NovelToon NovelToon
YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

YE CHEN: PEWARIS PEDANG HITAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Fantasi Timur
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Angin kencang bertiup dari arah timur, menerbangkan debu dan pasir di dataran luas yang membentang di luar gerbang Kota Awan Melayang. Di bawah langit biru yang cerah, sosok pemuda berjubah abu-abu berjalan menjauh perlahan namun pasti. Ia tidak menoleh ke belakang lagi, tidak menatap kembali ke arah kota megah yang kini terlihat semakin kecil di kejauhan itu.

Namun, di dalam hatinya, ia tidak benar-benar pergi.

Langkah kaki Ye Chen—atau Han Yu, nama yang ia gunakan saat menyusup tadi—terhenti di sebuah bukit kecil yang berjarak sekitar lima kilometer dari gerbang utama. Di sini, pemandangan seluruh Kota Awan Melayang terlihat jelas, terhampar luas di bawah kakinya seperti peta raksasa. Bangunan-bangunan indah, gunung-gunung terapung, dan menara putih raksasa itu masih bersinar kemegahan di bawah sinar matahari siang. Di sana, Tetua Mo Feng masih duduk di kursi kehormatan, dielu-elukan sebagai pahlawan. Di sana, Bai Long masih berdiri tegak dengan jubah putihnya, menjadi kebanggaan semua orang.

"Mereka bersinar terang hari ini..." gumam Ye Chen pelan, suaranya dingin dan berat. Tangannya meremas pinggangnya, di mana sebilah pedang besi biasa tergantung santai. "Tapi cahaya mereka hanyalah cahaya lilin yang sebentar lagi akan padam tertiup angin badai yang akan aku bawa."

"Kau sudah mengambil langkah pertama dengan sangat baik, Ye Chen," suara Yue-Jian terdengar lembut namun tegas di dalam benaknya. Roh tua itu juga merasakan emosi muridnya yang bergolak. "Kau berhasil masuk, kau berhasil melihat musuh-musuhmu dengan mata kepala sendiri, dan yang terpenting... kau berhasil menembus ranah Foundation Establishment serta membangun Fondasi Es yang kokoh. Kekuatanmu sekarang sudah sama tingginya dengan Mo Feng. Bahkan, dengan energi Es murni yang kau miliki, kau sedikit lebih unggul dalam hal ketahanan dan kedalaman tenaga dalam."

Ye Chen mengangguk pelan, matanya menyipit tajam menatap ke arah kompleks inti sekte di kejauhan. Di bawah kulit luarnya yang tenang, kekuatan dahsyat kini berdenyut stabil di dalam Dantiannya. Cairan energi berwarna biru tua pekat itu berputar perlahan, memancarkan hawa dingin yang nyaman namun mematikan. Ia bisa merasakan setiap butiran energi di sekelilingnya, bisa mendengar suara percakapan orang dari jarak jauh, bisa merasakan getaran tanah yang paling halus sekalipun. Perbedaan tingkat kekuatan antara dirinya dengan beberapa jam yang lalu bagaikan langit dan bumi.

"Guru, apa rencana selanjutnya?" tanya Ye Chen dalam hatinya. "Apakah kita harus langsung menyerbu masuk dan menghabisi mereka sekarang? Dengan kekuatan yang aku miliki saat ini, aku yakin bisa membunuh Mo Feng meski ada ribuan orang di sampingnya."

Yue-Jian segera menjawab dengan nada tegas dan peringatan yang keras.

"Jangan gegabah, Nak! Jangan biarkan kekuatan baru ini membuatmu sombong atau meremehkan musuh. Kau memang sudah berada di ranah Foundation Establishment Tingkat Awal, tapi ingat... Mo Feng sudah berada di ranah ini selama puluhan tahun. Ia sudah berada di puncak tingkat ini, sangat dekat dengan ambang batas Golden Core. Pengalaman bertarungnya, kelicikannya, dan jumlah teknik mematikannya jauh lebih banyak darimu. Belum lagi ada tetua-tetua lain di sekte itu. Jika kau bertindak sembarangan sekarang, kau mungkin bisa melukai mereka, tapi kau akan mati terkurung sebelum sempat membalas dendam sepenuhnya."

