Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Dinginnya angin malam Manhattan yang membawa kepuasan terselubung bagi Adiba segera berganti dengan keheningan mencekam di dalam mobil limousine hitam yang membawa dia dan Raynazh kembali ke griya tawang.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, tidak ada satu pun kata yang lolos dari bibir mereka. Raynazh duduk bersandar pada pintu mobil, menatap kosong ke luar jendela, sementara tangan kanannya terus memijat kening yang terasa pening luar biasa.
Di sampingnya, Adiba dengan anggun menyilangkan kaki, membiarkan gaun merah menyalanya sedikit tersingkap.
Wajahnya yang menghadap ke arah berlawanan dari Raynazh kembali melukiskan senyuman tipis yang mengerikan.
Pertuannya dengan Louis di balkon tadi masih menyisakan debaran halus di dadanya. Sentuhan tangan Louis pada pergelangan tangannya seolah masih meninggalkan bekas panas yang membakar kulitnya.
Kau akan mencari tahu, Louis? batin Adiba sembari mengusap pergelangan tangannya sendiri dengan ibu jari. Silakan. Carilah sesukamu. Semakin dalam kau menggali, semakin kau akan menyadari bahwa seluruh kegilaan ini kulakukan hanya untukmu.
Begitu limousine berhenti di pelataran griya tawang mewah berlantai dua milik keluarga Osborn, Raynazh langsung turun tanpa menunggu atau membukakan pintu untuk Adiba—sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan sikap manisnya di hadapan mertuanya beberapa jam lalu.
Topeng pria sempurna itu runtuh sepenuhnya setiap kali mereka hanya tinggal berdua.
Raynazh melangkah lebar menaiki lift privat menuju griya tawang, disusul oleh Adiba yang berjalan dengan ketukan langkah kaki yang santai namun pasti.
Begitu pintu griya tawang tertutup rapat, Raynazh langsung berbalik, menatap Adiba dengan mata yang memerah karena frustrasi dan sisa-sisa amarah yang tertahan sepanjang acara makan malam.
"Kau sengaja, kan?!" suara Raynazh meninggi, memecah kesunyian griya tawang yang megah itu.
Adiba menghentikan langkahnya di tengah ruang tamu, meletakkan tas pesta kecilnya di atas meja kaca dengan santai. Dia menoleh, menatap Raynazh dengan alis yang terangkat sebelah. "Sengaja apa, Raynazh?"
"Tanda itu!" Raynazh menunjuk dengan kasar ke arah bahu Adiba yang terekspos. "Kau sengaja tidak menutupinya dengan benar! Sepanjang malam, Ayah dan orang tuamu berada di sana, dan kau membiarkan tanda menjijikkan itu terlihat oleh semua orang! Kau ingin menghancurkanku, hah?! Kau ingin membuatku mati berdiri di depan ayahku?!"
Adiba menatap suaminya dengan pandangan meremehkan. Dia melangkah mendekati Raynazh, membiarkan keheningan malam menambah ketegangan di antara mereka. Ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa senti, Adiba mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata pria itu yang dipenuhi ketakutan.
"Menjijikkan, kau bilang?" Adiba berbisik, nadanya begitu tenang namun sarat akan racun yang mematikan. "Itu adalah mahakarya adikmu, Raynazh. Mengapa kau harus merasa jijik? Bukankah semalam kau sendiri yang memohon padaku untuk menganggap bahwa pria yang meniduriku adalah dirimu? Jika itu dirimu, seharusnya kau bangga melihat tanda itu tercetak di tubuh istri yang baru kau nikahi."
"Adiba!!!" Raynazh berteriak, tangannya terangkat di udara, hendak melayangkan tamparan karena merasa ego dan harga dirinya diinjak-injak hingga ke titik nadir.
Namun, Adiba tidak bergeming. Dia bahkan tidak berkedip. Dia justru memajukan wajahnya, menantang tangan Raynazh yang melayang di udara dengan tatapan mata yang sedingin es.
