Mengisahkan hyunjin yang terobsesi pada wanita bernama eunbi, wanita yang mungkin tidak akan mencintainya karena kesalahan yang ia perbuat, ia menahan eunbi di bawah kuasanya hingga membuat gadis itu menjadi pemberontak seiring berjalan nya waktu.
Kisahnya semakin rumit saat eunbi dengan sengaja menyeret Seo-joon seorang pegulat handal namun miskin ke dalam kisah cinta mereka, mampukah eunbi terlepas dari jeratan hyunjin? dan apakah Seo-joon bisa menyelamatkan-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15 : Jatuh cinta
"Hyunjin pasti akan marah" Decak eunbi pelan.
Wanita itu tengah bercermin dan memegang lehernya, beberapa menit lalu ia baru ingat bahwa dirinya kehilangan kalung yang di berikan hyunjin kemarin.
"Lee eunbi?" Panggil hyunjin.
"Kau sudah pulang?" Tanya eunbi kaget, hyunjin membuka pintu tanpa suara.
Laki laki itu tampak melepas jas nya dan melemparnya sembarang arah, ia berjalan mendekat pada eunbi dan langsung memeluknya.
"Hyunjin-ah?" Panggil eunbi pelan.
"Hariku sangat buruk biarkan aku memelukmu lebih lama" Katanya.
"Baiklah apa yang terjadi?" Tanyanya membalas pelukan hyunjin.
"Pekerjaanku sedang berantakan"
Eunbi tak lagi membalas perkataan hyunjin, ia hanya membiarkan hyunjin larut ke dalam pelukan nya.
"Bisakah aku hanya hidup sebagai orang normal dan memiliki mu saja? aku akan membawamu jauh dari sini" Ujarnya.
"Jika tidak ada ayahmu mungkin saja kau tidak akan bisa menahan ku lebih lama, aku akan mudah kabur" Balas eunbi.
Hyunjin melepas pelukan nya dengan tangan yang bertengger pada bahu sempit sang lawan bicara, ia menatap eunbi tak suka.
"Jangan pernah berfikir kau bisa lari dariku asal kau tau?"
"Kenapa?"
"Aku sudah bilang aku tidak akan melepasmu sampai kapanpun itu, bahkan jika aku harus mempertaruhkan segalanya"
"Segalanya?" Tanya eunbi tak percaya.
"Aku mencintamu!" Hyunjin berujar frustasi.
"Jadi kau akan mempertaruhkan segalanya untukku?"
"Akan ku lakukan jika itu perlu"
"Kalau begitu bunuh saja ayahmu, bukankah dia penyebab utama hubungan kita berakhir seperti ini?"
Hyunjin termenung ia semakin menyelami mata indah eunbi berharap bisa membaca semua isi pikiran yang di simpan nya.
"Kau tak sanggup?"
"Eunbi?" Panggilnya pelan.
"Kenapa?"
"Sadarkah dulu kau selalu bilang bahwa aku mengerikan hanya karena aku memaki dan memukul seseorang yang mencoba mendekatimu, lalu bagaimana bisa kau menyuruhku membunuh ayahku sendiri?"
"Aku pikir itu akan jadi pengorbanan cintamu" Eunbi tertawa kecil dan berbalik akan pergi dari hadapan hyunjin
"Itu tidak lucu!" Hyunjin meraih lengan eunbi kasar hingga wanita itu kembali menghadap padanya.
"Aku bilang aku tidak akan melepasmu sampai kapanpun, kau dengar?"
"Ya aku dengar"
"Jika aku mati sekalipun kau juga harus mati, hidupmu adalah hidupku, mati mu atas izin ku!" Tegasnya.
Hyunjin membelai wajah eunbi lembut, tangan nya turun ke area leher dan menyadari sesuatu.
"Dimana kalungmu?"
"Aku kehilangan nya"
"Jangan beralasan"
"Aku tidak sengaja, mungkin terjatuh ditaman!" Jawab eunbi tegas.
Hyunjin menarik eunbi dan melempar wanita itu ke kasur, ia melepas kemeja putih nya yang sudah terlihat kusut.
"Bisakah kita tidak melakukan nya hari ini? bukan kah kau lelah?" Tanya eunbi dengan dengusan samar.
"Aku tidak pernah lelah jika melakukan ini" Balas hyunjin.
...****************...
"Kau kang seo-joon kan?" Tanyanya.
"Ya benar, kau mengenalku?"
"Ya, aku melihat pertandingan tinjumu, kau keren sekali, perkenalkan aku jaeyi" Jaeyi mengulurkan tangan nya.
"Ya terimakasih" Seo-joon membalas jabatan tangan nya.
"Apa kau mengenalnya?" bisik yunho.
"Tidak"
"Cepatlah kita bukan untuk bersenang senang di sini" Bisiknya lagi.
"Aku tau"
"Kau sedang apa di sini?" Tanya jaeyi.
