NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Insiden di Dapur

Dua minggu setelah kabar tentang evaluasi, kehidupan di asrama murid luar berjalan seperti biasa—penuh dengan keringat, tanah, dan ketidakpedulian. Tapi di balik permukaan yang tenang itu, ada sesuatu yang mulai membusuk.

Seol merasakannya sejak pagi. Tatapan-tatapan yang mengikuti gerakannya, bisik-bisik yang berhenti saat ia mendekat, senyum-senyum tipis yang tidak bisa ia artikan. Ia sudah terbiasa dengan permusuhan di Desa Cheonho. Tapi di sini, permusuhan itu berbeda—lebih halus, lebih dingin, dan lebih terorganisir.

Puncaknya terjadi di dapur umum, saat matahari tepat di atas kepala.

---

Siang Hari – Dapur Umum

Dapur umum murid luar adalah bangunan kayu panjang dengan atap jerami yang bocor di beberapa tempat. Di dalamnya, tiga tungku batu berjejer di sepanjang dinding, dengan kuali-kuali besar yang selalu berisi bubur encer dan sayur asam. Meja-meja kayu panjang dipenuhi oleh murid luar yang makan dalam diam, wajah-wajah mereka cerminan dari kelelahan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Seol sedang mengantre di depan kuali bubur, mangkuk tanah liat di tangan, ketika seseorang menyenggul bahunya dari belakang.

Bukan senggolan biasa. Ini adalah dorongan yang disengaja, cukup keras untuk membuat mangkuk di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai tanah.

Seol menoleh.

Tiga pria berdiri di belakangnya. Mereka semua lebih tua darinya, mungkin sudah tiga atau empat tahun di sekte ini. Seragam abu-abu mereka sama lusuhnya dengan seragam Seol, tetapi ada sesuatu di cara mereka berdiri—sesuatu yang mengatakan bahwa mereka merasa memiliki kekuasaan di sini.

Yang di depan adalah pria bertubuh kekar dengan wajah bulat dan mata kecil yang menyipit. Seol mengenalnya. Namanya Park, salah satu murid luar tertua yang sudah hampir lima tahun di sekte ini tanpa pernah naik ke murid dalam. Ia dikenal sebagai pengganggu, tetapi tidak ada yang berani melawannya karena ia memiliki hubungan dengan beberapa murid dalam.

“Awas, bocah baru,” kata Park, suaranya terdengar ramah tetapi matanya tidak. “Kau menumpahkan bubur. Sekarang tidak ada yang bisa makan.”

Seol menatap pecahan mangkuk di lantai, lalu menatap Park. “Aku tidak menyentuhmu.”

“Kau bilang aku berbohong?” Park mengangkat alis. “Kalian lihat, kan?” ia menoleh ke murid-murid lain di sekitarnya. “Bocah baru ini menjatuhkan mangkuknya sendiri dan sekarang menuduhku.”

Tidak ada yang menjawab. Beberapa murid menunduk, pura-pura tidak melihat. Yang lain menatap dengan mata waspada, tidak ingin terlibat. Hanya Baek Ho yang bergerak maju, tetapi Seol menghentikannya dengan isyarat kecil.

“Tidak apa-apa,” kata Seol. “Aku akan membersihkannya.”

Ia berlutut, mulai mengumpulkan pecahan-pecahan mangkuk dengan tangan kosong. Lantai tanah liat itu kasar, dan pecahan-pecahan tajam itu mulai melukai jari-jarinya. Darah menetes, bercampur dengan bubur yang tumpah.

Park berdiri di atasnya, bayangannya menutupi tubuh Seol yang membungkuk.

“Lihat, dia tahu tempatnya,” kata Park kepada teman-temannya, tertawa kecil. “Murid luar baru harus belajar sopan santun. Jangan sok pintar. Jangan sok kuat. Jangan berpikir kau lebih baik dari kami.”

Ia menginjak pecahan mangkuk terbesar di dekat tangan Seol. Bukan menginjak tangan Seol—belum. Tapi cukup dekat untuk membuat ancaman itu jelas.

Seol tidak bergerak. Tangannya terus mengumpulkan pecahan-pecahan itu dengan sabar, meski darah terus menetes.

“Kau dengar kabar tentang evaluasi, kan?” Park membungkuk, wajahnya sekarang hanya sejengkal dari telinga Seol. “Kau pikir kau bisa ikut? Kau pikir kau bisa jadi murid dalam? Hah.”

