Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit
Senja merayap pelan di balik jendela kaca kafe, menumpahkan cahaya ungu kebiruan yang membuat lampu-lampu gantung di dalam ruangan tampak semakin hangat. Shift Cassie berakhir lebih lambat dari biasanya. Kakinya terasa seperti dua batang kayu yang lupa cara menjadi lentur, tapi ada kepuasan kecil yang berdenyut di dadanya. Hari ini ia berhasil melewati semuanya tanpa runtuh.
Ia menggantung apron di kait belakang, merapikan kerah kemejanya, lalu melambaikan tangan pada Marla.
“Jangan lupa makan malam yang layak, Cassie. Kau makin kurus,” celetuk Marla sambil mengelap mesin kopi.
Cassie tersenyum tipis. “Aku akan coba.”
Udara luar menyambutnya dengan dingin yang menggigit, tapi pikirannya terasa lebih ringan dibanding pagi tadi. Jalan menuju pusat kota dipenuhi lampu toko yang memantul di genangan air. menciptakan ilusi bintang-bintang kecil yang jatuh ke trotoar.
Ia menggenggam tasnya lebih erat.
Perpustakaan dulu. Tugas esai sosiologi tidak akan menunggu trauma selesai sembuh.
Perpustakaan pusat kota Verovska berdiri megah seperti katedral bagi para pecinta sunyi. Bangunan tua dengan pilar marmer pucat itu memancarkan wibawa yang menenangkan. Begitu Cassie melangkah masuk, aroma buku lama dan kayu tua langsung menyelimutinya seperti selimut yang tahu cara memeluk tanpa bertanya.
Ruangan itu hening, hanya diisi suara halaman yang dibalik dan langkah kaki yang hampir tak terdengar.
Cassie berjalan ke bagian referensi akademik. Ia menyusuri rak-rak tinggi yang dipenuhi buku tebal dengan judul-judul rumit. Tangannya mulai menelusuri punggung buku, matanya membaca cepat kode katalog.
Dan kemudian... tubuhnya membeku.
Beberapa meter di depannya, di antara dua rak tinggi yang dipenuhi literatur sejarah Eropa Timur, seorang pria berdiri dengan tenang.
Mantel hitam. Postur tegap. Bahu lebar yang terlalu mudah dikenali.
Liam.
Ia berdiri menyamping, satu tangan memegang buku terbuka, tangan lainnya dimasukkan ke saku celana. Cahaya lampu perpustakaan jatuh lembut di wajahnya, membuat luka kecil di tulang pipinya tampak seperti guratan cerita yang belum selesai.
Ia terlihat... menyatu. Seperti bagian alami dari ruangan itu. Seolah ia memang salah satu perabot sunyi di perpustakaan, sama lazimnya dengan rak buku atau kursi baca.
Cassie refleks mundur setengah langkah, jantungnya kembali menari liar.
Liam membalik halaman buku dengan santai. Tatapannya tetap tertuju pada tulisan di tangannya. Tidak sekalipun ia menoleh.
Cassie menatapnya beberapa detik lebih lama, mencoba mencari tanda. Gerakan kecil. Isyarat rahasia. Sesuatu yang menunjukkan ia sedang mengawasi.
Tidak ada.
Ia hanya membaca.
Cassie menelan ludah. Ia memaksa paru-parunya mengisi udara lebih dalam.
Ini perpustakaan umum. Semua orang berhak datang. Bahkan pria berbahaya juga bisa membaca buku. Dunia tidak berputar hanya untuk mengikutinya.
Ia memalingkan wajah, memaksakan fokus pada deretan buku di depannya. Tangannya meraih dua referensi yang ia butuhkan, meski jarinya masih terasa dingin.
“Mungkin dia suka membaca. Itu... normal. Sangat normal.”
Ia duduk di meja baca jauh dari rak tempat Liam berdiri. Selama hampir satu jam, Cassie tenggelam dalam catatan dan highlight stabilo kuningnya. Dan perlahan, seperti tinta yang larut dalam air, pikirannya kembali tenang.
Saat ia akhirnya mengangkat kepala, rak tempat Liam berdiri sudah kosong.
Ia bahkan tidak tahu kapan pria itu pergi.
***
Langkah kaki Cassie terdengar cepat dan tidak beraturan di atas trotoar yang mulai membeku. Kewaspadaan yang berlebihan membuatnya hampir menderita paranoia setiap kali mendengar suara langkah kaki di belakangnya atau gesekan daun kering, ia langsung menoleh dengan napas tertahan. Namun, jalanan menuju halte tampak normal. Liam tidak ada di sana.
Mungkin dia memang hanya kebetulan ada di perpustakaan tadi, pikir Cassie, mencoba menghibur dirinya sendiri meski nuraninya berteriak sebaliknya.
Sebelum pulang ke "lubang" persembunyiannya di Raven’s Gate, Cassie berhenti di sebuah kedai kecil pinggir jalan yang menjual hot dog dan sup instan. Ini adalah pilihan makan malam paling masuk akal bagi dompetnya yang kian menipis. Setidaknya, aroma sosis bakar itu bisa sedikit menenangkan perutnya yang sudah keroncongan sejak sore tadi.
