NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Percaya… atau Pergi

Ayza duduk di balik kursi kemudi. Tangannya meraih ponsel. Layar menyala. Nama itu ada di sana.

Abi.

Jemarinya sempat ragu. Satu detik. Dua detik. Lalu—

Ia menekan panggilan.

Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Lebih lama dari biasanya.

Di sisi lain—

Kaisyaf bersandar di kepala ranjang. Wajahnya terlihat pucat dan lelah. Infus menempel di tangannya.

Ponsel di meja nakas bergetar. Kaisyaf melirik sekilas. Nama itu muncul.

Ayza.

Tangannya sempat mencengkram selimut. Untuk beberapa detik… ia tidak menjawab. Namun panggilan itu terus masuk.

Akhirnya, ia menekan tombol terima.

“Ya.” Nadanya singkat. Datar.

Ayza terdiam sejenak mendengar suara itu.

“Aku menganggu?” tanyanya pelan.

“Enggak.”

Jawaban itu cepat. Terlalu cepat.

Sejenak tak ada yang bicara.

“Kamu di mana?” tanya Ayza akhirnya.

“Di ruang meeting.”

“Di luar kota?”

“Iya.”

Jawaban tetap singkat. Seolah tidak ingin membuka ruang lebih jauh.

Ayza menarik napas pelan.

“Abi…”

Satu kata itu cukup membuat Kaisyaf diam.

“Ada yang mau aku tanya.”

Tidak ada jawaban. Tapi Kaisyaf tidak memutus.

Ayza menatap lurus ke depan. Suaranya tetap tenang. Namun ada sesuatu di dalamnya yang berubah.

“Tadi pagi… Abi di bandara?”

Ada jeda pendek. Tapi terasa.

“Iya.”

Masih datar.

Ayza menutup mata sebentar. Lalu membukanya lagi.

“Sendirian?”

Kali ini Kaisyaf tidak langsung menjawab.

Tangannya di selimut mengencang sedikit.

“…enggak.”

Satu kata. Tapi cukup.

Jemari Ayza ikut mengencang di ponsel.

“Dengan siapa?”

Kaisyaf diam. Lebih lama. Ia menghela napas pelan.

“Rekan kerja.”

Jawaban itu keluar. Tenang. Rapi. Terlalu rapi.

Ayza tersenyum tipis. Tapi tidak hangat.

“Rekan kerja…” ulangnya pelan.

Beberapa detik ia diam..Lalu—

“Dekat sekali, ya.”

Nada kalimat itu tidak tinggi. Tidak juga tajam. Tapi cukup untuk membuat sesuatu… berubah.

Di sisi lain, Kaisyaf terdiam. Ia tahu. Ayza sudah melihat sesuatu.

“Ayza—”

“Abi.”

Kali ini Ayza memotong. Masih tenang. Tapi jelas… tidak sama.

“Kalau aku tanya baik-baik… kamu akan jawab jujur?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun… tidak terasa ringan.

Kaisyaf tidak langsung menjawab. Karena ia... tidak yakin bisa.

Dan di ujung telepon itu, Ayza menunggu. Tanpa berkata apa-apa lagi. Namun kali ini… bukan untuk percaya. Tapi untuk memastikan.

Suara Kaisyaf akhirnya terdengar.

“Ayza.”

Pelan. Berat. Tapi tegas.

“Kalau kamu percaya sama aku… jangan tanya lagi.”

Ia berhenti sejenak. Napasnya terdengar samar di ujung sana.

“Tapi kalau kamu ragu…”

Jeda. Lebih lama dari sebelumnya.

“…anggap saja apa yang kamu lihat itu benar.”

Diam.

Tidak ada suara lain selain napas yang tertahan.

Di dalam mobil, jemari Ayza mengencang di ponsel. Bukan karena marah. Tapi karena… pilihan itu.

Ia tidak diberi jawaban. Ia diberi beban.

Percaya… atau tidak.

Dan di detik ini, Ayza merasa… dua-duanya sama menyakitkan.

“Baik.”

Satu kata. Pendek. Tenang.

Namun justru itu… yang membuat dada Kaisyaf terasa lebih sesak dari sebelumnya.

Karena ia tahu—

Itu bukan jawaban dari seseorang yang percaya. Dan bukan juga dari seseorang yang menyerah.

Itu… jawaban dari seseorang yang mulai berubah.

Ponsel itu masih menempel di telinganya… meski sambungan sudah terputus.

Tidak ada suara Ayza lagi. Namun justru itu… yang terasa paling bising.