Ia menyeringai.

“Dengar baik-baik, bocah. Murid luar seperti kita tidak akan pernah menjadi apa-apa. Satu-satunya yang bisa kau lakukan di sini adalah bertahan. Jangan menonjol. Jangan menarik perhatian. Dan jangan pernah—pernah—berpikir kau lebih baik dari orang-orang yang sudah lebih dulu di sini.”

Ia menepuk pipi Seol dengan punggung tangannya. Bukan tamparan, tetapi tepukan merendahkan yang membuat darah Seol mendidih.

Tapi Seol tidak bergerak. Ia hanya berdiri, membawa pecahan-pecahan mangkuk di tangannya yang berdarah, dan berjalan ke luar dapur tanpa berkata apa-apa.

Di belakangnya, Park tertawa bersama teman-temannya.

Baek Ho mengejar Seol di luar, wajahnya merah padam karena amarah yang ditahan.

“Kenapa kau tidak melawan?!” desisnya. “Aku bisa membantumu. Kita berdua bisa—”

“Tidak,” potong Seol. Ia membuang pecahan-pecahan itu ke tumpukan sampah di belakang dapur, lalu mencuci tangannya di bak air. Darah mengalir bersama air, meninggalkan bekas merah di permukaan yang keruh. “Jika aku melawan, aku akan dikeluarkan. Kau tahu aturannya: murid luar yang terlibat perkelahian akan langsung diusir.”

“Tapi mereka yang memulai!”

“Tidak ada yang akan membela kita,” kata Seol datar. “Kita adalah murid luar. Tidak ada yang peduli.”

Baek Ho terdiam. Ia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya.

“Kau… kau terlalu sabar,” katanya akhirnya, suaranya bergetar.

Seol mengeringkan tangannya di ujung bajunya. Luka-luka di jari-jarinya dangkal, tidak perlu diobati. Ia sudah terbiasa dengan luka seperti ini.

“Ini bukan kesabaran,” katanya. “Ini strategi.”

Ia menatap Baek Ho dengan mata yang tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihina di depan umum.

“Kau ingat nama mereka?”

Baek Ho mengerjap. “Park dan dua temannya. Yang satu namanya Jae, yang satu… aku lupa.”

“Choi,” kata Seol. “Yang di belakang kiri bernama Choi.”

Ia berbalik, berjalan kembali ke asrama. Baek Ho mengikuti dengan langkah bingung.

“Kenapa kau menanyakan nama mereka?”

Seol tidak menjawab. Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan—denyut yang tidak berarti Gu bangun, tetapi denyut yang mengatakan bahwa ia setuju dengan apa yang ada di benak Seol.

“Jangan pernah membalas di tempat kejadian,” Gu pernah berkata, dalam salah satu pelajaran pertamanya. “Orang yang marah adalah orang yang kalah. Orang yang tenang adalah orang yang menunggu. Dan orang yang menunggu… akan selalu menemukan waktu yang tepat.”

Seol tersenyum kecil. Senyum yang tidak dilihat Baek Ho.

Aku akan menunggu.

---

Sore Hari – Di Kediaman Murid Dalam

Seol Hwa sedang membaca laporan rutin dari pengawas murid luar ketika namanya dipanggil.

“Sabeom-nim.”

Ia mengangkat kepalanya. Kang Jin berdiri di ambang pintu, wajahnya datar tetapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang mirip dengan kegelisahan.

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku mendengar ada insiden di dapur murid luar tadi siang,” kata Kang Jin, melangkah masuk. “Park dan kawan-kawannya mengganggu murid baru. Yang dari ujian bulan lalu.”

Seol Hwa meletakkan laporan itu. “Ryu Seol?”

“Ya. Mereka menjatuhkan mangkuknya, menghinanya di depan umum, dan…” Kang Jin berhenti. “Park menampar pipinya.”

Seol Hwa tidak bergerak. Wajahnya tetap datar, tidak ada emosi yang terpancar. Tapi jari-jarinya yang memegang laporan itu berhenti bergerak.

“Dan Ryu Seol? Apa reaksinya?”

“Tidak ada.” Kang Jin mengerutkan kening. “Ia hanya membersihkan pecahan mangkuk itu dan pergi. Tidak melawan. Tidak membantah. Tidak ada apa-apa.”

Keheningan.

“Itu saja?” tanya Seol Hwa.

“Itu saja.” Kang Jin menatapnya dengan tajam. “Kenapa? Ada yang mengganjal?”

