tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Benih Kekuatan dan Keputusan Berat
Pemikiran untuk mendirikan sebuah organisasi rahasia perlahan berubah menjadi tekad yang bulat di dalam dada Rian. Ia sadar betul bahwa langkah yang akan diambilnya ini adalah langkah yang sangat besar, berisiko, dan akan mengubah jalan hidupnya serta Serli selamanya.
Masuk ke dunia gelap, membentuk kelompok kekuatan yang bergerak di luar hukum resmi, bukanlah keputusan yang bisa diambil dengan ringan. Ada bahaya nyata yang mengintai, baik dari musuh-musuh yang akan dibuatnya nanti, maupun dari risiko tergelincir ke dalam kejahatan yang tanpa disadari. Namun, melihat perkembangan situasi yang semakin tidak bersahabat dan ancaman yang kian nyata, Rian merasa tidak ada jalan lain.
Demi Arka Group, demi keberlangsungan hidup karyawan yang bergantung pada perusahaan itu, dan demi keselamatan Serli, ia rela mengambil risiko sebesar apa pun.
Beberapa hari berlalu, Rian berusaha mengumpulkan segala informasi dan memetakan rencana di dalam diam. Ia tidak berbicara kepada siapa pun, kecuali kepada Serli. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui isi hati dan pikiran terdalamnya, serta menjadi satu-satunya tempat ia berbagi beban berat ini.
Suatu malam, setelah makan malam selesai dan suasana rumah menjadi tenang, Rian mengajak Serli duduk di ruang tengah. Ia menatap wajah istrinya lekat-lekat, mencari kekuatan dan dukungan yang selalu ada di sana.
"Serli," mulainya dengan nada serius, "Kau pasti sudah tahu apa yang ada di pikiranku belakangan ini. Ancaman yang datang ke arah kita semakin nyata, dan cara biasa tidak akan mempan lagi melawan mereka. Aku sudah memikirkan ini matang-matang, dan aku sudah mengambil keputusan."
Serli menatap balik, matanya menyiratkan kekhawatiran namun juga kesiapan mendengarkan.
"Apa keputusanmu, Rian? Katakan saja, aku akan selalu ada di sampingmu apa pun itu."
"Aku akan membentuk sebuah organisasi," jawab Rian tegas. "Sebuah kelompok yang bergerak di balik layar, rahasia, yang bertugas khusus melindungi kepentingan Arka Group. Mereka akan menjadi mata, telinga, dan tangan kekuatan kita di tempat-tempat yang tidak bisa aku jangkau secara resmi. Mereka akan memastikan jalur kita aman, mengumpulkan informasi tentang musuh, dan memberikan perlawanan yang setara jika ada yang berani mengganggu kita.
Aku ingin organisasi ini kuat, disegani, dan ditakuti. Aku akan menamainya Organisasi Naga Hitam."
Mendengar hal itu, raut wajah Serli sedikit berubah. Ia bukan tidak mengerti kebutuhan akan perlindungan, namun ia sangat paham konsekuensi dari langkah tersebut. "Naga Hitam... nama yang sangat berani dan mengerikan. Rian, kau sadar kan apa artinya ini? Kau akan masuk ke dunia yang sangat berbahaya, dunia di mana nyawa adalah taruhan termurah. Begitu kau melangkah masuk, tidak akan ada jalan untuk kembali lagi menjadi orang biasa. Kita akan dikejar bahaya dari segala arah, baik dari musuh maupun dari hukum. Aku khawatir, Rian... aku khawatir keselamatanmu, aku khawatir kau akan berubah menjadi orang yang tidak lagi aku kenal."
Rian meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan dan ketegasan hatinya.
"Aku tahu risikonya, Sayang. Aku tahu betul apa yang aku hadapi. Tapi percayalah, aku tidak melakukan ini demi kekuasaan atau kejahatan semata. Aku tidak ingin menjadi penjahat, aku hanya ingin memiliki perisai yang cukup kuat agar kita tidak terus-menerus diinjak-injak dan dipersulit hidupnya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Organisasi Naga Hitam akan dibangun dengan tujuan utama: pertahanan dan perlindungan. Aku akan membuat aturan yang sangat tegas. Kita tidak akan mengganggu orang lain, kita tidak akan menindas yang lemah, dan kita tidak akan berbuat kejahatan yang merugikan rakyat banyak. Tapi jika ada yang berani menyentuh kita, menyentuh Arka Group, atau menyentuhmu... maka mereka akan merasakan amarah Naga Hitam yang sesungguhnya."
