.
“Gapapa, Ma…” Ia menarik napas, lalu berkata dengan santai, “Semalam memang aku yang terlalu kasar. Makanya jalannya jadi begitu.”
Daripada dimarahi karena menyuruh Cya tidur di lantai, lebih baik ia mengiyakan saja asumsi ibunya.
Cya yang tadinya ingin marah—mendadak terdiam.
Ia teringat sesuatu.
Tadi malam aku tidur di lantai…
Tapi kenapa pas bangun subuh aku sudah di atas kasur?
Matanya melirik sekilas ke arah Rajendra.
Jangan-jangan… dia yang mindahin?
“Hah, tuh kan…” Bu Kiran tersenyum puas. “Mama sudah bisa menebaknya dari tadi.”
Rajendra buru-buru mengalihkan suasana. “Sudah, sekarang kita makan bubur yang Mama bawa saja.”
Ia menoleh ke arah Cya, lalu sedikit mengangkat alis memberi kode. “Kamu pasti lapar, kan… sayang?”
Cya sempat ingin menyangkal.
Namun ia melirik Bu Kiran—dan mengurungkan niatnya.
“Hem… iya.”
“Kamu mau digendong atau jalan sendiri?” tanya Rajendra santai.
Cya langsung menggeleng cepat. “Jalan sendiri saja.”
Ia pasti akan mati gaya kalau digendong di depan mertuanya.
Bu Kiran tertawa kecil melihat mereka. “Ya ampun… kalian berdua kok romantis banget, sih? Mama jadi ingat waktu Mama sama Papa kalian pengantin baru. Dulu Papa kalian juga romantis sekali.”
Rajendra tersenyum tipis.
Ia memang sudah terbiasa melihat keromantisan orang tuanya sejak kecil.
“Gak kok, Ma…” sahut Cya cepat. “Kita gak romantis. Malah sering berantem.”
Rajendra langsung menyela, takut ibunya salah paham. “Berantemnya cuma bercanda, Ma. Gak serius.”
Cya akhirnya diam, tidak membantah.
Memang… pertengkaran mereka sejauh ini masih tergolong kecil.
“Namanya juga pengantin baru,” ujar Bu Kiran sambil tersenyum hangat. “Mama paham. Pasti cuma bercanda-bercanda biar makin dekat.”
Ia terkekeh pelan. “Sampai sekarang pun Papa kalian masih sering ngejailin Mama.”
apa Bela itu sebenarnya Aurel