"Turunkan tanganmu, Raynazh Leon Osborn," desis Adiba dengan nada yang teramat mengancam. "Jangan lupa pada kesepakatan kita tadi pagi. Enam bulan. Satu saja jarimu menyentuh kulitku dengan kekerasan, atau satu saja syaratku tidak kau penuhi, surat perceraian dan laporan pemerkosaan terhadap Louis akan berada di meja kepolisian New York dalam waktu lima menit. Dan kau tahu betul apa artinya itu bagi posisimu di Osborn Group."
Tangan Raynazh gemetar di udara. Napasnya memburu berantakan, dipenuhi oleh rasa murka yang bercampur dengan ketakutan absolut. Perlahan, dengan sisa-sisa harga diri yang remuk, Raynazh menurunkan tangannya. Dia mengepalkan tinjunya kuat-kuat di sisi tubuhnya, menundukkan kepala dengan gigi yang mengertak rapat.
Adiba tersenyum puas melihat pemandangan itu. Dia mengulurkan tangannya, merapikan kerah tuksedo Raynazh yang sedikit berantakan dengan gerakan yang dibuat-buat seolah dia adalah istri yang penuh perhatian.
"Anak pintar. Sekarang, masuklah ke kamarmu. Aku akan menempati kamar utama mulai malam ini, dan kau... silakan cari tempat lain di griya tawang luas ini yang cocok untuk seorang pengecut."
Tanpa menunggu jawaban, Adiba berbalik dan melangkah anggun menaiki tangga menuju lantai dua, meninggalkan Raynazh yang berdiri mematung di tengah kegelapan ruang tamu, hancur lebur di dalam rumahnya sendiri.
***
Sementara itu, di sisi lain kota New York, gema kehancuran itu juga merayap di kawasan industrial Brooklyn.
Louis Enver Osborn menghentikan mobil sport hitamnya di depan sebuah gedung tua berlantai sepuluh yang merupakan kantor cabang Osborn Group di Brooklyn.
Gedung ini jauh dari kemegahan pencakar langit di Manhattan; dinding-dindingnya terbuat dari bata merah khas bangunan tua New York, dengan pipa-pipa besi yang terekspos di beberapa sudut.
Di sinilah tempat pengasingannya yang baru. Sebuah tempat yang sengaja dipilih oleh ayahnya untuk menjauhkan "si anak pembawa sial" dari inti dinasti keluarga.
Louis turun dari mobil, membawa satu koper besar berisi pakaiannya. Dia menolak menggunakan fasilitas pelayan atau pengawal yang ditawarkan oleh sekretaris ayahnya. Baginya, setiap hal yang berbau kenyamanan dari keluarga Osborn adalah belenggu yang mengikat kebebasannya.
Dia menaiki lift barang yang bergerak lambat menuju lantai teratas gedung, tempat penthouse pribadinya berada.
Begitu pintu lift terbuka, bau udara pengap langsung menyambut indra penciumannya. Ruangan itu luas, bergaya minimalis dengan jendela-jendela besar yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kapal di pelabuhan Brooklyn dan jembatan yang membentang membelah East River.
Louis membawa kopernya di atas lantai beton tanpa berniat merapikannya. Dia melangkah menuju mini bar, mengambil sebotol wiski murni dan menuangkannya ke dalam gelas pendek tanpa es. Dia meneguk cairan pekat itu dalam sekali sentak, membiarkan rasa panas membakar tenggorokannya, mencoba mengusir rasa dingin yang seolah telah membeku di dalam hatinya sejak malam perjamuan tadi.
Namun, alkohol kali ini tidak mampu mematikan fungsi otaknya. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan Adiba yang berdiri di balkon dengan gaun merah menyala dan tanda kemerahan di bahunya kembali hadir dengan begitu pekat.
