"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Ketika Zaskia mengalami kesulitan, Aryan maju untuk menyelamatkan Zaskia.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Drastia
Keesokan harinya, Zaskia kembali terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Rasa gatal di wajahnya semakin terasa.
Saat bercermin, ia langsung terdiam. "Hah...?"
Jerawat di pipinya bertambah beberapa buah dibanding kemarin. Kulit wajahnya juga tampak lebih kusam.
"Kenapa, ya?"
Ia mencoba mengingat. Skincare masih sama. Sabun wajah masih sama. Ia juga tidak bergadang. Bahkan makanan yang ia konsumsi tidak ada yang berubah.
"Perasaan semuanya biasa aja..."
Meski bingung, Zaskia tidak punya banyak waktu. Hari ini ada pengambilan nilai di kampus. Kalau tidak hadir, nilainya bisa kosong.
Sesampainya di kampus, Zaskia mulai merasa ada yang tidak biasa. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya spontan menutup hidung.
Ada yang berbisik pelan. "Bau apa itu?"
"Gak tau. Kayaknya dari sana..."
Zaskia menoleh ke kanan dan kiri. Ia bahkan sempat mencium ujung hijabnya sendiri.
"Enggak ada bau apa-apa..." batinnya heran.
Begitu memasuki kelas, suasana menjadi lebih canggung. Mahasiswa yang biasanya duduk di dekatnya perlahan memilih pindah ke bangku lain.
"Kita geser aja, yuk."
"Iya. Di sini sumpek."
Zaskia hanya bisa memandang mereka dengan bingung.
"Aku salah apa...?"
Tak lama kemudian, Rena datang. Ia sempat mengernyit saat berada di dekat Zaskia, tetapi bukannya menjauh, ia tetap menarik kursi dan duduk di samping sahabatnya.
"Pagi, Kia!"
"Pagi..." Zaskia tersenyum lemah.
"Ren..."
"Hm?"
"Jujur."
"Emang aku bau, ya?"
Rena terdiam beberapa saat.
Ia tidak ingin berbohong. "...Ada sedikit aroma yang beda."
"Tapi aku gak tau kenapa."
"Mungkin kamu lagi gak enak badan."
Mata Zaskia mulai berkaca-kaca. "Aku mandi dua kali tadi pagi. Aku juga pakai parfum. Semuanya seperti biasa."
Rena langsung menggenggam tangan sahabatnya.
"Udah. Jangan dipikirin dulu. Nanti selesai kuliah kita ke dokter kulit aja."
Zaskia mengangguk pelan.
***
Matahari siang mulai condong ke barat. Koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis tampak lebih lengang setelah jam kuliah berakhir.
Kafa sudah berdiri di dekat tangga sejak beberapa menit yang lalu. Sejak pagi ia telah mengirim pesan kepada Zaskia agar menemuinya di sana. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
Tak lama kemudian, Aryan turun dari lantai dua usai menyelesaikan perkuliahannya. Begitu melihat Kafa berdiri sendirian di depan koridor FEB, ia mengernyit heran.
"Ngapain lo di sini?"
Kafa menoleh sekilas. "Nunggu Kia."
Aryan menghela napas pelan. "Ck... pacaran lagi lo?" sindirnya datar.
Kafa menggeleng. "Bukan."
"Lalu?"
"Ada yang mau gue omongin."
Aryan menatap sahabatnya beberapa detik. "Kalau soal lamaran kenapa harus sekarang? Kan lo juga baru siapnya 2 buan lagi."
"Jangan kepo, Yan. Gue tau lo cemburu kan."
"Ck, sok tau."
Kafa malah terkekeh. Ia sendiri tau bahwa Aryan seperti memiliki perasaan yang sama dengannya terhadap Zaskia.
Aryan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Kalau memang udah yakin, kenapa harus nunggu lama? Langsung nikah aja."
Kalimat itu terdengar biasa. Namun hanya Aryan yang tahu betapa berat mengucapkannya. Ada rasa perih yang ia simpan rapat di dalam dada.
Kalau memang Kafa dan Zaskia berjodoh. Maka ia harus belajar mengikhlaskan gadis yang diam-diam telah mengisi hatinya selama bertahun-tahun.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah tangga. Zaskia muncul sambil membawa tas ranselnya.
"Kak..."
Begitu melihat Zaskia, kedua alis Kafa langsung berkerut. Kulitnya tampak jauh lebih kusam. Jerawat tumbuh semakin banyak di pipinya. Bahkan dari jarak beberapa langkah, Kafa mencium aroma yang tidak biasa.
"Kia..."
Zaskia langsung menunduk. Ia tau Kafa pasti menyadarinya.
"Kak... maaf."
