Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gate Pertama
Batas antara dimensi bumi dan ruang terisolasi dari Gate terasa seperti selaput air raksa yang dingin. Saat Wu Xuan melangkah melewati pusaran kelabu itu, udara Shanghai yang berbau polusi seketika lenyap, digantikan oleh aroma tanah basah, lumut busuk, dan karat darah.
Mereka tiba di sebuah ngarai berbatu yang lembab, diterangi oleh lumut-lumut bercahaya hijau redup yang menempel di dinding gua raksasa. Ini adalah habitat dari ekosistem Goblin.
Xu Xin dan keenam anggota Tim Delta melangkah masuk tepat di belakang Wu Xuan. Formasi taktis langsung mereka bentuk secara refleks. Dua pemegang perisai di depan, penyerang jarak dekat di sayap, dan Mage serta Support di tengah. Mereka adalah pemuda yang terbiasa melindungi klien VVIP di dalam dungeon.
Namun, Wu Xuan tidak mempedulikan formasi mereka. Pemuda itu berjalan santai ke bagian paling depan, menempatkan dirinya sebagai ujung tombak.
Tangan kanannya perlahan menarik pedang hitam polos itu dari sarungnya.
Sring.
Seketika, aliran Qi yang murni membalut bilah pedang baja tersebut. Ruang di sekitar pedang itu terdistorsi, memancarkan aura hitam pekat yang menyerap cahaya dari lumut gua. Sebuah tekanan yang sangat berat, kuno, dan mematikan merayap turun menyelimuti ngarai tersebut.
Anggota Tim Delta membelalakkan mata mereka.
"S-Sihir apa itu?" bisik salah satu hunter pemegang tombak, suaranya bergetar menahan tekanan yang tidak masuk akal dari pemuda Level 0 di depan mereka. "Apakah itu Skill aktif dari Tower? Tapi tuan muda bahkan belum mencapai level lima untuk membuka slot Skill!"
Hanya Xu Xin yang terdiam, meski jantungnya tetap berdetak kencang menahan rasa kagum dan ngeri. Ia telah melihat Niat Pedang itu sebelumnya, namun melihatnya diekspos di medan pertempuran memberikan sensasi yang jauh lebih memukau.
Seorang pria dari anggota party, yang memegang tongkat dengan kristal mana, melangkah maju dengan ragu-ragu. "T-Tuan Muda... apa aku perlu melakukan buff penguatan fisik dan pertahanan pada Anda sebelum kita maju?"
Wu Xuan menoleh sedikit ke belakang. Profil wajahnya yang terkena pendaran lumut hijau terlihat luar biasa elegan namun sangat dingin. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Tidak perlu," ucap Wu Xuan santai. "Simpan manamu itu. Sudah kukatakan sebelumnya, tugas kalian di sini murni hanya untuk mengawasi dan belajar bagaimana cara tuan muda ini berburu."
Wu Xuan memutar kembali tubuhnya. Mata hitam kecoklatannya menatap lorong ngarai yang gelap. Di dalam retinanya, Sistem Tower berwarna biru muncul, mencoba memindai lingkungan. Namun, sedetik kemudian, garis kode emas dari Akar Spiritual Perpustakaan Abadi meretas antarmuka biru itu, menimpa algoritma milik menara.
'Mari kita lihat apa yang disembunyikan oleh sistem primitif ini,' batin Wu Xuan.
Di ujung ngarai yang berjarak sekitar seratus meter, seekor monster kecil berkulit hijau pucat, bertelinga runcing, dan memegang gada berkarat muncul dari balik batu.
Sistem Tower (Biru) hanya memunculkan tulisan di atas kepala monster itu:
[Mutan Goblin - Lvl. 2 - HP: 150/150]
Namun, Sistem Emas langsung membedah keberadaan makhluk itu hingga ke tingkat genetik:
[Data Perpustakaan Abadi Terhubung.]
[Spesies: Mutan Goblin (Rendahan). Anatomi rapuh di persendian leher vertebra C3. Cacat penglihatan pada cahaya tinggi. Organ vital: Jantung yang bergeser dua sentimeter ke kanan akibat mutasi.]
'Sistem Tower hanya menilai mereka dengan data standar,' batin Wu Xuan sambil tersenyum sinis. 'Namun, akar spiritualku mampu memindai Informasi yang jauh lebih kompleks dengan meretas database sistem tower.'