"Aku membenci setiap jengkal dari dinasti Osborn, dan aku akan melihat kalian berdua hancur berkeping-keping dengan tanganku sendiri!"
Kata-kata Adiba terus bergaung di kepala Louis seperti melodi kutukan. Louis meletakkan gelas wiskinya dengan hentakan keras di atas meja marmer hitam. Dia menyalakan sebatang rokok lagi, berjalan menuju jendela besar, menatap kegelapan malam Brooklyn yang sunyi.
"Ada yang tidak beres dengan wanita itu," gumam Louis pada dirinya sendiri, asap rokok keluar dari sela bibirnya yang bergetar tipis.
Sebagai seorang pria yang tumbuh di jalanan dan lingkungan keras New York sebelum dipaksa kembali ke dalam keluarga, Louis memiliki intuisi yang sangat tajam terhadap bahaya.
Dan Adiba Abbey... memancarkan aura bahaya yang paling mematikan yang pernah dia temui. Jika Adiba benar-benar seorang korban yang murni terluka karena kejadian semalam, dia tidak akan menatapnya dengan intensitas gila seperti yang dia lihat di balkon tadi.
Di dalam sepasang mata hitam itu, Louis tidak melihat ketakutan atau kehancuran seorang wanita yang kesuciannya direnggut paksa. Yang dia lihat adalah kobaran api yang pekat, sebuah obsesi, dan... sejenis kepuasan yang tersembunyi dengan sangat rapi.
Louis mengingat kembali jalannya kejadian semalam. Pesta pernikahan kakaknya selesai menjelang tengah malam. Louis yang sudah terlampau muak melihat kepalsuan senyum Raynazh di pelaminan memilih untuk menenggak wiski dalam jumlah banyak di bar hotel sebelum memutuskan pulang ke griya tawang Osborn untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal.
Kondisinya saat tiba di griya tawang memang setengah mabuk, namun akal sehatnya belum sepenuhnya hilang. Dia berjalan menuju sayap kanan lantai dua, tempat kamar lamanya berada.
Namun, malam itu, pintu kamar pengantin Raynazh dan Adiba terbuka sedikit. Aroma parfum mawar yang sangat kuat menguar dari dalam, memancing langkah kakinya yang gontai untuk mendekat tanpa sadar. Kamar itu gelap gulita, hanya ada pendar cahaya kota dari balik tirai tipis. Dan di atas ranjang, siluet seorang wanita bergerak pelan, seolah sedang menantinya dengan tangan terbuka.
Louis mengusap wajahnya dengan kasar, ingatan tentang bagaimana tubuh mereka menyatu semalam membuat darahnya kembali berdesir panas dengan cara yang salah. "Brengsek! Dia istri kakakmu, Louis!" kutuknya pada diri sendiri, melempar puntung rokoknya ke dalam asbak dengan gusar.
Namun, semakin dia memikirkannya, semakin banyak kejanggalan yang muncul. Mengapa pintu kamar itu sengaja dibiarkan terbuka? Mengapa Adiba sama sekali tidak bersuara atau menolak sejak detik pertama dia menyentuhnya di dalam kegelapan? Padahal postur tubuhnya, aroma tubuhnya, dan cara dia bergerak sangat berbeda dengan Raynazh.
Seseorang yang begitu kenal suaminya pasti akan langsung menyadari perbedaan itu sejak awal sentuhan. Kecuali... wanita itu memang sengaja membiarkannya terjadi.
Louis berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sudut ruangan. Dia membuka laptopnya, menatap layar yang menampilkan awal dari laporan keuangan Osborn Group cabang Brooklyn yang berantakan. Namun, fokusnya sama sekali tidak ada pada angka-angka di layar tersebut.
Dia mengambil ponselnya, mencari sebuah nomor kontak yang sudah lama tidak dia hubungi sejak kasus kematian Ambar ditutup.
