NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...

Minggu-minggu setelah malam purnama itu terasa seperti berjalan di atas seutas benang tipis yang digantung di atas jurang takdir. Apartemen nomor 404, yang biasanya menjadi pelabuhan tenang ku, kini berubah menjadi laboratorium sensorik yang menyiksa. Sebagai siluman rubah, indra penciuman ku memang tajam, tapi sekarang? Sekarang indra itu menjadi kutukan yang membuat ku ingin mencakar dinding.

Aku berdiri di ambang pintu dapur, menutup hidung ku dengan lengan sweter rajut yang tebal. Bau kopi yang diseduh Dimas pagi ini biasanya adalah aroma favorit ku, bau yang melambangkan kemanusiaan dan kenyamanan. Namun pagi ini, bau itu menyerang saraf pusat ku seperti gas beracun yang mematikan.

“Ugh, aku ingin muntah,” Keluh ku, perut ku bergejolak hebat. “Kenapa bau biji sangrai itu terasa seperti bau belerang dari kawah gunung berapi? Dan kenapa aroma detergen di baju Dimas mendadak tercium seperti bahan kimia pembersih industri yang tajam? Tubuh ku... ada sesuatu yang sedang membangun benteng di dalam sini. Sesuatu yang sangat rakus akan nutrisi tapi sangat pemilih terhadap lingkungan.”

"Linda? Kau tidak apa-apa? Wajah mu pucat sekali," Dimas meletakkan cangkir kopinya, wajahnya dipenuhi kecemasan yang tulus. Dia mencoba mendekat, namun aku segera mundur selangkah, tangan ku terjulur untuk menahannya.

"Jangan mendekat, Dimas! Bau kopi mu... itu membunuh ku," desis ku. Suara ku sedikit bergetar, setengah karena mual, setengah karena rasa frustrasi.

Dimas terpaku, tangannya menggantung di udara. "Tapi ini kopi tanpa gula kegemaran mu, Sayang. Kau bilang bau ini membuat mu merasa aman."

"Itu kemarin, sebelum sel-sel siluman ku memutuskan untuk melakukan kudeta di dalam rahim ku!" aku berteriak kecil, lalu segera membekap mulut ku sendiri saat rasa mual kembali naik. Aku berlari ke kamar mandi, mengunci pintu, dan membiarkan tubuh ku tersiksa oleh kontraksi lambung yang hebat.

Aku berlutut di depan kloset, telinga ku rebah sepenuhnya ke belakang, menunjukkan betapa malangnya keadaan ku. Aku merasa sangat lemah, namun di saat yang sama, aku merasakan sebuah denyutan energi yang sangat asing di perut bagian bawah ku. Itu bukan rasa sakit. Itu adalah... kehidupan. Kehidupan yang sedang menyedot sihir ku untuk membentuk sumsum tulang dan jaringan saraf.

“Elkan... apakah itu kau?” bisik ku dalam hati, tangan ku gemetar menyentuh perut yang masih rata namun terasa hangat secara magis. “Kau sangat kuat, Sayang. Kau baru berwujud sebutir benih, tapi kau sudah sanggup membuat ibu mu yang berumur ratusan tahun ini bertekuk lutut. Kau benar-benar anak Dimas. Keras kepala dan dominasi tersembunyi.”

Setelah beberapa menit, aku keluar dengan wajah yang masih pucat. Dimas sudah menyingkirkan kopinya ke tempat cuci piring dan membuka semua jendela balkon agar sirkulasi udara lebih lancar. Dia berdiri di ruang tamu, tampak serba salah.

"Maafkan aku, Linda. Aku tidak tahu kalau baunya akan seburuk itu bagi mu sekarang," katanya lembut.

Aku berjalan mendekatinya, kali ini indra penciuman ku mulai bisa mentoleransi aroma tubuh alaminya yang hangat. Aku menubruknya, membenamkan wajah ku di dadanya, mencari perlindungan dari serangan hormon yang tidak stabil ini.

"Ini bukan salah mu," gumam ku. "Ini hanya... transisi. Tubuh siluman tidak dirancang untuk mengandung benih campuran dengan cara yang normal. Ada gesekan energi di dalam sana. Elkan sedang mencoba menyelaraskan sihir ku dengan darah manusia mu. Itu melelahkan, Dimas. Rasanya seperti ada badai yang terperangkap di dalam rahim ku."

