"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zaskia Kesurupan Lagi
"Kak Aryan?"
"Lo jadi kenal, Ki?" tanya Rena.
Zaskia menoleh lalu mengangguk pelan. "Iya, Ren."
Aryan yang sedang berjalan mendekat hanya memberi senyum tipis. Meski wajahnya tampak setenang biasanya, penampilannya sedikit berantakan. Kaos hitamnya dipenuhi bercak tanah, rambutnya berantakan dan sedikit basah, sementara kedua matanya tampak merah.
"Makasih ya udah nemenin dia," ucap Aryan pada Rena setelah sampai di samping brankar.
"Iya, Kak." Rena tersenyum canggung. "Kalau gitu gue balik kelas dulu ya, Ki."
"Iya, Ren. Makasih."
Rena mengangguk lalu segera keluar dari ruang kesehatan. Kini hanya tersisa Aryan dan Zaskia di sana.
Hening sejenak.
Melihat ada yang berbeda pandangan gadis itu lantas menelisik penampilan Aryan yang sedikit berantakan.
"Kakak habis dari mana?"
"Gimana keadaan kamu?"
Jawaban yang diberikan Aryan malah tidak sinkron dengan pertanyaan Zaskia.
"Zaskia udah enggak apa-apa kok. Tapi kenapa penampilan kakak jadi kotor gini? Terus mata kakak kenapa merah banget? Kakak habis dari mana?"
"Mau pulang enggak? Ayo kakak antar."
Lagi-lagi Aryan menjawab tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan kepadanya. Ia terus menghindari kekhawatiran Zaskia atas dirinya.
Zaskia menghela napas. Ia sudah terbiasa dengan sikap datar dan ketus pemuda itu sehingga ia tidak kaget lagi.
Zaskia yang tadinya sudah pada posisi duduk, lantas perlahan turun dari brangkar. Setelah itu ia kembali memakai sepatunya.
Aryaan membantu mengambilkan tas lalu membawakannya keluar. Ia berjalan di depan Zaskia.
"Kak,"
"Hmm."
"Kakak ya yang bawa Kia ke sini?"
"Iya."
"Kok bisa gedung kakak sama Kia kan jauh? Kok tau kalau Kia-"
"Kamu bawa motor gak?" Aryan tiba-tiba malah memotong ucapan Zaskia.
Hal yang membuat gadis itu menghela napas kesal. Dulu saat mereka kecil, Aryan tidak pernah sedatar ini. Namun saat mereka beranjak remaja, Aryan berubah.
"Jawab dulu."
"Karena insting kakak, Kia. Udah ya, jangan tanya-tanya lagi."
Zaskia tercenung. Insting katanya. Apakah itu benar? Benaknya bertanya-tanya.
"Kia."
"Iya?"
Kedua orang itu berjalan tidak beriringan. Mereka bicara dengan posisi Aryan di depan dan Zaskia di belakangnya.
"Kafa mau lamar kamu ya?"
Zaskia tertegun. "Kakak kata siapa?"
"Kafa yang ngomong sama kakak tadi malam."
Zaskia menipiskan bibir lantaran rasa canggung yang tiba-tiba hadir timbul sedikit perasaan kesal pada Kafa. Kenapa cepat sekali ia mengatakan hal yang belum pasti tersebut pada Aryan?
"Menurut kakak gimana?"
"Yang jalanin kan kamu, Kia."
"Kakak gak mau kasih saran?"
"Enggak ada. Lagian kamu juga emang suka kan sama Kafa." Saat mengatakan itu dada Aryan seperti terhimpit. Sesak sekali.
"Iya,"
"Apa yang kamu suka dari dia?"
Zaskia mengangkat kepalanya menatap bahu bidang Aryan yang berada di depannya. "Gak apa-apa kalau Kia ngomong?"
"Terserah kamu,"
"Biar Allah aja deh yang tau, Kak. Kia malu ngomongnya."
