Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Provokasi
Suara mobil berhenti di depan mansion terdengar jelas hingga ke ruang baca, Lyra yang sedang duduk di kursi dekat jendela langsung menoleh, Darius pulang.bEntah kenapa, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.nIa berdiri tanpa berpikir panjang dan berjalan keluar dari ruangan.
Di foyer besar mansion itu, pintu utama baru saja terbuka, Darius masuk dengan langkah tenang seperti biasanya, Jas hitamnya masih melekat rapi di tubuhnya, Seorang pelayan sudah berdiri di dekatnya, siap menerima jas itu..Namun sebelum Darius sempat melepasnya Lyra tiba-tiba muncul di hadapannya "Darius."
Pria itu sedikit terkejut melihatnya datang begitu cepat."Lyra..."
Kalimatnya terpotong, Lyra tiba-tiba menarik kerah jasnya dan mencium bibirnya, Ciuman itu tidak ragu.
Tidak malu, Seolah-olah ia memang sudah menunggunya sejak lama, Darius membeku sepersekian detik, Lalu tangannya langsung memegang pinggang Lyra, Pelayan yang berdiri di sana langsung menunduk canggung. Darius mengangkat tangannya sedikit, Sebuah tanda singkat, Pergi. Para pelayan langsung menjauh tanpa berkata apa-apa, Namun di sisi lain ruangan Ara berdiri diam. Matanya menyaksikan semuanya.
"Darius…" bisik Lyra pelan di sela ciuman itu.
Pria itu menatapnya tajam."Apa yang kau lakukan?"
Namun nada suaranya rendah, Bukan marah, Lebih seperti penasaran. Lyra tidak melepaskan jarak mereka.
"Aku ingin…"
Napasnya hangat di dekat bibir Darius"...kamu."
Tatapan Darius berubah, Lebih gelap, Lebih dalam.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia mengangkat tubuh Lyra dengan mudah.
Lyra refleks melingkarkan tangannya di leher pria itu.
"Darius..."
Namun pria itu sudah berjalan menuju tangga.
Langkahnya mantap, Lyra sempat menoleh ke belakang, Matanya bertemu dengan Ara yang masih berdiri di sana, tatapan mereka saling mengunci.
Dan di sudut bibir Lyra ada senyum kecil, Senyum kemenangan.
Ara mengepalkan tangannya tanpa sadar. Sementara Darius sudah membawa Lyra masuk ke kamar utama.
Ia menurunkannya perlahan di lantai dekat tempat tidur."Ada apa denganmu hari ini?" tanya Darius rendah.
Lyra tidak menjawab, Ia justru kembali mendekat.
Tangannya membuka satu kancing kemeja Darius.
Kemudian yang kedua "Kau biasanya tidak seperti ini."
Lyra hanya tersenyum kecil "Kadang seseorang perlu diingatkan…" Tangannya berhenti di dada Darius.
"...bahwa aku juga bisa keras kepala."
Pintu kamar mereka tidak tertutup sempurna, Sebuah celah kecil masih terbuka, Dan di luar sana Ara masih berdiri di lorong, Matanya tertuju pada pintu itu.
Darius akhirnya menarik Lyra lebih dekat.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
Lyra menatapnya dalam.
"Aku hanya tidak suka digertak."
Darius mengangkat alis.
"Digertak?"
Lyra mendekat lagi, mencium sudut bibirnya dengan lembut "Dan aku tidak suka seseorang mencoba mengambil apa yang sudah menjadi milikku."
Kali ini Darius benar-benar terdiam, Tatapannya berubah semakin tajamn"Lyra."
Nada suaranya lebih berat sekarang."Apakah kau sedang menandai wilayahmu?"
Lyra tersenyum kecil, Namun ia tidak menjawab.
Dan justru itu membuat Darius semakin tertarik.
Di luar kamar Ara akhirnya menutup matanya sejenak, Ia tahu Pertarungan ini baru saja dimulai.
Darius masih menatap Lyra seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik matanya.nTangannya masih berada di pinggang wanita itu.
"Aku tidak suka permainan setengah-setengah," katanya pelan.
Lyra mengangkat alis."Permainan?"
Darius mengangkat tangannya, menyentuh dagunya, memaksanya menatap lurus ke matanya.
"Jika kau melakukan ini hanya untuk memprovokasi seseorang di luar sana…" Tatapannya mengarah sekilas ke pintu yang masih terbuka sedikit.
"...kau berhasil."
Lyra tidak menyangkal, Ia justru tersenyum kecil.
"Aku tidak tahu maksudmu."
Namun Darius tidak tertipu, Ia melangkah lebih dekat sampai punggung Lyra hampir menyentuh tepi tempat tidur "Lyra" Nada suaranya lebih rendah sekarang. "Jangan mengira aku tidak melihat cara kau menoleh ke lorong tadi."
Jantung Lyra berdetak sedikit lebih cepat, Tentu saja dia melihat, Pria ini benar-benar terlalu tajam.
Namun ia tidak mundur, Sebaliknya, Lyra melingkarkan tangannya di leher Darius lagi.
"Lalu?" bisiknya. "Apa yang akan kau lakukan tentang itu?"
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak..Udara di antara mereka terasa berat, Kemudian Darius tiba-tiba menarik Lyra lebih dekat sampai tubuh mereka hampir tidak memiliki jarak.
"Aku tidak suka dijadikan alat provokasi."
Nada suaranya tetap tenang. Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya, Lebih posesif, Lebih berbahaya.
"Tapi aku juga tidak suka jika seseorang berpikir mereka bisa mengambil sesuatu dariku."
Lyra terdiam sejenak.
"Kau mengatakan aku milikmu?"
Darius tidak langsung menjawab, Tangannya naik perlahan, menyelipkan rambut Lyra ke belakang telinganya, "Aku mengatakan…" Ia menunduk sedikit, hampir menyentuh bibir Lyra "...aku tidak berbagi."
Lyra merasakan napasnya tertahan.
Namun sebelum apa pun terjadi...
Tok. Tok
Suara ketukan tiba-tiba terdengar di pintu, Darius langsung menoleh dengan ekspresi tidak senang.
Pintu terbuka sedikit. Seorang pelayan terlihat ragu.
"Maaf, Tuan…"
Darius menatap tajam "Apa?"
Pelayan itu menelan ludah "Ada seseorang di depan mansion yang memaksa masuk."
Lyra mengerutkan kening "Seseorang?"
Pelayan itu terlihat semakin gugup, "Dia mengatakan… dia datang untuk Nona Lyra."
Ruangan itu langsung menjadi sunyi, Darius perlahan menoleh kembali ke Lyra, Tatapannya berubah.
" Kau mengundang seseorang?"
Lyra tidak sempat menjawab, Karena dari bawah—
suara pria terdengar keras di foyer mansion.
"LYRA!"
Suara itu sangat familiar, Dan wajah Lyra langsung memucat, Darius menyadari perubahan itu "Siapa dia?"
Lyra berbisik pelan. "...Rendra."
Mata Darius langsung berubah dingin, Sementara di
lantai bawah Ara berdiri di tangga, Melihat semuanya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu dia tersenyum.