Goblin itu mencium bau manusia. Ia membuka mulutnya, bersiap mengeluarkan raungan untuk memanggil kawanannya.
Namun, ia tidak pernah mendapat kesempatan itu.
Wu Xuan tidak berteriak. Ia tidak mengambil kuda-kuda yang berlebihan. Ia hanya mengangkat pedang hitamnya, memadatkan Niat Pedang ke ujung bilah, dan mengayunkannya dengan satu tebasan horizontal yang sangat rileks.
WUSSS!
Sebuah bulan sabit berwarna hitam pekat, terbuat dari Qi murni yang dikompresi, melesat membelah udara dengan kecepatan supersonik.
Bilah energi itu melintasi jarak seratus meter hanya dalam kedipan mata, membelah angin, dan menebas tepat di persendian leher sang Goblin tanpa suara. Kepala hijau itu terlepas dari lehernya, terlempar ke udara sebelum tubuhnya ambruk ke tanah. Tebasan itu begitu presisi hingga darah bahkan baru menyembur satu detik setelah kepalanya jatuh.
Di belakang Wu Xuan, rahang keenam hunter Tim Delta nyaris lepas.
Menebas target dari jarak seratus meter dengan murni serangan fisik?! Itu adalah area kekuasaan Skill tingkat tinggi milik Hunter tipe penyerang di Town Tier! Bagaimana mungkin seorang pemuda Level 0 melakukannya?!
Bau darah memancing kawanan.
Dari balik celah bebatuan dan lubang gua, puluhan Goblin bermunculan. Mereka menggeram, mengayunkan senjata berkarat mereka, dan berlari menerjang ke arah Wu Xuan layaknya gelombang air bah hijau.
Wu Xuan tidak mundur. Senyumnya melebar. Ia melesat ke depan. Kecepatannya secara instan menembus rata-rata hunter Wall Tier. Bukan karena ia memiliki stats kelincahan dari sistem, melainkan murni karena sirkulasi Qi yang memompa otot kakinya dengan maksimal.
Pergerakannya tidak brutal seperti hunter petarung lain. Ia bergerak bagaikan bayangan hitam yang menari di tengah badai. Setiap langkahnya terencana.
Seekor goblin menerjang dari sisi kanan. Wu Xuan memiringkan bahunya satu sentimeter, membiarkan gada berkarat itu lewat di dekat telinganya, lalu ujung pedangnya menusuk tepat ke jantung goblin yang bergeser ke kanan.
Tancap. Cabut. Putar.
Tiga goblin melompat dari atas. Wu Xuan merendahkan tubuhnya, pedang hitamnya membentuk putaran tebasan ke atas, membelah ketiganya di udara sebelum mereka sempat menyentuh tanah.
Setiap kali pedangnya membunuh, Sub-Bakat Pengendali Jiwa milik Wu Xuan bereaksi.
Ia tidak membangkitkan mereka sebagai undead seperti nekromancer biasa. Dari mayat-mayat goblin yang jatuh, benang-benang jiwa berwarna abu-abu redup ditarik keluar secara paksa. Jiwa-jiwa itu dihisap masuk ke dalam bilah pedang hitamnya.
Bilah baja biasa itu mulai bergetar. Ia ditempa secara langsung oleh jiwa-jiwa yang ditelan, menyerap penderitaan dan energi spiritual mereka untuk memperkuat kepadatan material pedang itu sendiri. Senjata biasa itu perlahan berevolusi menjadi Pedang Jiwa.
Di belakang garis pembantaian itu, formasi Tim Delta hancur berantakan, bukan karena serangan monster, melainkan karena keterkejutan psikologis yang mencabik akal sehat mereka.
Sang Support pemegang tongkat penyembuh hampir terjatuh, wajahnya sepucat pualam. "I-itu... Necromancy? Sihir hitam?" gumamnya dengan gigi bergemeretak. Insting spiritualnya sebagai healer bergetar merasakan hukum kehidupan yang dirusak secara telanjang di depan matanya.
"Bukan..." bantah sang kapten pemegang perisai, suaranya parau dan bergetar hebat. "Seorang Necromancer dari Tower menggunakan mana untuk menggerakkan tulang dan memanggil mayat... tapi Tuan Muda... dia bahkan tidak mengeluarkan mana! Dia memakan jiwa mereka mentah-mentah untuk memberi makan pedangnya!"