Aryan diam, hanya kepalanya yang bergerak pelan memberi anggukan tipis. Di menit berikutnya mereka pun tiba di parkiran.
"Kamu sanggup bawa motor?" Tanya Aryan.
"Insya Allah sanggup, Kak."
"Ya udah tunggu di sini. Kakak ambil motor kakak dulu."
Sambil berkata Aryan menyodorkan tas milik Zaskia yang tadi ia bawa. Zaskia mengangguk seraya menerima tasnya. Gadis itu pun menunggu di motor sampai Aryan kembali.
Di sepanjang perjalanan menuju parkiran, berulang kali Aryan membuang nafas guna menghilangkan rasa tidak nyaman yang meremat perasaannya. "Ikhlas, yan. Lo harus ikhlas." Ia bergumam meyakinkan diri sekaligus menyemangati.
Tak lama ia tiba di parkiran Gedung Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan. Aryan mengambil jurusan PGSD, seperti ummanya dulu untuk pelajaran bahasa Inggris.
Aryan suka berbaur dengan anak-anak. Hatinya lebih damai melihat mereka tersenyum tanpa bebas yang terkadang secara tak langsung mengajarkan arti bersyukur.
Aryan sudah memiliki pengahasilan sendiri lewat ia menjadi asisten dosen dan juga menjadi guru sementara di sekolah dasar. Juga kadang memberikan private pada anak-anak SMP yang mengikuti les bahasa Inggris.
"Ayo, Kia. Kamu jalan di depan." Ucap aryan. Laki-laki itu yang menaiki motor sport itu berhenti tak jauh dari keberadaan Zaskia.
Zaskia mengangguk. Ia yang sudah bersiap dari tadi lantas segera menyalakan mesin motor. Lalu melewati Aryan mendahului laki-laki itu. Setelah Zaskia sudah berada pada jarak dia meter di depannya, Aryan baru membawa laju motornya. Mengikuti Zaskia dari belakang.
"Gimana caranya kakak ngilangin perasaan ini, Kia?" Batin aryan bergumam seiring tatapannya yang menyorot zaskia.
***
Abidzar dan Azzura akhirnya tiba di apartemen putra-putra mereka menjelang sore. Bersama mereka ikut pula Azel, putri bungsu yang sejak tadi terlihat paling bersemangat karena bisa bertemu kedua kakaknya.
Suasana apartemen yang biasanya tenang mendadak ramai.
Azel tak berhenti mondar-mandir mengganggu Aryan dan Arshaf, sementara Azzura sibuk menata kulkas dan membekali mereka masakannya.
Kini, setelah makan malam selesai, mereka semua duduk santai di ruang tengah.
"Uma, tidur di sini aja, ya," bujuk Arshaf sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Azzura tersenyum kecil lalu menggeleng. "Enggak, Nak. Kami bertiga tidurnya di hotel. Abi kalian udah pesen kamar."
"Kenapa harus hotel sih?" Aryan ikut bersuara sambil menuangkan minum.
"Soalnya ada Kafa di sini," jawab Azzura santai.
Kafa yang sedang memakan buah langsung tersedak kecil. "Ya ampun, Tante..."
Azzura terkekeh melihat reaksinya. "Bukan begitu maksud Tante."
Abidzar ikut tersenyum tipis. "Azel masih suka sembarangan. Dia masih suka lupa kalau ada orang nanti dia malah buka kerudung sembarangan. Kafa sama Azel kan bukan mahram. Lagian kami kesini bukan untuk merepotkan kalian."
"Ih abi apaan sih. Kaya sama siapa aja." Protes Aryan.
Azel yang sedang rebahan di paha Aryan langsung protes. "Acel gak gitu ya Abi!"
Aryan mendengus pelan. "Gak salah lagi maksudnya!"
"Ih apaan sih Kak Aryan. Aku sama Kak Arshaf aja."
Azel pindah haluan di dekat abang pertamanya itu.