Kontak itu bernama 'Zack'—seorang detektif swasta independen di kawasan Queens yang dulu pernah dia sewa untuk menyelidiki latar belakang kasus Ambar sebelum ayahnya menghentikan semuanya dengan paksa.
Louis menimang-nimang ponselnya selama beberapa saat, ragu apakah dia harus menyeret orang lain lagi ke dalam lingkaran hitam keluarganya. Namun, bayangan tanda kemerahan di bahu Adiba dan tatapan mata wanita itu di balkon tadi akhirnya meruntuhkan keraguannya. Dia menekan tombol panggil.
Panggilan itu diangkat pada nada dering ketiga. Suara berat dan parau khas pria perokok berat terdengar dari seberang telepon.
"Louis? Lama tidak terdengar kabarmu. Ada masalah apa lagi dengan dinasti agungmu?"
"Aku butuh bantuanmu, Zack. Ini mendesak," ucap Louis tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin.
"Katakan saja. Selama uangnya cocok, aku bisa mencari tahu apa saja, bahkan warna celana dalam walikota New York sekalipun," jawab Zack dengan kekehan hambar.
"Aku ingin kau menyelidiki seseorang. Selidiki seluruh latar belakangnya sejak masa kecil, rekam medisnya, lingkaran pertemanannya, hingga setiap pergerakannya selama berada di Paris dan New York," Louis menjeda kalimatnya sejenak, menarik napas panjang untuk menstabilkan debaran aneh di dadanya. "Namanya Adiba Abbey. Istri dari kakakku, Raynazh."
Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik di seberang telepon. Zack terdengar memperbaiki posisi duduknya.
"Adiba Abbey? Putri tunggal dari dinasti Abbey Enterprises? Bukankah dia baru saja menikah dengan kakakmu kemarin? Mengapa kau menyelidiki kakak iparmu sendiri, Louis?"
"Jangan banyak bertanya, Zack. Lakukan saja tugasmu," potong Louis tegas. "Aku merasa ada yang tidak beres dengan wanita ini. Cari tahu apakah dia memiliki hubungan atau keterkaitan dengan kasus Ambar di masa lalu, atau apakah dia memiliki motif lain untuk masuk ke dalam keluarga Osborn. Aku ingin laporan awal sudah ada di mejaku dalam waktu tiga hari."
"Baiklah, bos. Karena ini kau, aku akan memprioritaskannya. Tapi ini akan memakan biaya yang tidak sedikit karena menjaga kerahasiaan dari keluarga Abbey dan Osborn bukanlah perkara mudah."
"Kirimkan saja tagihannya ke rekening pribadiku di Brooklyn. Jangan pernah melibatkan nama Osborn Group," jawab Louis sebelum langsung memutus panggilan sepihak.
Louis melempar ponselnya ke atas meja kerja, lalu kembali menyandarkan punggungnya pada kursi kulit. Matanya kembali menatap keluar jendela, menembus kabut tipis yang mulai menyelimuti jembatan Brooklyn.
Di dalam hatinya, sebuah firasat buruk kian menguat. Dia merasa bahwa pengasingannya di Brooklyn bukanlah akhir dari badai, melainkan awal dari sebuah permainan catur yang mematikan, di mana dia dan Raynazh hanyalah bidak-bidak yang digerakkan oleh satu tangan tak terlihat.
...****************...
Kembali ke kamar utama griya tawang Manhattan, jam dinding telah menunjukkan pukul empat pagi. Ruangan yang pernah menjadi saksi bisu penyatuan penuh gairah dan intrik itu kini diselimuti oleh keheningan yang pekat.
Adiba Abbey berdiri di balkon kamarnya sendiri, mengenakan jubah mandi sutra hitam yang longgar. Angin malam Manhattan bertiup menerbangkan rambutnya, namun dia tidak peduli pada rasa dingin yang menusuk kulitnya. Matanya menatap lurus ke arah cakrawala timur, ke arah kawasan Brooklyn yang berada di seberang sungai.