Bahkan Xu Xin, yang telah bersumpah untuk tidak lagi terkejut, kini berdiri mematung layaknya bongkahan es. Di balik kacamata pintarnya, mata asisten tingkat City Tier itu merekam pemandangan yang membekukan aliran darahnya. Ia bisa melihat benang-benang jiwa ditarik paksa melawan kehendak alam semesta. Itu bukanlah sebuah Skill sistem yang dibatasi oleh cooldown atau syarat aktivasi. Itu adalah sebuah kendali mutlak.
Seni kuno yang merendahkan konsep kehidupan dan kematian menjadi sekadar bahan bakarl.
'Monster macam apa yang sebenarnya sedang aku awasi ini...?' batin Xu Xin, tubuhnya tanpa sadar merinding hebat, menatap punggung Wu Xuan yang terus bergerak menari di tengah badai.
Trang! Sring! Crash!
Ngarai itu berubah menjadi rumah jagal. Bukan pertarungan, melainkan sebuah orkestra pembantaian yang sangat elegan. Wu Xuan bergerak tanpa membuang satu milimeter pun energi yang tidak perlu.
Di dalam retinanya, Sistem Tower terus membunyikan lonceng.
[Notifikasi Tower: Membunuh Mutan Goblin Lvl 4. Exp diperoleh.]
[Notifikasi Tower: Level Up! Saat ini Level 1.]
[Notifikasi Tower: Level Up! Saat ini Level 2.]
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lantai ngarai itu telah dipenuhi oleh puluhan mayat hijau yang terbelah rapi. Tidak ada satu pun darah yang menempel di pakaian Wu Xuan.
Tiba-tiba, tanah bergetar.
Dari ujung ngarai, sesosok bayangan raksasa melangkah keluar. Itu adalah Bos Dungeon. Goblin Jawara. Tingginya mencapai tiga meter, dengan otot yang dipenuhi urat menonjol dan sebuah kapak batu raksasa di tangannya. Matanya merah menyala, menandakan ia telah melampaui level 15.
Goblin Jawara itu mengaum, suaranya menciptakan gelombang kejut yang membuat kerikil beterbangan. Ia melompat tinggi, membawa kapak raksasanya turun bagaikan meteor, mengincar kepala Wu Xuan.
"Tuan muda!! Apa kau butuh bantuan kami"
"Kami akan membantumu, tuan muda!!"
Tim Delta di belakang berteriak panik, bersiap menerjang untuk melindungi sang Tuan Muda.
"Tetap di tempat kalian!" suara Xu Xin menghentikan mereka. Asisten itu menatap punggung Wu Xuan dengan keyakinan buta.
Di bawah bayangan kapak raksasa yang jatuh, Wu Xuan sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Ia tidak perlu melihat. Matanya secara alami telah memproyeksikan lintasan serangan dan titik kelemahan sang Bos.
"Terlalu banyak celah," batin sang ahli strategi.
Tepat saat kapak itu berjarak satu jengkal dari kepalanya, Wu Xuan mengambil satu langkah menyamping dengan gerakan yang mengabaikan inersia. Kapak batu itu menghantam tanah dengan ledakan memekakkan telinga, menciptakan kawah kecil di sebelah kaki Wu Xuan.
Tanpa membuang jeda sepersekian detik, Wu Xuan melangkah maju menaiki gagang kapak yang menancap itu. Ia melompat, menyamai tinggi wajah sang Goblin Jawara.
Qi hitam membalut pedangnya hingga mencapai kepadatan maksimal.
Srat!
Satu tebasan horizontal. Sangat tenang. Sangat dalam.
Kepala raksasa sang Goblin Jawara tergeser dari lehernya, terpotong dengan mulus hingga tulang punggungnya rata. Tubuh raksasa itu ambruk ke depan, menciptakan gempa kecil di dasar ngarai.
Jiwa sang bos, yang jauh lebih tebal dan kuat, langsung dihisap secara brutal oleh pedang hitam Wu Xuan. Bilah pedang itu kini memancarkan pendar hitam yang berdenyut pelan, seolah ia hidup dan bernapas.
[Notifikasi Tower: Bos Goblin Jawara (Lvl 15) telah dikalahkan.]
[Notifikasi Tower: Gate Cleared. Waktu penyelesaian: 15 menit 12 detik.]
[Notifikasi Tower: Hadiah Standar (Lvl 2) - Tulang Goblin x10, Orb Goblin Rendahan x1.]