Perlahan, tangannya turun. Ponsel itu terlepas dari genggaman. Jatuh pelan ke atas ranjang.

Kaisyaf tidak bergerak..Tatapannya kosong ke depan.

“Baik.”

Satu kata itu terus terngiang.

Pendek. Tenang. Namun entah kenapa… terasa seperti sesuatu yang ditutup.

Bukan pertengkaran. Bukan juga penjelasan. Tapi… jarak.

Napasnya mulai terasa berat. Dada yang sejak tadi menahan… kini seperti ditekan dari dalam..Ia menunduk sedikit. Satu tangan refleks mencengkeram bagian dada.

“…hah…”

Tarikan napasnya tidak utuh. Batuk kecil keluar. Tertahan.

Ia menahan lagi. Rahangnya mengeras. Seolah dengan itu… semuanya bisa tetap dikendalikan. Namun kali ini tubuhnya tidak patuh.

“Uhuk—!”

Batuk itu pecah. Lebih keras dari sebelumnya. Tubuhnya langsung membungkuk ke depan. Tangan yang memegang dada kini berpindah menutup mulut.

“Uhuk—! Uhuk—!”

Satu kali. Dua kali.

Semakin dalam. Semakin menyakitkan. Tangannya meraba ke samping. Mencari sesuatu. Tisu. Apa pun.

Tidak sempat.

Batuk itu terus datang. Memaksa keluar. Dan saat akhirnya ia menarik napas—

Sesak.

Seolah udara tidak benar-benar masuk.

Matanya sempat terpejam kuat.

“...sial…”

Suara itu hampir tidak keluar. Tubuhnya kehilangan tenaga. Bahunya jatuh. Ia setengah tersandar di kepala ranjang.

Batuk itu belum sepenuhnya berhenti.

Dan ketika tangannya akhirnya menutup mulut—

Hangat. Basah.

Perlahan… ia menurunkan tangan itu.

Merah. Lebih banyak dari sebelumnya.

Untuk beberapa detik… ia hanya menatapnya. Tidak kaget. Tidak panik.

Hanya… diam. Seolah ini hanya konfirmasi… dari sesuatu yang sudah ia tahu.

Napasnya masih berat. Tidak stabil. Namun kali ini… bukan hanya karena sakitnya.

Matanya terpejam.

Namun kali ini… bukan tubuhnya yang paling terasa sakit.

Tapi, cara Ayza menjawabnya tadi.

“Baik.”

Senyum tipis muncul di bibirnya. Pahit.

“…ternyata… ini lebih sakit.”

Bukan batuknya. Bukan darahnya. Tapi saat ia sadar… Ayza tidak lagi menahannya. Tidak lagi memaksanya untuk tetap di sana.

Tangannya perlahan mengendur.

Ia menyandarkan kepala ke belakang. Mata masih terpejam. Napasnya tersendat pelan.

“Bagus…” Bisiknya lirih. “Memang harus begitu…”

Seolah meyakinkan diri sendiri. Seolah ini yang ia inginkan sejak awal.

Namun jemarinya… tanpa sadar mengencang di atas seprai. Menggenggam kosong. Seperti seseorang yang, sebenarnya masih ingin bertahan.

Dan--

Uhuk--! Uhuk--!

Batuk itu datang lagi.

Pintu terbuka cepat.

“Kai—”

Langkah Nara langsung terhenti. Tatapannya jatuh pada Kaisyaf.

Tubuh pria itu setengah membungkuk di ranjang. Bahunya naik turun tidak teratur. Tangan menutup mulut… namun noda merah sudah terlihat jelas di sela jemarinya.

“Ya Tuhan…”

Nara langsung bergerak. Cepat. Tanpa ragu.

“Ridho—!” suaranya meninggi refleks, meski tahu pria itu tidak ada di sana.

Ia langsung meraih bahu Kaisyaf. Menahannya agar tidak semakin condong ke depan.

“Hey, lihat aku.”

Tangannya berpindah ke dada Kaisyaf. Mengusap pelan. Terukur. Profesional.

“Tarik napas. Pelan. Jangan dilawan.”

Namun kali ini… napas Kaisyaf tidak langsung mengikuti. Batuk itu masih tersisa. Lebih dalam. Lebih berat.

Nara menahan tubuhnya. Sedikit menariknya agar bersandar lebih baik.

“Kenapa kamu nggak panggil?” nada suaranya mulai berubah. Bukan hanya tegas. Tapi… kesal.

Batuk itu akhirnya mereda. Perlahan..Namun napas Kaisyaf masih berat.