"Satu porsi sup dan roti, tolong," ucap Cassie pada penjualnya.
Sambil menunggu makanannya dikemas, Cassie berdiri di tepi trotoar, merapatkan jaket tebalnya untuk menghalau angin malam yang kian menusuk. Ia mengedarkan pandangan ke seberang jalan, ke arah stasiun pengisian daya kendaraan listrik yang terang benderang.
Dan di sanalah dia. Lagi.
Liam berdiri bersandar pada badan sebuah mobil hitam yang tampak mewah namun low-profile. Ia sedang menunggu daya mobilnya terisi, tampak sibuk dengan pikirannya sendiri sambil menatap lurus ke depan. Cahaya lampu stasiun pengisian daya yang berwarna biru pucat jatuh ke wajahnya, mempertegas rahangnya yang kokoh dan memberikan kesan dingin yang semakin tak tersentuh.
Pria itu tetap sama seperti di kafe dan perpustakaan tadi, ia tidak melihat ke arah Cassie. Ia seolah-olah tidak sadar bahwa ada seorang gadis yang sedang gemetar ketakutan hanya dengan melihat punggungnya dari jarak beberapa meter.
Namun, bagi Cassie, ketidakhadiran tatapan itu justru terasa lebih menyeramkan. Seolah-olah Liam sengaja menunjukkan bahwa dia bisa berada di mana saja, kapan saja, tanpa perlu bersusah payah mengintimidasi secara langsung. Keberadaan Liam terasa seperti bayangan yang menyatu dengan udara yang dihirup Cassie.
"Ini pesanannya, Nona," suara penjual makanan membuyarkan lamunannya.
Cassie menyambar kantong makanannya dengan tangan gemetar. Ia segera membalikkan badan dan berjalan setengah berlari menuju halte bus, tidak peduli lagi dengan sopan santun.
Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan masuk ke kamar 304, mengunci pintu, dan bersembunyi di bawah selimut.
***
Lampu bus berkelap-kelip saat melewati deretan gedung tua yang kusam. Cassie menempelkan wajahnya ke kaca jendela bus yang dingin, matanya menyapu setiap sudut kantor polisi distrik yang baru saja dilewati. Ia mencari sosok Ethan, mencari rambut rapi dan tatapan hazel yang menenangkan itu di antara kerumunan petugas yang berlalu-lalang di balik jendela kaca besar. Ada sedikit harapan bahwa Ethan akan muncul, memberinya rasa aman semu sebelum ia harus kembali ke Raven's Gate.
Namun, Ethan tidak terlihat.
Bus berhenti dengan decitan tajam di halte terdekat dari apartemennya. Cassie turun, dan seketika kesunyian malam di Old District menyergapnya. Halte itu kosong melompong.
Seandainya saldo banknya tidak berada di titik kritis karena kebutuhan tugas kuliah yang mencekik, ia pasti sudah memesan taksi agar bisa turun tepat di depan gerbang. Tapi sekarang, ia harus berjalan kaki. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun setiap langkah di jalanan yang remang dan berbau sampah basah ini terasa seperti uji nyali.
Napas Cassie memburu saat ia akhirnya sampai di depan lobi Apartemen Raven's Gate. Dan di sana, bersandar dengan angkuh pada pilar berkarat yang sama, Liam kembali berdiri.
Rasa lelah, lapar, dan teror mental yang dialaminya seharian ini tiba-tiba meledak menjadi kemarahan yang tak terbendung. Ketakutannya berubah menjadi emosi yang panas. Cassie tidak lagi menghindar. Dengan langkah lebar, ia menghampiri Liam yang sedang menatap kegelapan malam.
"Berhenti mengikutiku!" seru Cassie, suaranya sedikit gemetar namun penuh penekanan. "Sebenarnya kau ini siapa? Kenapa seharian ini kau terus muncul di depanku? Di kafe, di perpustakaan, di tempat pengisian daya, dan sekarang di sini lagi! Apa maumu?"
Liam tidak tersentak. Ia perlahan menegakkan tubuhnya, menatap Cassie dengan ekspresi yang sangat santai, hampir seperti sedang menonton hiburan yang menarik.
"Mengikutimu?" Liam mengulang kata itu dengan nada rendah yang datar. Ia memasukkan tangan ke saku jaketnya. "Aku hanya melakukan kegiatan normalku. Menghabiskan waktu seharian untuk urusanku sendiri, yang sejujurnya, aku bahkan tidak tahu kau ada di tempat-tempat itu. Aku tidak melihatmu sama sekali hari ini, Gadis Asing."
Liam melangkah satu tindak lebih dekat, membuat Cassie secara refleks mundur, namun Liam hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang terasa sangat menyebalkan.
"Mungkin justru kau yang merindukanku," lanjut Liam dengan nada mengejek yang halus. "Sepertinya kepalamu terlalu penuh memikirkanku, sampai-sampai kau merasa aku ada di mana-mana. Apa kau mulai terobsesi denganku, Cassie?"
Cassie ternganga. Rasa marah dan tidak percaya bercampur aduk di dadanya. Bisa-bisanya pria ini memutarbalikkan fakta dengan begitu tenang setelah membuat jantungnya hampir copot seharian ini.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