Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Lari
“Kalau mau hidup, ikut aku.”
Elias menatap Gerald seperti orang gila.
“KAU GAK LIHAT JUMLAH MEREKA?!”
Ribuan orc mulai turun dari retakan tanah seperti gelombang hijau yang tak ada habisnya.
Beberapa tentara manusia langsung dibantai bahkan sebelum sempat kabur jauh.
Jeritan memenuhi medan perang.
Darah mengalir bersama lumpur.
Namun Gerald tetap tenang.
Matanya bergerak cepat memperhatikan situasi:
posisi musuh
arah angin
jalur mundur
formasi manusia yang hancur
Otaknya bekerja otomatis seperti saat masih menjadi tentara elit.
“Kalau ikut kerumunan,” kata Gerald.
“Kita mati diinjak sendiri.”
Elias terdiam.
Dan sialnya…
Gerald benar.
Puluhan manusia justru saling dorong saat kabur.
Beberapa jatuh.
Lalu langsung diinjak tentara lain.
Orc hanya tinggal membantai sisa-sisanya.
“Terus kita harus gimana?!” teriak Elias panik.
Gerald menunjuk bukit kecil di sisi timur medan perang.
“Itu.”
“Hah?”
“Posisinya lebih tinggi.”
“Terus?”
“Kita bisa lihat gerakan mereka.”
Pria gendut tadi tiba-tiba angkat tangan.
“Aku gak kuat lari jauh.”
Elias langsung emosi.
“BADANMU ITU YANG JAUH, BUKAN LARINYA!”
“Kurang ajar…”
Gerald menghela napas panjang.
Baru beberapa menit di dunia ini dan dia sudah harus mengurus dua orang idiot.
“Namamu siapa?” tanya Gerald pada pria gendut itu.
“Boris.”
“Tentu saja…”
Nama yang cocok.
“Dengar baik-baik,” ujar Gerald.
“Mulai sekarang jangan bergerak tanpa perintahku.”
Elias mengernyit.
“Memangnya kau siapa?”
Gerald diam beberapa detik.
“…Orang yang lebih tahu cara bertahan hidup dibanding kalian.”
Lalu ia mulai berjalan.
Anehnya…
Elias dan Boris ikut.
Mereka sendiri tidak tahu kenapa.
Mungkin karena di tengah kekacauan ini, Gerald satu-satunya orang yang terlihat tidak panik.
DUARRR!!
Seekor orc menghantam seorang prajurit hingga tubuhnya terlempar beberapa meter.
Orc lain langsung menerkam manusia yang jatuh.
Suara tulang patah terdengar mengerikan.
Elias pucat.
“Monster-monster itu…”
“Mereka lapar,” jawab Gerald.
“Dan kita makanannya.”
Mereka bertiga terus bergerak di antara kekacauan medan perang.
Gerald sengaja memilih jalur pinggir.
Sedikit musuh. Sedikit manusia.
Lebih aman.
Namun tiba-tiba—
“TOLOOONG!!”
Seorang tentara muda terjatuh tak jauh dari mereka.
Kakinya terjebak mayat.
Seekor orc besar mendekatinya perlahan sambil menyeringai.
Tentara itu menangis ketakutan.
“Aku gak mau mati…”
Elias refleks ingin maju.
Namun Gerald menahan bahunya.
“Jangan.”
“Hah?!”
“Kita tidak bisa selamatkan semua orang.”
“Tapi—”
“Kalau kau mati sia-sia, tidak ada gunanya.”
Elias menggigit bibirnya.
Orc itu mengangkat kapaknya tinggi.
Tentara muda itu memejamkan mata.
Lalu—
WHUSSH!!
Sebuah kapak kecil berputar dan menghantam wajah orc.
BRAKK!!
Monster itu mundur sambil meraung kesakitan.
Semua orang menoleh.
Boris berdiri sambil ngos-ngosan.
“Itu anak masih kecil…”
“….”
Elias menatap tidak percaya.
“KAU BISA LEMPAR KAPAK?!”
Boris mengangkat bahu.
“Lumayan.”
Gerald langsung bergerak.
Begitu orc terdistraksi—
CRAAKK!!
Pedangnya menusuk mata monster itu.
Orc meraung brutal sambil mengayunkan tangannya secara membabi buta.
“Turun!” teriak Gerald.
Mereka semua merunduk.
Kapak batu orc menghantam prajurit lain di belakang mereka.
DUARR!!
Tubuh pria itu langsung hancur.
Gerald memutar pedangnya.
Lalu—
CRASSHH!!
Leher orc terputus.
Tubuh besar itu roboh ke tanah.
Hening sesaat.
Tentara muda tadi gemetar hebat.
“A-Aku…”
Gerald menarik pedangnya.
“Kalau mau nangis, lakukan nanti.”
“Hah?”
“Sekarang lari.”
Tentara itu langsung kabur tanpa pikir panjang.
Elias menatap Gerald.
“Kau bilang kita gak bisa selamatkan semua orang.”
“Aku berubah pikiran.”
“Karena Boris lempar kapak?”
“Karena orc itu membuka celah.”
“….”
Elias mulai sadar.
Gerald bukan baik hati.
Dia hanya sangat realistis.
Dan entah kenapa… itu jauh lebih menenangkan.
DUUMMM!!
Tanah kembali bergetar.
Gerald menoleh ke belakang.
Orc raksasa tadi mulai bergerak.
Setiap langkahnya menghancurkan tanah.
Puluhan manusia mati hanya karena terinjak.
“Gila…” gumam Boris.
Gerald menyipitkan mata.
Monster sebesar itu tidak mungkin dibunuh prajurit biasa.
Minimal bukan sekarang.
“Gerald.”
Elias tiba-tiba bicara.
“Hm?”
“Kau tadi bilang kita harus ke bukit…”
Gerald mengangguk.
“Kenapa?”
Gerald melihat medan perang sekali lagi.
Lalu berkata pelan:
“Karena perang ini belum selesai.”
“Hah?”
“Mereka bukan datang untuk satu pertempuran.”
Matanya menatap ribuan orc yang terus keluar dari bawah tanah.
“…Mereka datang untuk memusnahkan manusia.”
Dan untuk pertama kalinya…
Elias benar-benar merasa dunia akan berakhir.