Yue-Jian menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dingin dan penuh rencana.

"Kita tidak akan pergi, dan kita juga tidak akan menyerang terbuka. Kita akan tetap berada di sini, di sekitar Kota Awan Melayang. Kita akan bersembunyi di kegelapan, mengamati, dan perlahan-lahan menggerogoti kekuatan mereka satu per satu. Kita akan membuat mereka gelisah, membuat mereka takut, membuat mereka sadar bahwa ada bahaya yang mengintai di dekat mereka namun tak bisa mereka lihat. Dan saat momen yang tepat tiba... saat mereka sudah lemah, terpecah belah, dan lengah... barulah kau muncul dalam kemegahan penuh untuk menuntut segala hutang darah itu."

Mendengar itu, senyum tipis namun mengerikan tersungging di bibir Ye Chen.

"Aku mengerti, Guru. Biarkan mereka menikmati kemenangan palsu ini sebentar lagi. Aku akan menjadi bayangan yang menghantui mimpi buruk mereka setiap malam."

Ye Chen memutar tubuhnya, memunggungi Kota Awan Melayang. Ia tidak pergi jauh. Ia hanya bergerak menjauh sedikit, menuju kawasan hutan lebat yang menjadi tempat tinggal para pendatang dan pedagang, wilayah pinggiran kota yang ramai namun agak semrawut. Di sanalah tempat terbaik untuk bersembunyi dan mengumpulkan informasi tanpa dicurigai.

Dengan langkah santai namun berisi wibawa baru, Ye Chen berjalan menuju kawasan pasar pinggiran itu. Di sana, hiruk-pikuk suara pedagang, teriakan pembeli, dan percakapan orang memenuhi udara. Di sini, orang-orang beragam latar belakang berkumpul: pendekar muda yang ingin masuk ke sekte, pedagang yang menjual barang haram, kelompok petualang, hingga perampok yang menyamar. Di sini, hukum Sekte Azure Cloud tidak terlalu ketat diterapkan, selama tidak terjadi keributan besar yang mengganggu stabilitas kota.

Ye Chen memilih sebuah kedai minuman yang agak tua dan kumuh di sudut paling pinggir. Tempat ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak memiliki identitas jelas atau urusan gelap. Ia masuk, duduk di bangku kayu yang kasar, dan memesan sebotol anggur murah serta sepiring daging kering.

Sambil menyesap anggurnya perlahan, telinganya menangkap setiap percakapan yang terjadi di sekelilingnya. Di sini, informasi mengalir bebas, dan ia butuh tahu apa saja gerak-gerik anak buah Bai Long dan daerah mana saja yang menjadi kekuasaan mereka.

Tak lama berselang, percakapan di meja sebelah menarik perhatiannya sepenuhnya.

"Kau dengar kabar terbaru, kawan? Tuan Muda Bai Long benar-benar hebat. Setelah kemarin ia memamerkan kekuatannya di upacara besar, Tetua Mo Feng memberinya wewenang penuh untuk mengurus kawasan luar kota ini," ucap seorang pria berwajah kasar, mengenakan pakaian pendekar biasa namun dengan jubah dalam berwarna biru muda—tanda murid biasa Sekte Azure Cloud.

"Benar juga! Sekarang Tuan Muda Bai Long bertanggung jawab penuh atas keamanan, perdagangan, dan pengumpulan upeti di wilayah pinggiran ini. Siapa pun yang mau berdagang atau lewat di sini harus membayar pajak tambahan yang cukup besar. Tapi siapa yang berani menolak? Tuan Muda Bai Long itu kan jenius besar, kekuatannya sudah tingkat kedelapan Qi Condensation, ditambah dia punya empat pengawal pribadi yang semuanya berada di tingkat tujuh dan delapan juga. Mereka berempat dikenal sebagai 'Empat Harimau Awan', sangat kejam dan tidak kenal ampun," jawab temannya sambil menggeleng-gelengkan kepala, tampak takut sekaligus kagum.

Ye Chen yang mendengar itu, jari-jarinya yang memegang gelas anggur mengepal pelan hingga gelas itu berderit.

Bai Long menguasai kawasan luar... mengumpulkan upeti... memeras rakyat kecil...

