Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Topeng Sang Predator
Suasana ruang makan panti asuhan pagi itu jauh lebih riuh dari biasanya. Damian, yang biasanya berdiri di puncak gedung pencakar langit dengan jas seharga ribuan dolar, kini berdiri di balik meja kayu panjang, memegang centong besar dan membagikan porsi bubur ke mangkuk-mangkuk plastik warna-warni.
Selene berdiri di sampingnya, memberikan potongan cakue dengan cekatan. Ia sesekali melirik Damian dengan ekspresi geli, melihat bagaimana pria itu berusaha keras untuk tidak terlihat kaku di depan anak-anak.
"Wah, Kakak baru ini tampan sekali! Seperti pangeran di buku dongengku!" seru seorang anak perempuan kecil bernama Mia, matanya berbinar menatap wajah Damian.
"Benar! Dan Kakak ini juga ramah, tidak galak seperti Pak Satpam di sekolah," timpal anak laki-laki di belakangnya.
Damian tertegun sejenak, tangannya yang memegang centong sempat menggantung di udara. Ia sedikit terkejut, bahkan merasa asing dengan reaksi itu. Di dunia luar—di kantor Nicholas Group atau di pertemuan bisnis kelas atas—orang-orang biasanya akan menunduk, menghindari kontak mata, atau bicara dengan suara gemetar karena takut akan tatapan tajam dan aura "dingin" yang ia miliki.
Wajahnya yang tegas dan rahangnya yang kokoh biasanya dianggap sebagai simbol otoritas yang mengancam. Namun di sini, di depan anak-anak yang polos ini, ia dianggap sebagai 'Pangeran'.
"Kau dengar itu, Damian?" Selene menyenggol lengan Damian sambil terkekeh pelan. "Sepertinya kau punya penggemar baru. Siapa sangka wajah 'garang' asisten keluarga Nicholas ini bisa dibilang ramah oleh anak-anak."
Damian berdehem, mencoba menutupi rasa canggung sekaligus rasa hangat yang mulai merayap di hatinya. "Mungkin mereka hanya belum melihatku saat aku sedang kesal."
"Jangan dengarkan dia, Kak Damian!" seru Rio, anak laki-laki yang paling berani. "Kak Damian baik karena mau bantu Kak Selene. Kak Selene jadi sering senyum hari ini!"
Mendengar itu, Selene langsung salah tingkah dan pura-pura sibuk menuangkan air minum. Sementara Damian, ia menatap Selene dengan sorot mata yang dalam. Ada rasa puas yang luar biasa saat mengetahui kehadirannya membawa dampak positif bagi gadis itu.
"Jika menjadi 'ramah' bisa membuatmu tetap tersenyum dan berada di dekatku, maka aku akan memainkan peran ini selamanya," batin Damian.
Namun, di tengah keriuhan itu, Damian menyadari satu hal. Ia mulai menyukai perasaan dibutuhkan di tempat ini. Ia menyukai bagaimana anak-anak itu menarik-narik ujung kemejanya tanpa rasa takut. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Damian Nicholas merasa dihargai bukan karena uang atau nama belakangnya, melainkan karena dirinya sendiri—meskipun itu di bawah identitas palsu.
Damian merasa seolah-olah ia sedang duduk di sebuah jamuan makan malam paling eksklusif di dunia, jauh lebih mewah daripada gala dinner di Paris atau London. Padahal, ia hanya duduk di sebuah kursi kayu tua yang sedikit bergoyang, di sebuah ruangan dengan cat tembok yang sudah mengelupas.
Selene menarik kursi tepat di sampingnya, memberikan ruang yang cukup intim di antara mereka. "Duduklah, Damian. Kau sudah bekerja keras memotong bawang dan melayani anak-anak. Sekarang waktunya kau mencicipi masakan panti ini."
"Kau yakin aku boleh makan di sini? Aku tidak ingin mengurangi jatah anak-anak," ucap Damian, meski dalam hati ia merasa sangat senang bisa berada sedekat ini dengan Selene.
Selene tertawa, sebuah suara yang bagi Damian lebih merdu daripada denting piano klasik. "Tenang saja, porsi hari ini cukup banyak karena asisten baru kita bekerja dengan sangat cepat. Ayo, makanlah."
Damian memperhatikan piring plastik di depannya. Bubur ayam sederhana dengan taburan kacang dan seledri. Ia menyuap sendok pertama. Rasanya jauh dari standar restoran bintang lima, namun ada rasa 'hangat' yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Bagaimana? Tidak seburuk makanan di kantin Nicholas, kan?" tanya Selene sambil memperhatikannya dengan penuh minat.
"Ini... jauh lebih baik," jawab Damian jujur. Ia menoleh ke arah Selene, menyadari betapa dekatnya posisi mereka sekarang. "Sepertinya aku harus lebih sering 'tersesat' ke sini kalau makanannya seenak ini."
Anak-anak di sekitar mereka mulai menggoda. "Ciye, Kak Selene makannya dekat-dekat Kak Damian!" seru salah satu anak sambil tertawa kecil.
Wajah Selene memerah hingga ke telinga. Ia berusaha fokus pada makanannya sendiri, namun wangi parfum maskulin Damian yang mahal—yang entah bagaimana tetap tercium di antara aroma bumbu dapur—membuat konsentrasinya buyar.
Sementara itu, Damian sangat menikmati momen ini. Ia merasa seolah-olah memiliki keluarga kecil. Namun, di tengah kenyamanan itu, sisi obsesifnya tetap terjaga. Matanya sesekali melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada gangguan yang merusak kedekatannya dengan Selene.
"Selene," panggil Damian lembut di tengah riuh rendah suara anak-anak.
"Ya?" Selene menoleh.
"Terima kasih sudah memberiku tempat duduk di sampingmu."
Selene tersenyum tipis, matanya beradu dengan mata gelap Damian. "Sama-sama, Damian. Tapi ingat, jangan terbiasa dengan kemewahan ini. Besok-besok kau mungkin harus makan sambil berdiri kalau panti sedang ramai."
Damian hanya tersenyum.