"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Violet tidak langsung menjawab.
Ia duduk di sofa itu, menatap tangan di pangkuannya sebentar, lalu mengangkat wajah ke arah Adriel yang masih menempelkan es batu ke pipinya.
"Saya belum memutuskan."
Adriel diam.
"Surat itu meminta saya kembali, tapi tidak menjelaskan apa yang akan terjadi kalau saya kembali." Violet bicara pelan, terukur. "Dan saya sudah cukup banyak belajar untuk tidak masuk ke tempat yang tidak saya tahu kondisinya."
Adriel menoleh ke arahnya.
Hanya sedetik. Tapi cukup untuk Violet menangkap sesuatu di wajah laki-laki itu yang ia coba tutup rapat-rapat tapi tidak cukup cepat. Sesuatu yang menyerupai lega, yang langsung ditelan kembali ke dalam ekspresi normalnya yang datar.
"Baik," kata Adriel akhirnya. "Jangan buka pintunya kalau ada yang datang dari sana tanpa bilang ke saya dulu."
Violet mengangguk. "Saya tahu."
Adriel kembali menekan es batu ke pipinya dan menatap ke depan. Violet masih di tempatnya, tidak beranjak, tidak juga merasa perlu menjelaskan kenapa ia masih di sini.
Malam itu mereka duduk berdampingan di sofa yang sama dalam diam yang sudah mulai terasa berbeda dari diam-diam sebelumnya.
Tidak kosong. Hanya lebih tenang.
*****
Hujan turun mendadak tengah malam.
Bukan gerimis, tapi hujan yang langsung deras dari awal, jenis hujan yang membuat suara lain di dalam rumah tenggelam dan yang tersisa hanya bunyi air menghantam atap dan jendela bergantian.
Violet terbangun karena petir.
Ia duduk di ranjangnya, menunggu jantungnya kembali ke ritme normal, lalu rebahan lagi menatap langit-langit. Hujan sebesar ini biasanya membuatnya cepat mengantuk, suaranya seperti white noise yang menenangkan.
Tapi malam ini ada suara lain.
Samar. Dari ujung lorong.
Violet menajamkan pendengarannya.
Erangan pelan. Seperti seseorang yang berbicara dalam tidur tapi suaranya tidak keluar sempurna, tercekat di tengah, lalu keluar lagi lebih keras dari sebelumnya.
Ia duduk.
Mendengarkan lagi.
Ternyata ia tak salah dengar. Sepertinya, Adriel mengigau lagi dalam tidur nya, dan kali ini lebih dari yang ia lihat sebelum nya.
Violet berdiri, mengambil cardigan di sandaran kursi, dan membuka pintu kamarnya pelan. Lorong gelap kecuali lampu kecil di ujung tangga. Dari kamar Adriel di ujung kanan, cahaya tipis merembes dari bawah pintunya.
Violet berjalan ke sana.
Ia mendengarnya lebih jelas sekarang. Napas yang tidak teratur. Kata-kata yang tidak utuh. Seseorang yang sedang berperang dengan sesuatu di dalam tidurnya.
Ia mengetuk pintu tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Lalu membuka pintunya pelan.
Adriel berbaring di ranjangnya dengan posisi yang tidak tenang, kepala bergerak pelan ke kiri dan kanan, satu tangannya mengepal di atas selimut. Ekspresinya, sama seperti yang violet liat waktu di sofa itu, tidak terkontrol sama sekali. Tidak ada lapisan dingin yang biasa ia pasang, tidak ada jarak yang selalu ia jaga.
Yang ada hanya wajah laki-laki yang sedang sangat ketakutan di dalam mimpinya.
"Jangan pergi," gumamnya. "Jangan tinggalkan saya."
Violet berdiri di ambang pintu itu sebentar.
Lalu masuk.
Ia duduk di tepi ranjangnya, tidak menyentuh, hanya ada di sana. "Adriel," panggilnya pelan. "Adriel, bangun."
Tidak ada respons.
"Adriel." Kali ini lebih keras.
Laki-laki itu terjaga dengan napas yang tersengal, matanya membuka mendadak dan langsung mencari sesuatu di kegelapan kamar dengan cara orang yang tidak tahu dirinya sudah tidak lagi di dalam mimpinya.
Lalu matanya menemukan Violet.
Ia terdiam.
Napasnya masih tidak teratur tapi pelan-pelan mulai melambat. Ia memandang Violet dengan tatapan yang belum sepenuhnya kembali dari mana pun ia baru saja pergi.
"Kamu mimpi buruk," kata Violet pelan. Bukan pertanyaan.