Darah Ye Chen mulai mendidih pelan. Dulu, saat ia masih menjadi murid miskin yang jujur, ia sering melihat hal semacam ini. Anak buah sekte bertindak sewenang-wenang, menindas orang lemah, mengambil apa saja yang mereka inginkan, semuanya atas nama kekuasaan Sekte Azure Cloud. Dan sekarang, Bai Long yang menjadi pemimpin di sini. Tentu saja pemuda sombong itu akan memanfaatkan kekuasaannya untuk menimbun kekayaan dan semakin menyanjung dirinya sendiri.

"Empat Harimau Awan..." gumam Ye Chen pelan, mengingat nama itu. Ia tahu betul siapa mereka. Empat orang murid tingkat lanjut yang menjadi kaki tangan setia Bai Long sejak lama. Mereka adalah orang-orang yang dulu sering ikut mengejek, mendorong, dan menendang Ye Chen saat ia masih dianggap sampah.

"Dapat sasaran pertama kita, Ye Chen," suara Yue-Jian terdengar dingin penuh niat membunuh di dalam benaknya. "Sebelum kita menghadapi induknya, kita potong dulu kakinya. Empat orang ini adalah tangan kanan Bai Long. Jika kau mempermalukan dan menghajar mereka, itu sama saja menampar wajah Bai Long sendiri. Itu akan menjadi pesan peringatan pertama kita untuk mereka: Bahwa di luar sana, ada kekuatan yang tidak takut pada nama besar Sekte Azure Cloud."

Mata Ye Chen bersinar tajam, kilatan dingin menyala di kedalaman pupil matanya. Ia meletakkan gelas anggurnya dengan pelan dan tenang di atas meja, lalu bangkit berdiri. Uang pembayaran diletakkan di atas meja tanpa bersuara. Ia berjalan keluar dari kedai itu, menyusuri jalan-jalan sempit dan kotor di kawasan pinggiran kota.

Ia tidak perlu menunggu lama. Suara kegaduhan dan teriakan keras terdengar dari ujung jalan utama pasar. Suara itu berisi rasa takut, protes lemah, dan suara tawa kasar yang sangat ia kenal.

Dengan gerakan senyap dan ringan, Ye Chen menyelinap masuk ke balik bayangan bangunan, bergerak menyusuri atap-atap rumah rendah, hingga ia sampai di tempat kejadian.

Di bawah sana, di tengah jalan pasar yang luas, empat orang pemuda berpakaian jubah biru tua sedang berdiri mengelilingi seorang pedagang tua yang gemetar ketakutan. Di belakang mereka, beberapa orang pengikut lain berdiri bersenjatakan tombak dan pedang, menakuti para pedagang lain agar tidak berani membantu.

Keempat orang pemuda itulah Empat Harimau Awan: Gao Hu, Bao Lang, Xiong Wei, dan Hu Biao. Empat sahabat karib yang selalu bergerak bersama, terkenal karena kekejaman dan keserakahan mereka.

"Sabar saja, Paman Wang," ucap Gao Hu, yang paling tinggi dan besar badannya, sambil tersenyum menyeringai jahat. Ia menginjak peti barang dagangan pedagang tua itu dengan ujung sepatunya yang kotor. "Aturan baru dari Tuan Muda Bai Long. Semua pedagang harus membayar pajak perlindungan sepuluh kali lipat dari biasanya. Kau ingin berdagang aman di wilayah kekuasaan kami? Bayar. Kalau tidak... ya, barang-barang ini akan kami sita sebagai gantinya."

"Tapi... Tuan Gao... ini sudah yang ketiga kalinya bulan ini kami bayar..." rintih pedagang tua itu, wajahnya pucat pasi, air mata hampir menetes. "Kalau diambil lagi, kami sekeluarga akan mati kelaparan. Tolonglah, kasihanilah kami..."

"Eh, tua bangka! Kau berani membantah perintah Tuan Muda kami?!" bentak Bao Lang yang berwajah ular, melangkah maju sambil mengacungkan kepalan tangan besarnya. "Apakah kau ingin dianggap musuh Sekte Azure Cloud? Apakah kau mau di tangkap dan dipenjara?!"