Seol Hwa tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan ke jendela, memandang ke arah barat—ke arah asrama murid luar.

“Dia tidak akan diam,” katanya pelan.

“Apa?”

“Ryu Seol. Dia bukan tipe orang yang diam.” Ia berbalik menghadap Kang Jin. “Pantau Park dan kawan-kawannya. Malam ini.”

Kang Jin mengerutkan kening lebih dalam. “Kau pikir dia akan balas dendam? Tapi aturan sekte—”

“Aku tidak mengatakan dia akan melanggar aturan.” Seol Hwa kembali duduk, mengambil laporan itu lagi. Tapi matanya tidak lagi membaca. “Aku hanya mengatakan… perhatikan saja.”

Kang Jin tidak bertanya lebih jauh. Ia membungkuk dan keluar, meninggalkan Seol Hwa sendirian di ruangan itu.

Perempuan itu menatap laporan di tangannya, tetapi yang ia lihat bukanlah angka-angka dan nama-nama. Yang ia lihat adalah wajah Ryu Seol—wajah yang tenang, mata yang tidak berkedip, dan tangan yang menggenggam pecahan mangkuk berdarah tanpa mengeluh.

“Kau bukan tipe orang yang diam,” bisiknya dalam hati. “Tapi juga bukan tipe yang bertindak bodoh. Lalu apa yang akan kau lakukan, Ryu Seol?”

Ia penasaran.

---

Malam Hari – Hutan di Belakang Asrama

Seol berdiri di tempat latihannya, ranting kayu keras di tangan. Di depannya, Baek Ho sedang berlatih dengan sebatang kayu yang lebih besar, mencoba menguasai gerakan-gerakan dasar yang diajarkan Seol.

“Kaki kiri lebih ke depan,” instruksi Seol. “Jangan terlalu lebar. Kau kehilangan keseimbangan.”

Baek Ho menyesuaikan posisinya, lalu mengayunkan kayunya. Gerakannya masih kasar, tetapi lebih baik dari kemarin.

“Park dan teman-temannya,” kata Baek Ho di sela-sela latihan. “Kau benar-benar tidak akan melakukan apa-apa?”

Seol tidak menjawab. Ia mengamati gerakan Baek Ho dengan saksama.

“Mereka akan terus mengganggu,” lanjut Baek Ho. “Bukan hanya kau. Aku juga. Semua murid baru. Mereka sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Tidak ada yang berani melawan.”

“Karena tidak ada yang berpikir,” kata Seol.

Baek Ho berhenti. “Apa maksudmu?”

Seol mengambil sebatang ranting kecil dari tanah. Ia meletakkannya di telapak tangannya, menunjukkan pada Baek Ho.

“Lihat ranting ini. Jika aku membuangnya ke udara, ia akan jatuh di mana saja. Tidak terkendali. Tidak terarah. Itulah amarah.”

Ia meletakkan ranting itu di tanah, menancapkannya tegak lurus.

“Tapi jika aku menanamnya, ia akan tumbuh. Perlahan. Diam-diam. Dan suatu hari, ia akan menjadi pohon yang tidak bisa dicabut oleh siapa pun.”

Baek Ho menatap ranting itu, lalu menatap Seol. “Kau… kau sudah punya rencana, ya?”

Seol tersenyum. Tidak menjawab.

“Ayo lanjut latihan,” katanya. “Kau masih belum stabil di langkah ketiga.”

Baek Ho tidak memaksa. Ia kembali ke posisi, mengangkat kayunya, dan mulai bergerak. Tapi pikirannya tidak sepenuhnya pada latihan. Ia terus memikirkan ranting kecil yang tertancap di tanah itu.

Ranting yang akan tumbuh menjadi pohon.

Ia tidak tahu apa yang ada di benak Seol. Tapi satu hal yang ia tahu: Park dan kawan-kawannya telah membuat kesalahan besar.

---

Tengah Malam – Asrama Murid Luar

Kegelapan menyelimuti asrama murid luar. Semua lampu padam. Semua orang tidur. Atau setidaknya, itulah yang semua orang pikirkan.

Seol bergerak tanpa suara.

Ia tidak keluar dari kamarnya. Ia tidak pergi ke hutan. Yang ia lakukan hanyalah berbaring di atas tikar tipisnya, matanya terbuka, telinganya mendengarkan.

Suara Park. Mendengkur keras dari kamar di ujung lorong. Suara yang teratur, berat, menunjukkan tidur yang nyenyak.