Adriel tidak menjawab. Ia duduk, satu tangannya mengusap wajahnya ke atas, mengacak rambutnya, lalu diam di posisi itu dengan siku bertumpu di lutut dan kepala menunduk.
Di luar, hujan semakin deras.
Petir menyambar jauh dan cahayanya masuk dari celah tirai selama setengah detik, menerangi ruangan itu, lalu gelap lagi.
Violet tidak pergi. Tidak bertanya apa yang ia mimpikan. Hanya duduk di tepi ranjangnya dan membiarkan sunyi itu ada.
Lalu tangan Adriel bergerak.
Pelan, seperti setengah sadar, jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan Violet lalu merengkuhnya, menariknya mendekat sebelum Violet sempat memproses apa yang sedang terjadi.
Dan tiba-tiba ia ada di dalam pelukan laki-laki itu.
Dada yang lebar. Tangan yang besar melingkari pundaknya. Dagu Adriel di atas kepalanya.
Violet membeku total.
Tidak berani bergerak. Tidak berani bernapas terlalu keras.
Deg! deg! deg!
Hanya jantungnya yang berdegup dengan cara yang tidak bisa ia suruh diam.
Tapi Adriel tidak mengatakan apapun. Tidak melakukan apapun selain memeluknya dengan cara orang yang sedang memegang sesuatu supaya tidak hanyut.
Bukan dengan cara yang mengancam.
Dengan cara yang sangat, sangat manusiawi.
Violet perlahan mengembuskan napasnya.
Hujan terus turun di luar. Dan di kamar yang remang itu, Violet duduk di dalam pelukan Adriel Voss yang tidak sadar sepenuhnya sedang melakukan apa, dengan jantung yang kacau dan pikiran yang tidak tahu harus pergi ke mana, memilih untuk diam dan membiarkan momen ini ada sampai laki-laki itu tertidur kembali.
Barulah beberapa saat kemudian dengan sangat pelan ia melepaskan diri, menyelimuti Adriel yang sudah terlelap, dan kembali ke kamarnya dengan kaki yang terasa aneh di lantai dingin.
Ia merebahkan dirinya lagi di ranjangnya.
Menatap langit-langit.
Tangannya menyentuh pundaknya sendiri di mana tangan Adriel tadi melingkar.
Lantas, tidak ada satu pun pikiran yang berhasil ia selesaikan sampai subuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Paginya, dua anak manusia itu terlihat sangat canggung di meja makan. Bibi Matilda sampai terheran-heran melihat keduanya yang tak berani saling menatap dan sama-sama salah tingkah.
Meski begitu, bisa ia perhatikan jikan tuannya beberapa melirik ke arah Violet, dan cepat- cepat mengalihkan wajah ketika gadis itu menyadari nya.
Sedangkan Violet, dalam kepalanya yang menunduk, matanya diam- diam tertuju pada Adriel meski yang ia lihat hanya setengah badan laki-laki itu.
Bibi Matilda menggeleng geli, segera menyelesaikan pekerjaan nya lalu kembali ke dapur, tapi sebelum itu ia membatin dalam hati.
"Dasar anak muda zaman sekarang. Jika cinta katakan saja, tidak usah pakai kode- kode. "
Lalu wanita tua itu terkikik sendiri dengan pemikirannya, membuat Violet dan Adriel yang melihat itu tersentak karena merasa mereka sedang di curigai.
Lantas meja makan kembali tenang seperti biasa, sebelum Adriel berbicara.
"Maaf untuk semalam, lagi- lagi saya melakukan kesalahan. "
Violet tertegun, ternyata laki-laki itu menyadari nya.
"Tidak apa- apa tuan, saya mengerti. "
Lalu hening lagi, untuk beberapa lama sampai Adriel membuka mulut nya kembali.
"Wangi mu harum. "
Deg!
Violet mengangkat pandangan lagi pada pria itu.
Lalu Adriel berbicara lagi. "saya suka, mengingatkan saya dengan wangi seseorang di masa lalu. Terimakasih sudah menenangkan saya dari mimpi buruk saya. "
Seseorang dari masa lalu? Violet berpikir keras, itu artinya mantan dari laki-laki itu?
Mendadak Violet penasaran dengan perempuan di masa lalu laki-laki itu.
Siapa yang memiliki harum yang sama dengan nya?
Tanpa Violet sadari, raut wajahnya yang sedikit cemberut tertangkap oleh bibi Matilda, tak jauh dari mereka.
Ia yang tak sengaja mendengar obrolan tuan dan nyonya nya itu kembali terkikik geli.
*****
BERSAMBUNG