Para pedagang lain di sekitar hanya bisa menunduk, pura-pura tidak melihat, atau mundur perlahan menjauh. Mereka semua tahu betapa kejamnya keempat orang ini. Melawan sama saja dengan mencari maut.

Di atas atap rumah di kejauhan, bersembunyi di balik bayangan cerobong asap, Ye Chen menatap pemandangan itu dengan wajah yang semakin dingin dan kaku. Tangannya perlahan menggenggam gagang pedang besi di pinggangnya. Rasa benci melihat ketidakadilan ini, ditambah rasa benci pribadi terhadap keempat orang itu, membuat api kemarahan di dadanya semakin besar.

"Mereka masih sama... bahkan lebih buruk dari dulu," bisik Ye Chen pelan. "Menindas yang lemah, merampas hak orang lain... persis seperti tuan mereka."

"Saatnya memberi mereka pelajaran, Ye Chen," ucap Yue-Jian singkat. "Ingat aturannya: Gunakan kekuatanmu secukupnya saja. Cukup untuk mempermalukan dan menghajar mereka, tapi jangan sampai membunuh atau melukai parah hingga mati dulu. Kita ingin mereka membawa kabar kembali ke Bai Long dan Mo Feng, bukan diam selamanya. Kita ingin mereka panik dan bertanya-tanya siapa pelakunya."

Ye Chen mengangguk samar.

Dengan satu gerakan halus dan nyaris tak terlihat, tubuh Ye Chen melayang turun dari atap rumah. Ia tidak melompat, tidak mengeluarkan suara, seolah ia beratnya sama sekali tidak ada. Ia mendarat dengan lembut di tanah, tepat di belakang barisan pengikut Bai Long, di ujung jalan itu.

"Sudah cukup," suara Ye Chen terdengar tenang, rendah, namun jelas dan bergema ke seluruh penjuru jalan pasar itu. Suaranya tidak keras, tapi mengandung tekanan batin yang membuat setiap orang yang mendengarnya seolah ada gunung berat yang menindih dada mereka.

Semua orang menoleh serentak. Empat Harimau Awan berbalik cepat, menatap ke arah sosok pemuda berjubah abu-abu yang berdiri tenang sendirian di sana. Wajahnya tertutup sedikit oleh bayangan topi lebar, namun sorot matanya yang dingin dan tajam terlihat jelas.

"Siapa kau?!" bentak Gao Hu dengan suara menggeram, tangannya langsung beralih ke gagang pedang lebar di pinggangnya. "Berani sekali kau ikut campur urusan kami! Apakah kau tidak tahu siapa kami? Kami adalah pengawal pribadi Tuan Muda Bai Long dari Sekte Azure Cloud!"

Ye Chen melangkah maju perlahan, satu demi satu langkah, mendekati mereka. Setiap langkah kakinya menginjak tanah, udara di sekitarnya terasa semakin dingin. Suhu udara yang tadinya hangat mendadak turun drastis, membuat napas semua orang terlihat beruap putih.

"Aku tahu siapa kalian..." jawab Ye Chen pelan, senyum miring dan penuh ejekan tersungging di bibirnya. "Kalian adalah anjing-anjing penurut yang suka menindas orang lemah di belakang nama besar tuan kalian. Tanpa nama Sekte Azure Cloud, tanpa kekuatan tuan kalian... kalian hanyalah sampah yang tidak berharga."

BRAK!!!

Kalimat itu baru saja selesai terucap, Gao Hu sudah meledak dalam amarah. Wajahnya memerah padam karena dipermalukan di depan umum.

"MATI KAU! BERANI MENYAMPAH KAMI!"

Dengan teriakan mengamuk, Gao Hu melesat maju, pedang lebarnya tercabut dari sarungnya dan menebas ke arah bahu Ye Chen dengan kekuatan penuh. Aura Qi Condensation Tingkat Kedelapan meledak keluar, memancarkan tekanan yang cukup kuat untuk membuat pedagang-pedagang di sekitar terlempar jatuh. Tebasan itu cepat, kuat, dan berisi niat membunuh yang nyata.

Namun, di mata Ye Chen, gerakan Gao Hu itu terasa sangat lambat, sangat kaku, dan penuh celah. Bagi pendekar ranah Foundation Establishment seperti dirinya, serangan tingkat kedelapan Qi Condensation itu sama saja dengan gerakan anak kecil yang merajuk.