Kafa mengernyit.n"Maaf kenapa?"
"Aku... bau ya?" Suara Zaskia terdengar lirih. "Jujur aku juga gak tau kenapa. Aku udah mandi. Skincare juga gak ganti. Aku juga pakai parfum kok. Tapi sejak kemarin jadi begini."
Kafa memandangi wajah gadis itu beberapa saat. Di dalam hatinya muncul rasa heran yang sulit dijelaskan.
Cepat sekali berubahnya. Namun ia tidak ingin menambah beban pikiran Zaskia.
"Hm... gapapa."
Zaskia berusaha tersenyum walau terasa hambar. "Oh ya... Kakak tadi bilang ada yang mau diomongin?"
Kafa terdiam. Niatnya untuk membahas rencana lamaran mendadak menghilang. Melihat kondisi Zaskia sekarang, rasanya bukan waktu yang tepat membicarakan hal itu.
"Gak jadi."
Zaskia mengangkat wajah. "Hah?"
"Nanti aja."
"Tapi katanya penting..."
"Iya." Kafa memaksakan senyum tipis. "Nanti kalau keadaan kamu udah lebih baik. Jaga kesehatan dulu. Oke?"
Zaskia mengangguk pelan. "Iya, Kak."
Setelah itu Kafa memilih pergi lebih dulu. Semakin jauh ia melangkah, semakin berat perasaannya.
Ia bukan menjauh karena jijik. Ia justru bingung dan khawatir melihat perubahan Zaskia yang begitu drastis hanya dalam waktu singkat.
Sementara itu, Zaskia masih berdiri mematung.
Dadanya terasa sesak. Di matanya, kepergian Kafa seolah menjadi bukti bahwa penampilannya kini membuat orang enggan berada di dekatnya. Air matanya hampir jatuh. Di sampingnya,
Aryan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan akhirnya melangkah mendekat.
"Kak Aryan..."
"Hm?"
"Kenapa Kakak gak pergi juga?"
Aryan menatap Zaskia tenang. "Kenapa Kakak harus pergi?"
"Ya..." Zaskia tersenyum pahit. "...karena aku jelek. Dan sekarang juga bau."
Aryan menggeleng pelan. "Enggak kok."
Zaskia mengangkat wajah dengan bingung. "Hah?"
Aryan menatapnya lurus. "Kakak memang lihat wajah kamu lagi banyak jerawat. Tapi itu bukan berarti kamu jadi jelek. Dan kalau memang ada aroma yang berbeda, itu bukan alasan buat ninggalin kamu." Suara Aryan terdengar tenang, tetapi penuh keyakinan.
"Yang lagi kamu alami ini bukan sesuatu yang kamu inginkan. Jadi kenapa Kakak harus menjauh?"
Mata Zaskia mulai berkaca-kaca. Selama dua hari terakhir, hampir semua orang memandangnya dengan tatapan aneh.
Namun hanya Aryan yang tetap berdiri di hadapannya tanpa mundur selangkah pun.
Aryan masih berdiri di hadapan Zaskia.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering. Ternyata dari Ayesha yang meminta Zaskia untuk pulang karna akan ke dokter kulit memeriksa keadaan Zaskia.
Zaskia tersenyum kecil. "Kak, aku duluan ya. Bunda nyuruh cepet pulang."
"Iya. Hati-hati."
"Iya, Kak."
Zaskia pun berjalan menuju area parkiran dengan langkah pelan.
Aryan tidak langsung pergi. Tatapannya mengikuti punggung gadis itu hingga menghilang di balik koridor.
Saat hendak berbalik, tanpa sengaja pandangannya menangkap seseorang yang berdiri cukup jauh di ujung lorong.
Diki. Laki-laki berkacamata itu sedang menatap ke arah Zaskia yang berjalan menjauh.
Namun bukan tatapan sedih.nBukan pula kecewa. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang menurut Aryan terasa... ganjil.nSeolah-olah ia sedang menikmati sesuatu.
Aryan mengernyit. Kenapa dia senyum?
Padahal beberapa hari terakhir Zaskia justru sedang mengalami hal yang membuatnya terpuruk. Kulitnya berubah. Jerawat muncul begitu cepat. Bahkan aroma tubuhnya mendadak berbeda tanpa sebab yang jelas.
Namun Diki, malah tampak puas. Beberapa detik kemudian, Diki menyadari dirinya sedang diperhatikan. Tatapan mereka bertemu.
Senyum di wajah Diki langsung menghilang. Ia buru-buru membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan koridor.
Aryan memperhatikan punggungnya sampai menghilang. Entah kenapa, firasatnya semakin buruk.
"Ada yang aneh..." Ia mengingat kembali semua kejadian beberapa hari terakhir.