Dimas memeluk ku erat, ekor ku melilit kakinya dengan gerakan yang lebih lambat dan lemah dari biasanya. "Kita harus ke dokter, Linda. Atau... apakah ada dukun atau ahli medis ras mu yang bisa kita datangi? Aku tidak tega melihat mu menderita seperti ini setiap pagi."

Aku mendongak, menatap matanya. "Dokter manusia tidak akan mengerti kenapa detak jantung janin ini beresonansi dengan frekuensi sihir. Dan ras siluman... kau tahu risikonya. Jika mereka tahu aku mengandung anak campuran, Genta bukan satu-satunya yang akan datang ke sini. Mereka akan menganggap ini sebagai penyimpangan yang harus 'dibersihkan'."

"Jadi kita benar-benar sendirian dalam hal ini?" suara Dimas terdengar berat.

"Kita punya satu sama lain," jawab ku tegas. "Aku akan bertahan. Aku adalah rubah ekor sembilan dari garis keturunan murni. Jika aku tidak bisa menahan mual pagi hari, apa gunanya kekuatan ku selama ini?"

Namun, kata-kata ku tidak sepenuhnya jujur. Aku merasa sangat sensitif. Bukan hanya terhadap bau, tapi terhadap emosi. Aku menjadi sangat mudah menangis. Saat melihat Dimas merapikan tempat tidur, aku menangis karena merasa dia terlalu baik. Saat melihat seekor burung pipit hinggap di balkon, aku menangis karena takut burung itu akan jatuh.

“Perubahan hormon ini adalah penghinaan bagi martabat ku,” Keluh ku sambil mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh lagi. “Dulu aku bisa menghadapi pasukan pemburu tanpa berkedip, tapi sekarang aku menangis hanya karena Dimas lupa menaruh handuk di tempatnya? Benar-benar memalukan. Elkan, kau harus tumbuh menjadi anak yang tangguh untuk menebus semua air mata ibu mu ini.”

Minggu kedua berlalu dengan tantangan baru: nafsu makan yang aneh. Aku tidak lagi menginginkan sup ayam atau tumisan sayur. Suatu malam, aku terbangun pada jam tiga pagi dengan keinginan yang sangat mendesak.

"Dimas... bangun..." aku mengguncang bahunya.

Dimas mengerang, membuka mata dengan susah payah. "Ada apa? Kau mual lagi?"

"Aku ingin hati ayam mentah yang direndam dalam madu hutan," kata ku dengan mata yang berkilat lapar.

Dimas langsung terduduk tegak. "Apa?! Linda, itu... itu tidak sehat. Banyak bakteri di daging mentah. Dan madu hutan jam segini cari di mana?"

"Aku tidak peduli! Insting ku menuntutnya! Elkan membutuhkannya!" aku mulai menjadi agresif, ekor ku mengembang besar dan menabrak lampu tidur hingga jatuh. "Jika kau tidak mencarikannya, aku akan keluar sendiri dan berburu di pasar induk!"

Melihat kemarahan ku yang meledak-ledak, Dimas langsung menyerah. Dia tahu bahwa mendebat istri siluman yang sedang ngidam adalah tindakan bunuh diri. Dia bangun, memakai jaketnya, dan pergi keluar menembus dinginnya malam Jakarta untuk mencari apa pun yang bisa memuaskan hasrat makan ku yang liar.

“Aku merasa jahat,” Keluh ku saat melihat mobilnya meninggalkan parkiran dari jendela. “Dia baru tidur tiga jam setelah lembur. Tapi rasa lapar ini... ini bukan lapar perut, ini lapar energi. Benih di dalam sini menuntut nutrisi yang murni dari alam, bukan makanan olahan manusia yang penuh pengawet.”

Satu jam kemudian, Dimas kembali dengan kantong plastik. Dia tidak menemukan hati ayam mentah yang 'bersih' menurut standar medisnya, tapi dia membawakan ku steak wagyu mentah kualitas super dan sebotol madu manuka mahal.

"Ini yang terbaik yang bisa aku temukan di supermarket 24 jam di daerah Senopati," katanya sambil terengah-engah.