"Tapi kakak gak mau sama Acel!" Sahut Arshaf.
Azel langsung manyun malu sementara semua orang tertawa kecil.
"Gapapa kok, Om, Tante," ujar Kafa. "Aku juga ngerti."
"Besok kita jalan-jalan lagi bareng," ucap Azzura lembut.
Azel langsung duduk tegak antusias. "Mau ke mall! Aku mau makan es krim sama main bowling!"
"Dompet Abi nangis dengernya," sahut Abidzar datar.
"Abi kan kaya."
"Kata siapa?"
"Kata Uma."
Azzura refleks melotot. "Azel!"
Sontak ruang tengah kembali dipenuhi tawa.
Tak lama kemudian Abidzar berdiri sambil mengambil kunci mobil. "Ya udah, kami balik dulu."
"Kita anterin," ucap Aryan spontan.
"Iya, rame-rame aja sekalian cari angin," timpal Arshaf.
Abidzar menggeleng geli. "Rame begini nganternya?"
"Gapapa, Bi. Biar hotelnya sekalian pindah kalau Azel ngambek."
"Kak Aryan!" Azel melempar bantal ke arah kakaknya.
Aryan tertawa puas sementara Arshaf hanya menggeleng pelan melihat tingkah adiknya.
Di tengah keramaian kecil itu, Kafa tanpa sadar tersenyum tipis.
Hangat. Sudah lama ia tidak merasakan suasana keluarga seramai ini.
***
Sementara itu, di rumah Zaskia—
Gadis itu sedang berdiri di dapur sambil mencuci piring bekas makan malam. Suara gemericik air memenuhi ruangan kecil itu.
"Kak, ini." Zaid datang sambil membawa piring kotornya.
Zaskia langsung melirik malas. "Eh, enak aja. Cuci sendiri dong."
"Yaelah, Kak. Satu doang."
"Huh, dasar adek pemalas."
Zaid hanya nyengir lebar lalu buru-buru kabur meninggalkan dapur.
Kini suasana kembali hening.
Hanya ada suara air dan dentingan pelan piring yang saling bersentuhan.
Namun beberapa detik kemudian— Hembusan angin dingin tiba-tiba menyapu tengkuk Zaskia.
Gadis itu langsung terdiam.
Perlahan ia menoleh ke belakang.
Kosong. Tak ada siapa-siapa.
"Astaghfirullah..." gumamnya pelan sambil menggeleng, mencoba menepis pikiran aneh.
Zaskia kembali menatap wastafel.
Dan seketika tubuhnya membeku.
Sosok yang menyerupai Diki kini berdiri tepat di depannya.
Tersenyum.
Senyumnya terlalu lebar. Terlalu menyeramkan.
Saking terkejutnya, Zaskia sampai terpeleset dan jatuh terduduk ke lantai.
Matanya membelalak ngeri.
Sementara sosok itu perlahan menundukkan kepala, menatapnya tanpa berkedip.
"Zaskia... pengantinku..." Suara dingin itu membuat bulu kuduk Zaskia meremang hebat.
Ia ingin berteriak. Ingin lari.
Namun tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.
Yang bisa ia lakukan hanya menatap sosok di depannya yang kini perlahan berubah semakin mengerikan. Kulitnya menghitam, matanya memutih, dan senyumnya nyaris menyentuh telinga.
"Astaghfirullah! Kak?!" Zaid yang baru masuk dapur ingin membawa gelas langsung panik melihat kakaknya terduduk di lantai dengan tubuh gemetar dan wajah pucat pasi.
"Kak Kia!" Ia segera menghampiri lalu mengguncang bahu Zaskia.
Namun gadis itu sama sekali tidak merespons.
Tatapannya kosong lurus ke depan seolah sedang melihat sesuatu yang mengerikan.
Padahal di pandangan Zaid—Tak ada siapa-siapa di sana.