Mulai dari Diki yang menyatakan cinta. Ditolak Zaskia. Kemudian marah. Lalu berkata, "Jangan mentang-mentang kamu cantik, kamu bisa seenaknya nolak aku."
Dan sekarang... Ketika kondisi Zaskia memburuk, Diki justru tersenyum. Terlalu banyak kebetulan.
"Apa semua ini ada hubungannya sama Diki?" batin Aryan.
Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan.
"Tapi... gimana caranya?"
Aryan adalah seseorang yang berpikir logis. Perubahan wajah Zaskia bisa saja disebabkan alergi, stres, gangguan hormon, atau penyakit tertentu. Ia tidak ingin langsung menuduh tanpa bukti.
Tetapi senyum Diki barusan benar-benar mengganggu pikirannya. Bukan senyum lega. Melainkan senyum seseorang yang merasa rencananya berhasil.
Aryan mengepalkan tangannya pelan. "Kalau memang ini cuma kebetulan... syukurlah. Tapi kalau ternyata ada orang yang sengaja menyakiti Kia..."
Sorot matanya berubah tajam. "Aku gak akan tinggal diam."
***
Abidzar dan Azzura akhirnya tiba di apartemen putra-putra mereka menjelang sore. Bersama mereka ikut pula Azel, putri bungsu yang sejak tadi terlihat paling bersemangat karena bisa bertemu kedua kakaknya.
Suasana apartemen yang biasanya tenang mendadak ramai.
Azel tak berhenti mondar-mandir mengganggu Aryan dan Arshaf, sementara Azzura sibuk menata kulkas dan membekali mereka masakannya.
Kini, setelah makan malam selesai, mereka semua duduk santai di ruang tengah.
"Uma, tidur di sini aja, ya," bujuk Arshaf sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Azzura tersenyum kecil lalu menggeleng. "Enggak, Nak. Kami bertiga tidurnya di hotel. Abi kalian udah pesen kamar."
"Kenapa harus hotel sih?" Aryan ikut bersuara sambil menuangkan minum.
"Soalnya ada Kafa di sini," jawab Azzura santai.
Kafa yang sedang memakan buah langsung tersedak kecil. "Ya ampun, Tante..."
Azzura terkekeh melihat reaksinya. "Bukan begitu maksud Tante."
Abidzar ikut tersenyum tipis. "Azel masih suka sembarangan. Dia masih suka lupa kalau ada orang nanti dia malah buka kerudung sembarangan. Kafa sama Azel kan bukan mahram. Lagian kami kesini bukan untuk merepotkan kalian."
"Ih abi apaan sih. Kaya sama siapa aja." Protes Aryan.
Azel yang sedang rebahan di paha Aryan langsung protes. "Acel gak gitu ya Abi!"
Aryan mendengus pelan. "Gak salah lagi maksudnya!"
"Ih apaan sih Kak Aryan. Aku sama Kak Arshaf aja."
Azel pindah haluan di dekat abang pertamanya itu.
"Tapi kakak gak mau sama Acel!" Sahut Arshaf.
Azel langsung manyun malu sementara semua orang tertawa kecil.
"Gapapa kok, Om, Tante," ujar Kafa. "Aku juga ngerti."
"Besok kita jalan-jalan lagi bareng," ucap Azzura lembut.
Azel langsung duduk tegak antusias. "Mau ke mall! Aku mau makan es krim sama main bowling!"
"Dompet Abi nangis dengernya," sahut Abidzar datar.
"Abi kan kaya."
"Kata siapa?"
"Kata Uma."
Azzura refleks melotot. "Azel!"
Sontak ruang tengah kembali dipenuhi tawa.
Tak lama kemudian Abidzar berdiri sambil mengambil kunci mobil. "Ya udah, kami balik dulu."
"Kita anterin," ucap Aryan spontan.
"Iya, rame-rame aja sekalian cari angin," timpal Arshaf.
Abidzar menggeleng geli. "Rame begini nganternya?"
"Gapapa, Bi. Biar hotelnya sekalian pindah kalau Azel ngambek."
"Kak Aryan!" Azel melempar bantal ke arah kakaknya.
Aryan tertawa puas sementara Arshaf hanya menggeleng pelan melihat tingkah adiknya.
Di tengah keramaian kecil itu, Kafa tanpa sadar tersenyum tipis.
Hangat. Sudah lama ia tidak merasakan suasana keluarga seramai ini.
***
Sore itu, Zaskia ditemani kedua orang tuanya baru saja pulang dari dokter spesialis kulit.
Dokter telah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Wajah Zaskia dipotret, diperiksa dengan alat khusus, bahkan ditanyakan riwayat makanan, alergi, kosmetik, hingga perubahan hormon.