Nara tidak langsung menjauh. Tatapannya tajam. Mengamati. Menghitung. Menilai.

Lalu—

“Ini bukan ‘drop biasa’,” ucapnya datar. Tapi jelas menahan emosi. “Kamu tahu itu.”

Kaisyaf tidak langsung menjawab.

Tangannya yang tadi menutup mulut… kini turun pelan. Masih ada sisa merah di sana.

Ia hanya melirik sekilas.

Lalu—

“Masih bisa,” jawabnya pendek.

Nara langsung menatapnya tajam.

“Masih bisa?” ulangnya, nyaris tidak percaya. “Kamu nyebut ini ‘masih bisa’?”

Ia berdiri tegak sekarang. Menatap Kaisyaf dari atas. Rahangnya mengeras.

“Kamu batuk darah, Kaisyaf. Dan kamu masih ngomong ‘masih bisa’?”

Kaisyaf menyandarkan kepala ke belakang. Matanya sempat terpejam sebentar.

“…aku sudah hitung,” gumamnya pelan.

Nara mengernyit.

“Hitung apa?”

 

...🔸🔸🔸...

..."Kadang yang paling menyakitkan bukan kebohongan, tapi saat kita dipaksa memilih antara percaya atau kehilangan."...

..."Tidak semua jawaban menenangkan. Ada yang justru membuat kita harus memilih luka sendiri."...

..."Saat kebenaran tidak diberikan, kepercayaan berubah jadi beban."...

..."Yang membuatnya hancur bukan apa yang ia lihat… tapi karena ia harus memutuskan sendiri apakah itu nyata."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Wardi's
terbaik...
mery harwati
Semoga Ridho datang menemui Ayza untuk menjelaskan kesehatan Kaysaf bahkan lebih bagus lagi Nara sebagai dokter yang menangani Kaysaf yang menemui Ayza & menjelaskan secara rinci tentang kesehatan
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
ah terserah lo dah... lebih sakit ditinggal pergi tanpa kejelasan....
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
kaysaf jodoh maut kan rahasia allah... kl emang ente pergi duluan seharusya biarkan istrimu menjalani peranya mendapatkan syurga telah mengurusmu ini namay tak percaya dong.... ah susah jelasin sma orang pikiranya sensitif
abimasta
reza mau jadi pebinor,merusak rumah tangga orang
Muhammad Fauzan
suka
Gadis misterius
Seharsnya kaysaf klu bnr2 mencintai ayza biarkan diakhir hidupnya tetap dirawat ayza dan diwkt mau maninggal baru ngasih wasiat sruh menikah dngn fahri agar fahri menjaga ayza dan all supaya tdk ada yg mengangu apa lagi dr mantan yg tdk tau diri itu sungguh kasian ayza klu setiap hari hrus berusan dngn buaya buntung ...untungya ayahya reza peka klu reza orangnya licik dan pinter bersilat lidah
Syarifah: Setuju
total 1 replies
naifa Al Adlin
padahal itu dokter
naifa Al Adlin
tuh kan bener, kaisyaf sakit. dia g mau lihat ayza sedih. makanya dia berpura2 selingkuh
ngatun Lestari
makin seru ini.... ditunggu lanjutannya... semangat dan sabar ya ayza
Dew666
💜💜💜
Wardi's
waduuh siapa yg datang... yg gk diharapkan datang pst bukan klrg dekat.., zahron, semoga gk muncul lg..
Hanima
Reza kah?.
Siti Jumiati
lanjut Kak nana💪🙏
Yunita Sophi
wlo Reza mengejar tolak Ayza dgn tegas... banyak pria baik di dunia ini selain Reza...
Dek Sri
jangan mengharapkan ayza lagi Reza, ayza gak akan mau sama kamu yang udah pernah nyakitin dia
Anitha Ramto
mimpi kamu terlalu tinggi Reza ingin mendekati Ayza dan balikan lagi itu tidak akan terjadi,,Fahri yang akan mendaji garda terdepan untuk melindungi Ayza darimu Reza....

Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Anonim
Nara yang cuma sahabat - merasa hancur lihat kondisi Kaisyaf. Ia jadi bisa merasakan bagaimana istrinya Kaisyaf.

Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.

Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.

Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.

Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.

Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.
love_me🧡
tenang pak Rahman mungkin sebentar lagi Fahri akan menikah+bonus dapat cucu
love_me🧡
sungguh berharap banget sebelum ajal menjemput Nara menyampaikan keadaan Kaisyaf kepada Ayza 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!