"Astaghfirullah... Bunda! Ayah! Bunda!" teriak Zaid panik.
Tak lama kemudian Zhafran dan Ayesha berlari masuk ke dapur. Salim-Kake mereka yang berada di ruang depan pun ikut menyusul karena mendengar keributan itu.
"Astaghfirullah, Zaskia!" Zhafran langsung berjongkok di depan putrinya.
Ia mengusap wajah Zaskia yang penuh keringat dingin.
"Kakak kamu kenapa, Za?" tanyanya panik.
"Gak tau, Yah! Pas Zaid masuk, Kak Kia udah kayak gini!"
Ayesha ikut berjongkok di samping putrinya. Tangannya mengusap telapak tangan Zaskia yang terasa sangat dingin.
"Kia... ini Bunda, Sayang."
Namun Zaskia justru makin membelalak ketakutan.
Tubuhnya gemetar hebat.
"Zaskia! Hei! Kamu kenapa?" Zhafran menepuk-nepuk pelan pipi putrinya.
"Kia, sadar Nak... istighfar..." Salim ikut mengguncang lengan cucunya dengan panik.
"Mas... ini gimana?" suara Ayesha mulai bergetar.
Tiba-tiba—Bruk!
Tubuh Zaskia ambruk pingsan ke depan.
"Zaskia!"
Beruntung Zaid sigap menahan tubuh kakaknya sebelum kepalanya membentur lantai.
"Zhaf, pindahin Zaskia ke sofa," ujar Salim tegas meski wajahnya penuh kecemasan.
"Iya, Bi."
"Biar Zaid aja yang gendong Kak Kia."
Zhafran mengangguk cepat.
Zaid segera membopong tubuh kakaknya menuju ruang tengah. Meski lebih muda, tubuh remaja laki-laki itu memang jauh lebih besar dari Zaskia.
Sesampainya di ruang tengah, ia membaringkan Zaskia dengan hati-hati di sofa.
"Biar aku ambil minyak kayu putih dulu," ujar Ayesha buru-buru.
Tak lama kemudian ia kembali dan langsung mengoleskan minyak kayu putih ke leher dan rongga hidung putrinya.
Salim memandang Zaid serius. "Tadi malam kakak kamu juga begini?"
Zaid langsung mengangguk cepat. "Iya, Kek. Semalem Kak Kia ngigau sambil teriak-teriak. Habis itu dia kayak takut banget sama sesuatu. Bahkan sempat lihat Zaid kayak orang lain."
Semua orang langsung saling pandang.
Wajah mereka mulai dipenuhi kekhawatiran.
"Aneh banget pokoknya..." lanjut Zaid lirih. "Kak Kia gak pernah kayak gini sebelumnya."
Belum sempat siapapun berbicara lagi—
Mata Zaskia tiba-tiba terbuka.
Namun tatapannya kosong.
"Kia udah bangun!" seru Ayesha lega.
"Kia... kamu lihat apa, Nak?" tanyanya lembut sambil menggenggam tangan putrinya.
Tiba-tiba Zaskia menjerit keras sambil meremas kepalanya sendiri.
"Aaaaaaa!!"
"Astaghfirullah!"
Tubuh gadis itu mulai memberontak tak terkendali.
"Abi... ini gimana?" Zhafran mulai panik.
Salim langsung menatap cucunya tajam lalu berkata pelan namun serius— "Kayaknya Zaskia kerasukan."
Kalimat itu membuat Ayesha langsung menutup mulut menahan tangis.
"Zaid!" panggil Salim tegas. "Cepat panggil Ustaz Mansyur!"
"Iya, Kek!"
Tanpa membuang waktu, Zaid langsung berlari keluar rumah sambil membawa kunci motor.
Sementara di dalam rumah— Zhafran dan Ayesha berusaha memegangi tubuh Zaskia yang terus bergerak liar sambil menangis dan berteriak ketakutan.