Di saat Sistem Tower hendak merilis item drop di udara, Akar Spiritual milik Wu Xuan kembali mengambil alih.
[Sistem Akar Spiritual: Mencegat Hak Distribusi Hadiah.]
[Protokol Peretasan Ringan: Menyaring Energi Kosong.]
[Modifikasi Hadiah Selesai: Esensi Sumsum Goblin x10 (Kualitas Medium), Minor Qi Core x1.]
Sebelas bola cahaya yang jauh lebih terang dan padat jatuh ke tangan Wu Xuan. Ia menyimpannya ke dalam Inventory sistem dengan wajah tanpa dosa, sementara otoritas semesta Tower tidak menyadari bahwa hadiahnya baru saja diretas dan ditingkatkan kualitasnya secara paksa.
Wu Xuan mendarat dengan anggun. Ia menyarungkan pedang hitamnya yang kini telah berubah menjadi Pedang Jiwa tingkat dasar.
Lima belas menit. Mayoritas waktu itu ia habiskan untuk berdiri diam membaca log data dari Sistem miliknya tentang anatomi goblin sebelum menyerang.
Tim Delta menatap pemuda itu dengan lutut gemetar. Syok yang mereka alami membuat otak mereka menolak untuk bekerja. Ini bukan lagi soal level; ini adalah penguasaan teknik tempur yang melampaui nalar.
Wu Xuan berbalik, menepuk sedikit debu yang tidak terlihat dari pakaiannya.
"Ayo kita keluar," ucap Wu Xuan santai. "Pergi ke Gate selanjutnya. Aku masih butuh delapan level lagi sebelum besok pagi."
Di luar Gate, pusaran kelabu itu mulai bergetar dan runtuh menjadi serpihan cahaya.
Puluhan staf, peneliti, dan hunter Wu Imperial Guild yang berjaga di luar terkejut. Mereka melihat jam di tangan mereka. Lima belas menit! Gate Kelas E dengan tingkat penaklukan normal biasanya memakan waktu minimal dua hingga tiga jam untuk membersihkan seluruh areanya!
Saat Wu Xuan, Xu Xin, dan Tim Delta berjalan keluar dari kepulan cahaya dimensi yang runtuh, orang-orang di luar segera mengarahkan alat pemindai mereka.
Bip.
"Pemindaian level Tuan Muda... L-Level 2," lapor seorang peneliti muda dengan suara gemetar.
Mendengar itu, bisik-bisik sinis kembali merayap di antara mereka yang berdiri di barisan belakang.
"Naik dua level hanya dengan memasuki satu Gate?" bisik seorang kapten penjaga. "Cih. Tentu saja cepat. Nyonya Xu Xin pasti menggunakan kekuatan miliknya untuk meratakan seluruh monster hingga tersisa 1% HP, lalu membiarkan Tuan Muda memberikan pukulan terakhirnya."
"Benar. Boost leveling khas pangeran kaya. Memalukan," cibir yang lain dengan sangat pelan.
Pendengaran Xu Xin, yang merupakan hunter tingkat tinggi, menangkap bisikan memuakkan itu. Wajah asisten cantik itu seketika memerah karena amarah yang meledak. Ia baru saja melihat seni pembantaian terindah dalam hidupnya, dan serangga-serangga buta ini berani merendahkan tuannya?!
Xu Xin mengambil langkah maju, mana di tubuhnya mulai meledak. "Dia—!"
Namun, sebuah tangan menahan bahu Xu Xin.
Wu Xuan berjalan melewatinya. Ia tidak menoleh pada barisan staf yang berbisik itu. Wajahnya murni memancarkan ketenangan. Bagi sang ahli strategi, membuang ludah untuk menjelaskan pada orang bodoh adalah managemen waktu yang merugikan.
"Simpan tenagamu, Xu Xin," ucap Wu Xuan tanpa basa-basi, terus berjalan lurus menuju pintu mobil lapis baja yang terbuka. "Cari kordinat Gate berikutnya. Masuk ke mobil. Sekarang."
Otoritas dalam nada suara Wu Xuan membungkam kemarahan Xu Xin. Ia menundukkan kepalanya, menyadari bahwa seekor naga tidak pernah mempedulikan gonggongan anjing di pinggir jalan.
Wu Xuan masuk ke dalam kabin mobil yang gelap, menatap pedang jiwanya yang berdenyut pelan. Delapan level lagi menuju penaklukan pertamanya.
Bersambung...