Seol menunggu. Satu jam. Dua jam.

Ketika ia yakin semua orang benar-benar terlelap, ia bangkit. Ia tidak membutuhkan lentera. Matanya sudah terbiasa dengan kegelapan. Tangannya bergerak ke saku, meraih Batu Giwa.

Batu itu dingin. Tapi ada denyut di dalamnya—lemah, tetapi ada.

“Gu,” bisiknya. “Pinjamkan aku sedikit kekuatanmu. Hanya sedikit.”

Denyut itu berdetak sekali. Lebih kuat dari biasanya.

Seol tersenyum. Ia merasakan qi-nya mengalir ke ujung jarinya, membentuk sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa—bayangan yang tidak bisa dideteksi oleh indra, tidak bisa ditangkap oleh qi.

Ia berjalan ke lorong. Langkahnya tidak bersuara. Ia melewati kamar Park, kamar Jae, kamar Choi. Di setiap kamar, ia berhenti sejenak. Tangannya bergerak cepat, meninggalkan sesuatu di ambang pintu—sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa dirasakan, tetapi akan bekerja saat pagi tiba.

Ia tidak merusak apa pun. Tidak mencuri apa pun. Tidak melukai siapa pun.

Yang ia lakukan hanyalah… menanam benih.

---

Pagi Hari – Kejutan di Dapur

Park bangun dengan perasaan aneh.

Ia tidak tahu apa yang salah. Tubuhnya terasa normal. Kamarnya juga normal. Tapi ada sesuatu di udara—sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Ia mengabaikannya. Mungkin hanya angin malam.

Ia berjalan ke dapur untuk sarapan. Di jalan, ia melewati Jae dan Choi. Mereka juga tampak gelisah, tetapi tidak ada yang berbicara.

Di dapur, Park mengambil mangkuknya, berdiri di antrean bubur. Di depannya, ada murid baru—bukan Ryu Seol, tetapi yang lain. Park hampir menyenggolnya, seperti biasa.

Tapi sesuatu terjadi.

Saat tangannya menyentuh bahu murid baru itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada arus listrik kecil yang menyambar ujung jarinya. Bukan rasa sakit, tetapi kejutan—kejutan yang membuatnya melepaskan pegangan dengan refleks.

Mangkuk di tangannya jatuh. Pecah. Seperti yang terjadi kemarin.

Park menatap pecahan itu dengan mata terbelalak. Di sekelilingnya, beberapa murid menoleh. Ada yang tersenyum kecil. Ada yang berbisik.

“Apa yang kau lihat?” geram Park pada murid baru itu. “Kau yang mendorongku!”

Murid baru itu menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Tidak, aku tidak—”

“Kau berbohong!”

Park mengangkat tangannya, siap memukul. Tapi sebelum tinjunya mendarat, sesuatu yang aneh terjadi lagi. Tangannya yang terangkat tiba-tiba terasa berat—sangat berat—seperti ada beban tak terlihat yang menekannya.

Ia jatuh. Bukan karena didorong, tetapi karena kakinya sendiri terasa seperti terpaku di tanah. Ia tersungkur di depan semua orang, wajahnya membentur lantai tanah liat dengan bunyi dug yang memalukan.

Keheningan yang mematikan.

Park bangkit dengan wajah merah padam. Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari siapa yang melakukan ini padanya. Tapi tidak ada siapa pun yang mendekat. Tidak ada qi yang terdeteksi. Tidak ada tanda-tanda serangan.

“Siapa?!” teriaknya, suaranya pecah karena amarah dan malu.

Tidak ada yang menjawab.

Di sudut dapur, Seol duduk dengan tenang, menyeruput buburnya. Wajahnya datar, tidak menunjukkan apa-apa. Di sampingnya, Baek Ho menatap dengan mata terbelalak, tidak percaya.

“Seol… itu kau?” bisiknya.

Seol tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil—sangat kecil, hampir tidak terlihat—dan melanjutkan makannya.

Teknik Bayangan Tak Terlihat. Gu mengajarkannya hanya sekali, sebelum tertidur. Teknik untuk menanamkan jejak qi di suatu tempat, yang akan aktif beberapa jam kemudian. Bukan serangan. Bukan kutukan. Hanya gangguan kecil—cukup untuk membuat seseorang kehilangan keseimbangan, cukup untuk membuat mangkuk jatuh, cukup untuk membuat kaki terpeleset.