"Hanya bertemu teman" Bohongnya.
"Ah pertanyaan ku tidak masuk akal, tentu saja kau akan bersenang senang kan?" Candanya.
Yunho menyingkir perlahan, ia berjalan ke arah lain dan meninggalkan seo-joon bersama jaeyi.
"Ya begitulah" Balas seo-joon seadanya.
"Ayahku adalah pemilik bar ini" Kata jaeyi.
"Ayahmu?" Tanya seo-joon.
"Ya, aku bukan wanita bar seperti yang kau lihat, aku takut kau salah menilaiku" Kata jaeyi.
Jaeyi tak pernah melunturkan senyumnya ketika berbicara dengan seo-joon, ia menunjukkan ketertarikan nya dengan jelas.
"Kenapa kau takut aku salah menilai, lagipula penilaianku bukanlah apa, jadi ayahmu pemilik bar ini?"
"Ya, kau tidak datang kesini untuk mengincarku dan juga kakakku kan?" Candanya.
"Mengincar?"
"Ayahku bilang kau adalah bagian dari keluarga Hwang"
Seo-joon terdiam, ia mencerna sesuatu, sepertinya jaeyi tau bagaimana hubungan ayah nya dengan Hwang dan ia juga mengetahui bahwa dirinya adalah orang suruhan Hwang.
"Aku datang kesini tidak untuk melakukan itu"
"Syukurlah, aku sedikit trauma mengingat ada orang yang mengincarku seperti dulu"
"Lagipula jika itu terjadi kenapa kau tidak pergi saja? kenapa kau mendatangiku"
"Aku hanya ingin menjelaskan bahwa aku pernah melihat mu sebelum ini, kau keren, terlepas dari pekerjaan yang kau lakukan saat ini"
"Terimakasih" balas seo-joon.
"Ayahku memiliki pekerjaan yang sama dengan tuan Hwang, kenapa aku tidak datang padanya saja?" Tawar jaeyi.
Entah bagaimana ia harus menjelaskan pada wanita ini bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang tak pernah ia inginkan.
"Maaf, lupakan saja pertanyaanku"
"Apa kau tau Lee sangho?"
"Aku tidak bisa memberikan informasi apapun, apalagi itu menyangkut rekan kerja ayahku"
"Rekan kerja?" Tanya seo-joon mengulang.
Jaeyi tampak mengigit bibirnya, terlihat seperti ia sedang salah berbicara.
"Jadi sangho benar benar datang pada ayahmu ya?"
"Aku tidak tau soal itu" Balasnya.
"Tidak masalah, kau tidak perlu menjelaskan lebih, aku pergi dulu" Pamit seo-joon.
"Eh? kang seo-joon?" Panggil jaeyi.
Seo-joon kembali menghadap jaeyi, wanita itu tampak merogoh isi tas mahalnya dan menemukan sebuah kartu nama
"Ini adalah kartu nama ayahku, kau bisa datang jika memiliki kesulitan, mulai hari ini aku adalah temanmu, aku bisa mengenalkanmu padanya" jelas jaeyi.
Seo-joon meraih kartu nama tersebut tanpa berfikir lagi.
"Bagaimana kau bisa memberi ini pada musuh ayahmu, aku adalah musuhnya" Kata seo-joon.
"Semua orang bisa berubah kan?"
"Jika aku pergi dari Hwang dan datang pada ayahmu itu berarti tidak ada perubahan"
"Mungkin sesuatu akan mendorongmu melakukan nya" Kata jaeyi.
Dalam gemerlap lampu bar seo-joon masih bisa melihat dengan jelas bagaimana senyum jaeyi, ia hanya butuh menerka apa maksud dari senyuman itu.
"Terimakasih" balas seo-joon lalu pergi dari hadapan jaeyi.
"Aku berharap kita bertemu lagi kang seo-joon" Gumam jaeyi.
...****************...
"Seo-joon ah? masuklah malam semakin dingin!" Ajak sang nenek.
Wanita tua itu masih terbangun malam ini, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi.
"Sebentar lagi" Balasnya.
Seo-joon menatap langit malam ia membayangkan saat ini mungkin eunbi tertidur lelap di pelukan hyunjin.
"Kenapa aku memikirkan nya?" Tanyanya pada diri sendiri.
Seo-joon merogoh saku celananya, ia menemukan kalung milik eunbi, ia tak sabar menunggu hari besok dan mengembalikan barang ini padanya, ia akan berinteraksi kembali dengan wanita itu.
"Aku jatuh cinta padanya?"
Seo-joon mendogak, malam ini gelap, tidak ada bintang yang muncul di langit, perasan nya gusar, ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiran nya.
"Mungkin sesuatu akan mendorongmu melakukan nya"
Perkataan jaeyi terlintas pada ingatan nya, ia mengingat kartu nama yang sempat di berikan wanita itu padanya tadi, seo-joon mengambilnya.
"Jangan bodoh kang seo-joon!"