Ye Chen tidak mundur, tidak menghunus pedangnya. Ia hanya sedikit memiringkan tubuhnya ke samping, menghindari tebasan maut itu hanya sejengkal saja. Angin tebasan pedang itu menyapu ujung jubah abu-abunya tanpa melukai sedikit pun.

Sebelum Gao Hu sempat menarik kembali pedangnya, tangan kanan Ye Chen bergerak secepat kilat, persis seperti kilatan bayangan. Telapak tangannya yang dingin dan keras mendarat tepat di dada Gao Hu.

DUNG!!!

Sebuah suara dentuman berat terdengar. Aura dingin yang pekat menyusup masuk lewat serangan itu. Tubuh Gao Hu yang besar dan kekar itu seolah ditabrak gajah raksasa. Ia terlempar mundur ke belakang, terbang melewati udara, dan menghantam keras ke dinding batu sebuah toko di kejauhan sebelum jatuh terguling ke tanah sambil mengerang kesakitan. Mulutnya menyemburkan darah segar, dan seluruh tubuhnya mendadak kaku dan membeku karena hawa dingin yang merambat cepat di dalam pembuluh darahnya.

Semua orang terpaku diam. Mulut mereka terbuka lebar tak percaya.

Gao Hu... salah satu dari Empat Harimau Awan, kekuatan tingkat kedelapan... dikalahkan hanya dengan satu tamparan tangan kosong? Tanpa senjata?

Tiga sahabatnya, Bao Lang, Xiong Wei, dan Hu Biao, melongo tak percaya sepersekian detik, sebelum akhirnya berteriak marah dan kaget.

"BERANI KAU! BUNUH DIA!"

"Serang bareng-bareng! Dia pasti cuma pakai trik kotor!"

Ketiganya melesat maju serentak, mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Tiga bilah pedang dan sebilah gada besi menghujani Ye Chen dari segala arah. Energi mereka berputar liar, menciptakan angin ribut yang menerbangkan debu dan batu kerikil.

Namun, Ye Chen tetap berdiri tenang di tengah badai serangan itu. Matanya dingin tanpa perasaan. Ia mulai menggerakkan Langkah Bayangan Hantu.

Tubuhnya mendadak menjadi kabur, berubah menjadi bayangan hitam yang bergerak sangat cepat hingga mata biasa sulit mengikutinya. Ia berputar di antara celah-celah serangan mereka, menampar pergelangan tangan Bao Lang hingga pedangnya terlempar, menendang lutut Xiong Wei hingga orang itu berlutut, dan memukul dada Hu Biao dengan siku tangannya.

Hanya dalam hitungan detik yang sangat singkat, terdengar suara rintihan kesakitan bertubi-tubi.

BRAK! DUNG! GEDEGUK!

Tiga sosok tubuh besar melayang di udara, lalu jatuh bergelimpangan di tanah tepat di samping Gao Hu. Keempatnya kini terbaring di tanah, mengerang kesakitan, tulang-tulang mereka retak-retak, dan seluruh tubuh mereka kaku tertutup lapisan es tipis akibat serangan energi dingin yang menyusup ke dalam tubuh.

Ye Chen berdiri kembali tegak di tempat semula, pakaiannya rapi, napasnya teratur, tidak ada satu pun goresan atau debu yang menempel padanya. Ia menatap keempat orang itu yang kini menatapnya dengan mata penuh ketakutan dan kengerian yang mendalam.

"Kalian kejam pada yang lemah, tapi lemah saat bertemu kekuatan sejati..." ucap Ye Chen pelan, suaranya terdengar di telinga mereka seperti suara maut. "Ingat apa yang aku katakan. Kalian hanyalah sampah. Dan sampaikan pesan ini ke tuan kalian, Bai Long..."

Ye Chen melangkah maju perlahan hingga berdiri tepat di atas dada Gao Hu yang terkapar. Tekanan dingin yang dahsyat ia lepaskan sedikit saja, membuat keempat orang itu merasa seolah sedang dikubur di tengah kutub utara.

"Katakan padanya... bahwa masa kejayaannya sudah hampir habis. Bahwa bayangan masa lalu yang ia kira sudah hilang... kini sudah bangkit dan sedang berdiri tepat di belakangnya. Katakan padanya... bersiaplah menerima balasan atas segala dosa yang telah diperbuatnya."

