Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 Dibawa Paksa
Bandara Incheon malam itu masih ramai oleh lalu lalang penumpang internasional. Suara pengumuman boarding terdengar bersahutan memenuhi ruangan besar itu.
Namun bagi Ana… dunia terasa berhenti sesaat saat matanya bertemu dengan Sebasta Galen Sadipta.
Pria itu berdiri di depannya sambil memegang syal miliknya. Tatapan matanya penuh sesuatu yang tidak bisa Ana jelaskan. Penyesalan. Rindu. Dan rasa hancur yang terlambat.
“Mbak, syalnya jatuh.”
Ana langsung merebut syal itu cepat tanpa berani menatap terlalu lama.
“Terima kasih.”
Ia berniat pergi begitu saja.
Namun tangan Sebasta tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.
Deg.
Tubuh Ana langsung menegang.
“Lepas.”
Sebasta justru menggenggam lebih erat.
“Kita harus ngomong.”
“Nggak ada yang perlu dibahas.”
Ana mencoba menarik tangannya namun pria itu tetap menahan.
“Sebas lepas.”
Suara Ana mulai bergetar.
Sementara tidak jauh dari sana, Sabine yang sedang membeli minuman bersama Ajeng baru kembali dan langsung membelalak melihat ibunya ditarik seseorang.
“MIMA?”
Ana langsung panik saat melihat Sabine mulai mendekat.
“Bine jangan sini!”
Namun Sebasta malah menarik Ana lebih cepat menuju arah lift VIP hotel yang tersambung dengan bandara.
“SEBASTA!”
Ana benar-benar mulai marah.
“Lepasin aku!”
Orang-orang sekitar mulai melirik mereka.
Sabine langsung ingin mengejar namun Ajeng buru-buru menahannya.
“Bine tunggu!”
“LEPAS TANTE!”
Sabine mulai panik melihat ibunya dibawa paksa.
“MIMA!!”
Suara itu membuat langkah Ana berhenti sesaat.
Tatapan wanita itu langsung berubah panik penuh rasa bersalah melihat anak perempuannya hampir menangis.
Namun Sebasta tetap menariknya masuk ke lift.
Pintu lift tertutup.
Dan suara Sabine menghilang perlahan.
“Astaga…”
Ana langsung mendorong dada Sebasta kuat-kuat begitu lift tertutup.
“Kamu gila ya?!”
Sebasta diam dengan napas berat.
“Kamu ninggalin anak aku nangis di luar!”
“Aku cuma mau ngomong!”
“Ngomong nggak harus nyeret aku kayak gini!”
Lift akhirnya terbuka di lantai hotel VIP.
Sebasta kembali menarik Ana menuju kamarnya tanpa memedulikan protes wanita itu.
Dan saat pintu kamar tertutup…
Brak!
Ana langsung mendorong tubuh Sebasta kuat sampai pria itu mundur beberapa langkah.
“Puass?!”
Napas Ana memburu hebat.
“Kamu selalu egois dari dulu!”
Sebasta menatap Ana lama sebelum akhirnya berkata lirih,
“Aku cuma takut kamu pergi lagi.”
Kalimat itu justru membuat Ana tertawa kecil pahit.
“Pergi?”
“Bukannya dari dulu kalian semua memang pengen aku hilang?”
Sebasta langsung membeku.
“Ana…”
“Jangan panggil aku begitu!”
Suasana kamar langsung memanas.
Ana menatap Sebasta dengan mata penuh luka yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
“Kenapa kamu muncul lagi sekarang?”
“Setelah lima belas tahun?”
“Aku nyari kamu!” suara Sebasta mulai meninggi. “Aku nyesel!”
“Nyesel?”
Ana tertawa kecil miris sambil menghapus air matanya kasar.
“Penyesalan kalian tuh lucu.”
“Datangnya selalu setelah semuanya hancur.”
Sebasta mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Aku nggak tahu kamu hamil.”
“Nah sekarang udah tau.”
Ana menatap pria itu tajam.
“Terus apa?”
“Biar Sabine juga kalian hina?”
Deg.
Sebasta langsung menggeleng cepat.
“Nggak akan ada yang nyakitin dia.”
Ana tertawa pahit lagi.
“Kamu lupa siapa mami kamu?”
Kalimat itu membuat Sebasta diam.
“Aku masih inget semua ucapan Lilika Tante waktu kecil.”
“Anak haram.”
“Anak pembawa sial.”
“Anak nggak tau diri.”
Air mata Ana jatuh lagi.
“Aku nggak mau Sabine tumbuh kayak aku.”
Suara wanita itu mulai pecah.
“Aku nggak mau dia takut pulang.”
“Aku nggak mau dia nangis sendirian.”
“Aku nggak mau dia mikir dirinya salah cuma karena lahir.”
Dan setiap kalimat Ana terasa seperti pisau yang menusuk Sebasta tanpa ampun.
Karena pria itu sadar…
Selama ini Ana hidup dengan luka yang bahkan tidak pernah ia lihat.
“Aku cinta sama kamu, Ela…”
Kalimat itu akhirnya keluar juga dari bibir Sebasta.
Dan untuk sesaat… ruangan terasa sunyi total.
Ana perlahan mengangkat kepalanya.
Matanya merah penuh luka.
Namun bukan cinta yang terlihat di sana.
Melainkan kelelahan.
“Kalau itu cinta…”
Suara Ana lirih namun menghancurkan.
“Aku nggak mau dicintai lagi.”
Di luar kamar hotel…
Damar yang baru datang bersama Damir dan Raka langsung membeku saat mendengar suara pertengkaran itu dari pintu yang tidak tertutup sempurna.
Dan detik berikutnya…
Semua kebenaran mulai terbuka satu per satu.