Tidak cukup untuk melukai. Tidak cukup untuk dilaporkan sebagai pelanggaran.

Tapi cukup untuk membuat seseorang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Bahwa ada yang mengawasi. Bahwa tindakan mereka ada konsekuensinya.

Park dan kawan-kawannya tidak akan pernah tahu apa yang terjadi. Mereka tidak akan pernah bisa membuktikan apa pun. Tapi mereka akan merasa. Dan rasa takut—rasa takut akan sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, tidak bisa mereka pahami—akan tumbuh.

Seperti ranting yang tertancap di tanah.

---

Siang Hari – Kabar yang Beredar

Pada siang hari, berita tentang kejadian di dapur sudah menyebar ke seluruh asrama murid luar. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi. Ada yang bilang Park tergelincir karena lantai licin. Ada yang bilang ia diserang oleh qi tak terlihat. Ada yang bilang ia hanya kurang tidur.

Tapi yang pasti: Park dan kawan-kawannya tidak lagi mendekati murid baru mana pun sepanjang hari.

Mereka duduk di sudut ruang makan, berbicara dengan bisik-bisik, mata mereka sesekali melirik ke arah Seol dengan campuran kemarahan dan ketakutan.

Seol tidak menatap balik. Ia makan buburnya dengan tenang, seperti tidak terjadi apa-apa.

Di sampingnya, Baek Ho tidak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Kau tahu,” bisiknya, “aku mulai mengerti mengapa kau tidak melawan kemarin.”

Seol meneguk buburnya. “Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Tentu,” kata Baek Ho, matanya berbinar. “Kau tidak melakukan apa-apa.”

Mereka berbagi senyum kecil—saling pengertian yang tidak perlu diucapkan.

---

Di Kediaman Murid Dalam – Sore Hari

Seol Hwa mendengar laporan itu dari Kang Jin saat matahari mulai condong ke barat.

“Park dan kawan-kawannya,” kata Kang Jin, suaranya datar tetapi ada nada aneh di dalamnya. “Mereka mengalami… insiden aneh pagi ini. Mangkuk jatuh. Kaki terpeleset. Park jatuh di depan semua orang.”

Seol Hwa tidak mengangkat wajah dari buku yang ia baca. “Kecelakaan biasa.”

“Tidak,” kata Kang Jin. “Aku sudah periksa area dapur. Tidak ada jejak qi yang tertinggal. Tapi… Park bersikeras ada yang mengganggunya. Ia takut.”

“Takut pada apa?”

“Pada murid baru itu. Ryu Seol.”

Seol Hwa akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya yang hitam pekat menatap Kang Jin dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

“Apakah ada bukti bahwa Seol yang melakukannya?”

“Tidak. Tidak ada. Park tidak bisa membuktikan apa pun. Tapi…” Kang Jin ragu. “Semua orang tahu.”

Seol Hwa tersenyum. Senyum tipis yang tidak bisa diartikan.

“Ryu Seol,” gumamnya. “Kau bilang dia tidak akan melawan. Tapi kau tidak bilang dia tidak akan membalas.”

Ia meletakkan bukunya, berdiri, dan berjalan ke jendela. Dari sini, asrama murid luar hanya terlihat sebagai titik-titik kecil di kejauhan.

“Awas dia,” katanya pelan. “Tapi jangan ganggu. Aku ingin melihat seberapa jauh ia bisa melangkah.”

Kang Jin mengangguk, tetapi ada kerutan di dahinya. Ia tidak suka dengan perkembangan ini. Seol Hwa terlalu tertarik pada murid luar itu. Dan ketertarikan, dalam dunia persilatan, bisa menjadi senjata—atau kelemahan.

Ia keluar dari ruangan, meninggalkan Seol Hwa sendirian di hadapan jendela yang menghadap ke barat.

Perempuan itu menatap titik-titik kecil di kejauhan, dan di dalam dadanya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya mulai tumbuh.

Bukan ketertarikan. Bukan kekaguman.

Penasaran.

Ia penasaran pada pemuda kurus dengan sapu di tangan, yang lebih memilih menanam ranting daripada membuangnya, yang lebih memilih menunggu daripada melawan, yang lebih memilih membuat musuhnya takut daripada melukai mereka.

“Siapa kau sebenarnya, Ryu Seol?” bisiknya.

Angin sore tidak menjawab. Hanya membawa aroma bunga sakura dari kebun sekte, dan keheningan yang penuh teka-teki.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!