Dengan satu gerakan tangan santai, Ye Chen melambaikan telapak tangannya ke arah mereka. Gelombang energi dingin menyapu tubuh mereka, mendorong mereka berguling menjauh seolah boneka kain.

"Pergi... sebelum aku berubah pikiran dan memenggal kepala kalian di sini sekarang juga."

Keempat orang itu, yang kini penuh ketakutan hingga nyawa hampir melayang, segera merangkak bangkit dan lari terbirit-birit sambil membawa rasa sakit dan kengerian yang tak terlupakan. Mereka lari secepat mungkin menuju pusat kota, kembali ke sisi tuan mereka, berteriak ketakutan sepanjang jalan.

Setelah kehadiran mereka hilang, suasana jalan pasar itu hening sepi. Semua pedagang dan penduduk yang ada di sana menatap sosok pemuda berjubah abu-abu itu dengan tatapan kagum, hormat, namun juga takut.

Ye Chen memutar tubuhnya, menatap pedagang tua yang tadi menjadi korban pemerasan itu. Wajahnya yang dingin perlahan melembut sedikit.

"Paman, ambil kembali barang-barangmu. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang berani memerasmu di sini," ucap Ye Chen tenang.

Sebelum pedagang tua itu sempat mengucapkan terima kasih atau bertanya siapa nama penolongnya, sosok Ye Chen sudah bergerak mundur, berbalik, dan menghilang di balik bayangan gang sempit yang gelap, seolah ia tidak pernah ada di sana sejak awal.

Di balik gang itu, saat ia bergerak menjauh, senyum dingin tersungging kembali di bibir Ye Chen.

"Pesan pertama sudah terkirim, Mo Feng... Bai Long..." gumamnya pelan sambil menatap ke arah menara putih yang terlihat samar di langit. "Kalian pasti sedang bingung, marah, dan takut sekarang. Nikmati rasa itu. Karena ini baru permulaan. Permainan panjang kita baru saja dimulai."

Di dalam benaknya, suara Yue-Jian terdengar penuh persetujuan dan kemenangan kecil.

"Bagus sekali, Ye Chen. Kau lakukan dengan tepat. Kau membuat mereka malu, kau membuat mereka takut, dan kau membiarkan mereka hidup untuk membawa kabar buruk itu. Sekarang, Mo Feng pasti akan mengerahkan seluruh kekuasaannya mencari siapa pelakunya. Dia akan gelisah, dia akan khawatir, dia akan membagi perhatiannya. Dan semakin dia sibuk mencari 'musuh misterius' itu, semakin mudah bagimu untuk bergerak dan merencanakan langkah selanjutnya."

Ye Chen mengangguk dalam hati. Ia menghilang masuk ke dalam keramaian, menjadi bayangan tak terlihat yang kini mengintai tepat di depan pintu gerbang musuh-musuhnya.

Sementara itu, jauh di kompleks inti Sekte Azure Cloud, di dalam sebuah ruangan besar yang mewah dan dingin, Tetua Mo Feng tiba-tiba terbangun dari meditasinya. Ia mengerutkan keningnya yang berkerut, merasakan firasat buruk yang samar namun jelas. Di kejauhan, ia bisa mendengar suara teriakan panik dan langkah kaki berlarian mendekat ke arah kamarnya.

Bai Long, yang sedang duduk santai minum teh, juga beranjak berdiri dengan kening berkerut heran, melihat ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka paksa oleh keempat pengawal pribadinya yang masuk dalam keadaan babak belur, berdarah, dan penuh ketakutan yang tak terlukiskan.

"TUAN MUDA! TETUA MO FENG!" teriak Gao Hu dengan suara parau, jatuh berlutut di lantai. "ADA... ADA SESEORANG! ADA BAYANGAN MENGERIKAN YANG MENGHANTUI KITA!"

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
✅️🫰👍
Jojo Shua
🔥😄
Jojo Shua
☕️🥛
Jojo Shua
🥛🥛
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
🫰🫰
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
😲😲
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
🔥✅️
Jojo Shua
✅️
Jojo Shua
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!