Kata-kata Rian terdengar begitu meyakinkan dan penuh tekad. Serli menatap mata suaminya, mencari kejujuran di sana, dan ia menemukannya. Ia tahu Rian adalah orang yang berprinsip, orang yang teguh pada janji. Ia juga sadar bahwa Rian mengambil keputusan berat ini bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk mereka berdua, untuk masa depan yang telah mereka bangun bersama.
Dengan napas panjang dan sedikit gemetar, Serli akhirnya mengangguk. Ia sadar, dalam situasi seperti ini, ia tidak boleh menjadi penghalang. Ia harus menjadi pendukung terkuatnya, penyeimbang yang akan selalu mengingatkan Rian pada tujuan awal agar tidak tersesat.
"Baiklah, Rian," ucap Serli pelan namun mantap.
"Jika itu keputusanmu, dan kau yakin ini satu-satunya cara, maka aku mendukungmu sepenuhnya. Aku akan tetap di sini, di sisimu. Tapi ingatlah janjimu padaku. Jangan biarkan kekuasaan mengubah hatimu. Tetaplah menjadi Rian yang aku cintai, yang adil dan bijaksana, walau di balik nama besar Naga Hitam itu."
Rian tersenyum lega, lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan hangatnya. "Terima kasih, Serli. Terima kasih sudah percaya padaku. Bersamamu di sisiku, aku yakin kita bisa melewati apa pun. Naga Hitam akan menjadi kekuatan kita, bukan kutukan kita."
Keputusan itu telah bulat. Mulai saat itu, Rian tidak lagi hanya berpikir sebagai seorang pengusaha biasa. Ia mulai menyusun strategi pembentukan organisasi rahasianya dengan sangat teliti dan hati-hati.
Ia sadar, membangun kekuatan seperti Naga Hitam tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau terburu-buru. Ia membutuhkan orang-orang yang tepat, orang-orang yang memiliki keahlian khusus, yang setia mati-matian, dan yang bisa dipercaya sepenuhnya tanpa keraguan sedikit pun.
Rian mulai mengingat-ingat orang-orang yang pernah dikenalnya di masa lalu, orang-orang yang pernah dibantunya saat mereka berada di titik terendah, orang-orang yang memiliki bakat terpendam namun terbuang, atau mereka yang juga memiliki dendam dan alasan untuk membenci ketidakadilan dunia bisnis.
Ia mulai melakukan pendekatan secara diam-diam, bertemu di tempat-tempat tersembunyi, jauh dari pantauan siapa pun. Ia memilih orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keamanan, intelijen, pertarungan, hingga yang mengerti seluk-beluk hukum dan administrasi. Setiap orang yang direkrutnya dipilih dengan penyaringan yang sangat ketat, diuji kesetiaan dan prinsipnya.
Rian tidak ingin orang yang serakah atau haus kekuasaan masuk ke dalam jajarannya. Ia butuh pasukan yang disiplin, patuh, dan paham betul tujuan keberadaan organisasi ini. Di sisi lain, Serli mulai berperan mengatur aliran dana rahasia. Ia menyusun sistem keuangan tersembunyi di bawah pembukuan resmi Arka Group, memastikan bahwa pendanaan untuk operasional Naga Hitam berjalan lancar, aman, dan tidak akan terdeteksi oleh siapa pun yang tidak berkepentingan.
Semua persiapan dilakukan dalam keheningan total, bagai bayangan yang bergerak di malam hari.
Rian bekerja dua kali lebih keras, membagi waktunya antara mengurus bisnis resmi Arka Group dan merancang fondasi Naga Hitam. Tekadnya semakin membaja. Ia tahu, perjalanan panjang dan berbahaya telah dimulai, namun ia siap menghadapi segalanya. Sebentar lagi, nama Naga Hitam akan mulai bergema, dan kekuatan Rian akan menjadi hal yang tidak lagi bisa dianggap remeh oleh siapa pun.
Di Pulau terpencil jauh dari hirup pikuk perkotaan Raka dan istrinya sedang memantau Rian dari layar besar.
Ayah Rian ,Raka sebenarnya belum Mati,Raka memalsukan kematiannya agar kelak Rian mampu menjadi seorang pemimpin yang besar......