Tiba di luar, Zaid segera mengeluarkan motor dari garasi membawanya ke halaman. Usai menghidupkan mesin motor, ia pun lekas memacu kendaraan berdoa dia tersebut keluar dari halaman rumah.
***
Di tengah perjalanan menuju hotel, mobil yang ditumpangi Abidzar dan keluarganya melaju santai menyusuri jalan malam yang mulai lengang.
Aryan dan Arshaf berada di jok belakang bersama Azel yang sudah setengah mengantuk, sementara Kafa mengikuti dari belakang menggunakan motor.
Namun tiba-tiba—
"Loh, itu bukannya Zaid ya, Mas?" ujar Azzura sambil menunjuk ke arah seorang remaja yang melaju cukup kencang dengan motor.
Abidzar menyipitkan mata. "Iya... itu Zaid."
"Betul, Uma," sahut Arshaf ikut melihat keluar jendela.
Aryan yang sejak tadi diam langsung menegakkan tubuhnya. Keningnya mengernyit melihat cara Zaid mengendarai motor yang terlihat terburu-buru.
"Ada apa dia malam-malam begini?" batinnya.
Entah kenapa, dada Aryan mendadak tidak tenang.
"Apa terjadi sesuatu lagi sama Kia?" pikirnya cemas.
"Mas, berhenti dulu," pinta Azzura.
Abidzar segera menepikan mobil.
Aryan membuka kaca jendela lalu memanggil, "Zaid!"
Zaid yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh. Ia buru-buru mengerem motornya lalu mendekat dengan wajah panik.
"Loh, Om... Tante..."
Azzura langsung turun dari mobil. "Kamu kenapa? Kok naik motor ngebut begitu? Bahaya, Zaid."
Zaid terlihat gelisah. Napasnya bahkan sedikit terengah. "Maaf, Tante... Zaid buru-buru mau jemput Ustaz Mansyur."
"Jemput ustaz?" ulang Abidzar bingung.
Zaid menelan ludah berat sebelum berkata pelan— "Soalnya... Kak Kia kerasukan."
"Apa?!" seru semua orang bersamaan.
Aryan sontak membeku. Raut wajahnya langsung berubah tegang.
"Sejak kapan?" tanyanya cepat.
"Tiba-tiba tadi di rumah. Kak Kia kayak lihat sesuatu terus teriak-teriak sendiri..." jelas Zaid panik. "Aku harus cepet jemput ustadz."
Azzura langsung menatap suaminya khawatir. "Mas, lebih baik kita langsung ke rumah Kak Ayesha aja."
Abidzar mengangguk cepat. "Iya."
Sementara itu di belakang—Kafa yang baru saja menghentikan motornya ikut mendengar semuanya.
Raut wajah laki-laki itu langsung berubah cemas.
"Kerasukan?" gumamnya lirih.
Dadanya mendadak terasa sesak membayangkan keadaan Zaskia saat ini.
Tanpa sadar, jemarinya mengepal kuat di setang motor.
"Ada apa sebenarnya sama dia?" batinnya gelisah.
"Zaid, kamu jemput ustadz dulu. Nanti kami langsung nyusul ke rumah," ujar Abidzar.
"Iya, Om."
Zaid segera memacu motornya kembali meninggalkan mereka.
Tak mau membuang waktu, Abidzar langsung menghidupkan mobil dan berbalik arah menuju rumah Zhafran.
Aryan sejak tadi diam saja.
Namun tatapannya terlihat gelap penuh kekhawatiran.
Sementara Kafa membawa motornya mengikuti mobil Abidzar dari belakang dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya.
Tak lama kemudian—Mereka akhirnya tiba di depan rumah Zhafran hampir bersamaan dengan Zaid yang membonceng Ustadz Mansyur.
Dari luar rumah saja, suara tangis dan kepanikan sudah terdengar samar.
Dan entah kenapa—Perasaan Aryan semakin tidak enak malam itu.