Namun hasilnya membuat dokter mengernyit heran. "Secara medis, saya belum menemukan penyebab yang jelas. Jerawatnya muncul sangat cepat. Dan aroma tubuh yang muncul juga tidak sesuai dengan kelainan kulit yang biasanya saya temui."
Dokter itu kemudian menuliskan beberapa resep. "Saya berikan obat minum, salep, dan rangkaian skincare. Besok datang lagi ya, kita lakukan treatment supaya saya bisa melihat perkembangan kulitnya."
"Iya, Dok," jawab Ayesha.
Malam harinya. Suasana meja makan terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Zaskia hanya mengaduk nasi di piringnya.
Selera makannya hilang. Sesekali ia bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya, meski keluarganya berusaha bersikap seperti biasa.
Tak lama kemudian, Zaskia meletakkan sendoknya.
"Maaf..." Suaranya bergetar. "Aku kenyang."
Padahal makanan di piringnya hampir tidak berkurang.
Ayesha langsung memegang tangan putrinya. "Sayang, makan dulu sedikit."
Zaskia menggeleng. Air matanya mulai jatuh.
"Bunda...Aku capek. Kenapa wajah aku jadi begini?"
Tangis yang sejak beberapa hari terakhir ia tahan akhirnya pecah.
"Aku udah minum obat. Aku udah ganti skincare. Aku mandi berkali-kali. Tapi malah makin parah. Aku takut gak bakal balik lagi kayak dulu."
Ayesha segera memeluk putrinya erat. "Enggak, Sayang. Insya Allah sembuh. Kita ikhtiar. Kita berdoa. Allah pasti kasih jalan."
Zaskia menangis di pelukan bundanya. Sementara Zhafran hanya bisa mengembuskan napas panjang. Hatinya terasa sesak melihat putri yang biasanya ceria kini kehilangan kepercayaan diri.
Tak lama kemudian, Zaskia meminta izin masuk ke kamar. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Begitu pintu kamar tertutup, suasana ruang makan kembali sunyi.
Zaid yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Yah..."
"Hm?"
"Apa mungkin Kak Kia kena guna-guna?"
"Zaid!" Zhafran langsung menegur. "Jangan asal ngomong."
Zaid langsung menunduk. "Iya, Yah."
Namun setelah beberapa saat hening, Ayesha menatap suaminya dengan ragu.
"Mas..."
"Iya?"
"Aku tau kita gak boleh menuduh tanpa bukti. Tapi..."l Perubahan Kia terlalu cepat. Baru tiga hari wajahnya berubah jauh. Jerawat muncul banyak. Badannya juga mengeluarkan aroma yang aneh bahkan wajahnya terlihat tua. Padahal dokter bilang pemeriksaannya normal."
Ayesha mengusap sudut matanya. "Aku gak tega lihat Kia."
Zhafran terdiam cukup lama. Ia juga merasakan kejanggalan yang sama. Sebagai seorang ayah, ia tentu ingin mencari penjelasan yang rasional terlebih dahulu. Karena itulah mereka membawa Zaskia ke dokter.
Namun ketika pemeriksaan medis belum menemukan penyebabnya, ia merasa perlu mencari ikhtiar lain yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Akhirnya ia mengangguk pelan. "Kalau memang yang dikatakan Zaid itu ada benarnya kita jangan langsung menyimpulkan. Kita tetap husnuzan. Tapi tidak ada salahnya meminta bantuan orang yang paham syariat untuk melakukan ruqyah atau mendoakan."
Ayesha mengangguk. "Mas mau panggil siapa?"
"Ustadz Mansyur."
Ayesha tampak sedikit lega. Ustaz Mansyur dikenal sebagai seorang ustaz yang sering membantu orang-orang yang diduga mengalami gangguan nonmedis melalui ruqyah syar'iyyah, yaitu dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan doa-doa yang diajarkan dalam Islam. Ia selalu menekankan bahwa kesembuhan datang dari Allah semata, bukan dari dirinya.
"Nanti biar Zaid yang menjemput beliau."
"Iya Ayah."
Ayesha mengangguk pelan. "Semoga memang cuma sakit biasa."
"Aamiin."
Di lantai atas, Zaskia masih menangis dalam kamarnya, sama sekali tidak mengetahui percakapan kedua orang tuanya malam itu. Ia hanya memandang pantulan wajahnya di cermin, berharap ketika bangun esok pagi, semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk.
crita nya azel blum ada ya Thor
jngan dulu dong Thor,crita Aryan aja kok sdikit amat sih 🤭🤭😅
hahaha kna kamu shaf.ujung2 nya kamu yg kna crmah .prempuan mau di lwan,mna bisa 🤣🤣🤣