Dia tahu Louis saat ini pasti sedang berada di sana, di tempat pengasingannya yang baru. Dia juga tahu bahwa kata-katanya di balkon tadi pasti telah berhasil menanamkan benih-benih kecurigaan di dalam otak cerdas pria itu.
Sebuah senyuman yang teramat manis namun mengerikan kembali terukir di wajah cantiknya. Adiba merapatkan jubah mandinya, lalu berjalan kembali masuk ke dalam kamar, mengunci pintu balkon dengan rapat.
Dia melangkah mendekati sebuah meja rias mewah yang berada di sudut kamar. Di atas meja itu, terdapat sebuah kotak perhiasan beludru hitam yang terkunci rapat. Adiba mengambil sebuah kunci kecil yang dia kalungkan di lehernya, lalu membuka kotak tersebut.
Namun, di dalam kotak itu tidak ada perhiasan berlian atau emas mahal.
Di dalamnya hanya ada tumpukan lembaran kliping koran yang sudah menguning, foto-foto yang mulai usang diambil secara diam-diam dari kejauhan, dan sebuah buku catatan harian kecil bersampul kulit hitam.
Adiba mengambil buku catatan tersebut, membukanya pada halaman pertama yang ditulisnya, saat dia masih menjadi seorang gadis remaja yang kesepian di New York Academy.
Di halaman itu, tertempel sebuah foto kecil Louis yang sedang duduk di bangku taman sekolah dengan wajah yang dipenuhi luka memar sisa perkelahian, namun matanya menatap tajam ke arah kamera.
Di bawah foto itu, terdapat tulisan tangan Adiba yang rapi dengan tinta hitam:
“Hari ini aku melihatnya terluka lagi karena melindungi orang lain. Mereka menyebutnya berandal, mereka menyebutnya sampah. Tapi bagiku, dia adalah satu-satunya cahaya di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini. Aku bersumpah, suatu hari nanti, aku akan menjadi pelindungnya. Aku akan menghancurkan siapa saja yang berani membuatnya menangis, termasuk keluarganya sendiri. Louis... cintaku padamu adalah keabadian yang pekat.”
Adiba mengusap foto masa muda Louis itu dengan ujung jarinya, matanya berkilat penuh dengan obsesi gila yang telah matang sempurna selama bertahun-tahun.
Penahanan Louis atas kasus Ambar di masa lalu adalah luka terbesar di dalam hidup Adiba. Melihat pria yang dia puja harus mendekam di sel tahanan yang kotor adalah siksaan batin yang mengubah seluruh cinta tulusnya menjadi kegelapan.
"Raynazh sudah mulai merangkak ketakutan, Louis," bisik Adiba pada foto itu, suaranya terdengar begitu lembut namun mematikan.
"Dan sekarang, giliranmu untuk bergerak sesuai dengan skenario yang telah kubuat. Selidikilah aku, carilah tahu tentangku... karena semakin kau mendekatiku untuk mencari jawaban, semakin kau akan terjerat ke dalam jaring yang telah kusiapkan untukmu."
Adiba menutup buku catatan itu, menguncinya kembali ke dalam kotak beludru dengan hati-hati. Dia berjalan menuju ranjang king size yang luas, merebahkan tubuhnya di atas seprai sutra yang menjadi saksi penyerahan dirinya kepada Louis.
Dia memejamkan matanya dengan tenang, menghirup sisa-sisa aroma tubuh Louis yang seolah masih tertinggal di bantal tersebut.
Bagi Adiba, permainan ini baru saja dimulai. Enam bulan ke depan akan menjadi panggung sandiwara terbesar di New York, dan dia akan memastikan bahwa pada akhir pertunjukan, Raynazh akan membusuk di dalam neraka, sementara Louis... akan menjadi miliknya secara utuh, sukarela atau tidak.
Di bawah lindungan kegelapan malam Manhattan, langkah pertama di atas bara telah resmi diayunkan.