Aku menyambarnya dan memakannya tanpa dimasak, hanya dicelupkan ke dalam madu. Rasanya... luar biasa. Rasanya seperti energi kehidupan mengalir langsung ke rahim ku. Dimas hanya bisa menatap ku dengan campuran rasa ngeri dan iba.

"Enak?" tanyanya pelan.

"Sangat," aku menjilat sisa madu di jari ku, lalu menatapnya dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Dimas. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri ku tadi."

Dimas duduk di samping ku, mengusap telinga ku yang mulai rileks. "Tidak apa-apa. Selama kau dan si kecil di dalam sana senang, aku akan pergi ke ujung dunia sekalipun."

Momen-momen seperti itu membuat ikatan kami semakin intens. Rasa posesif ku tidak lagi hanya tentang cemburu pada wanita lain, tapi tentang menjaga integritas sarang kami. Aku menjadi sangat waspada terhadap setiap suara di luar pintu apartemen. Setiap langkah kaki tetangga membuat telinga ku berkedut dan sihir pelindung ku bereaksi.

“Dunia luar adalah ancaman,” Keluh ku saat aku bermeditasi di ruang tengah, mencoba menstabilkan aliran mana di dalam tubuh ku. “Genta mungkin masih mengawasi. Klan mungkin sedang mengendus keberadaan energi campuran ini. Aku harus memastikan apartemen ini menjadi benteng yang tak tertembus. Jika Elkan lahir, dia harus lahir dalam keamanan yang mutlak.”

Namun di tengah semua kecemasan itu, ada harapan yang mekar seperti bunga epiphyllum di tengah malam. Suatu sore, saat matahari terbenam menyiram ruang tamu dengan warna oranye keemasan, aku merasakan sesuatu. Sebuah gerakan kecil. Bukan di perut, tapi di tingkat spiritual.

"Dimas! Sini!" teriak ku.

Dimas berlari dari ruang kerjanya. "Ada apa? Kau sakit?"

"Bukan. Letakkan tangan mu di sini," aku menuntun tangannya ke perut ku.

"Aku belum merasakan apa-apa, Linda. Ini baru beberapa minggu," katanya ragu.

"Jangan gunakan tangan mu, gunakan hati mu. Rasakan denyutan energinya," perintah ku.

Dimas memejamkan mata, berkonsentrasi. Setelah beberapa detik, wajahnya berubah. Matanya terbuka lebar, dipenuhi dengan air mata yang mulai menggenang. "Aku merasakannya... seperti... seperti getaran listrik yang sangat lembut."

"Itu Elkan," bisik ku, air mata juga mulai jatuh di pipi ku. "Dia sedang menyapa ayahnya. Dia bilang dia berjanji akan menjadi anak yang kuat."

Kami berpelukan di tengah cahaya senja, berbagi momen keajaiban yang membuat semua mual, lelah, dan kecemasan beberapa minggu terakhir terasa sepadan. Di apartemen nomor 404 ini, hukum alam sedang ditulis ulang. Seorang manusia dan seorang siluman sedang menanti kelahiran jembatan antara dua dunia.

"Kita akan melaluinya, kan, Dimas?" tanya ku, mencengkeram kemejanya.

"Lebih dari sekadar melalui, Linda. Kita akan menang," jawab Dimas dengan keyakinan yang membuat rasa takut ku sedikit mereda.

Malam itu, aku tertidur tanpa mual. Aku bermimpi lagi tentang padang rumput hijau, namun kali ini padang rumput itu dipenuhi dengan bunga melati yang harumnya tidak lagi menyiksa ku. Elkan kecil ada di sana, berlari menuju kami, dan kali ini dia tidak sendirian. Ada bayangan-bayangan leluhur ku yang memperhatikan dari kejauhan, tidak lagi dengan amarah, melainkan dengan rasa penasaran yang sunyi.

“Menanti keajaiban adalah bagian tersulit dari mencintai,” Keluh terakhir ku sebelum terlelap. “Tapi keajaiban itu sudah ada di sini. Di bawah telapak tangan Dimas, di dalam rahim ku, dan di dalam janji yang kami buat setiap hari di bawah atap ini.”

Minggu-minggu penuh kecemasan ini baru saja dimulai, namun aku tahu, selama Dimas ada untuk mencarikan steak mentah di tengah malam dan mengusap telinga ku saat aku menangis, aku sanggup menghadapi seluruh klan siluman sekalipun.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!